
Gavin menatap bahan makanan yang ada di hadapannya. Entah dia sendiri tidak tahu apa namanya, namun dari aroma yang tercium bahan makanan itu sangat menyengat di indra penciumannya.
" Ini apa, Umi? Baunya tidak enak sekali." Gavin menjauhkan bahan makanan itu dari hadapannya.
" Itu namanya jengkol. Kamu belum pernah makan yang namanya jengkol, kan?" Umi Rara merasa yakin jika Gavin merasa asing dengan masakan itu.
" Umi mau bikin semur jengkol, Abi Rara suka sekali sama masakan itu." Umi Rara kembali menjelaskan.
" Ini untuk dimakan? Baunya tidak enak seperti ini. Memang ini bahan makanan?" Gavin tidak mempercayai jika benda berbau tak sedap di hadapannya itu adalah salah satu bahan makanan.
" Baunya tidak enak, tapi rasanya mantap." Umi Rara mengacungkan ibu jarinya.
" Orang Indonesia itu banyak yang suka sama makanan ini. Sudah cepat kamu kupas kulitnya!" Umi Rara kembali menyodorkan jengkol itu ke depan Gavin.
" Hoek ..." Gavin cepat-cepat menutup hidungnya karena penciuamannya benar-benar menangkap bau tak sedap dari jengkol itu.
" Umi, sumpah ... aku mending kasih Umi berlian daripada harus mengupas ini." Masih dengan hidung dan mulut tertutup Gavin mengatakan hal itu.
Umi Rara berpikir sesaat sebelum akhirnya sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya.
" Kamu serius mau belikan Umi berlian?" tanya Umi Rara memastikan janji Gavin yang diucapkan tadi.
" Benar, Umi. Saya tidak mungkin bohong," tegas Gavin.
" Tapi kamu nggak akan menuduh Umi matre, kan?" tanya Umi Rara kembali.
" Tidak, Umi. Saya tidak mungkin berani mengatakan hal seperti itu." Gavin benar-benar tidak perduli berapa nominal yang akan dia keluarkan. Yang ada dipikirannya sekarang ini adalah terbebas dari hukuman mengupas kulit jengkol.
" Oke kalau kamu memaksa akan membelikan Umi berlian, Umi nggak enak harus terus menolak," sahut Umi Rara enteng.
" Jadi kapan kita beli berliannya? Sekarang, ya! Nanti kan mau ada tasyakuran empat bulanan Neng Rara. Biar bisa Umi pakai." Umi Rara nampak bersemangat.
" Terserah Umi saja,"sahut Gavin. " Berarti saya sudah bebas kan, Umi? Saya mau menyusul Rara olah raga pagi."
" Iya, tapi kamu jangan lupa janji kamu tadi!" Umi Rara coba mengingatkan.
" Iya, Umi saya tidak akan ingkar."
" Ya sudah sana, kamu susul Rara!"
" Saya permisi dulu, Umi. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Selepas berpamitan Gavin pun segera menyusul istrinya untuk berolah raga pagi.
***
Sementara di tempat lain saat Azzahra sedang menunggu Rusmi membeli lontong dan gorengan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Azzahra. Dan setelah Azzahra menegok asal suara tadi dia menemukan sosok pria berwajah tampan berdiri di sampingnya. Pria yang menggunakan baju Koko dengan sajadah yang tersampir di bahu pria itu dan kepala yang mengenakan kopiah.
" Assalamualaikum, Neng Rara ..." sapa Pria itu kembali seraya memberi salam
" Waaikumsalam, Kang Ridho?" Ternyata Ridho lah pria yang menyapa Azzahra.
" Neng Rara ada di sini? Bagaimana kabar Neng Rara?" tanya Ridho kemudian.
" Alhamdulilah Rara sehat-sehat saja, Kang. Iya kebetulan lagi pulang ke Bogor." Azzahra merasa kikuk karena dia tahu kalau Ridho dulu pernah ingin melamarnya.
" Syukur alhamdulillah kalau sehat-sehat semua." Ridho menyahuti.
" Baru pulang dari masjid, Kang?" tanya Azzahra berbasa-basi.
__ADS_1
" Iya, Neng. Habis kasih kuliah Shubuh," ucap Ridho.
" Sedang olah raga pagi ya, Neng?" tanya Ridho kemudian.
" Iya, Kang. Mumpung pulang ke Bogor, di sini udaranya segar," jawab Azzahra
" Oh ya, Neng Rara sama siapa ke sini?" tanya Ridho karena tidak mendapati siapa-siapa bersama Azzahra di sana.
