
" Kak Gavin sedang apa?" tanya Azzahra saat melihat suaminya itu sedang melingkari angka-angka yang berjejer di kalender. Azzahra teringat ketika masa-masa sekolah dan ketika mendapatkan mestruasi, dia selalu melingkari kalender dengan spidol, untuk mengingat-ingat kapan menstruasi bulan sebelumnya.
" Dulu kalau dapat mestruasi aku pernah coret-coret begini, Kak." ucap Azzahra kemudian. "Apa Kak Gavin juga sedang dapat menstruasi sampai mencoret-coret seperti ini?" Ledek Azzahra. Kemudian dia menghitung berapa angka kalender yang sudah dilingkari suaminya itu. Ternyata sebanyak dua puluh lima tanggal.
" Untuk apa dilingkari seperti ini, Kak? Kak Gavin sedang menghitung apa?" tanya Azzahra penasaran.
" Untuk mengingat sudah berapa lama aku puasa."
Azzahra tergelak mendengar penjelasan suaminya itu.
" Ya ampun, aku pikir untuk apa." Azzahra menggelengkan kepalanya.
" Masih sisa lima belas hari lagi. Berat sekali rasanya, Honey." keluh Gavin.
" Sebentar lagi, Kak. Sabar ..." Azzahra langsung mengambil Baby Rayya dan mendekatkan ke wajah suaminya.
* Papa sayang, yang sabar ya, Pa." Azzahra kemudian terkekeh seraya menciumi pipi Baby Rayya.
" Kak, apa cara yang aku pakai kurang memuaskan Kak Gavin, ya?" Azzahra seketika menyesal karena cara yang dia pelajari dari Natasha tidak bisa memuaskan suaminya. Ada rasa bersalah di hatinya. Walaupun dia berhalangan itu bukan karena kemauannya, namun melihat suaminya terasa tersiksa seperti itu membuat hatinya tak enak.
" Tidak puas kalau belum masuk langsung ke surganya, Honey." keluh Gavin.
" Maaf ya, Kak. Kak Gavin tersiksa karena aku." Azzahra menampakkan wajah sendunya.
Gavin terkesiap mendapati istrinya bersedih.
" Honey, jangan merasa bersalah seperti itu. Kau seperti ini karena melahirkan Baby Rayya." Gavin lalu memeluk istrinya. Seketika Gavin pun merasa bersalah karena dia hanya memikirkan kepuasan tanpa memikirkan bagaimana istrinya harus berjuang melahirkan Baby Rayya ke dunia ini. Gavin masih mengingat bagaimana istrinya itu menahan rasa sakit. Bagaimana istrinya itu menpertaruhkan nyawanya demi melahirkan Baby Rayya.
" Maafkan aku, Honey. Aku yang tidak mengerti keadaanmu. Aku benar-benar merasa seperti seorang suami dan Daddy yang egois." Hati Gavin seketika tercubit mengingat betapa egoisnya dia tanpa memperdulikan kondisi istrinya saat ini.
" Baby, maafkan Daddy, ya! Daddy sudah jahat sama Mommy." Gavin menciumi pipi anaknya itu
" Iya, Papa." Azzahra menyahuti ucapan suaminya yang ditunjukan kepada Baby Rayya. Dan Gavin pun kini mengecup kening Azzahra.
" Aku sungguh beruntung memilikimu, Honey. Tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalkan aku."
" Aku tidak akan meninggalkan Kak Gavin. Aku akan menemani langkah Kak Gavin." Azzahra menjawab.
" Terima kasih, Honey." Gavin benar-benar bahagia dicintai wanita seperti Azzahra.
***
Besok acara tasyakuran empat puluh hari sekaligus aqiqah Baby Rayya. Orang-orang di rumah Dad David nampak sibuk, karena banyak relasi bisnis terdekat dari Gavin yang diundang.
" Acara empat puluh harinya sultan memang beda ya, Umi." Bi Rusmi yang ikut hadir dalam acara tasyakuran empat puluh hari Baby Rayya memandang takjub dekorasi yang menurutnya lebih mewah dari acara pernikahan.
" Menantu siapa dulu dong, Rus?! Umi Hesti gitu, lho!" Umi Rara berucap bangga.
" Bukannya Umi dulu sebal ya sama Aa Gavin?" sindir Bi Rusmi terhadap majikannya itu. Bahkan Bi Rusmi pun ingat bagaimana Umi melarangnya memberi Gavin makan dalam jumlah yang banyak.
" Ck. Itu 'kan dulu." Umi Rara mengibas tangannya ke udara. " Sekarang, Gavin itu menantu kesayangan Umi. Paling bageur pokokna mah." Umi Rara memuji menantunya itu.
" Karena sudah dikasih batu akik warna biru ya, Umi?" sindir Bi Rusmi kembali secara terkikik.
" Batu sapphire eta teh!" protes Umi Rara.
