KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Hey, kamu punya mata nggak, sih? Kalau jalan lihat-lihat dong!" pekik seseorang di sebelah pria itu dengan nada cukup keras hingga membuat beberapa orang yang hadir di sana memperhatikan mereka.


Azzahra langsung memucat seketika, menghadapi kejadian ini. Dia merasa jika hari ini benar-benar sial, karena mendapatkan kejadian yang buruk menimpanya.


" Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," lirih Azzahra dengan wajah tertunduk, dia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menatap pria yang terlihat emosi terhadapnya apalagi pada orang yang dia tabrak tadi.


" Nggak sengaja ... nggak sengaja, makanya kalau jalan itu matanya lihat ke depan, bukan ke bawah," sembur pria yang marah tadi.


" Sekali lagi saya minta maaf." Hati Azzahra semakin menciut.


" Minta maaf ... minta maaf, memangnya minta maaf bisa bikin baju Tuan Gavin bersih kembali." Tak henti-henti pria yang ternyata karyawan dari Gavin itu memarahi.


Azzahra semakin tertunduk, jika ada malaikat pencabut nyawa, rasanya dia ingin mati saja saat itu juga.


" Sudah, sudah ... tidak apa-apa. Kau tidak usah memarahinya, kasihan," ucap Gavin memerintahkan karyawannya untuk berhenti memarahi Azahra.


" T-tapi Tuan ...."


" Kau pergilah, segera atur satu kamar untuk adikku," perintah Gavin kepada pria itu


" Baik, Tuan." Pria itupun pergi meninggalkan Gavin.


Gavin memperhatikan gadis di depannya yang sama sekali tak berani menatapnya. Walaupun dengan wajah tertunduk, tapi sekilas dia bisa melihat wajah cantik wanita itu.


" Kenapa hanya berani menunduk?" tanya Gavin dengan bahasa yang sangat halus, karena Gavin menyadari gadis di hadapannya ini sedang dalam ketakutan yang sangat mencekam.


" Maaf, Tuan ..." hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Azzahra.


" Hanya maaf saja? Kamu tak berniat menebus kesalahanmu?" tanya Gavin kembali. Entah kenapa melihat sikap gadis itu membuatnya tergelitik untuk mengerjainya.


" S-saya tidak tahu harus berbuat apa, Tuan." Azzahra masih belum berani menatap Gavin.


" Benar yang pegawai saya bilang tadi, baju saya tidak akan kembali bersih hanya dengan satu atau berkali-kali ucapan maaf."


Azzahra meremas jemarinya, menandakan dia sudah dalam kecemasan yang maksimal.

__ADS_1


" Kamu tidak ada usaha untuk memperbaiki kesalahan kamu?"


" Sa-saya ..." Azzahra bingung harus berkata apa, dia hanya bisa menggigit bibirnya, menahan air matanya kembali agar tak lagi turun.


" Kalau bicara dengan seseorang biasakan tatap wajah orang itu, bukan menundukkan wajah ke bawah."


Azzahra langsung menaikkan wajahnya, tapi tetap tak berani memandang ke arah Gavin.


Gavin memperhatikan wajah gadis di hadapannya yang terlihat cantik dengan rias wajah nude, tapi dia bisa melihat bekas air mata di pipi mulus gadis itu.


" Kenapa tidak berani menatap wajah saya? Apa saya sangat menyeramkan?" Gavin mencoba menggoda gadis itu.


" Maaf, tidak Tuan ..." Azzahra spontan kembali menundukkan kepalanya.


" Kenapa malah menunduk lagi? Bukannya melihat saya. Angkat wajah kamu dan lihat saya." Gavin memerintahkan Azzahra agar berhenti menundukkan kepalanya.


Gadis itu perlahan mendongakkan kepala dan menatap ke arah Gavin. Gavin kini bisa menatap dengan jelas wajah gadis cantik itu. Sesaat mereka saling memandang, Gavin begitu menikmati wajah cantik bermata indah, tapi terlihat ada kesedihan dari mata indah gadis itu, tapi tak lama gadis itu memutuskan pandangan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Saat Azzahra mendonggakan kepala, dia mendapati sosok pria berwajah tampan dan berkulit putih bersih kini sedang menatapnya dengan sebuah senyum tipis terkulum di bibirnya. Sesaat dia tertegun dengan pemandangan hampir sempurna di depannya. Matanya dan mata pria itu saling beradu pandang, entah mengapa dia merasakan ada sesuatu yang sama mereka rasakan dalam sorot mata pria itu. Tapi Azzahra tak ingin berlama-lama menatap pria itu, akhirnya dia memutuskan pandangannya.


