KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Sembunyikan Dari Abi Dan Umi


__ADS_3

Azzahra mengerjapkan matanya. Pandangan matanya mendapati ruangan yang dia tempati berwarna putih. Azzahra lalu merasakan hembusan hawa hangat menerpa kulit pipinya membuat akhirnya dia menoleh ke arah kanan posisi tidurnya.


Azzahra mendapati Gavin yang sedang terlelap di sampingnya. Azzahra mendapati wajah suaminya itu nampak terluka. Azzahra mencoba membelai wajah suaminya yang terlihat memar karena terjatuh di jalanan.


" Honey, kau sudah bangun?" tanya Gavin dengan suara parau karena terbangun saat merasakan sebuah tangan menyentuh wajahnya.


" Kak, wajah Kak Gavin ..."


" Ini bukan masalah, ini tidak mempengaruhi ketampananku, kan?" Gavin masih bisa berkelakar dalam keadaan seperti sekarang ini.


" Pasti sakit ya, Kak?" tanya Azzahra mengusap kembali wajah suaminya.


" Sakitnya mendadak hilang sejak kau sentuh." Kini tangan Gavin meraih tangan Azzahra lalu mengecup jemari Azzahra.


" Tadi itu sangat menyeramkan ya, Kak?" Azzahra kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


" Ya, it's horrible ..." Gavin menyahuti, peristiwa itu memang sanggup membuat bulu kuduknya merinding


" Kenapa mereka ingin mencelakai Kak Gavin?" tanya Azzahra merasa heran.


" Apa Kak Gavin punya musuh?" tanya Azzahra lagi.


Gavin menghela nafas panjang.


" Entahlah, aku sendiri tak tahu, Honey. Tapi kau tak perlu khawatir, Dad David sudah suruh orang menyelidiki hal ini dan akan ada orang yang menjaga kita, jadi mereka tidak akan berbuat macam-macam lagi terhadap kita," tegas Gavin mencoba membuat istrinya itu tidak merasa khawatir.


" Aku takut jika membayangkan aku tidak bisa bersama dengan Kak Gavin lagi." Azzahra melingkarkan tangannya ke perut Gavin.


" Benarkah? Bukannya kau sendiri yang bilang tidak suka mempunyai suami sepertiku, yang boros, yang sombong, yang hmmpptt ..." ucapan Gavin terpotong karena Azzahra lebih dulu membekap mulut suaminya itu dengan telapak tangannya.


" Aku nggak mau kehilangan Kak Gavin." Azzahra semakin dalam menenggelamkan wajahnya ke dada suaminya.


" Aku tidak akan meninggalkanmu, Honey. Percayalah ..." Gavin berusaha meyakinkan istrinya agar tidak terlalu cemas.


" Assalamualaikum, Neng Rara, Gavin ...! Kalian tidak apa-apa?"


Dari arah pintu tiba-tiba suara seorang pria terdengar kemudian berjalan ke arah brankar tempat Azzahra berbaring.


" Waalaikumsalam ..." sahut Gavin dan Azzahra bersamaan.


" Kang Asraf ..." Azzahra lalu melerai pelukannya dari tubuh suami kemudian bangkit dan memeluk tubuh kakak sulungnya itu.


" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bisa sampai mengalami hal ini? Apa kalian tahu siapa pelakunya?" tanya pria yang berjalan di belakang Asraf.


" Kang Aydan ..." Kini Azzahra berganti memeluk tubuh kakak kedua nya seolah ingin mengadukan jika dia baru saja mengalami peristiwa yang lebih menyeramkan daripada cerita tentang horor.


" Apa mereka komplotan begal atau ada motif lain dibalik penyerangan terhadap kalian?" tanya Aydan kembali.


" Sepertinya mereka itu komplotan begal." Gavin berbohong seraya memberikan kode kepada istrinya. Gavin memilih tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi karena dia tidak ingin membuat keluarga Azzahra cemas.


" Kalau murni pembegalan artinya kalian aman, tapi kalau ada motif lain di belakang ini pasti akan berbuntut panjang," jelas Asraf.


" Jika mereka hanya kelompok begal, kenapa kamar kalian ini dijaga dua bodyguard di luar?" selidik Aydan curiga.


Gavin menatap Azzahra saat mendengar pertanyaan Aydan. Dia lupa jika semalam Rizal sudah memberitakukan jika ada orang yang menjaga mereka.


" Kenapa kalian berbohong kepada kami?" selidik Aydan kemudian.


" Aku hanya tidak ingin kalian cemas," sahut Gavin.


