KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Aku Berangkat


__ADS_3

Gavin melangkah memasuki teras rumah kediaman Yoga dan Natasha yang diikuti Azzahra di belakangannya.


Setelah menekan bel dan menunggu beberapa saat, pintu rumah itu pun terbuka.


" Mas Gavin?" sapa Bu Ratna melihat pria yang dia tahu sebagai sepupu dari istri majikannya


" Assalamualaikum, Bu. Alexa ada?" tanya Gavin sembari memberikan salam.


" Waalaikumsalam, Non Tata ada di dalam. Ayo masuk, Mas." Bu Ratna mempersilahkan Gavin dan Azzahra masuk.


" Ini istrinya Mas Gavin?" Bu Ratna melirik ke arah Azzahra. " Masya Allah, cantik sekali."


" Iya, Bu. Cocok 'kan sama saya yang ganteng ini, Bu?" Gavin langsung melingkarkan tangannya ke pundak Azzahra, membuat wanita itu melirik ke arahnya.


" Cocok, dong. Cantik sama ganteng." Bu Ratna mengacungkan kedua ibu jarinya. " Sama seperti Den Yoga sama Non Tata. Orang ganteng ketemunya sama wanita yang cantik." Bu Ratna terkekeh.


" Alexa di mana, Bu?" tanya Gavin kemudian.


" Oh, iya ... Ibu sampai lupa. Sebentar Ibu panggilkan, Non Tata masih di kamar, Mas. Ayo duduk dulu, Mas Gavin." Setelah menyuruh Gavin dan Azzahra duduk, Bu Ratna pun masuk ke dalam untuk memanggil Natasha.


Azzahra memperhatikan ruangan tamu rumah Yoga, memang terasa homey, membuat siapapun akan kerasan tinggal di sini. Sangat berbeda dengan apartemen mewah milik suaminya.


" Sepertinya kamu tertarik dengan suasana rumah tinggal Alexa." Gavin rupanya memperhatikan istrinya.


" Tentu saja, tempat tinggal seperti ini terasa lebih manusiawi untuk saya daripada apartemen mewah kamu," ketus Azzahra.


" Kak Gavin?? Rara??" Suara Natasha terdengar di tengah-tengah Gavin dan Azzahra.


" Wah, ada angin apa ini kalian mengunjungi rumahku, eh ... rumah suamiku, sih. Tapi aku istrinya 'kan, ya? Berarti rumah aku juga, dong!" celoteh Natasha seraya terkikik.


" Tadi aku mampir ke butikmu, Alexa. Tapi satpam di sana bilang kalau kamu sekarang ini jarang ke butik karena kehamilanmu itu." Gavin menunjuk perut Natasha.


" Iya, Mas Yoga larang aku. Mamih Ellena juga sudah wanti-wanti aku jangan turun naik tangga dulu. Makanya kamar juga sementara ini aku sama Mas Yoga pakai kamar di bawah." Natasha menceritakan suami dan Mama mertuanya yang posesif menjaga kehamilan Natasha.


" Ya memang kamu sebaiknya istirahat di rumah dulu, jangan sampai musibah kemarin terulang karena kecapean harus naik turun tangga." Gavin menasehati.


" Iya, Kak. Aku juga pikir begitu. Tapi di rumah terus boring juga, Kak. Kalau di butik ada yang bisa dikerjakan, bisa ngobrol seru juga sama Sinta."

__ADS_1


" Kamu lebih mementingkan pekerjaanmu daripada janin dalam kandunganmu?"


Azzahra memperhatikan interaksi kedua saudara sepupu itu. Terlihat Gavin begitu perhatian dan perduli pada Natasha. Dia berpikir, coba saja jika yang sedang hamil dirinya terus berkata seperti Natasha, yang ada suaminya itu akan terus-terusan menyindirnya.


" Oh ya, Alexa. Kedatangan aku kemari itu untuk menitipkan istri kakak di sini. Kasihan kalau dia di apartemenku sendirian, kasihan perabotannya, takut rusak semua kena dia."


Belum juga lima menit Azzahra bergumam di hatinya, sekarang ini suaminya itu sudah melontarkan sindiran, apalagi di depan Natasha.


Sedangkan Natasha langsung tergelak mendengar guyonan yang dilemparkan kakak sepupunya itu.


" Iiishh, Kak Gavin jahat banget, deh. Masa kakak ipar dianggap sebagai perusak." Natasha terkekeh.


Azzahra semakin dibuat kesal dengan tawa Natasha yang dia anggap mengejeknya.


" Eh, Kakak ipar ... jangan dianggap serius, kita ini memang biasa bercanda seperti ini." Natasha yang melihat wajah Azzahra yang berubah kesal langsung mencoba menerangkan.


