
" Kak Gavin ...!! Awaasss ...!!"
Gavin segera menghampiri saat istrinya itu berteriak histeris.
" Honey, it's oke ... orang itu sudah pergi." Gavin mencoba menyadarkan Azzahra yang masih terpejam namun berteriak histeris.
" Hiks ... hiks ... Kak Gavin !! Awas Kak Gavin!! Hiks ..." Azzahra masih meracau dalam alam bawah sadarnya.
" It's oke, Honey. Kita selamat ..." Gavin menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman. Sungguh hatinya merasa terkoyak melihat istrinya yang nampak syok dengan peristiwa yang baru saja terjadi dengan mereka. Rasanya saat itu juga Gavin ingin mengirim pelaku kejahatan tadi ke neraka.
Sementara Gavin masih berusaha menyadarkan Azzahra, Rizal cepat-cepat memanggil suster lewat intercom yang ada di ruang rawat Azzahra.
" Aaakhh, Kak Gaviiinnn ...!!" teriak Azzahra kencang hingga akhirnya membuat dia tebangun dengan nafas tersengal-sengal dan menangis.
" Hiks ... hiks ..." Azzahra menangis kencang.
" Honey, jangan takut, kita aman sekarang." Gavin langsung memeluk tubuhnya.
" Hiks ... orang itu bawa senjata. Orang itu ingin membunuh Kak Gavin, hiks ..." Azzahra terus menangis. Masih terekam jelas diingatannya saat penyerangnya itu mengacungkan senjata tajam.
" Ada apa, Pak?" Dua orang suster masuk dari arah pintu kamar rawat Azzahra.
" Nyonya Azzahra sudah siuman?" tanya salah satu suster seraya mendekat ke arah Azzahra.
" Sudah, Sus." Rizal yang menjawab pertanyaan salah satu suster tadi.
" Jangan dekat-dekat!!" Azzahra yang melihat salah satu suster mendekat ingin memeriksanya langsung menyuruh suster itu berhenti.
" Pergi! Pergi Kalian!!" usir Azzahra kepada kedua suster itu, membuat suster itu mengurungkan niatnya.
" Honey, mereka itu ingin memeriksamu." Gavin menangkup wajah Azzahra memberitahukan istrinya itu jika mereka adalah dua orang yang sedang merawatnya.
" Mereka itu jahat, Kak! Mereka ingin membunuh Kak Gavin! Mereka ingin bunuh kita! Suruh mereka pergi, aku takut, Kak. Hiks ..." Azzahra menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.
" Honey, mereka itu suster. Mereka tidak jahat." Gavin membelai kepala istrinya memberikan pengertian kepada istrinya.
" Tidak, Kak. Aku takut, suruh mereka pergi, Kak." Azzahra semakin mengeratkan pelukan ke tubuh suaminya.
__ADS_1
Gavin menoleh ke arah dua suster tadi.
" Sebaiknya kalian keluar dulu, Istri saya baru saja mengalami peristiwa yang membuat dia syok berat, jadi biarkan istri saya tenang terlebih dahulu." Gavin meminta pengertian kedua suster itu.
" Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi."
" Jika butuh kami silahkan panggil kami saja, Tuan."
Kedua suster itu akhirnya berpamitan kepada Gavin dan akhirnya berjalan keluar ruang rawat inap Azzahra.
" Tuan Gavin, kalau begitu saya juga permisi pulang dulu. Besok kami akan mulai menyelidiki siapa mereka-mereka itu. Sementara ini kami sudah menyiapkan dua orang pengawal yang akan berjaga di depan kamar ini." Rizal menjelaskan tentang dua orang bodyguard yang diminta Dad David untuk menjaga anak dan menantunya itu.
" Baik, Pak Rizal. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pertolongan Pak Rizal dan Pak Vito. Maaf saya tidak bisa mengantar sampai pintu." Karena Azzahra yang memeluk erat seakan tidak ingin lepas dari dirinya membuat Gavin tidak bisa mengantar Rizal sampai keluar ruangan.
" Tidak apa-apa, Pak Gavin. Permisi ..." pamit Rizal.
" Silahkan, Pak Rizal."
Rizal pun akhirnya melangkah mendekati pintu ruangan dan menghilang dari balik pintu.
" Honey, kau pasti sangat lelah. Sebaiknya kau istirahat saja." Gavin meminta agar istrinya itu kembali berbaring.