" Rara adalah adik kami, jadi jika ada orang yang akan mencelakakannya, pasti kami tidak akan tinggal diam dan hanya berpangku tangan," tegas Gavin.

__ADS_1


" Sudah laporkan hal ini ke pihak berwajib?" tanya Asraf.


" Semua sudah diurus untuk masalah itu. Dad David sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki motif di balik penyerangan ini," sahut Gavin.


" Baiklah, kami percayakan adik kami kepadamu, Gavin. Tolong jaga dia baik-baik " Aydan menepuk pundak Gavin.


" Aku pasti akan melindungi Rara," tekad Gavin membalas ucapan Aydan.


" Kami tidak akan lama di sini, nanti siang kakak ipar kamu akan menemanimu di sini, Ra. Abi dan Umi juga sedang dalam perjalanan kemari," ucap Aydan kembali.


" Iya, Kang." Azzahra menyahuti kakak keduanya itu.


" Untuk alasan penyerangan ini tolong sembunyikan dulu dari Abi dan Umi. Kami tidak ingin mereka menjadi cemas karena hal ini," pinta Aydan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Gavin dan Azzahra.


***


" Honey, ayo dimakan dulu sarapannya." Gavin sedari tadi membujuk istrinya itu agar mau makan menu sarapan pagi yang disiapkan pihak rumah sakit.


" Aku nggak mau, Kak. Itu pasti nggak enak rasanya." Azzahra terus menolak.


" Tapi kamu harus sarapan, Honey. Perutmu ini harus terisi. Kasihan baby kalau kau tidak memberinya makan." Gavin masih berusaha membujuk Azzahra.


" Tapi lauknya aku nggak suka, Kak." Azzahra beralasan.


" Honey, apa kau tak sayang pada baby?" tanya Gavin.


" Aku sayang dedek bayiku, Kak." Azzahra menolak disebut tidak sayang terhadap bayi yang dikandungnya.


" Kalau kau sayang, cepatlah makan, kasihan baby sudah kelaparan.


" Mommy, Daddy, aku lapar ..." Gavin menirukan suara anak kecil sehingga membuat Azzahra tertawa.


" Mommy tidak mau kasih makan baby?" Kembali Gavin menirukan suara anak kecil.


Akhirnya Azzahra pun menuruti perintah Gavin menyantap sarapan dari menu yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


" Assalamualaikum, Rara, Geulis ..."


Tiba-tiba suara Umi Rara terdengar dari arah pintu dibarengi dengan sosoknya yang lalu berlari menghampiri anaknya kemudian memeluk tubuh Azzahra seraya menangis.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra dan Gavin menjawab bersamaan.


" Duh, Gusti ... kamu nggak apa-apa, Geulis? Kandungan kamu nggak apa-apa, kan?" Umi Rara langsung bertanya penuh kecemasan.


" Rara baik-baik saja, Umi. Tapi Rara takut ..." Azzahra pun ikut menangis sambil berpelukan dengan Uminya.


" Abi ..." Gavin yang mendapati kemunculan Abi Rara langsung menyalami ayah mertuanya itu karena Umi Rara terlalu sibuk mengkhawatirkan putrinya.


" Bagaimana ini bisa terjadi, Gavin?" tanya Abi Rara.


" Kita bicara di sofa saja, Abi." Gavin mengajak Abi Rara untuk berbincang di sofa.


" Papamu mengabari Abi semalam. Papamu bilang kalian mengalami penyerangan. Siapa mereka? Apa kamu mengenali mereka, Gavin?" tanya Abi Rara kemudian setelah mendudukkan tubuhnya di sofa.


" Entahlah, Abi. Saya rasa mereka itu komplotan pembegal karena mereka mengumpan orang yang pura-pura tertabrak oleh saya." Gavin kembali mencoba menutupi.


" Apa ada yang berhasil mereka ambil?" tanya Abi kemudian.


" Tidak ada. Karena kebetulan saat itu ada orang yang lewat menolong kami dan orang itu adalah orang-orang Intel yang biasa Dad David sewa untuk menyelidiki suatu kasus." Untuk hal ini Gavin menjelaskan yang sejujurnya.


" Alhandulillah ada orang baik yang menolong kalian,' ucap Abi Rara.

__ADS_1


" Iya, Abi."


" Gavin, wajah kamu luka seperti ini? Apa orang itu memukulmu?" Umi Rara yang kini ikut bergabung menanyakan soal cidera yang dialami menantunya.


" Ini karena saya ditendang dari belakang saat saya ingin mengecek orang yang berpura-pura tertabrak, Umi." Gavin menerangkan.


" Aduh, wajah mantu Umi yang ganteng jadi seperti ini." Umi Rara menyentuh rahang Gavin.