" Rara ditemani sama Bi Rusmi, Kang. Itu di sana sedang cari makanan soalnya mendadak lapar, Kang." jawab Azzahra jujur seraya mengusap perutnya.
" Kamu lapar, Ra. Ini Akang ada roti dimakan saja, Ra. Tadi pas selesai kasih ceramah ada ibu-ibu yang kasih ini ke Akang. Kamu ambil saja, Ra.." Ridho menyodorkan plastik berisi roti ke depan Azzahra.
" Ah, nggak usah, Kang. Itu Bi Rusmi juga sedang beli makanan, kok." Azzahra dengan halus menolak tawaran Ridho.
" Nggak apa-apa kok, Ra. Kamu suka yang mana? Coklat? Keju? Kacang?" Ridho mengambilkan satu bungkus roti rasa coklat lalu membukakan plastiknya untuk Azzahra.
" Ini, makan saja." Ridho menyodorkan roti itu ke arah Azzahra membuat akhirnya Azzahra menerima roti itu dari Ridho.
" Kamu berapa hari di sini, Ra?" tanya Ridho kemudian duduk bersebelahan dengan Azzahra hanya berjarak sekitar satu meter.
" Dari kemarin, Kang. Rencananya sore ini juga kembali ke Jakarta setelah acara tasyakuran empat bulanan kehamilan Rara selesai, Kang." Azzahra mengusap perutnya.
" Kamu sedang hamil, Ra?" tanya Ridho menatap perut Azzahra.
" Iya, Kang. Alhamdulillah." Azzahra mengembangkan senyumannya.
" Akang senang kamu bisa move on dari Prayoga, Neng."
Azzahra tersenyum seraya mengunyah roti yang diberikan Ridho kepadanya.
" Itu hanya kisah masa lalu, Kang. Alhamdulillah, hubungan Rara sama Kang Yoga juga sekarang baik. Kebetulan istri Kang Yoga itu 'kan adik sepupu suami Rara, Kang." Azzahra menjelaskan.
" Oh ya? Kamu kelihatan bahagia sekarang, Neng." Ridho bisa melihat wajah Azzahra yang berbinar.
" Sayang Akang kalah cepat sama suami kamu, Ra." Suara Ridho terdengar lirih.
" Neng Rara nggak kasih kesempatan buat Akang untuk bisa dekat sama Neng Rara saat itu," keluh Ridho kembali.
" Ya mungkin itu karena memang tidak berjodoh, Kang." Azzahra menyahuti.
" Eheemm, hmmm ... pantas kamu semangat sekali ingin olah raga, ternyata kamu janjian sama pria lain, Honey?!" Suara Gavin tiba-tiba terdengar di antara obrolan Azzahra dan Ridho.
" Kak Gavin? Kok Kak Gavin ada di sini? Katanya Kak Gavin sakit pinggang?" Azzahra buru-buru bangkit dari duduknya, namun karena tergesa-gesa dan kaget membuat tubuh Azzahra limbung dan hampir terjatuh namun dengan cepat Ridho menangkap lengan Azzahra sehingga wanita itu lolos dari celaka.
Tentu saja sikap Ridho yang nampak di mata Gavin telah berani menyentuh istrinya, membuat pria itu emosi dan dengan cepat dia menyingkirkan tangan Ridho yang memegang lengan Azzahra.
" Dilarang sentuh-sentuh istri orang!" hardik Gavin melotot ke arah Ridho.
" Astaghfirullahal adzim, Kak. Jangan bicara seperti itu!" Azzahra menegur suaminya yang dia anggap berkata dan bersikap kurang sopan terhadap Ridho.
" Oh, maaf ... saya hanya membantu Neng Rara agar tidak terjatuh tadi." Ridho menjelaskan alasannya jika tadi hanya bermaksud menyelamatkan Azzahra.
" Jangan berlagak seperti pahlawan. Seandainya kamu tidak ada, saya juga bisa menolong istri saya!" tegas Gavin dengan nada kurang bersahabat. Dia langsung melingkarkan tangannya posesif ke pinggang Azzahra.
" Kak Gavin! Kang Ridho itu tadi hanya tolong aku karena tadi aku terburu-buru berdiri dan kaget jadi hampir terjatuh." Azzahra mencoba menjelaskan kepada suaminya itu.
" Kau kaget karena ketahuan denganku kan, Honey?! Sekarang apa tujuanmu bertemu dengan dia?" tanya Gavin menyelidik.
" Tujuan apa sih, Kak? Orang aku bertemu dengan Kang Ridho ini secara tidak sengaja, kok!" tepis Azzahra.