" Kau jangan takut, aku menemanimu di sini. Aku akan tidur di sampingmu." Gavin kemudian menggeser bantal hingga mereka bisa pakai untuk tidur berdua dan merebahkan tubuh Azzahra yang masih memeluknya erat.
" Honey, aku beryukur kita masih dilindungi Allah SWT. Melindungi aku, kamu dan baby kita. Aku janji aku pun akan melindunginmu. Aku tidak ingin kau mengalami peristiwa seperti tadi lagi."
" Kau tahu, Honey? Baby kita ternyata pintar, dia selamat. Dia tidak ingin meninggalkan Daddy dan Mommy nya. Benar-benar baby hebat, seperti Mom dan Dad nya." Gavin terkekeh.
.
Gavin terus saja mengajak bicara Azzahra tanpa dia ketahui jika istrinya itu sudah kembali terlelap.
" I love you, Honey." Gavin lalu mengecup kening Azzahra sebelum akhirnya dia pun ikut terlelap karena dia merasakan tubuh dan pikiran terasa sangat penat.
***
" Assalamualaikum, Pak Abdullah. Maaf saya malam-malam mengganggu waktu Pak Abdullah." Selepas menerima telepon dari Gavin dan menghubungi Rizal untuk memberi perintah menyelidiki siapa pelaku dari penyerangan Gavin, kini Dad David mencoba menghubungi besannya.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, tidak apa-apa, Pak David. Apa apa? Apa obrolan kita siang tadi masih kurang, Pak David?" Abi Rara terkekeh, karena setelah acara tasyakuran, dirinya dan Dad David sempat berbincang sebelum kembali ke Jakarta.
" Tentu saja, mengobrol dengan Pak Abdullah memang tidak pernah puas. Karena saya mesti banyak belajar dari Pak Abdullah terutama soal ilmu agama." Dad David memang tidak ingin langsung mengatakan tujuannya menelpon karena dia tidak ingin membuat besannya itu panik.
" Haha, Pak David ini bisa saja. Apalah saya jika dibandingkan Pak David yang mencapai kesuksesan dalam berbisnis namun tetap mempunyai sifat yang rendah hati. Justru saya lah yang sepatutnya belajar terhadap Pak David." Abi Rara manyahuti karena dia sendiri merasa jengah dipuji-puji seperti itu oleh besannya.
" Iya, kita ini sama-sama orang tua yang sedang belajar untuk menjadi lebih baik dan bersikap lebih bijaksana, Pak Abdullah." ujar Dad David.
" Benar sekali, saya setuju dengan Pak David," sahut Abi Rara. " Bagaimana, Pak David. Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan?" Abi Rara merasa jika ada hal yang ingin disampaikan besannya itu karena Dad David menelpon malam hari ditambah lagi siang harinya mereka sudah mengobrol.
" Iya, Pak Abdullah. Saya ingin menyampaikan kabar. Bukan kabar yang menyenangkan tapi ..." Dad David menjeda kalimatnya beberapa saat.
" Tapi apa, Pak David?" Abi Rara dibuat sangat penasaran dengan berita yang ingin disampaikan oleh Dad David.
" Tapi saya harap Pak Abdullah bisa tenang karena saya sudah mengatasi masalah ini."
" Ada apa sebenarnya, Pak David?" Abi Rara semakin penasaran.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, cuma tadi saat kembali ke Jakarta, Gavin dan Rara sedikit mendapatkan masalah. Tapi saat ini mereka baik-baik saja, Pak Abdullah." Dad David memang menyampaikan berita tentang peristiwa yang menimpa Gavin dan Azzahra dengan hati-hati.
" Masalah apa, Pak David?"
" Ada yang menyerang mereka di jalan."
" Astaghfirullahal adzim, lantas bagaimana mereka sekarang? Mereka ada di mana?" Tentu saja berita itu sangat mengejutkan Abi Rara, rasa khawatir akan keadaan putrinya dan juga menantunya pun mulai menggelayuti di hati Abi Rara.
" Pak Abdullah tidak perlu khawatir, Gavin, Rara juga janinnya selamat. Tapi saat ini mereka sedang berada di rumah sakit xxx." Dad David mencoba menenangkan hati Abi Rara.
" Syukurlah kalau mereka semua tidak apa-apa. Saya akan menuju ke rumah sakit sekarang."
" Sebaiknya besok pagi saja, Pak Abdullah. Ini sudah larut, terlalu riskan berpergian jauh. Toh sekarang ini mereka sudah aman." Dad David berusaha menahan Abi Rara untuk tidak mengunjungi Gavin dan Azzahra saat itu juga.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️