Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Penjaga Pohon Jembatan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kiarra berbicara menggunakan bahasa campuran.


Mata Kiarra terbelalak lebar. Ia sangat mengenali lokasi tersebut meski saat itu sudah hampir tak sadarkan diri akibat dampak dari guyuran air penolak sakit sudah habis fungsinya. Langkah sang Jenderal tergopoh. Ia menjauh dari pohon saat melihat sekitar. Namun, ia sadar jika tempat itu tak aman karena berdekatan dengan Kerjaan Vom. Kia yang sedang diburu karena dianggap menentang Raja, membuatnya panik dan bergegas kembali mendekati pohon.


"Kenapa bisa ke tempat ini?" tanya Kiarra bingung.


"Ara! Cepat ambil ranting dan daun pohon! Seharusnya, setelah ini kita akan tiba di tempat buah naga berada," ujar Ram yang masih berdiri di samping pohon.


Kiarra mengangguk dan segera menyiapkan peralatannya. Ram terlihat waspada dengan sekitar. Kiarra kembali memangkas salah satu ranting lalu mengumpulkan semua bagian dari pohon jembatan yang berhasil didapatkan.


"Jangan buang waktu lagi. Dra sekarat," ujar Ram mengingatkan.


Kiarra mengangguk dan mendekap tas anyaman berisi semua ranting dan daun dari pohon jembatan. Ram kembali memegang pundak Kiarra saat wanita berambut panjang tersebut meletakkan telapak tangannya di batang pohon. Namun, lagi-lagi ....


"Kenapa kita berada di sini lagi? Bukankah ... kita sudah kemari sebelumnya?" tanya Ram heran karena mereka kembali di tempat Aaa ditinggalkan.


Kening Kiarra berkerut. Ia terlihat bingung, tetapi dengan sigap membuka buntalan dan membentangkan peta miliknya. Ram ikut berjongkok saat Kiarra menahan ujung dari lembaran dengan batu.


"Kita sudah mendatangi 7 pohon jembatan. Menurut petunjuk dari Dra, total pohon jembatan ada 10. Lalu ... di mana 3 pohon lainnya?" tanya Kiarra bingung.


Ram menatap Kiarra tajam yang mengamati semua titik di petanya. Perlahan, tangan Kiarra bergerak. Ia meletakkan kerikil kecil pada titik di mana bagian dari pohon jembatan sudah ia dapatkan. Seketika, matanya melebar ketika ia menghitung kembali dan melihat ada 3 titik yang belum didatangi di mana seharusnya pohon jembatan berada.


"Aku tahu!" teriaknya lantang yang mengejutkan Ram.


"Tentang apa?"


"Pohon yang tebang. Bagaimanapun, pohon yang sudah ditebang termasuk bagian dari pohon jembatan. Seharusnya, kita mengambil bagian dari pohon itu. Semua pohon saling terhubung layaknya rute. Meskipun jalanan itu tertutup, tetapi tak membuat pohon jembatan kehilangan fungsinya," tegas Kiarra menjelaskan.


"Aku ... tak mengerti," sahut Ram terlihat bingung.


"Goblok!" sindir Kiarra yang membuat Ram mengedipkan mata karena ia tak paham.


Wanita cantik itu dengan sigap segera menggulung petanya usai mengingat titik mana saja yang belum didatangi. Mata Kiarra menyipit memikirkan sesuatu saat ia kembali tegak berdiri.


"Jadi ... sekarang bagaimana?" tanya Ram menatap Kiarra saksama seraya ikut berdiri.


"Kita harus mendatangi pohon-pohon yang ditebang. Mereka ada di wilayah perbatasan. Kau ingat dengan pohon yang telah ditebang di wilayah Yak?" tanya Kiarra dengan mata sibuk melihat sekitar tak memperhatikan Ram. Pria itu mengangguk. "Kita harus kembali ke sana."


"Apa? Itu ... sangat jauh sekali," ucapnya langsung terlihat pusing.


"Kalau begitu, kau di sini saja. Tak usah ikut. Manja," gerutu Kiarra yang sembari mengikat kuat buntalan di punggung layaknya tas ransel.


Saat Ram terlihat bingung karena perjalanan itu cukup jauh, tiba-tiba ....


"Akk! Akk!"


