KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Ajakan Makan Malam Bersama


__ADS_3

Azzahra baru menyelasaikan tugasnya di dapur, dia kemudian melangkah menaiki anak tangga untuk memanggil suaminya untuk sarapan.


" Kak, masakannya sudah matang, kita sarapan dulu, yuk!" ajak Azzahra saat membuka pintu ternyata suaminya itu sedang memasangkan dasi di kerah kemejanya.


" Sebentar, Honey ..." sahut Gavin masih sibuk mengikat dasi.


" Sini aku bantu, Kak." Azzahra kemudian mengambil alih tugas menyimpulkan dasi yang dipakai suaminya.


" Memangnya kamu bisa pasang dasi?" tanya Gavin meremehkan.


" Bisa dong, Kak. Aku 'kan diajari sama Umi cara memasangkan dasi." Azzahra memjawab.


" Nah, sudah rapih ..." Azzahra menyuruh suaminya itu untuk bercermin.


" Hmmm, lumayan ..." komentar Gavin.


" Ya sudah kita sarapan dulu, Kak." Azzahra kemudian membawakan tas kerja Gavin dan blazer yang akan dikenakan Gavin lalu menyampirkan di lengannya.


" Kau masak apa, Honey?" Gavin langsung melingkarkan tangannya di pundak Azzahra lalu berjalan turun menuju ruang makan beriringan.


" Masak sayur lodeh, pepes ayam sama bakwan jagung. Aku cuma bisa masak makanan Indonesia, Kak."Azzahra menyahuti makanan yang dimasaknya. Kebetulan sepulang dari Bogor Azzahra sempat membawa daun pisang karena dia memang berniat membuat pepes.


" It's oke, yang penting masakanmu pasti lezat," puji Gavin.


Sesampainya di meja makan, Azzahra segera mengambilkan nasi untuk Gavin sebelum akhirnya dia menyiapkan nasi untuk dia makan sendiri.


" Jangan lupa baca doa dulu sebelum makan, Kak." Azzahra mengingatkan.


" Siap, Honey." Gavin memimpin doa terlebih dahulu seperti yang dianjurkan sang istri.


" Kau tau, Honey. Aku tidak pernah makan lauk ini sebelumnya," ujar Gavin saat dia hendak memasukan satu suap nasi ke dalam mulutnya.


" Benarkah? Semoga rasanya nggak mengecewakan dan Kak Gavin suka." Azzahra berharap cemas takut suaminya itu tidak menyukainya. Dia bahkan menahan menyuapkan makanan ke mulutnya demi melihat reaksi sang suami.


" Enak nggak, Kak?" tanya Azzahra cemas.


" Enak ..." Gavin kembali menyantap dengan lahapnya masakan istrinya itu membuat akhirnya Azzahra tersenyum puas.


" Kamu kenapa nggak dimakan nasinya?" tanya Gavin melihat Azzahra belum menyentuh makanannya.


" Iya, Kak. Ini mau ..." Azzahra pun mulai menyantap suap demi suap makanan ke dalam mulutnya.


" Honey, nanti sore aku suruh supir jemput kemari. Alexa dan suaminya mengajak kita makan malam bersama," ujar Gavin selepas mereka sarapan.


" Tidak masalah 'kan kalau kita berempat pergi bersama?" tanya Gavin saat melihat istrinya itu tampak agak ragu.


" Kamu ingat janji kita semalam? Hanya ada aku dan kamu." ujar Gavin meyakinkan seraya melingkarkan lengannya di pundak Azzahra.


" Dan anggap saja yang lain itu mengontrak." Gavin terkekeh seraya memberikan kecupan di kening Azzahra.


" Aku berangkat dulu, ya! Assalamualaikum ..." Gavin berpamitan seraya meraih tas kerja dari tangan Azzahra.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, hati-hati, Kak." Azzahra menjawab seraya mencium punggung tangan Gavin.


" Hati-hati apa?" tanya Gavin.


" Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut ..." Azzahra menyahuti.


" Oh, aku pikir hati-hati jangan lirik-lirik cewek di jalan." Gavin berseloroh seraya terkekeh membuat Azzahra mencebikkan bibirnya.


***


Azzahra memoles bibirnya dengan lipstik warna peach. Dia tak banyak menggunakan riasan tebal di wajahnya. Azzahra memilih gamis warna mustard yang akan dia pakai untuk acara makan malam dengan Natasha dan Yoga.


Ddrrtt ddrrtt


Azzahra segera meraih ponselnya saat terdengar ponselnya berbunyi.


" Assalamualaikum, Kak ..." sapa Azzahra menjawab panggilan telepon suaminya.


" Waalaikumsalam, Honey, Pak Rudy sudah menunggumu di pintu lobby, kamu sudah siap-siap?" tanya Gavin.


" Sudah, Kak." Azzahra menyahuti.


" Ya sudah, cepat kau temui Pak Rudy," perintah Gavin.


" Iya, Kak. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...." Setelah Gavin menjawab salam, Azzahra langsung menutup teleponnya lalu memasukan ke dalam sling bag dan bergegas keluar apartemen suaminya itu.


" Sore, Pak." Azzahra membalas sapaan supir Gavin itu dengan ramah.


