KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Gavin menyeka peluh yang mengembun di kening Azzahra. Setelah melalui pergumulan yang panjang akhirnya Gavin mengakhiri penyatuan mereka setelah Azzahra mengeluh lelah. Dan saat ini Azzahra sudah terlelap setelah meladeni keinginannya.


" Aku berjanji, Honey. Apapun fakta yang didapat tentang Jovanka dan anak itu, aku tak akan melepasmu. Aku berharap kau juga akan bertahan bersamaku dan mau memaafkan apa yang menjadi masa laluku"


Gavin kemudian memeluk Azzahra dan memberi kecupan di kening Azzahra.


Sementara itu beberapa jam sebelumnya di sebuah kamar apartemen.


* Hai, Shella ... ini aku Steven. Besok malam bisa kita pergi berdua?"


" Halo, Shella ... halo, halo ..." Steven memandangi ponselnya karena panggilannya langsung ditutup oleh Shella.


" Si*al!! Jual mahal banget itu cewek! Belum pernah rasakan semburannya gue dia itu. Gue yakin dia bakal ketagihan gue ajak tidur." Serigai licik langsung muncul di sudut bibir Steven..


Teet


Tiba-tiba bel pintu apartemen Steven berbunyi.


" Siapa juga yang malam-malam datang kemari? Perasaan gue nggak booking cewek," umpat Steven berjalan mendekati pintu apartemennya untuk melihat siapa yang mengunjunginya.


Saat pintu apartemennya dibuka, Steven mendapati dua orang pria bertubuh kekar dan bertampang tegas menatap dengan sorot mata tajam ke arahnya.


" Selamat malam, Tuan Steven." Sapa salah satu pria bertubuh kekar itu.


" M-malam, kalian siapa?" Steven menatap bergantian dua orang di hadapannya itu yang tak lain adalah Rizal dan Vito.


" Kami orang yang ditugaskan oleh Tuan David Richard untuk mencari keberadaan Jovanka dan anaknya." Rizal to the point mengatakan siapa dirinya juga Vito.


Steven langsung membelalakkan matanya saat mendengar pengakuan Rizal tentang siapa mereka. Steven tahu siapa David Richard. Lalu jika yang dikatakan Rizal tadi kalau mereka ditugaskan mencari Jovanka, dan kedua orang di hadapannya kini mendatanginya, itu artinya Gavin telah menceritakan kepada Daddy nya soal dirinya yang bertemu dengan Jovanka.


" Ah, s"hit!" umpat Steven.


" Lalu ada apa kalian kemari? Aku tidak menyembunyikan Jovanka," sergah Steven kemudian.


" Kami minta kerjasama Anda, Tuan Steven." Kali ini Vito yang berbicara. " Kami harap Anda dapat memberikan informasi yang bermanfaat kepada kami."


" Maaf, saya tidak punya informasi apa-apa." Steven hendak menutup kembali pintu apartemennya namun tangan kekar Rizal dan Vito menghalangi hingga membuat Steven mundur selangkah.


" Kalian ini mau apa? Saya sudah katakan saya tidak punya info apa-apa tentang Jovanka! Kenapa kalian berusaha mengintimidasi saya?!" geram Steven emosi.


" Sudah kami katakan jika kami minta kerjasama Anda, Tuan Steven. Bukankah Anda sendiri yang menghembuskan kabar jika mantan kekasih putra Tuan David itu mempunyai anak yang berwajah mirip dengan putra Tuan David? Karena itulah kami minta keterangan dari Anda." Kata-kata Rizal terdengar tegas.


" Jangan mempersulit tugas kami, Tuan Steven Albertino," desis Rizal di telinga Steven hingga membuat pria itu merinding.


" S-saya memang sempat bertemu dengan Jovanka dan anak kecil yang mirip dengan Gavin. Dia bilang anak itu memang anaknya tapi dia tidak bilang siapa ayah dari anak itu. Bahkan dia nampak ketakutan saat saya tanya-tanya soal anak itu. Dan dia juga meminta saya merahasiakan hal ini dari Gavin." Steven menceritakan seperti yang dia sampaikan kepada Gavin.


" Jika dia meminta Anda untuk tutup mulut, kenapa Anda justru mengatakan hal itu kepada Tuan Gavin?" tanya Rizal menyelidik.


" Ya karena Gavin adalah sahabat saya karena itu saya ceritakan hal ini ke dia." Steven mengungkapkan alasannya memberitahukan Gavin.