"Aaa!" panggil Kiarra dengan wajah berbinar ketika si ayam besar berlari mendekati lalu memamerkan ekornya yang indah seperti burung merak. Kiarra terkekeh dan mengelus kepalanya lembut. "Kau sudah sembuh? Kau terlihat sehat," ucap Kiarra seraya melihat kaki Aaa yang telah pulih.


"Akk ... akkk!" lengking unggas itu yang membuat Kiarra tersenyum bahagia.


"Kita bisa mengendarai Aaa untuk ke lokasi pohon ditebang!" seru Ram.


"Nah, tu pinter," gumam Kiarra memasang wajah malas.


Dengan sigap, Kiarra kembali menaiki punggung Aaa dengan Ram membonceng di belakang. Ayam bersayap lebar, tetapi tak bisa terbang itu kembali bertugas untuk menemani tuannya. Kiarra mengajak Aaa untuk mendatangi pohon jembatan. Tangannya kembali ia dekatkan ke batang pohon dan berharap membawanya ke lokasi yang dimaksud.


Seperti sudah ditakdirkan, lokasi yang diharapkan Kiarra berada di depan mata. Meskipun rasa dingin menusuk, tetapi Aaa terlihat tak masalah karena bulunya tebal dan anti air. Senyum Kiarra dan Ram terpancar. Pohon jembatan membawa mereka ke Yak.


"Heyah!"


"Akk! Akk!"

__ADS_1


Aaa berlari kencang menuruni bukit, bahkan unggas itu terlihat pintar karena menjadikan kakinya seperti papan seluncur salju.


"Wahh! Woahhh!" teriak Ram histeris berpegangan kuat pada pundak Kiarra karena ini pertama kalinya menunggangi Aaa dan meluncur di atas permukaan es.


"Heh, kampungan," sindir Kiarra. Sedangkan sang Jenderal, terlihat menyukainya.


Hal ini seperti ketika ia menikmati liburan musim dingin bersama keluarga. Kiarra teringat akan keluarga Lysa Herlambang yang selama ini mengayomi keluarga besarnya. Kala itu, Lysa mengajak keluarga Tora dan anak-anak dari tiga Pion untuk datang ke Jerman menikmati musim dingin demi merayakan ulang tahun perusahaan Lysa Solution. Kiarra sampai merentangkan tangan karena petualangannya di Negeri Kaa benar-benar berkesan untuknya.


"Hah, hah, Ara! Itu! Di sana!" teriak Ram saat melihat aliran sungai yang telah membeku sudah berada di bawah bukit.


"Aaa, hati-hati, jangan sampai tergelincir dan hindari sungai itu! Aku khawatir jika permukaannya akan retak!" seru Kiarra yang dengan sigap memegang tali kendali Aaa dan mata terfokus pada sungai es itu.


"Akkk! Akkk!"


SRAKK!!


"Arghh!"


BRUKK! BRUKK! BUGG!


"Hahahahaha!" tawa Kiarra yang muncul dari tumpukan salju setelah jatuh terjungkal dan terlempar dari punggung Aaa karena hewan itu tak bisa menghentikan laju larinya.


"Akk, akk!" lengking Aaa yang dengan sigap berdiri dan mengibaskan salju di tubuhnya.


Kiarra bangkit perlahan dan melihat sekitar karena Ram tak tampak.


"Ram! Ram!" panggil Kiarra mulai cemas karena tak ada tanda-tanda dari lelaki itu.


Tiba-tiba, Aaa berlari dan paruhnya mematuk permukaan salju seperti menemukan sesuatu. Kiarra bergegas berlari mendatangi. Sontak, ia terkejut karena Ram tak sadarkan diri dan terluka di bagian kepala. Kiarra yang sedang mengejar waktu, mengikat kepala pria itu dengan kain seadanya. Ram dinaikkan di punggung Aaa di mana dirinya kini sedang serius berpikir bagaimana mengambil bagian dari pohon jembatan yang telah ditebang itu.


"Ambilah bagian dari pohon jembatan sebagai kunci memasuki lokasi buah naga," gumam Kiarra teringat akan ingatan Dra.


Kiarra meraba batang pohon itu. Ternyata, ia memang tak bisa berteleportasi. Namun, Kiarra terpikirkan sesuatu. Ia mengambil belatinya lalu mengiris bagian batang pohon dan kulit sebagai salah satu syarat.


Ram masih tak sadarkan diri dan Kiarra membiarkan hal itu. Wanita tersebut terlihat berpikir keras saat membuka gulungannya kembali. Ia melihat ke arah gunung es dan terpikirkan untuk mencoba teleportasi dari pohon itu. Namun, Kiarra menemukan cara lain karena rute yang lebih dekat.


