
Kedatangan Gavin dan Azzahra tentu saja disambut dengan senang hati oleh Abi dan Umi Rara. Terutama Umi Rara yang selalu ingin tahu bagaimana hubungan rumah tangga anaknya sekarang ini. Dan karena ini adalah weekend sudah pasti Abi Rara pun sedang berada di rumah.
Setelah makan siang, Umi Rara langsung menarik Azzahra ke kamarnya, sedangkan Gavin sendiri masing berbincang dengan Abi Rara di teras belakang rumah orang tua Azzahra itu.
" Geulis, gimana sekarang? Sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Umi Rara setelah mereka sampai di kamar Umi Rara.
Azzahra tersenyum mendengar pertanyaan Uminya yang selalu dia dengar setiap dia berkunjung ke rumah orang tuanya itu.
" Belum, Umi." Azzahra menjawab.
" Kamu harus berusaha lebih giat lagi, Ra. Umi sudah nggak sabar ingin dapat cucu dari kalian. Pasti anaknya lucu-lucu. Kalau perempuan pasti cantik dan mirip sama kamu. Kalau laki-laki pasti tampan dan mirip sama Gavin. Papanya Gavin juga pasti senang kalau kalian punya anak. Pasti akan jadi cucu pertama Pak David, Pak David pasti akan sayang sekali sama cucu pertamanya itu."
Deg
Hati Azzahra terasa seperti diremas mendengar Uminya yang menyinggung soal cucu dari Dad David. Azzahra hanya sanggup menelan saliva seraya menundukkan kepalanya. Dia kembali berpikir, apa Uminya akan se-excited ini saat mengetahui ternyata Gavin mempunyai anak dari wanita lain.
" Neng, kok malah melamun? Kunaon atuh?" Umi Rara yang melihat anaknya malah nampak sendu langsung bertanya kepada Azzahra.
" Kunaon, Neng? Kalian tidak sedang bertengkar, kan? Umi nggak melihat tanda-tanda jika kalian sedang bertegkar. Kalian tidak sedang bersandiwara terlihat pura-pura akur di depan kami padahal kalian tidak saling bertegur sapa, kan?" Umi Rara langsung melontarkan beberapa dugaan.
Azzahra menaikkan pandangannya kini ke arah Uminya.
" Nggak, Umi. Rara sama Kak Gavin tidak sedang bertengkar." Dengan cepat Azzahra menepis dugaan Uminya itu.
" Lalu kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Umi Rara.
" Rara hanya merasa kangen sama Umi. Rasanya Rara ingin bisa terus begini sama Umi." Azzahra lalu merangkul pundak Umi Rara lalu menyandarkan kepalanya di pundak Uminya itu.
" Geulis, nggak bisa begitu atuh, Neng. Neng Rara 'kan sudah menikah, sudah punya suami. Sudah jadi tanggung jawab suami dan harus ikut sama suami juga. Tugas Umi mengurus kamu sudah selesai, tinggal sekarang kamu yang mengurus suami kamu dan calon anak kalian nantinya."
__ADS_1
" Makanya kamu cepat yang giat bikin anaknya biar kamu ada kesibukan dan tidak merasa kesepian. Dan nggak selalu keingetan sama Umi. Eh, tapi bukan berarti kamu melupakan Umi ya, Neng!"
" Astaghfirullahal adzim, nggak mungkin Rara melupakan Umi. Memangnya Rara mau jadi anak durhaka?!" Azzahra menyangkal perkataan Umi Rara.
" Dan Umi juga nggak mau mengutuk kamu jadi batu. Cantik begini, susah payah mengadungnya, membesarkannya. Masa mau dikutuk jadi batu?" Umi Rara berkelakar membuat Azzahra sedikit tersenyum melihat Uminya yang memang mempunyai sifat berbeda dengan dirinya. Jika dirinya cenderung pendiam sedang Umi Rara lebih cerewet.
***
Sementara di halaman belakang Gavin sedang berbincang dengan Abi Rara seputar hal yang biasa dibicarakan antara menantu dan mertua laki-laki.
" Bagaimana kabar Papamu, Gavin? Apa Pak David sehat?" tanya Abi Rara seraya memperhatikan burung-burung peliharaannya.
