
Azzahra merasa seperti patung manekin yang terbujur kaku saat mendapat sentuhan penuh gai*rah bibir Gavin. Seluruh organ tubuh Azzahra seakan berhenti berfungsi saat itu juga. Dia benar-benar tidak menyangka jika Gavin benar-benar akan memberikan sentuhan seperti itu terhadapnya, hingga tubuhnya serasa terpasung tak berdaya.
Tok tok tok.
Ketukan suara pintulah yang akhirnya menyadarkan Azzahra yang sedari tadi hanya bisa pasrah menerima perlakuan Gavin.
" Ra, Rara ..." Disusul dengan Suara Umi Rara terdengar dari luar kamar pintu Azzahra.
" I-iya sebentar, Umi." Azzahra menyahuti panggilan uminya.
" Awas ...!" bentak Azzahra menyingkirkan tubuh Gavin dari atas tubuhnya dan segera bergegas menuju pintu kamar untuk membukakan pintu untuk uminya.
" Ada apa, Umi?" tanya Azzahra setelah pintu kamar terbuka.
Umi Rara memperhatikan anaknya itu terutama bagian kebayanya yang telah terbuka semua kancingnya. Kemudian pandangan mata Umi Rara menerobos ke dalam kamar Azzahra, dia melihat Gavin yang bertelanjang dada berbarinh di atas tempat tidur Azzahra membuat satu alisnya naik ke atas.
" Ada apa tadi panggil Rara, Umi?" Azzahra mengulang pertanyaan karena uminya itu bukannya menjawab pertanyaannya tapi malah melirik ke dalam kamarnya.
" Oh, itu ada keluarga Uwa Edi baru datang." Umi Rara menjelaskan maksudnya memberitahu Azzahra akan kedatangan kakak dari Umi Rara yang tinggal di luar pulau.
" Uwa Edi?" Wajah Azzahra langsung berbinar saat mendengar berita yang disampai uminya itu. Dia segera melangkah ingin menemui kakak dari uminya itu namun tangan Umi Rara mencekal lengannya hingga menghalangi niat Azzahra.
" Kenapa, Umi?" Kening Azzahra berkerut karena uminya seakan tidak mengijinkan dia bertemu dengan keluarga Uwa Edi.
" Baju kamu." Umi Rara menunjuk arah dada Azzahra, sontak membuat Azzahra mengikuti arah yang ditunjuk uminya.
" Astaghfirullahal adzim ,,,!" pekik Azzahra, dia buru-buru menyilangkan tangan ke dadanya.
" Rapihkan dulu kebayamu, baru kamu temui Uwa Edi. Sekalian ajak suami kamu, Ra." Umi Rara tersenyum kemudian meninggalkan Azzahra yang merasa malu pada uminya itu.
Setelah menutup pintu, Azzahra kemudian melangkah mendekati Gavin dengan wajah memberengut.
Gavin yang melihat wajah Azzahra ditekuk seperti itu lalu berkomentar, " Umi kamu ganggu saja, sedang asyik-asyiknya juga. Ayo kita lanjut lagi yang tadi." Gavin merentangkan tangannya siap menerima tubuh Azzahra.
" Tidak mau ...!" cebik Azzahra. " Ini semua gara-gara kamu, aku jadi malu sama Umi!" Azzahra memasang kembali kancing kebayanya yang tadi berhasil dilucuti suaminya itu.
" Kenapa mesti malu? Umi kamu juga pasti mengerti, kok. Kita ini 'kan pengantin baru. Memang kamu nggak bilang sama umi kamu kalau tadi kita habis melakukan pemanasan karena sebentar lagi mau bertanding smackdown?" Gavin menyeringai menggoda Azzahra.
__ADS_1
" Dasar gelo!" umpat Azzahra membuang muka.
" Cepat pakai bajunya, Umi suruh kita temui Uwa Edi." Azzahra meminta Gavin untuk mengenakan kembali bajunya.
" Uwa Edi? Siapa?" tanya Gavin.
" Uwa aku, kakaknya Umi yang paling tua." Azzahra menjelaskan.
" Oh ... saudara kamu. Ya sudah kamu saja yang temui." Gavin kembali melakukan gerakan melipat tangan sebagai bantalan kepalanya.
Ucapan dan tingkah Gavin yang nampak tak memperdulikan kedatangan Uwa Edi membuat Azzahra menjadi murka.
" Kamu ini tidak punya sopan santun!" umpat Azzahra kesal. " Mereka datang kemari itu karena undangan pernikahan. Bisa-bisanya kamu acuh, tak menghargai kehadiran mereka di sini!" Azzahra benar-benar dibuat emosi oleh sikap Gavin.
" Iya-iya cerewet, Gavin kemudian bangkit dan meraih baju yang tadi dia lempar ke sembarang tempat lalu memakainya.
