
Azzahra baru selesai melaksanakan sholat di sepertiga malam dan dia memanjatkan doa-doa agar diampuni dosa-dosanya terutama dosa-dosa di masa lalu suaminya dan tak lupa berdoa memohon agar diluluhkan hati kedua orang tuanya.
Azzahra hendak melepas mukenanya saat tiba-tiba terdengar suara notif ponselnya berbunyi. Azzahra segera mengambil ponselnya dan melihat ternyata sebuah pesan masuk dari Gavin.
" Assalamualaikum, Honey ... kamu belum tidur?"
Azzahra ingin mengetik membalas pesan masuk suaminya, namun tiba-tiba suara panggilan video call terlebih dahulu muncul di layar ponselnya. Dengan cepat Azzahra membuka video call dari suaminya itu.
" Honey, kamu belum tidur?"
Azzahra tertegun dan menatap haru suaminya yang saat itu terlihat memakai baju Koko dan kopiah di kepalanya.
" Honey ..." Gavin kembali menyapa karena istrinya itu seakan tak bereaksi dengan ucapannya.
" Ah, iya, Kak." Azzahra langsung mengerjapkan matanya. " Kak Gavin habis sholat malam?" tanya Azzahra, karena selama tinggal satu atap dengan pria itu tak sekalipun dia melihat pria itu melaksanakan sholat sunnah tengah malam.
" Iya, Honey. Aku cari di Goo*gle tata cara sholat dan bacaannya. Aku benar-benar ingin bertobat, aku ingin menjadi imam yang baik buat kamu agar Abi bangga mempunyai menantu sepertiku," tekad Gavin.
Azzahra meneteskan air mata terharu atas tekad suaminya itu.
" Kak, maafkan Abi ya, Kak." Azzahra merasa tak enak hati karena sikap Abinya yang akhirnya membuat mereka harus terpisah.
" Kamu tidak usah meminta maaf, Honey. Abimu tidak salah. Kau jangan marah kepada Abi. Jangan menentang apa yang dikatakan Abi juga. Ini ujian dalam rumah tangga kita. Semoga kita bisa melewatinya dengan baik dan kita akan berkumpul lagi." Gavin mencoba menasehati Azzahra agar selalu bersikap baik kepada orang tuanya walaupun saat ini justru mereka sedang diberi hukuman oleh Abinya itu.
Azzahra tersenyum samar, sementara pipinya masih dibasahi oleh lelehan air matanya. Dia sangat bahagia suaminya itu bisa sersikap tenang menghadapi semua masalah yang sedang dihadapi mereka.
" Honey, apa kau merindukan aku?" tanya Gavin yang dibalas anggukkan kepala Azzahra.
" Aku nggak mendengar kau mengatakan rindu. Apa kamu memang tidak merindukanku?" Gavin sengaja berkata seperti itu karena dia ingin mendengar istrinya itu berucap kata rindu kepadanya.
Mendengar apa yang diucapkan Gavin bukannya menjawab, Azzahra justru terisak.
" Aku sedih ternyata kau tidak merindukanku." Gavin berpura-pura merajuk dan mengacuhkan istrinya yang menangis.
" Aku kangen, Kak. Hiks ...."
" Aku nggak dengar? Kamu bicara apa tadi?" Gavin sengaja mendekatkan telinganya ke layar ponselnya.
" Hiks ... hiks ... aku kangen ...."
" Nggak jelas lho, Honey. Sepertinya sinyal di sana kurang bagus. Aku nggak dengar jelas kamu ngomong apa tadi." Gavin sengaja mengerjai istrinya.
" Hiks ... hiks ..." Azzahra semakin tersedu.
__ADS_1
" Kok malah menangis? Honey, aku nggak ingin lihat kamu terus menangis, aku ingin dengar kamu berkata kalau kamu rindu aku."
" Aku kangen suamiku ...."
Gavin tersenyum. " Kangen suamimu? Memangnya suami kamu itu ada di mana?" goda Gavin lagi.
" Kak ..." rengek Azzahra karena suaminya itu masih saja iseng menggodanya dalam kondisi seperti ini.
Gavin terkekeh. " Biar kita tidak terlalu stres memikirkan ini, Honey," lanjutnya.
Gavin kemudian membuka kancing dan melepas baju kokonya. Dia juga menaruh kopiah di atas nakas dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Tidurlah, Honey. Sudah larut malam. Kamu jangan bergadang, aku nggak ingin kamu jatuh sakit karena memikirkanku." Gavin menyuruh istrinya untuk beristirahat.
