
Azzahra baru selesai menyiapkan menu sarapan pagi. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk memanggil suaminya untuk mengajaknya sarapan bersama.
" Kak, Kak Gavin nggak berangkat kerja?" Azzahra memperhatikan suaminya yang sedang bergelung dengan selimut di tempat tidur.
" Aku cuti kerja lagi, Honey." Suara Gavin teredam karena dia menutup selimut sampai ke atas kepalanya.
" Kemarin Kak Gavin nggak berangkat kerja, sekarang masa mau bolos lagi, Kak? Nggak enak dong sama Papa. Jangan karena Kak Gavin anak pemilik hotel lalu kerjanya seenaknya saja!" Azzahra mengomeli suaminya.
" Aku sakit, Honey." ucap Gavin beralasan.
" Memangnya Kak Gavin sakit apa, sih? Kalau Kak Gavin sakit cepat periksa ke dokter dong, Kak! Jangan didiamkan saja," ujar Azzahra seraya membangunkan Gavin dan mengecek kening Gavin.
" Nggak panas lho, padahal," ucapnya kemudian.
" Perutku mual rasanya, Honey. Rasanya seperti diaduk-aduk tidak karuan," keluh Gavin.
" Ya sudah aku panggil dokter Aliyah saja kalau begitu."
" Tidak! Jangan ...!!" Gavin dengan cepat melarang istrinya itu menghubungi dokter pribadinya.
" Kenapa, Kak? Dulu waktu aku sakit, Kak Gavin cepat panggilkan aku dokter. Kenapa sekarang aku nggak boleh panggil dokter? Aku 'kan ingin Kak Gavin sembuh. Dari kemarin Kak Gavin mengeluh mual terus. Mungkin lambung Kak Gavin bermasalah, karena itu harus dliperiksa ke dokter." Azzahra mencoba memberi pengertian agar suaminya itu mau mendengarkan sarannya.
" Aku takut disuntik, Honey." Suara Gavin merengek manja layaknya seorang anak kecil yang menolak jika diajak periksa ke dokter.
Azzahra membelalakkan matanya saat mendengar ucapan suaminya itu.
" Kak Gavin takut disuntik?" Azzahra kemudian tertawa meledek suaminya.
" Badan besar tapi takut jarum suntik?" Azzahra kembali mentertawakan sikap penakut suaminya itu.
" Kau meledekku,. Honey?" Gavin kesal karena istrinya itu malah menertawakan penderitaannya.
" Habis Kak Gavin lucu sekali, masa kalah sama jarum suntik?" Azzahra kembali terkikik seraya menutup mulutnya.
" Aku bukannya takut, Honey. Aku hanya ... alergi saja jika terkena jarum suntik." Gavin menyankal dengan beralasan jika dia tidak takut dengan jarum suntik.
" Alasan ..." Azzahra memutar bola matanya kemudian dia berjalan untuk mencabut ponselnya yang tadi sedang dia isi daya baterenya.
" Honey, kau ingin telepon siapa?" tanya Gavin curiga saat melihat istrinya itu memegang ponsel.
" Telepon dokter Aliyah untuk datang kemari." Azzahra menyahuti.
" Honey, aku 'kan sudah bilang aku tidak ingin diperiksa!" tegas Gavin segera berjalan menghampiri Azzahra dan merebut ponsel dari tangan Azzahra.
Tindakan Gavin seketika membuat Azzahra memberengut.
__ADS_1
" Adek bayi, Papa nakal tuh sama Mama. Papa bicara keras sama Mama. Papa nggak sayang sama Mama, Dek." Azzahra memasang tampang sedih seraya mengusap perutnya yang marih rata.
" No, no, no ... tidak seperti itu Baby. Daddy sayang kok sama Mommy. Baby jangan dengar apa kata Mommy, ya!" sanggah Gavin menepis tudingan istrinya itu.
" Adek bayi, Papa menuduh Mama berbohong, hiks ... Papa jahat sama Mama." Azzahra seketika menangis membuat Gavin terkesiap.
" Honey, aku tidak bermaksud berkata seperti itu." Gavin lalu menangkup wajah Azzahra. " Baby, Daddy tidak jahat kok sama Mommy. Mommy hanya salah paham, Baby." Gavin membela diri seraya menekut lututnya dan menciumi perut Azzahra.
" Honey, percayalah ... aku tidak mungkin jahat terhadapmu." Kini Gavin menggengam tangan dan mencium jemari Azzahra.
" Hoek ... hoek ... tanganmu bau sekali, Honey!" Gavin langsung menutup hidung dan mulutnya setelah menciumi jari-jari Azzahra.
Azzahra langsung mendekatkan tangannya yang dibilang bau oleh Gavin.
" Oh, ini bau bawang, Kak. Aku 'kan baru selesai masak. Tadi aku habis iris dan buat bawang goreng. Kak Gavin 'kan suka bawang goreng." Azzahra menjelaskan. " Memang baunya nggak enak, ya?" Azzahra kembali menciumi tangannya.