" Alhamdulillah, Dad David dalam keadaan baik-baik saja, Abi." Gavin menyahuti.
" Syukurlah kalau begitu. Dua hari lalu Abi ke Jakarta bersama Papihnya Yoga. Kebetulan kami ada perlu bertemu relasi bisnis di hotel tempat Pak David. Tadinya Abi mau mampir ketemu Papa kamu, tapi ternyata Pak David sedang berada di Singapura. Semangat Papamu itu dalam berbisnis patut diacungi jempol." Abi mengacungkan ibu jarinya merasa kagum akan kemampuan berbisnis besannya itu.
Gavin menelan salivanya saat Abi Rara bertanya tujuan Dad David pergi ke Singapura. Karena dia tahu persis tujuan Dad David ke sana adalah untuk mengurus penyerahan apartemen untuk Jovanka dan bertemu dengan William.
" Jika memang Pak David berencana membuat hotel di sana, kamu mesti bangga dan harus banyak belajar pada papamu itu, Gavin." lanjut Abi Rara lagi.
" Ah, tidak, Abi. Kunjungan Dad David ke sana hanya karena ada urusan yang mesti diselesaikan Dad di sana. Dad David harus bertemu denga rekan bisnisnya di sana." Gavin masih menutupi, karena dia tak mungkin langsung mengatakan jika Dad David itu bertemu dengan Jovanka dan William. Karena Abi Rara belum tahu tentang cetita itu.
" Oh, Abi pikir punya proyek membangun hotel di sana."
" Iya, Abi." Gavin melirik Abi Rara yang masih terlihat sibuk dengan hewan peliharaannya itu.
" Hmmm, Abi ..." Gavin menjeda kalimatnya perlahan. Dia mengambil nafas kembali untuk meneruskan kata-kata yang ingin diucapkannya.
" Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dengan Abi. Apa Abi punya waktu?" Dengan hati yang berdebar-debar Gavin menyampaikan kalimat itu.
__ADS_1
" Bicara apa? Bicara saja silahkan. Bukankah dari tadi juga di sini kita sudah bicara?" Abi Rara menanggapi santai perkataan Gavin. Abi Rara tidak menyadari jika menantunya itu sudah panas dingin sebelum dia menceritakan permasalahan yang di hadapinya itu.
" Hmmm, saya ingin berbicara berempat dengan Abi, Umi juga Rara." Dengan nada berat Gavin merangkai kata-kata itu menjadi sebuah kalimat.
Abi Rara memicingkan matanya menatap tajam ke arah menantunya itu.
" Ada apa? Apa ini tentang rumah tangga kalian? Apa terjadi sesuatu dengan rumah tangga kalian? Apa rumah tangga kalian baik-baik saja?" tanya Dad David menelisik.
" Hmmm, i-iya, Abi. Saya dan Rara baik-baik saja, tapi ...."
" Tapi apa? Apa hal yang ingin kamu katakan ini menyakiti hati Rara? Apa ini membuat Rara bersedih?" Pertanyaan Dad David terasa mengintimidasi Gavin. Belum apa-apa saja reaksi Abi Rara sudah seperti itu, apalagi jika Abi Rara mengetahui kenyataannya. Seketika lidah Gavin serasa kelu, suara yang ingin terucap di bibirnya pun terasa tercekat di tenggorokan.
***
" Kak, Bagaimana?" Azzahra berlari menghampiri Gavin saat suaminya itu membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
" Abi kamu bilang, kita bicara selepas sholat Ashar." Gavin menjawab pertanyaan Azzahra
Azzahra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Masih ada waktu sekitar satu jam ke depan, orang tuanya akan tahu bagaimana masa lalu suaminya itu. Azzahra lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Gavin seraya merebahkan kepalanya bersandar di dada suaminya itu. Tak beda jauh dengan Gavin, dia pun merasakan gelisah dan hati yang berdebar juga harap-harap cemas menanti apa yang akan terjadi satu jam ke depan, saat orang tuanya tahu tentang keberadaan anak di luar nikah Gavin dengan mantan kekasihnya, Jovanka.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1