"Heyahhh!" seru Kiarra lantang yang kembali memacu unggas besarnya.


Aaa terlihat sangat mampu untuk berlari sesuai arahan Kiarra. Wanita tangguh itu terlihat fokus dan serius dengan tujuannya. Ia memiliki perasaan jika harus segera bergegas karena Dra sekarat. Penyihir itu kehilangan banyak darah dan tak ada waktu baginya memikirkan perasaan cinta Ram padanya.


Kaki ayam Aaa terlihat tak lelah karena tak beristirahat meskipun bulan berganti merah. Kiarra tetap siaga dengan pedang siap disabetkan jika ada yang menghalangi. Saat bulan merah terlihat begitu penuh dan membuat mata panas karena Kiarra melaju ke arahnya, terlihat kawasan hutan di depan. Kiarra memejamkan matanya sejenak mencoba mengingat petunjuk dari Dra kala itu.


"Hutan! Ya, pohon itu ada di sana!" seru Kiarra lantang dengan mantap.


Namun, lagi-lagi, usahanya harus diuji saat muncul makhluk dari dalam tanah mengeluarkan tentakel layaknya gurita, tetapi tanpa penghisap. Tentakel besar dan panjang itu terus naik ke atas dan ternyata memiliki mata dengan warna merah menyala seperti jenis pemangsa.


"Oh, shitt!" pekik Kiarra dengan mata membulat penuh.



"Mikkk!" lengking hewan itu yang ternyata pada ujung tentakel memiliki mulut kecil mengerucut dan bergigi tajam saat dibuka.


Kiarra dengan sigap mengeluarkan pedang dan menggenggamnya kuat di tangan kanan. Tangan kirinya dipersenjatai dengan belati, siap untuk menyayat. Dua tangannya tak gentar meski lawannya berupa monster yang sangat mengerikan.


"Heahhh!" teriak Kiarra penuh keberanian dan tak takut mati.


"Akk! Akk!" Aaa ikut melengking dan terus maju. Seolah, jiwa ayam besar itu menyatu dengan tuannya. Ia tahu, jika Kiarra tak bisa mundur karena tujuannya sudah berada di depan sana.


"Mikkk!" Makhluk bertentakel itu mulai meluncurkan serangan ujung tentakel ke arah Kiarra.


Ternyata, makhluk tersebut tak hanya satu, melainkan banyak. Tentakel-tentakel lainnya bermunculan dari dalam tanah. Suasana yang terselimuti warna merah dari bulan, membuat kengerian di tempat itu tampak nyata seperti akan terjadi pertumpahan darah.

__ADS_1


"Ram! Bangun, brengsekk! Aku tak segan mengumpankanmu jika sampai terjatuh atau ditangkap makhluk-makhluk jelek ini!" teriak Kiarra marah saat ia menyabetkan pedang karena diserang sebuah sulur yang mengincar kepalanya.


Sayangnya, Ram bergeming. Kiarra kesal setengah mati. Ia akhirnya memutuskan untuk benar-benar tidak peduli jika Ram sampai tewas di tempat itu. Kiarra terus menyabetkan pedang dan belatinya sampai tak berjeda karena serangan tentakel-tentakel pembunuh itu tak memberikannya waktu beristirahat. Aaa terus berlari dan sesekali melompat ketika ada tentakel yang ingin menangkap kakinya. Akan tetapi ....


GRAB!!


"Akkk!"


BRUKK!!


"Agh!" Kiarra terlempar saat leher Aaa tertangkap dan terlilit sebuah tentakel yang muncul dari bawah tanah.


Aaa terus melengking, mencoba membebaskan diri dengan menggunakan kuku kakinya untuk mencakar sulur tentakel itu. Kiarra yang terdesak, terus menebas dan memotong tentakel-tentakel yang ingin menangkap tubuhnya. Hingga yang ia khawatirkan terjadi.


"Ram!" teriak Kiarra ketika salah satu kaki Ram terlilit dan tubuhnya diangkat ke atas.


Mata Kiarra melebar dan dengan sigap berlari untuk menyelamatkan pria yang mengaku mencintainya itu. Namun, lagi-lagi, DUAKK!!


"Agh!" raung Kiarra saat kakinya disabet oleh salah satu tentakel dan membuatnya jatuh tersungkur.