" Aku akan menemanimu. Aku tidak akan mematikan panggilan video call ini sampai kau tertidur. Berbaringlah ..." Gavin kembali meminta istrinya itu untuk melakukan apa yang diperintahkannya.
Azzahra pun akhirnya menuruti apa yang diminta sang suami. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi miring sementara .matanya tetap fokus menatap layar ponsel yang menampilkan wajah tampan suaminya.
" Tidurlah dan pejamkan matamu."
Azzahra tetap tak memejamkan matanya, dia malah terus menatap suaminya di layar ponsel.
" Honey, tidurlah ...."
" Aku nggak mau, Kak."
Azzahra pun kemudian memejamkan matanya, karena rasa lelah setelah menangis dan dia hanya terlelap sebentar sebelum sholat malam. Akhirnya tidak memerlukan waktu lama wanita itupun sudah terlelap.
" Sweet dream, Honey. I love you ..." Gavin mengecup layar ponselnya yang menampakkan wajah cantik istrinya itu. Setelah itu dia mematikan panggilan video call nya. Dan menaruh kembali di atas nakas. Dia pun kemudian berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
***
" Selamat siang, Tuan Gavin." sapa sekretaris Dad David saat melihat kemunculan Gavin di hadapannya
" Siang, apa Daddy ada di tempat?" tanya Gavin kepada sekretaris Dad David.
" Ada, Tuan."
" Oke, terima kasih." Gavin lalu mendekati ruang kerja Dad David.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Dad ..." sapa Gavin saat membuka pintu ruang kerja Dad David.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, Gavin ... masuklah." Dad David menyuruh anaknya itu untuk masuk.
" Ada berita apa?" tanya Dad David kemudian setelah Gavin duduk di kursi depan meja kerjanya.
Gavin menarik nafas sejenak dan menghembuskannya perlahan.
" Rara tidak diijinkan aku bawa pulang, Dad." Gavin mengeluhkan apa yang terjadi saat dia dan Azzahra menemui Abi dan Umi Rara.
Kini giliran Dad David yang menghela nafas.
" Dad sudah menduga hal itu akan terjadi. Tidak mudah untuk mereka untuk bisa menerima dan memaafkan masa lalu kamu." Dad David menyahuti.
" Apa Dad tidak bisa membantuku?" tanya Gavin.
" Kau ingin Dad membantu apa? Bagaimana Dad bisa menampakkan wajah Dad di depan Abi Rara? Sejak kasus keisengan kamu di hotel dulu saat membawa Rara masuk ke dalam kamar hotel, Dad sudah sering meminta pengertian Abi Rara untuk memaafkan keisengan kamu dulu. Tapi kali ini masalahnya berbeda. Yang kamu lakukan bukalah hal yang sepele."
Gavin mendengus. " Ya, aku mengerti, Dad."
" Apa kau akan menyerah?" tanya Dad David.
" Aku tidak akan menyerah sedikitpun, Dad! Aku akan berusaha mendapatkan Rara kembali. Aku akan buktikan jika aku pantas menjadi menantu keluarga Abdullah Zulchair!" tegas Gavin.
Dad David kemudian bangkit dan berjalan menghampiri Gavin dan menepuk pundak anaknya itu.
" Begitulah seharusnya seorang Richard. Dad bangga atas tanggung jawabmu terhadap William. Kali ini buat Dad bangga dengan pembuktian kesungguhan hatimu kepada keluarga Rara."
" Sebaiknya kita makan siang dulu. Kau sudah makan siang?" tanya Dad David.
" Belum, Dad."
" Ya sudah, kita makan siang sekarang. Kau butuh tenaga ekstra untuk berjuang mendapatkan istrimu kembali." Dad David berkelakar seraya terkekeh, membuat Gavin menyunggingkan senyuman.
" Oke, Dad." Gavin pun bangkit dari duduknya.
" Kau ingin makan apa?" tanya Dad David berjalan mendekati pintu ruangan kerjannya.
" Terserah Daddy saja. Karena makan apapun saat ini akan terasa hambar untukku karena jauh dari Rara." Kini Gavin yang berseloroh hingga membuat Dad David tertawa lebar seraya keluar meninggalkan ruangan kerjanya untuk makan siang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️