" Tidak enak sekali! Rasanya aku mau muntah. Hoek ..." Gavin langsung berlari ke kamar mandi.
Saat melihat suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi, Azzahra memutuskan untuk menelepon dokter Aliyah.
" Halo, Assalamualaikum, Bu dokter." Azzahra menyapa terlebih dahulu.
" Waalaikum salam, Nyonya Gavin. Bagaimana, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya dokter Aliyah ramah.
" Oh, tidak. Katakan saja, ada apa, Nyonya?"
" Ini, Dok. Suami saya dari kemarin mual-mual dan muntah terus. Dia mengeluh perutnya seperti diaduk-aduk. Kepalanya juga dia bilang pusing. Kalau dokter ada waktu, apa dokter bisa kemari?" tanya Azzahra.
" Tentu saja bisa, Nyonya Gavin. Baiklah, saya akan segera ke sana," ujar dokter Aliyah.
" Baik, terima kasih, Dok. Assalamualaikum ..." Azzahra berpamitan.
" Waalaikumsalam ... " Suara dokter Aliyah menyahuti.
" Kau menghubungi siapa, Honey?" tanya Gavin setelah keluar dari kamar mandi.
" Aku baru telepon dokter Aliyah, Kak."
" Honey, aku 'kan sudah katakan kalau aku tidak ingin diperiksa!" Gavin kesal karena Azzahra melanggar perintahnya.
" Kak Gavin nggak usah lebay gitu, deh! Apa susahnya periksa, sih?! Lagipula belum tentu disuntik juga, kan?" Azzahra langsung melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya itu.
" Aku nggak ingin melihat Kak Gavin sakit." Azzahra kemudian menyandarkan kepalanya di dada Gavin.
***
__ADS_1
" Bagaimana suami saya, dok? Sakit apa?" tanya Azzahra setelah dokter Aliyah melakukan pemeriksaan terhadap Gavin.
" Keluhannya mual, muntah dan pusing terutama di pagi hari. Sebenarnya sih tidak ada yang perlu dicemaskan dengan Tuan Gavin."
" Lalu suami saya kenapa dong, Dok?" tanya Azzahra seraya menggigit potongan mangga muda, membuat dokter Aliyah sampai memicingkan matanya merasa ngilu melihat Azzahra dengan santainya memakan tanpa mengeluh rasa asam atas mangga yang tadi digigitnya.
" Apa Nyonya Gavin ini sedang hamil?" tanya dokter Aliyah, sepertinya dia sedang menebak sesuatu.
" Iya, Bu dokter tahu dari mana?" tanya Azzahra kemudian.
" Saya hanya menebak-nebak saja." Dokter Aliyah tersenyum..
" Apa Nyonya Gavin juga mengalami morning sickness seperti yang dialami Tuan Gavin?" tanya dokter Aliyah.
" Tidak, Dok."
" Sepertinya saya tahu, apa penyebab Tuan Gavin mengalami ini." Dokter Aliyah tersenyum manatap Azzahra dan Gavin bergantian.
" Apa yang terjadi dengan saya, Dok?" Gavin merasa penasaran pada apa yang menyebabkan dua hari ini terasa tersiksa.
" Sepertinya Anda sedang mengalami couvade syndrome atau kehamilan simpatik."
" Maksud dokter saya hamil?" Gavin dengan cepat memotong penjelasan yang diberikan dokter Aliyah dengan pertanyaan yang konyol.
" Kehamilan simpatik itu apa, Dok?" Azzahra pun yang merasa tak paham ikut bertanya.
" Kehamilan simpatik itu kondisi di mana ayah dari si jabang bayi ini merasakan gejala kehamilan yang dirasakan oleh pasangannya. Seperti yang sedang dialami oleh Tuan Gavin sekarang ini."
" Apa itu berbahaya, Dok?" Gavin seketika cemas.
" Sebenarnya tidak apa yang perlu terlalu dikhawatirkan dan tidak ada perawatan spesifik untuk mengatasi kehamilan simpatik ini. Hanya mungkin harus konsultasi ke dokter, mengkonsumsi obat herbal. Dan perlu teknik releksasi juga. Lebih enjoy menjalaninya. Karena keadaan seperti ini adalah yang hal biasa terjadi pada ibu hamil, dan mereka baik-baik saja, kan?"
" Lalu berapa lama ini akan terjadi pada saya, Dok?" tanya Gavin kembali.
" Bisa selama masa kehamilan, dan biasanya menjadi lebih parah ketika memasuki trimester ketiga atau menjelang persalinan." Dokter Aliyah menerangkan.
" Oh, God ..." Gavin langsung mengusap kasar wajahnya mendapat penjelasan dari dokter Aliyah. Membayangkan sampai usia kandungan istrinya itu mencapai sembilan bulan lebih dia harus merasakan hal ini. Baru dua hari saja rasanya dia tersiksa apalagi harus melewati berbulan-bulan.
*
*
*
Happy Reading❤️
__ADS_1