KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Hukuman Bagi Gavin


__ADS_3

Gavin nampak kecewa dengan keputusan ayah mertuanya. Dia tak menyangka Abi Rara sekeras itu hatinya hingga berniat menyembunyikan Azzahra darinya. Akhirnya Gavin berencana besok pagi-pagi sekali dia akan ke rumah mertuanya itu.


Ddrrtt ddrrtt


Gavin melihat ponselnya bergetar. Dia langsung mengambil benda pipih itu berharap istrinya yang menghubunginya. Namun ternyata nama Dad David yang nampak di layar ponselnya.


" Assalamualaikum, ada apa Dad." Gavin menyapa.


" Waalaikumsalam. Gavin besok pagi temani Papa ke Bandung, ya! Kita akan berkunjung ke salah satu relasi bisnis baru kita di sana."


" Besok pagi, Dad?" Gavin terkesiap saat mendengar Dad David memintanya pergi ke Bandung besok pagi.


" Iya besok pagi. nanti kita berangkat dari sini sekitar jam delapan.


" Tapi, Dad. Besok pagi aku harus ke Bogor." Gavin berusaha menolak.


" Bukankah tadi pagi kamu sudah ke sana?" tanya Dad David heran.


" Iya, tapi ini urgent, Dad."


" Kenapa? Ada masalah? Rara baik-baik saja?" Dad David nampak cemas.


" Abi ingin menyembunyikan Rara dariku, Dad."


" Kenapa bisa begitu? Apa itu karena ulahmu tadi pagi?" tanya Dad menyelidik.


" Iya, Dad. Aku tidak menyangka hal ini bisa sampai tembus ke Abi."


" Lalu siapa yang membocorkan masalah ini ke Pak Abdullah?"


" Aku tidak tahu, Dad."


Dad David menarik nafas panjang.


" Tapi kita harus ke Bandung, Gavin. Dad ingin kamu yang nantinya menghandel kerjasama ini."


" Tapi, Dad. Bagaimana dengan Rara?" Tentu Gavin lebih mengkhawatirkan istrinya.


" Orang yang akan kita kunjungi ini orang penting, Gavin. Dad sudah berjanji kita akan hadir besok."


" Apa tidak bisa Dad sendiri saja yang pergi ke Bandung? Sementara aku harus mengurus Rara dulu." pinta Gavin memohon.


" Ini kesempatan besar untuk hotel kita di Bandung untuk kerjasama dengan perusahaan orang ini, Gavin."


Gavin mendengus kesal.


" Dad kalau aku suruh memilih, aku lebih memilih kehilangan kesempatan kerjasama itu daripada aku harus kehiilangan Rara!" tegas Gavin.


" Dad mengerti masalah rumah tanggamu. Tapi itu bisa dibicarakan baik-baik. Nanti Dad bantu bicara pada Pak Abdullah. Sementara kita tetap akan pergi ke Bandung besok pagi."

__ADS_1


" Dad ...."


" Assalamualaikum, Nak." Dad David mengakhiri panggilan teleponnya tanpa ingin dibantah.


" Waalaikumsalam."


Selepas percakapan telepon berakhir, Gavin melempar ponselnya dengan kasar ke sofa. Rasanya dia sangat marah atas keputusan Abi Rara yang akan memindahkan Rara ke luar kota. Belum lagi Dad David yang memaksanya untuk pergi ke Bandung.


Beberapa jam sebelumnya.


Selepas Gavin kembali ke kantornya, Dad David langsung mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang.


" Assalamualaikum, Pak Abdullah. Bagaimana kabarnya?" Dad David menyapa besannya itu.


" Waalaikumsalam, Pak David. Alhamdulillah baik-baik saja. Pak David sendiri bagaimana?" sapa balik Abi Rara.


" Saya Alhamdulillah baik, Bagaimana kabar menantuku, Pak Abdullah?" tanya Dad David kemudian.


" Sepertinya dia sangat merindukan suaminya, Pak David." Abi Rara menyahuti.


" Tapi sepertinya hari ini mereka begitu bahagia karena kepergian Pak Abdulllah ke luar kota ternyata." Dad David tergelak.


" Wah ... ada apa gerangan ini? Apa ada sesuatu yang saya lewatkan?" tanya Abi Rara mendengar besannya itu tertawa penuh arti.


" Sepertinya anak saya bisa membujuk ibu mertuanya, hingga mereka bisa melepas rindu, Pak Abdullah. Pak Abdullah paham kan maksud saya?" Dad David masih tertawa kecil.


" Ya seperti itulah anak jaman sekarang." Dad David menyahuti. " Jadi bagaimana, Pak Abdullah? Apa waktu dua Minggu ini sudah cukup menghukum menantu Anda?"