" Tidak sengaja, tapi kalian sedang bernostalgia, mengenang masa lalu, kan? Jangan kamu pikir aku tidak mendengar, Honey. Aku dengar tadi kamu bilang tidak berjodoh. Memang dia itu mantan pacar kamu? Dan yang membuat kalian tidak berjodoh karena kau menikah denganku?!" sindir Gavin kemudian.
__ADS_1
" Astaghfirullahal adzim, kenapa Kak Gavin mikir seperti itu, sih?! Jangan ngaco, deh!" Azzahra nampak kesal karena suaminya itu menuduhnya yang tidak-tidak.
" Lho, Aa Gavin menyusul ke sini?" Suara Rusmi yang baru selesai membeli lontong dan gorengan pun terdengar.
" Eh, ada Den Ridho juga rupanya." Rusmi sedikit terkesiap melihat ada Ridho juga di antara Gavin dan Azzahra.
" Bi Rusmi ini bagaimana? Disuruh menemani Rara kenapa pergi-pergi? Apa Bi Rusmi tidak lihat istriku ini sedang digoda sama laki-laki lain?" Gavin nampak kesal karena berpikiran jika Rusmi telah lalai meninggalkan Azzahra sendirian.
" Rusmi tadi disuruh beli ini, soalnya Neng Rara lapar." Rusmi menunjukkan plastik berisi lontong dan gorengan di tangannya.
Gavin langsung merebut plastik di tangan Rusmi.
" Makanan apa ini? Honey, kamu memberi baby kita makanan seperti ini?" Gavin lalu membuang makanan yang tadi dibeli oleh Rusmi.
" Kak!! Astaghfirullahal adzim! Kenapa dibuang makanan itu?!" pekik Azzahra kaget karena melihat Gavin membuang makanan itu.
" Makanan itu tidak layak untuk baby kita, Honey!" tegas Gavin.
" Iya tapi kenapa dibuang? Kalau Kak Gavin melarang aku makan itu, Kak Gavin'kan bisa kasih ke orang lain!" Azzahra merasa kesal melihat tingkah suaminya yang kini berubah menyebalkan seperti dulu.
" Honey, kalau kau lapar aku bisa belikan makanan yang lain. Seperti roti itu." Gavin menunjuk potongan roti di tangan Azzahra.
" Kalau kamu lapar kenapa beli rotinya tidak yang banyak, Honey?"
" Aku nggak beli roti ini. Aku dikasih sama Kang Ridho, kok."
" What?? Kau makan roti dari dia?!" Gavin seketika merebut potongan roti yang ingin disantap oleh Azzahra.
" Kak!! Kenapa diambil, sih?!" Azzahra kembali merasa kesal.
" Aku tidak suka kamu terima pemberian dari pria lain, Honey! Kalau kamu mau makan roti kini, aku bisa borong sampai pabriknya pun sanggup aku beli." Gavin berkata jumawa hingga membuat Azzahra memutar bola matanya.
" Ra, kalau begitu Akang duluan, ya!" Ridho yang sedari tadi menjadi penonton drama rumah tangga Azzahra dan Gavin memilih berpamitan terlebih dahulu.
" Oh, iya, Kang. Maaf ya, Kang." Tentu saja Azzahra merasa tidak enak hati pada Ridho atas kelakuan suaminya itu.
" Ya sudah sana pergi! Jangan dekati dan goda-goda istri orang lagi!" sindir Gavin.
Plaakk
" Aaaww ... kenapa aku dipukul, Honey?" Gavin yang tidak menyangka Azzahra akan memukulnya merasa heran.
" Assalamualaikum, Neng Rara." Ridho memberi salam.
" Waalaikumsalam, Kang." sahut Azzahra.
" Kak Gavin norak sekali! Nggak ada sopan santunnya, sombong!! Aku nggak suka punya suami seperti itu!" umpat Azzahra berjalan menuju arah pulang.
" Kalau kamu nggak suka punya suami seperti aku, memangnya kamu mau apa? Mau tukar sama pria itu tadi?!" Gavin menjawab ucapan Azzahra dengan sedikit emosi sembari menyusul langkah Azzahra.
Sementara di belakang pasangan yang sedang berdebat Rusmi mengekori mereka berdua seraya menggeleng-gelengkan kepalanya memperhatikan Azzahra dan Gavin yang tak berhenti berdebat.
" Kucing sama tikus kalau disatukan seperti itu, kalau dipisahkan bisa-bisa pada nangis Bombay mereka." gerutu Rusmi memutar bola matanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️