" Aku senang Rara ada di sini, jadi aku nggak bete di rumah. Kita jadi bisa banyak ngobrol, kan?" ucap Natasha kemudian.


" Iya, biar makin akrab dan tidak ada saling cemburu di antara kalian," celetuk Gavin menyeringai seraya mengelus tengkuknya.


" Iiisshh, Kak Gavin ini. Siapa juga yang saling cemburu? Kita ini 'kan wanita-wanita bahagia yang mempunyai suami-suami tampan," kelakar Natasha kembali.


" By the way ... gimana nih, teralisnya sudah berhasil dijebol belum, Kak?" Natasha menyeringai memainkan alis matanya yang tebal.


" Sudah, dong. Sudah berkali-kali kebobolan malah." Gavin melirik Azzahra kemudian mengedipkan matanya ke arah istrinya yang saat itu sudah bersemu wajahnya.


" Wah, keren, dong. Semoga menyusul aku ya, Ra. Cepat jadi debay di perut," ucap Natasha.


" Aamiin ..." Gavin yang antusias menanggapi, sedangkan Azzahra hanya memilih diam.


" Kalau begitu, Kakak berangkat sekarang, Alexa. Titip dia, ya!" Gavin kemudian bangkit. " Kamu jangan terlalu capek jangan terlalu agresif juga aktivitasnya." Gavin menepuk bahu Natasha.


" Siap, boss!!" Natasha mengikuti gerakan hormat.


" Saya pergi dulu, kalau kamu menginginkan sesuatu, kamu bisa telepon saya." Gavin pamit kepada Azzahra.


" Nggak usah, saya nggak ingin apa-apa." Azzahra menjawab sedikit ketus. Entah kenapa dia merasa terusik dengan sikap parhatian suaminya terhadap Natasha.

__ADS_1


" Iiissshh, sudah sama-sama ngerasain enak-enak kok panggilnya masih saya saya, sih. Kaku banget, yang mesra gitu, dong!" protes Natasha memprotes Gavin dan Azzahra yang masih menggunakan panggilan formal dalam obrolannya.


Gavin hanya menyeringai tak terlalu memusingkan protes adik sepupunya. Dia memilih melangkah pergi.


" Eits, tunggu dulu, Kak." Suara Natasha membuat Gavin menghentikan langkahnya.


" Ada apa?" Gavin mengeryitkan keningnya.


" Kok kakak ipar nggak cium tangan Kak Gavin?"


Pertanyaan Natasha sontak membuat bola mata Azzahra membulat. Dia langsung meremas kain gamis yang dikenakannya. Dia memang tidak pernah melakukan hal itu lagi setelah akad nikah. Dia tahu memang sepatutnya seorang istri mencium tangan suami saat suami hendak berangkat dan pulang berpergian.


" Kau dengar itu, Honey?" tanya Gavin merasa di atas angin karena berada di posisi yang benar. Namun Azzahra masih bergeming.


" Aku tutup mata, deh. Kalau Kakak ipar malu melakukan hal itu karena ada aku." Natasha langsung menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.


Akhirnya dengan sedikit agak berat Azzahra melangkah menuju suaminya dan meraih tangan kanan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya itu.


Saat Azzahra menaikkan kembali tubuhnya setelah dia sedikit membungkuk karena mencium punggung tangannya. Gavin langsung menarik tangan Azzahra agar wanita itu sedikit mendekat kepadanya lalu dia mengecup lembut kening istrinya itu membuat Azzahra terkesiap.


" Cieee, romantis sekali kalian berdua. Co cuit, deh." Natasha langsung berkomentar melihat pemandangan manis di depan matanya.


Sontak Azzahra langsung menjauhkan tubuhnya dari Gavin, wajahnya pun sudah berubah memerah karena ketahuan melakukan adegan intim di depan Natasha.


" Iihh, Kakak ipar jangan malu-malu gitu, deh. Nggak apa-apa juga kali mesra sama suami sendiri." Natasha kemudian berjalan mendekati Azzahra lalu melingkarkan tangannya di pundak Azzahra.


" Aku berangkat," ucap Gavin melirik ke arah Azzahra.


Tiba-tiba Gavin mengatakan kata 'aku' saat berpamitan. Azzahra sendiri tidak mengetahui kata-kata Gavin itu ditujukan kepadanya atau Natasha. Karena selama ini memang dia dan suaminya itu terbiasa mengucap kata saya. Namun jika dilihat dari pandangan mata Gavin yang mengarah kepadanya, dia menduga jika Gavin memang mengatakan kalimat itu untuknya. Dan entah kenapa, kata 'Aku' itu terasa lebih nyaman terdengar di telinganya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2