" I-iya, Tuan." Gugup Azzahra menjawab.


" Ikut saya." Gavin kemudian membalikkan badan dan melangkah, tapi baru tiga langkah Gavin menghentikan langkahnya karena dia merasa Azzahra tidak menuruti apa yang diperintahkan nya.


" Kamu dengar apa yang saya ucapkan tadi?"


" I-iya, Tuan."


" Lantas, kenapa masih diam di situ?"


" I-iya, Tuan." Akhirnya Azzahra pun melangkahkan kaki mengekori langkah Gavin yang dia sendiri tak tahu akan dibawa kemana.


Langkah mereka terhenti di sebuah pintu kamar, Gavin membuka pintu kamar itu.


" Masuklah ..."

__ADS_1


" Ki-kita mau apa kemari, Tuan?" Azzahra langsung menegang saat dia mengetahui Gavin membawanya ke dalam kamar hotel.


" Menebus kesalahanmu." singkat ucapan Gavin, tapi cukup membuat bulu kuduk Azzahra berdiri.


" T-tapi untuk apa kita ke sini?" Azzahra berjalan mundur.


" Kau tahu, hotel ini adalah milik ayahku, kalau kamu mencoba lari dari sini, aku akan bisa menemukan kamu kembali." Gavin menyeringai.


" Ta-tapi, Tuan ..." Mata Azzahra terbelalak saat melihat gerakan Gavin membuka blazer yang dikenakannya.


" Ayo masuk," perintah Gavin lagi kembali.


Azzahra menggelengkan kepalanya. " Tuan saya mohon, saya minta maaf. Tolong jangan lakukan ini, Tuan bisa memberi hukuman lain terhadap saya, tapi tolong jangan paksa saya melakukan hal ini." Azzahra mengatup kedua tangannya di dada, air matanya sudah mengalir deras di pipinya.


Gavin mengeryitkan keningnya mendengar ucapan gadis itu. " Jangan memaksa saya melakukan hal itu?" ucap Gavin dalam hati. " Memangnya dia pikir aku ingin memaksa melakukan apa? batin Gavin. Tiba-tiba hatinya kembali tergelitik, melihat wajah gadis cantik berhijab yang mulai menegang, rasanya menyenangkan menggoda gadis itu.


Gavin tahu apa yang ada di pikiran Azzahra, karena itu dengan perlahan dia melepas satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuhnya.


Rasanya Gavin ingin sekali terbahak melihat ekspresi gadis itu, tapi dia tahan. Dia malah mengucapkan kalimat bernada ancaman.


" Aku bilang masuk, atau aku akan benar-benar memberikan hukuman kepadamu?" Gavin bisa merasakan Azzahra kini ketakutan saat dia mulai membuka satu persatu kancing tubuhnya. Tubuh Azzahra menegang seketika, hingga tubuh gadis itu lemas dan terkulai tak berdaya. Untung dengan sigap Gavin menangkap tubuh gadis itu, kemudian membaringkan tubuh Azzahra di atas kasur berukuran besar di kamar itu.


" Astaga kenapa dia malah pingsan? Aku 'kan hanya ingin menyuruh dia membersihkan bajuku dengan air di kamar mandi." gumam Gavin memijat keningnya yang sesungguhnya tidak merasa pusing.


Beberapa saat kemudian Gavin masih terduduk di tepi tempat tidur. Sedari tadi dia memandangi wajah Azzahra tanpa berniat untuk membangunkannya. Punggung jarinya bergerak membelai wajah Azahra, tiba-tiba saja ingatannya terkenang akan Natasha. Dia teringat pernah juga diam-diam membelai wajah Natasha yang sedang tertidur saat menemukan Natasha menangis di parkiran perusahaan Andra.


Entah kenapa gadis di hadapannya kini membuatnya tertarik, apalagi dengan kepolosan dan penampilan tertutup Azzahra, membuatnya tak ingin begitu saja mengacuhkan wanita itu.


Seulas senyum terbersit di sudut bibir Gavin demi mengingat kejadian tadi dimana gadis itu menyalah artikan maksudnya membawa kemari. Dia kembali membelai wajah Azzahra merasakan kulit halus mulus ketika tiba-tiba ...


Braaakkk


Pintu kamar dibuka paksa, dan terlihat beberapa orang telah muncul dari pintu kamar hotelnya.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2