KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Nasehat Gavin


__ADS_3

Abi Rara mengeratkan giginya mendengar ucapan anaknya yang terlihat menentangnya.


" Abi, bukanlah setiap orang yang bersalah itu layak dimaafkan jika dia benar-benar ingin bertobat? Jika Allah saja bisa memaafkan umatNya, kenapa Abi tidak bisa memaafkan kesalahan Kak Gavin yang terjadi di masa lalu?"


" Bukankah Abi di sini disegani masyarakat karena sosok Abi yang sangat religius? Tapi kenapa Abi tega memisahkan Rara dan Kak Gavin? Bukanlah itu tidak diperbolehkan dalam agama Abi? Bukanlah Abi juga tahu jika seorang suami lebih berhak atas istrinya dibanding orang tua sang istri? Lalu kenapa Abi menentang apa yang diajarkan dalam agama Abi? Kenapa?" pekik Azzahra tidak dapat mengontrol emosinya.


" Kamu tidak usah menggurui Abi! Abi tahu apa yang Abi lakukan!" Abi Rara nampak terkesiap dengan ucapan anaknya yang seolah menyerang dirinya.


" Bawa dia ke kamar, Umi!" perintah Abi Rara kepada istrinya kemudian beranjak menuju kamarnya.


" Neng, ayo ... kamu jangan terus menentang Abi. Umi nggak ingin melihat Abi kamu jadi marah-marah terus." Umi Rara mencoba menenangkan Azzahra seraya menuntun tubuh anaknya itu ke dalam kamar.


" Kenapa Abi sama Umi jahat sama Rara?" Azzahra tersedu saat sampai di dalam kamarnya.


" Abi mungkin punya pandangan lain sehingga berbuat seperti itu, Ra. Umi hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Abi kamu." Umi Rara mencoba menjelaskan.


" Sekarang kamu tenang dulu, ya! Jangan berbuat yang sekiranya akan membuat Abi kamu semakin marah." Umi Rara merasa dilema memilih antara anak dan suami. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat Azzahra bersedih beberapa hari ini. Tapi dia tidak punya kuasa untuk menentang keputusan suaminya.


***


Selepas Umi Rara keluar dari kamarnya, Azzahra lalu mengambil ponselnya. Dia berniat menghubungi suaminya. Namun dia melihat beberapa pesan masuk dari suaminya itu.


" Assalamualikum, Honey❤️ ...."


" Aku senang bisa melihat kamu pagi ini ...."


" Walaupun aku tidak bisa memelukmu, tapi rasanya itu sudah cukup melepaskan rinduku terhadapmu, Honey😘 ...."


" Aku berharap kamu bersabar, aku akan tetap berusaha meyakinkan Abi kamu kalau aku benar-benar sudah berubah."


" Dan secepatnya aku akan membawamu pulang ...."


" I ❤️ U, Honey ...."

__ADS_1


Azzahra kembali tersedu membaca pesan-pesan yang dikirimkan suaminya itu. Dia langsung melakukan panggilan video call kepada suaminya itu.


" Assalamualaikum, Honey ..." sapa Gavin saat video call terangkat dan menampakkan wajah tampan Gavin.


" Waalaikumsalam, Kak."


" Honey, sudah jangan menangis. Kamu harus sabar menghadapi ini. Ini ujian rumah tangga kita. Kita harus kuat hadapinya. Biarkan aku yang berikhtiar untuk meluluhkan hati Abi sementara kamu bantu dengan doa agar sikap Abi bisa melunak." Gavin menyemangati istrinya yang terlihat tak henti menangis. Karena setiap melakukan panggilan video call, istrinya itu selalu saja menangis. Gavin tidak menyalahkan sikap Azzahra. Dia sudah mulai merasakan jika Azzahra pun sudah mulai mencintainya. Sudah pasti apa yang harus dilalui oleh wanita itu sangat berat ketika harus dipisahkan dengannya.


" Kak, aku ingin ikut Kak Gavin. Aku ingin kabur saja dari sini ..." keluh Azzahra kepada suaminya. Tentu saja apa yang diucapkan Azzahra membuat Gavin terkesiap. Mengingat dulu wanita itu pun pernah kabur karena menolak dinikahkan dengannya, bukan tidak mungkin jika kali ini pun niat istrinya itu akan terlaksana.


" Tidak, Honey! Aku tidak ijinkan kamu kabur dari rumah!" Gavin menentang keinginan Azzahra.


Kini giliran Azzahra yang terkesiap karena suami itu menentangnya. Bukankah dia kabur untuk kembali bersama suaminya? Tapi kenapa suaminya itu malah melarangnya? Itu yang jadi pertanyaan Azzahra.