" Jika Anda berkata Tuan Gavin adalah kawan Anda, kenapa Anda menyembunyikan nomer ponsel dan alamat Jovanka?" Pertanyaan-pertanyaan penuh intimidasi terus dilontarkan Rizal kepada Steven. Dan tentu saja pertanyaan Rizal tadi membuat dia membulatkan matanya.


" Apa maksud, Anda? S-saya tidak menyembunyikan apapun dari Gavin," tangkis Steven menyangkal tuduhan Rizal.


" Bertemu teman lama tapi tidak bertanya nomer telepon dan tempat tinggal? Yang benar saja!" Rizal mengibaskan tangannya ke udara


" Saya memang tidak tahu soal itu." Steven tetap saja menyangkal.


" Bagaimana, Vit?" Rizal melirik ke arah Vito.


" Tidak ada jalan lain, selain membawa Tuan Steven ikut kita ke Singapura dan membantu kita mencari jejak Nona Jovanka."

__ADS_1


" Hei, kalian pikir saya ini pengangguran hingga harus ikut mencari Jovanka? Saya punya urusan yang lebih penting dari sekedar mencari Jovanka!" sergah Steven cepat.


" Jika Anda tidak ingin mengatakan yang sejujurnya kepada kami, kami terpaksa membawa Anda ikut serta ke Singapura besok lusa," tegas Rizal.


" Kami memberikan pilihan yang mudah kepada Anda, Tuan Steven. Atau Anda lebih memilih ingin traveling bersama kami ke Singapura?" Rizal menyeringai dan itu nampak menakutkan di mata Steven.


" Oke-oke, Jo memang kasih nomer ponselnya tapi kalau tempat dia tinggal, dia hanya bilang tinggal di apartemen sekitar kawasan Orchard. Tapi dia tidak memberitahu secara detail nama apartemennya." Akhirnya Steven mengatakan apa yang disembunyikannya.


" Yakin itu saja yang Anda ketahui?"


" Ya, itu saja! Demi Tuhan hanya itu yang saya ketahui, tidak ada yang ditutupi lagi." Steven bersumpah. Dia pun kemudian membuka ponselnya dan mencari kontak Jovanka lalu menyodorkan ponselnya ke arah Rizal, hingga Rizal mencatat nomer telepon milik Jovanka.


" Bagaimana, Vit?" tanya Rizal kepada Vito.


" Sementara ini cukup, setidaknya kita punya nomer kontak Nona Jovanka dan kita bisa fokus di wilayah mana kita harus mencari." Vito memberikan pendapatnya.


" Baiklah, Tuan Steven. Sementara ini info yang Anda berikan sangat bermanfaat untuk penyelidikkan kami."


" Kalau begitu kamu permisi, maaf telah menganggu waktu istirahat Anda, Tuan Steven. Selamat malam ..." Rizal berpamitan dan tak lama meninggalkan Steven yang akhirnya menggerutu.


" Si*alan kau, Vin. Mengirim orang-orang seperti itu untuk menakutiku," gerutu Steven sebelum akhirnya dia menutup pintu apartemennya dengan kasar.


***


" Kak, akhir pekan ini rencananya mau ada acara tujuh bulanan Teh Tata." ucap Azzahra memberitahukan seraya menaruh secangkir kopi di meja kerja suaminya.


" Oh ya? Di mana acaranya?" tanya Gavin seraya merengkuh tubuh Azzahra hingga kini tubuh istrinya itu terjatuh di pangkuannya.


" Kak, astagfirullahal adzim ..." pekik Azzahra kaget dengan tindakan suaminya tadi.


Gavin terkekeh melihat Azzahra yang terkaget karena perbuatannya.


" Di mana Alexa mengadakan baby shower?" tanya Gavin sambil menciumi pipi Azzahra.


" Di Bogor?"


" Iya, baby nya Teh Tata 'kan cucu pertama Mamih Ellena dan Papih Prasetya. Sudah pasti mereka ingin mengadakan acara itu di Bogor."


" Oh, iya ... Om Prasetya dan Tante Ellena pasti sangat bahagia menyambut calon cucu mereka."


" Iya, Kak. Kang Yoga 'kan anak tunggal, sudah pasti mereka sangat bahagia." Azzahra lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


" Kak, apa obat yang aku minum dulu berpengaruh hingga aku belum hamil juga?" lirih Azzahra.


Gavin membelai rambut panjang Azzahra


" Kita pernah diskusi dengan dokter, kan? Kalau itu tidak masalah. Let it flow saja, Honey. Jangan dijadikan beban, biar kita enjoy menikmati masa pacaran setelah menikah kita." Gavin mengeratkan pelukannya.


" Iya, Kak."