" Ya, saya akui putra Pak David, menantu saya itu sangat gigih. Tidak gentar sama sekali dengan ancaman yang saya berikan."


" Itu karena anak saya sudah benar-benar jatuh cinta kepada putri Pak Abdullah itu. Gavin sedikit demi sedikit sudah mulai berubah sejak menikahi putri Anda."


" Ya, saya pun melihat Rara nampak bahagia. Dia bahkan sudah bisa ikhlas melupakan perasaannya pada pria yang sejak remaja dicintainya, sejak menikah dengan anak Pak David."


" Jadi, apa kita akan teruskan rencana kita ini?"


" Sejujurnya saya memang kecewa dengan masa lalu Gavin. Namun karena saya melihat dia juga sudah benar-benar ingin bertobat, dia juga punya rasa tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya dulu. Dan anak saya pun sepertinya sudah jatuh hati pada putra Pak David, Sepertinya saya tidak punya alasan untuk tidak memberi kesempatan kepada Gavin untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kebahagian saya adalah saat saya bisa melihat putri saya bahagia, Pak David." Abi Rara bertutur kata dengan penuh keikhlasan.


Beberapa Minggu Sebelumnya ...


Flash back on


Dad David menatap hasil test DNA yang baru saja Rizal serahkan kepadanya satu jam yang lalu.


" Dad juga berperan hingga kau bisa berbuat seperti itu, Gavin." lirih Dad David dengan nada getir.


" Seandainya dulu Dad bisa memberikan kasih sayang Dad ke kamu, Nak. Mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya," sesal Dad David sampai menitikan cairan bening di ekor matanya.


Dad David menyeka air mata seraya menghela nafas panjang. Dia kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


" Assalamualaikum, Pak David." Suara Abi Rara terdengar menyapa dari dalam ponsel Dad David.


" Waalaikumsalam, Pak besan. Bagaimana kabarnya? Sehatkah?" Dad David berbasa-basi.


" Alhamdulillah masih dikasih sehat, Pak David. Ada apa ini tumben sekali Pak David telepon di jam kerja. Sedang tidak sibuk kah?" tanya Abi Rara kemudian.


" Pak Abdullah, ada yang ingin saya bicarakan serius dengan Pak Abdullah. Apa Pak Abdullah ada waktu senggang? Kita bertemu di hotel saya di Bogor."


" Ada apa memangnya, Pak David? Ada sesuatu yang pentingkah?" Abi Rara merasa penasaran.


" Saya rasa ini penting, Pak. Menyangkut rumah tangga anak saya dan putri Pak Abdullah."


" Ada apa, Pak David? Rumah tangga mereka sedang ada masalah?Masalah Apa?" Suara Abi Rara terdengar sangat khawatir.


" Sebaiknya kita bicarakan ini empat mata. Karena itu saya minta waktu Pak Abdullah untuk bertemu," pinta Dad David.


" Baiklah, sore ini apa Pak David bisa ke Bogor?" Abi Rara nampak tidak sabar mengetahui apa yang terjadi dengan rumah tangga anak kesayangannya itu.


" Hmmm, baiklah. Bagaiman kalau selepas Maghrib jika Pak Abdullah tidak keberatan?"


" Baiklah, Pak David. Sebelum Maghrib saya sudah di sana. Saya ikut sholat Maghrib di hotel Pak David saja."


" Oh, silahkan Pak Abdullah. Nanti saya atur orang untuk menyambut Pak Abdullah di lobby dan mengantar ke ruangan saya kalau saya belum sampai di sana."


" Tidak usah repot-repot Pak David."


" Tidak masalah, Pak Abdullah. Pak Abdullah ini 'kan besan saya, berarti ayah Gavin juga, sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan istimewa."


" Terima kasih banyak, Pak David. Terima kasih ...."


" Oh ya, Pak Abdullah. Untuk hal ini saya mohon Pak Abdullah sembunyikan dulu dari siapapun termasuk Rara dan Gavin. Jangan singgung soal rencana pertemuan kita dan jangan tanyakan soal masalah rumah tangga mereka. Anggap saja Pak Abdullah tidak tahu apa-apa tentang hal ini," pinta Dad David kembali.


" Baiklah, Pak David. Saya tidak akan menghubungi mereka dulu." Abi Rara berjanji.


" Sepertinya itu saja yang ingin saya bicarakan, Pak Abdullah. Saya pamit dulu dan selamat bertemu nanti sore. Assalamualaikum ..." pamit Dad David.


" Waalaikumsalam ..." Suara Abi Rara mengakhiri percakapan mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Ayo yang udah suudzon ama Abi Rara sungkem²😂


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2