" Tapi Umi, Keluarganya Aa Gavin memang luar biasa. Rusmi tadi lihat tempat tidurnya Nenk Rayya, beneran berlapis emas. Coba kalau box bayi itu ditaruh di Bogor, Umi. Rusmi yakin bisa-bisa rumah Abi sama Umi jadi museum mendadak. Karena banyak orang yang mau melihat box bayi berlapis emas." Bi Rusmi sempat tercengang melihat box baby milik Baby Rayya waktu mau mengambil Baby Rayya dari kamar Azzahra.
" Dalam mimpi pun Rusmi nggak kepikiran kalau ada box baby berlapis emas. Kalau digadaikan kira-kira laku nggak ya, Umi?" Bi Rusmi terkikik.
__ADS_1
" Hush, ngaco kamu! Kamu masuk rumah ini jangan malu-maluin, biasa saja jangan seperti orang yang tidak pernah lihat rumah mewah sama perabotan mahal, ya!" Umi Rara memperingatkan Bi Rusmi agar bersikap sewajarnya saja. Tanpa Umi Rara sadari waktu pertama kali masuk rumah Dad David, Umi Rara pun tak berbeda jauh dengan Bi Rusmi.
" Umi sama Bi Rusmi kok ada di sini? Sedang apa?" tanya Gavin yang tiba-tiba masuk ke dry kitchen dan menjumpai mertuanya di sana.
" Ini, Umi sedang bicara sama Rusmi biar tidak malu-maluin masuk ke rumah Papa kamu ini, Gavin."
" Oh, gitu. Oh ya, Umi sudah terima titipan dari saya di Rara?" tanya Umi kemudian.
" Titipan? Titipan apa, Gavin?" Umi Rara memang tidak menerima apa-apa dari putrinya itu padahal dia tadi sudah mengobrol dengan Azzahra.
" Oh, mungkin Rara lupa, Umi." Gavin mengira karena istrinya sibuk menemui sanak saudara yang datang membuat istrinya itu lupa akan titipan yang dia berikan untuk Umi Rara.
" Memangnya titipan apa, Gavin?" Umi Rara nampak penasaran dengan titipan yang Gavin titipkan untuknya.
" Itu titipannya buat Umi?" tanya Umi lagi.
" Tentu saja buat Umi, Umi itu 'kan mertua kesayangan saya." Gavin lalu memeluk tubuh Umi Rara. Bagaimanapun juga Gavin harus berterima kasih pada Umi Rara. Walaupun mereka sering berdebat, tapi Umi Rara adalah sosok wanita yang telah melahirkan Azzahra, wanita yang sangat dicintainya.
" Kamu juga menantu kesangangan Umi, Gavin." Umi Rara mengusap punggung Gavin.
" Eheemm ..." Bi Rusmi berdehem melihat kemesraan antara mertua dan menantu itu.
" Kenapa kamu, Rus? Mengganggu saja!" gerutu Umi Rara kesal karena moment sweet antara mertua dan menantu terganggu karena keusilan Bi Rusmi.
" Maaf, Umi. Rusmi hanya iri saja. Umi itu mertua kesayangan Aa Gapin. Aa Gapin menantu kesayangan Umi Rara. Lalu Rusmi kesayangannya siapa dong, Umi?" Bi Rusmi terkikik seraya menutup mulutnya.
" Kamu itu kesayangannya ... tah Mang Ucup!" Umi Rara menyebutkan nama supir pribadi suaminya.
" Hidih, duda lapuk ...!!" Bi Rusmi mengedikkan bahunya, membuat Gavin dan Umi Rara tertawa lebar.
***
" Ra ..." Umi Rara mengetuk pintu kamar milik Gavin dan Azzahra, karena Umi Rara sangat penasaran dengan apa yang diberikan oleh menantu pria satu-satunya di keluarganya.
" Nenk Rayya lagi bobo, Nenk?" tanya Umi menghampiri box baby milik cucunya itu.
" Baru saja tidur, Umi. Ada apa, Umi?" tanya Azzahra kemudian duduk di sofa.
" Cucu Umi cantik sekali ini." Umi Rara mengusap pipi cucunya.
" Nenk, ini teh berapa harganya?" Umi Rara mengelus box bayi cucunya.
" Katanya sih satu M, Umi."
* Astaghfirullahal adzim. Uang semua itu tuh, Ra?" tanya Umi Rara.
" Iya atuh, Umi. Terus pakai apa lagi?"
" Oh ya, Nenk. Tadi Gavin bilang katanya ada titipan untuk Umi. Sudah diterima apa belum? Umi bingung karena Umi belum terima apa-apa dari Nenk Rara." Umi Rara menyampaikan niatnya datang ke kamar Azzahra
" Astaghfirullahal adzim, Maaf, Umi. Rara teh lupa ..." Azzahra kemudian bangkit lalu berjalan ke arah lemari dari kayu jati dengan ukuran sangat besar.
" Ini, Umi." Azzahra lalu menyodorkan kotak kayu kepada Umi Rara.
" Apa ini tuh, Nenk?" tanya Umi Rara meraih kotak yang diberikan Azzahra kepadanya.
" Buka saja, Umi." Azzahra menyuruh Uminya membuka kotak yang diberikan oleh suaminya.