" Nyonya tunggu di pintu lobby sebentar, saya ambilkan mobilnya dulu," pinta Pak Rudy.


" Memang parkir mobilnya di mana, Pak? Saya ikut saja ke parkiran ya, Pak." Azzahra ingin mengekor langkah Pak Rudy namun dengan cepat Pak Rudy melarang.


" Oh, jangan-jangan, Nyonya! Nyonya di sini saja. Saya tidak akan lama, kok!" Pak Rudy bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobil yang akan membawa Azzahra ke hotel suaminya


" Hmmm, Pak Rudy sudah lama bekerja dengan suami saya, Pak?" Azzahra mencoba berbasa-basi dengan Pak Rudy saat mobil yang membawa Azzahra meluncur ke tempat yang dituju.


" Kalau dengan Tuan Gavin baru beberapa bulan saja, sejak Tuan Gavin mulai mengurus hotel milik Tuan David. Tapi Kalau dengan Tuan David, saya sudah dua puluh tahunan ikut bekerja dengan beliau, Nyonya." Pak Rudy menjelaskan.


" Dua puluh tahun? Sudah lama ya, Pak? Termasuk loyal juga Pak Rudy ini kepada keluarga suami saya." Azzahra menanggapi.


" Iya, Nyonya. Karena Tuan David itu orang nya sangat baik sebagai seorang atasan kepada karyawannya. Tidak heran kalau banyak karyawan seperti saya ini contohnya merasa betah bekerja dengan Tuan David, Nyonya." Pak Rudy begitu memuji sikap papa mertua dari Azzahra itu.


" Hmmm, kalau suami saya sendiri menurut Pak Rudy bagaimana orangnya?" Pertanyaan Azzahra membuat Pak Rudy meliriknya dari kaca spion.


" Hmmm, maksud saya, sebagai seorang pimpinan. Apakah dia seperti papanya atau lebih galak misalnya?" Azzahra benar-benar ingin tahu bagaimana anggapan karyawan Gavin tentang suaminya itu.


" Saya rasa tidak beda jauh, Nyonya." Pak Rudy memberikan jawaban yang aman.


Azzahra menarik nafas lega, sebenarnya dia merasa khawatir jika suaminya itu ternyata tidak terlalu disukai karyawannya.

__ADS_1


" Sebelum suami saya yang urus hotel itu, apa Om David yang mengurus sendiri?" tanya Azzahra lagi.


Pak Rudy kembali melirik ke arah Azzahra safi spion.


" Dengan ayah mertua sendiri kenapa Nyonya masih memanggil Om?"


Azzahta terkesiap karena dia keceplosan menyebut ayah mertuanya itu dengan panggilan Om.


Azzahra tersenyum malu.


" Iya, saya malu kalau disuruh panggil Dad, Pak" Azzahra berkata jujur.


" Kenapa harus malu, Nyonya?" tanya Pak Rudy.


" Saya ini dari desa, lidah saya 'kan lidah orang kampung, Pak. Rasanya kurang cocok buat panggil Daddy." Azzahra terkikik.


" Nyonya terlalu merendah, sangat cocok menjadi menantu Tuan David yang mempunyai sikap rendah hati," puji Pak Rudy.


" Ah, Pak Rudy terlalu berlebihan memuji saya, saya bicara apa adanya kok, Pak." Azzahra menampik anggapan Pak Rudy. Dia merasa dia tidaklah seperti mertuanya itu yang terlihat sempurna di mata para karyawannya.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Pak Rudy memasuki halaman hotel milik Dad David. Pak Rudy menghentikan laju mobilnya di depan pintu lobby, dan sudah ada satu pegawai hotel yang langsung membukakan pintu untuk Azzahra.


" Silahkan, Nyonya ..." Pegawai pria yang membukakan pintu itu mempersilahkan Azzahra untuk turun dari mobil.


" Terima kasih," sahut Azzahra kepada pegawai itu, Sebelum turun dari mobil, Azzahra juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Rudy yang sudah mengantarnya.


" Mari saya antar ke ruangan Tuan Gavin, Nyonya," ucap pegawai itu.


" Baik, terima kasih ..." Azzahra kemudian mengikuti langkah pegawai itu.


" Silahkan Nyonya, ini kamar Tuan Gavin." Langkah pegawai itu terhenti di depan kamar nomer 808. Dan setelah menekan bel, pegawai itu pergi meninggalkan Azzahra serdiri.


Tak lama setelah pegawai tadi pergi pintu kamar itu dibuka.


" Kau sudah sampai, Honey? Masuklah." Azzahra melihat suaminya yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


Azzahra tertegun sesaat memandangi tubuh kekar suaminya yang masih lembab karena sepertinya suaminya itu baru saja selesai mandi.


" Honey, kenapa? Apa kamu mau pingsan lagi? Kamu tenang saja, aku tidak akan memper*kosamu, karena sekarang ini kamu justru suka kalau aku sentuh," sindir Gavin mengingatkan akan kejadian awal pertemuan mereka.


Tentu saja apa yang dikatakan Gavin langsung membuat wajah Azzahra bersemu merah, diingatkan sikap memalukan dirinya pada saat itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2