" Kenapa Kak Gavin melarangku? Apa Kak Gavin nggak suka aku ikut pulang bersama Kak Gavin? Hiks ..." Azzahra merasa sedih.


" Bukan seperti itu, Honey. Aku juga ingin kita bisa tinggal bersama lagi, tapi bukan dengan cara seperti itu. Jika kamu nekat melakukan hal tadi, ini akan memperburuk keadaan. Abi kamu akan semakin menentang kita untuk bersama. Jadi aku mohon jangan lakukan hal itu. Aku janji aku pasti akan membawamu pulang kembali." Gavin terus memberikan pengertian agar istrinya itu tidak melakukan hal-hal yang akan mempersulit posisinya.


" Tapi sampai kapan kita seperti ini, Kak?" keluh Azzahra.


" Kamu sudah sarapan? Kata Mang Ucup kamu mengurung diri di kamar terus, nangis terus. Bentar begitu?"


" Iya, Kak."


" Jangan begitu, Honey. Kalau rindu kau bisa telepon aku, tidak usah sampai menangis terus. Honey, aku nggak ingin melihat kamu jatuh sakit. Tenangkan pikiranmu. Kita harus berpikir positif. Mungkin saat ini Abi memang sedang menguji cinta kita. Sekuat apa perasaan kita berdua." Gavin terus menyampaikan hal-hal positif yang tidak membuat istrinya down.


" Kamu juga jangan marah sama Abi, ya!Bagaimanapun juga Abi adalah oranh tua kamu. Abi adalah pria pertama yang memberikan cintanya ke kamu. Pria pertama yang menyayangi kamu. Rasa sayang Abi ke kamu mungkin lebih besar dari rasa sayang aku ke kamu. Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta orang tua terhadap anaknya sendiri. Jadi apapun yang dikatakan Abi, kamu dengar baik-baik. Aku nggak ingin, karena rasa sayang kamu ke aku, kamu menentang mereka dan menjadi durhaka terhadap orang tuamu." Gavin berkata bijak. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana kalimat-kalimat itu bisa mengalir lancar dari bibirnya.


" Kekerasan hati orang tua harus dihadapi dengan kelembutan. Insya Allah, Allah akan membantu kita untuk meluluhkan hati Abimu."


" Iya, Kak."


" Ya sudah, aku mau lanjut berkendaraan. Aku mesti ke kantor. Kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatannya, ya!" ucap Gavin.

__ADS_1


" Iya, hati-hati bawa mobilnya, Kak."


" Iya, Assalamualaikum, Honey. I love you ..." Gavin berpamitan.


" Waalaikumsalam, Kak. Aku juga sayang Kak Gavin," balas Azzahra membuat Gavin menyunggingkan senyuman sebelum menutup teleponnya.


Tok tok tok


Azzahra mendengar pintu kamarnya diketuk.


" Neng, ditunggu sama Abi dan Umi di ruang makan." Suara Rusmi terdengar dari balik pintu kamar.


" Iya, Bi. Nanti Rara ke sana," sahut Rara.


Azzahra lalu mencuci wajahnya kembali. Tak lama dia pun berjalan ke luar kamar dan menuju ruang makan keluarga.


" Nenk sini ayo makan ..." Umi Rara menarik kursi yang akan dipakai Rara duduk.


" Terima kasih, Umi." Azzahra berkata sopan. Dia lalu menoleh ke arah Abinya yang sedang menatapnya lekat. Dia masih merasakan kemarahan di sorot mata Abinya itu.


" Abi, Umi ... Rara minta maaf atas sikap Rara tadi. Tidak seharusnya Rara membangkang. Tidak seharusnya juga Rara berucap kasar." Azzahra menyampaikan permohonan maaf terhadap kedua orang tuanya. Dia lakukan ini karena nasehat Gavin yang tadi diucapkan suaminya itu.


" Syukurlah kalau kamu menyadari itu." Abi Rara menyahuti.


" Iya, Abi. Kak Gavin yang menasehati Rara agar Rara tidak marah kepada Abi. Kak Gavin yang menyuruh Rara menuruti dan tidak menentang apa yang diperintahkan Abi. Kak Gavin bilang tidak ada yang bisa mengalahkan cinta Abi dan Umi terhadap Rara sekalipun itu Kak Gavin sendiri. Kak Gavin juga bilang tidak ingin melihat Rara menjadi durhaka terhadap orang tua hanya karena cinta Rara kepada Kak Gavin." Azzahra mengucapkan semua yang diucapkan Gavin kepadanya.


Suara di meja makan seketika hening setelah Azzahra mengucapkan kalimat itu. Abi dan Umi Rara hanya saling pandang mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Azzahra.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2