" Jangan suka marah-marah nanti cepat tua dan jelek," cibir Gavin.
" Biarin ...!"
" Kalau cepat tua nanti nggak ada yang naksir sama kamu." Gavin tak habis-habisnya menggoda Azzahra.
Gavih kini mendekat ke arah Azzahra dan berbisik.
" Yakin tidak suka sama saya? Kalau tidak suka kenapa tadi diam saja dan tidak menolak waktu saya kasih ci*uman memabukkan?" Gavin langsung menyeringai, apalagi saat mendapati wajah Azzahra langsung bersemu karena rasa kesal dan juga malu.
***
Malam harinya perayaan resepsi pernikahan Gavin dan Azzahra digelar dengan di hotel milik Dad David di kota Bogor dengan acara yang lebih mewah dibanding acara pernikahan Budi dan Lily yang diadakan di tempat yang sama dan tempat paling bersejarah untuk Gavin dan Azzahra, karena di ballroom inilah pertama kali mereka bertemu.
" Aduh ..." Azzahra mengeluh seraya memijat kakinya yang terasa pegal karena dia harus bolak-balik berdiri dan duduk melayani banyaknya tamu undangan yang datang.
Azzahra tidak menyangka jika Gavin ternyata punya banyak relasi bisnis, walaupun sebenarnya itu lebih banyak relasi bisnis Dad David yang lebih dahulu berkecimpung di dunia bisnis di Indonesia ini. Seperti saat ini ketika seorang pria tampan yang menggandeng sangat mesra seorang wanita menghampiri Dad David.
" Selamat datang Tuan Muda Laksmana, terima kasih sudah mau datang ke undangan kami." Dad David menyapa Dirgantara yang saat itu kebetulan datang bersama istri tercintanya, Kirania. " Oh ya, pengantin baru juga Tuan Dirga ini, kan?" tanya Dad David saat menoleh ke arah wanita cantik di samping Dirga.
" Ahaaa, benar sekali Tuan David, perkenalkan ini istri saya, Kirania." Dirga lalu memperkenalkan istrinya kepada Dad David.
__ADS_1
" Selamat Tuan David atas pernikahan putra Anda." Dirga tak lupa memberikan selamat pada Dad David.
" Terima kasih, Tuan Dirga." Dad David membalas ucapan selamat dari Dirga.
Sementara Azzahra terus memperhatikan Dirga yang terlihat berbincang dengan ayah mertuanya sampai akhirnya Dirga berdiri di hadapannya.
" Sepertinya saya pernah melihat Tuan ini ..." gumam Azzahra.
" Selamat Nona atas pernikahan Anda, semoga langgeng hingga maut memisahkan." Dirga memberikan ucapan selamat seraya mengulurkan tangannya, namun Azzahra hanya merespon dengan mengatupkan kedua tangan di dekat dadanya.
" Terima kasih, Tuan."
" Oh ... maaf." Dirga memahami sikap Azzahra yang tidak memperbolehkan dirinya menyentuh tangan wanita itu.
" Selamat Tuan Gavin." Kini Dirga memberikan selamat kepada Gavin.
" Gav, beliau ini Tuan Dirgantara. Dulu Daddy bekerja sama dengan Angkasa Raya Group, milik Papa dari Tuan Dirga ini saat pembangunan hotel ini dan juga yang di Jakarta." Dad David mencoba memperkenalkan Dirga kepada putranya.
" Oh, terima kasih Tuan Dirga atas kehadiran Anda." Gavin pun mulai menyapa Dirga.
" Sama-sama, Tuan Gavin." Dirga membalas
" Saya harap kerjasama yang sudah dirintis orang tua kita bisa dilanjut oleh kita sebagai penerus perusahaan, Tuan Dirga."
" Saya harap juga begitu, Tuan Gavin."
Azzahra sampai mengerjapkan matanya mendengar cara bicara dan tata bahasa yang sangat lugas dan rapih yang diucapkan oleh suaminya itu. Aura yang keluar dari Gavin adalah aura seorang pemimpin, sangat berbeda dengan Gavin yang dia temui setiap saat, yaitu sosok yang sangat menyebalkan.
" Ssshhh ..." Azzahra kembali meringgis saat Dirga dan Kirania turun dari stage pelaminan.
" Capek, ya? Tenang nanti setelah pesta usai, saya bantu pijat kamu, pakai plus-plus tapinya." Gavin mengedipkan matanya, tak lupa senyum licik di sudut bibirnya membuat Azzahra memberengut sambil membuang muka. Baru saja dia merasa terpukau melihat sosok Gavin yang berbeda, namun kini sudah dia temui kembali Gavin yang menyebalkan. Dan rasanya malas sekali untuk wanita itu meladeni setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Gavin.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️