" Oh ya, kita mesti cari kado untuk baby shower Alexa nanti. Kau ingin belikan apa untuk calon keponakanmu itu?" tanya Gavin mengalihkan percakapan agar istrinya itu tidak merasa sedih.


" Kasih kado apa? Aku nggak tahu harus kasih kado apa, Kak"


" Baby boy 'kan dia?"


" Iya."


" Ya sudah nanti kalau mau pulang ke Bogor kita cari kadonya."


" Hmmm, Kak Gavin masih lama ya selesai pekerjaannya?" Azzahra menoleh ke arah meja kerja Gavin. Dia melihat laptop milik Gavin masih menampilkan tabel-tabel yang tidak dia mengerti.

__ADS_1


" Kenapa? Sudah mau tidur, ya?"


" Iya, Kak."


" Ya sudah kita tidur sekarang." Gavin kemudian mematikan laptopnya


" Kok dimatikan, Kak? Kak Gavin 'kan belum selesai." tanya Azzahra heran.


" Aku mau menemani kamu tidur lebih dahulu."


.


" Tapi aku nggak bermaksud minta itu lho, Kak."


" Minta apa, hmm?" bisik Gavin menggoda Azzahra. " Kamu minta juga nggak apa-apa kok. Pasti nanti aku kasih dengan senang hati." Gavin menyeringai.


" Kak, iiihh ...." Azzahra bersemu tersipu malu.


" Atau kau mau kita tidur di sini?" Gavin melirik sofa di ruang kerja di apartemennya itu.


" Kak ..." Azzahra mencebikkan bibirnya lalu bangkit dari pangkuan suaminya lalu berlari hendak meninggalkan ruang kerja Gavin.


" Honey, jadi minta aku temani nggak?" ledek Gavin terkekeh.


" Nggak jadi, Kak Gavin lanjutkan saja dulu pekerjaannya," jawab Azzahra kemudian meninggalkan ruang kerja Gavin.


Gavin tersenyum seraya melangkah menuju pintu ruang kerja, mematikan lampu kemudian menutup pintu itu. Gavin pun menyusul sang istri ke kamarnya yang terletak di sebelah ruang kerjanya.


" Lho, Kok Kak Gavin kemari? Aku bilang 'kan Kak Gavin selesaikan pekerjaannya saja dulu. Aku nggak apa-apa kok tidur sendiri, Kak." Azzahra terkesiap saat melihat suaminya itu sudah masuk ke dalam ruang kamar tidur.


" Tugas menemani istrinya juga penting, Honey." Gavin menyahuti seraya memeluk Azzahra dari belakang. Dia kemudian memberikan ciuman di ceruk leher jenjang Azzahra.


" Kak, geli ...."


" Tapi kamu suka 'kan kalau aku bikin geli?"


Kini tangan Gavin sudah menyentuh area favoritnya hingga membuat Azzahra mendesah.


" Kak, semalam 'kan sudah ...."


" Memangnya kenapa kalau kemarin sudah? Bukannya kamu bilang ingin cepat hamil, hmm?" Kini Gavin memutar tubuh Azzahra hingga kini berhadapan dengannya.


" Kamu ingin hamil, kan?"


Azzahra tertunduk malu seraya menganggukkan kepala.


Gavin kemudian merangkum wajah Azzahra. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Azzahra. Dia aktif mengeksplor daging tak bertulang itu sebelum menjelajahi rongga mulut Azzahra. Azzahra pun seakan terhipnotis dengan apa yang dilakukan Gavin hingga kini dia pun berani membalas ciuman Gavin dengan melingkarkan tangan di leher Gavin.


Perlahan tapi pasti Gavin kemudian melepaskan satu persatu apa yang menutupi tubuh istrinya hingga menyisakan satu yang menutupi bagian inti Azzahra.


Gavin lalu mengangkat tubuh Azzahra tanpa melepas pagutannya. Dia lalu menaruh tubuh hampir telan"jang Azzahra ke atas tempat tidur. Dia pun kemudian menanggalkan satu persatu pakaiannya tanpa tersisa hingga kini menampakkan alat tempurnya yang terlihat perkasa.


Gavin memainkan senjatanya melintasi dua gunung yang menjulang hingga berulang sebelum akhirnya dia meloloskan penutup di bagian inti istrinya. Kini dia siap meluncurkan tepat ke sasarannya hingga membuat Azzahra mengerang saat penyatuan itu dimulai. Apalagi saat Gavin dengan lihainya melakukan serangan hingga membuat lawannya menyerah, pasrah dan takluk dengan kuasanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2