" Apa pembegal itu berhasil mengambil harta kamu, Gavin?" tanya Umi Rara penasaran.


" Tidak, Umi. Mereka tidak berhasil membawa kabur apapun dari saya."


" Lain kali kalau mengalami hal seperti ini lagi, serahkan saja harta kamu, kamu 'kan kaya raya, pasti bisa beli lagi daripada terluka seperti ini. Beresiko juga sama kandungan Rara. Untung saja Rara dan calon bayi kalian tidak kenapa-kenapa."


" Umi, jangan doain lain kali, Cukup sekali ini saja kejadian seperti ini, jangan sampai terjadi lagi ke depannya." Abi Rara memprotes ucapan istri ya itu.


***


Sementara itu beberapa jam sebelumnya di sebuah apartemen mewah di pusat kota Jakarta ....


" S*hit! Mestinya aku bisa menghabisi nyawa dia!!" Seorang wanita cantik melempar samurainya ke atas tempat tidur.


" Kau benar-benar tidak bisa diandalkan, Joe!" umpat wanita itu kesal karena gagal mengeksekusi Gavin sesuai harapannya.


" Hei! Dia menendang senjataku, Grace! Masa depanku dipertaruhkan! Bagaimana kalau ini sampai patah? Sedangkan ini tidak diasuransikan!" sahut pria yang dipanggil Joe itu.


Grace mendengus kasar mendengar alasan yang dilontarkan oleh Joe


" Apa kita bisa terlacak? Motor yang kau jadikan umpan tertinggal di sana ..." cemas Grace karena motor itu bisa dijadikan barang bukti oleh pihak penyidik.


" Kau tenang saja, Grace! Plat nomer itu palsu, sudah aku ganti sebelumnya." Joe melangkah ke arah lemari pendingin dan mengambil kaleng coke lalu melemparkan minuman bersoda itu ke arah Grace yang dengan sigap ditanggap oleh wanita itu.


Dengan jari telunjuk lentiknya wanita itu membuka pengait tutup kaleng minuman bersoda itu dan meneguknya lalu menaruh kaleng minuman yang masih tersisa setengahnya di atas meja.


Grace lalu membuka jaket kulitnya hingga memperlihatkan tubuhnya yang terbalut t-shirt bra hingga menampakkan kedua bukitnya yang menonjol keluar dan sanggup membuat kaum pria menelan salivanya.


" Kau siapkan air hangat, aku ingin mandi!" perintah Grace sambil meloloskan celana panjang dari kaki jenjangnya hingga bagian bawah wanita itu hanya tertutup g-string, memperlihatkan bo*kong indah nan mulus yang mampu membuat kaum adam meneteskan liurnya.


" Apa kau juga butuh aku untuk menggosok punggungmu, Grace?" Joe menyeringai menatap tanpa kedip tumbuh indah Grace.


" Kau ingin merasakan juniormu itu tertendang dua kali?!" sindir Grace melempar celana panjangnya ke arah Joe hingga membuat pria itu tertawa lebar.


" Kau selalu saja segalak srigala, hahaha ..." Joe masih saja tertawa dan melangkah menuju arah bathroom untuk menyiapkan air hangat untuk Grace.


Sementara Joe menyiapkan air untuk mandi Grace, Grace sendiri menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


" Kau jangan merasa tenang dulu, Gavin! Aku akan tetap mengejarmu!" desis Grace menyebar ancaman.


" Aakkhh ..." Grace memekik karena tiba-tiba tubuh Joe telah mengungkungnya.


" Sebelum kau mandi air hangat sebaiknya kita hangatkan ranjang ini, Grace." Joe langsung menyergap dan melu*mat bibir ranum Grace yang langsung dibalas oleh wanita cantik itu hingga mereka saling bertukar saliva saat lidah mereka saling membelit dan mengeksplor ronga mulut masing-masing. Sementara tangan Joe sudah berhasil membuka t-shirt bra yang dikenakan Grace hingga kini pegunungan menjulang itu terbuka lebar dan siap dieksplor oleh Joe. Dan dengan ketangkasannya Joe berhasil menaklukan Grace hingga akhirnya membuat Grace terus mendesah merasakan kenikmatan yang begitu memabukan. Apalagi saat celana minim yang dikenakan Grace pun mampu disingkirkan oleh Joe dan Joe berhasil menguasai inti Grace membuat suara e*rangan dan desa*han terdengar di setiap sudut ruangan hingga membuat suhu udara dingin di kamar itu berubah panas oleh sepasang insan yang sedang diselimuti ga*irah yang menggelora.


***


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2