Umi Rara membuka kotak itu perlahan dan dengan hati yang berdebar-debar. Umi Rara terbelalak melihat isi dari kotak yang dipegangnya itu.
__ADS_1
" Ya Allah, Ra ... perhiasan lagi? Untuk Umi?" Wajah Umi Rara nampak sumringah berbeda dengan Azzahra yang nampak masam.
" Benar-benar menantu Umi satu itu. Sultan benar-benar sultan, Ra. Alhamdulilah, seperti ketiban durian runtuh Umi punya menantu seperti Gavin." Umi Rara benar-benar merasa senang dengan pemberian yang diberikan menantunya.
" Bagus ya, Nenk?" Umi Rara mencoba kalung dan di tempelkan di dadanya.
" Hmmm ...."
" Kamu kok kelihatannya nggak senang suami kamu kasih perhiasan ini, Ra?" Sepertinya Umi Rara menyadari wajah tak bahagia putrinya.
" Kenapa atuh, Nenk?" Kini Umi Rara duduk di samping Azzahra.
Azzahra menghela nafas panjang seraya menoleh Uminya.
" Rara nggak ingin Umi memandang Kak Gavin hanya karena pemberian Kak Gavin yang sudah Kak Gavin berikan kepada Umi. Saat Kak Gavin memberikan sesuatu ke Umi, Umi selalu memuji Kak Gavin, tapi kalau Kak Gavin ada salah sedikit saja, Umi marah-marah ke Kak Gavin. Rara nggak ingin Umi hanya memandang harta semata."
" Ya Allah, Ra. Umi nggak pernah berpikir sampai ke situ, Nenk. Kalau Umi dikasih sama Gavin, namanya pemberian ya Umi terima. Apalagi yang kasih menantu sendiri. Kalau Umi marah, itu karena Umi sayang sama Nenk Rara. Umi tahu, Nenk Rara cinta sama Gavin, Umi marah itu biar Gavin sayang sama Nenk Rara, bukan karena Umi benci sama Gavin." Umi Rara menjelaskan alasannya.
" Tapi Rara nggak enak sama Kak Gavin, Umi. Waktu Rara melahirkan juga Umi marah-marah sama Kak Gavin. Walaupun Rara sedang merasa kesakitan tapi Rara dengar Umi. Rara juga nggak ingin Kak Gavin atau keluarga Kak Gavin menganggap keluarga kita itu matre."
" Aku nggak pernah berpikiran seperti itu, Honey."
Azzahra dan Umi Rara tersentak kaget saat mendengar suara Gavin sudah berada di dalam kamar.
" Kak Gavin?"
" Gavin?"
Azzahra dan Umi Rara sama-sama bangkit dari tempat duduk.
" Aku nggak pernah berpikiran seperti itu terhadap kamu juga keluarga kamu, Honey." Gavin kini mendekat ke arah Azzahra.
" Aku tidak masalah Umi selalu marah padaku, karena aku tahu jika Umi itu sayang pada kita. Dan aku memberi hadiah kepada Umi karena aku bersyukur Umi sudab melahirkan anak gadis secantik dan sebaik dirimu. Aku rasa apa yang aku beri kepada Umi tidaklah berlebihan jika dibanding dengan apa yang sudah aku terima darimu, Honey. Jadi kamu jangan berpasangka buruk pada Umi. Aku percaya keluargamu, keluarga Abi Abdullah adalah keluarga baik-baik dan tulus."
" Tuh, Neng. Suami kamu saja mengeti kalau Umi itu tulus, nggak matre, Nenk." Umi Rara merasa senang karena menantunya itu membelanya.
" Maafkan Rara ya, Umi." Azzahra memeluk Uminya.
" Iya, Geulis. Umi nggak pernah marah sama kamu." Umi Rara membelai wajah cantik Azzahra.
" Ya sudah Umi mau keluar atuh. Gavin, terima kasih pemberiannya." Umi Menunjukkan kotak yang tadi diserahkan oleh Azzahra.
" Iya, Umi. Besok dipakai ya, Umi. Biar samaan sama Tante Linda dan juga Rara," sahut Gavin.
" Iya kita seragaman, ya?" tanya Umi Rara.
" Iya, Umi."
" Ya sudah, Umi keluar, ya!" Umi Rara pun berpamitan keluar kamar Azzahra.
***
Keesokan harinya sekitar jam sepuluh tamu-tamu undangan kerabat dekat dan rekan bisnis Gavin datang ke rumah Dad David. layaknya parade, kumpulan mobil mewah berjejer di halaman parkir tempat tinggal Dad David yang sangat luas. Tentu saja tamu-tamu yang datang pun bukanlah tamu-tamu sembarangan. Yang diundang di acara tasyakuran Baby Rayya kebanyakan adalah eksekutif dan pasangan-pasangan muda. Selain Natasha dan Yoga yang masih mempunyai hubungan darah dengan Gavin, pengusaha sukses pemilik bisnis properti tersohor Dirgantara Poetra Laksmana yang pun turut hadir beserta sang istri tercinta. Tak ketinggalan juga sang Asisten dari Dirga yaitu Ricky Pratama yang kebetulan istrinya mengenal Azzahra.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️