Belatinya terlepas dan jatuh cukup jauh dari tempatnya berada. Matanya terbelalak saat melihat Aaa dan Ram tergantung di udara seperti siap untuk dimangsa. Saat Kiarra akan memotong tentakel yang melilit salah satu kakinya, tentakel lainnya muncul dan menangkap kedua tangan dan juga perutnya. Praktis, Kiarra tak berkutik karena terlilit.


"Harghh! Kurang ajar!" teriak Kiarra marah.


Seketika, WHOOM!!


"Miikkk!" lengking monster bertentakel itu karena tubuh Kiarra mengeluarkan api biru dan matanya ikut menyala.


"Ge ... le yama ... rora rora mee ...," ucap Kiarra melafalkan sebuah mantra dan membuat tentakel-tentakel yang menangkapnya terbakar oleh api biru.


Tubuh Kiarra dilepaskan dan membuat wanita itu berhasil bebas. Namun, Kiarra yang terselimuti amarah kembali berdiri dengan sorot mata tajam dan pedangnya berselimut api biru yang berkobar.


"Ge ... le yama ... rora rora mee ...," ucapnya lagi dengan tangan kiri terarah pada sekumpulan tentakel yang menjerat Ram dan Aaa.


WHOOM!!


"Miikk!" Para monster bertentakel terbakar hebat. Api biru dari sihir Kiarra membuat mereka kesakitan dan kembali ke dalam tanah.


Pedangnya yang terselimuti api biru ikut menebas tentakel-tentakel lain karena beberapa tak terkena dampak. Praktis, wilayah yang tadinya bagaikan ladang pembantaian, kini menjadi lapang meski sisa api biru terlihat di permukaan karena daging-daging tentakel yang terbakar. Ram dan Aaa berhasil diselamatkan. Ayam itu tampak panik dan berlari ke sana kemari seperti shock dengan apa yang terjadi.


"Aaa!" panggil Kiarra dengan tangan terulur ke depan dan menatap unggas besar itu tajam.


Sontak, Aaa terdiam. Matanya ikut menjadi biru dan berjalan perlahan mendatangi Kiarra. Wanita cantik tersebut mengelus kepala hewan itu lembut dan perlahan, matanya kembali normal.


"Oh! Apa yang terjadi?" tanyanya panik yang tak menyadari perbuatannya barusan. "Hem, bau daging bakar," imbuhnya seraya mengendus. Kiarra diam sejenak dan masih berdiri di samping Aaa. "Oh! Apakah aku yang melakukannya? Hal itu terjadi lagi? Namun, bagaimana caranya? Kenapa aku tak sadar saat melakukannya? Hah, jika ada CCTV pasti yang kulakukan tadi akan terekam. Sial," gerutunya karena penasaran dengan aksinya.


Kiarra kembali merapikan perlengkapannya yang terjatuh dari Aaa. Ia mengambil belati yang jatuh tak jauh dari tempat Ram berada. Kiarra berdiri di samping pria yang tergeletak tak sadarkan diri di atas rumput merah.


"Heh, heh!" panggilnya seraya mendorong pipi Ram dengan ujung sepatu. Kiarra terkekeh karena pria itu masih tak sadarkan diri. Kiarra yang harus bergegas, segera mengangkat Ram dan menaikkannya di atas punggung Aaa. "Benar-benar lelaki yang menyusahkan," gerutu Kiarra karena Ram pingsan cukup lama.


Kiarra kembali memacu ayam besarnya lagi memasuki hutan. Setibanya di dalam, ia terlihat waspada karena tempat itu gelap. Rimbunnya dedaunan sehingga menutupi cahaya yang masuk. Kiarra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pohon jembatan yang dirasa telah ditebang.


"Di sana!" pekiknya saat melihat sebuah pohon berbatang besar, berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh pohon berdaun merah.


Kiarra segera turun dan melihat batang pohon itu. Senyumnya terkembang karena pada inti batang tersebut berwarna biru, persis seperti daunnya jika tumbuh lebat.


"Oke, tinggal satu lagi. Aku harus cepat," ucapnya usai memotong kulit pohon dan menyimpannya.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Gaes. Rencananya lele mau crazy up. Semoga bisa tamatin Kiarra hari ini ya. Kalau gak bisa bulan depan deh. Soalnya lele dapat projek dari NT suruh bikin cerita versi mereka per April sampai akhir bulan. Lier uyy lier😩


__ADS_2