
Terdengar dengusan halus di telinga Gavin dan itu berasal dari Dad David. Walaupun berusaha disangkal oleh Dad David tapi Gavin bisa merasakan kekecewaan Daddy nya itu.
" Sorry, Dad. Aku sudah mengecewakan Daddy." Gavin benar-benar merasa menyesal.
" Apa Rara tahu masalah ini?" tanya Dad David.
" Aku belum bicarakan hal ini dengan dia, Dad."
" Dad yakin Rara dan keluarganya akan sangat kecewa jika mengetahui hal ini."
Gavin merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan Dad David. Dia pun tak sanggup membayangkan jika Azzahra juga Abi dan Umi Rara tahu soal ini.
" Iya, Dad." Gavin menjawab dengan suara tercekat di tenggorokan.
" Aku berencana akan memberitahukan Rara setelah semuanya jelas tentang anak itu," lanjut Gavin.
" Kau tahu, Nak. Dad senang saat Dad melihat rumah tangga kalian sudah membaik sekarang. Dad berharap dengan Rara, itu akan menjadi pernikahan terakhir dan pernikahan yang sesungguhnya untukmu."
" Aku juga tidak menyangka akan terjadi seperti ini, Dad. Ini adalah buntut dari ulahku dulu."
" Kalau anak itu benar anakmu, kenapa wanita itu tidak mencarimu? Kenapa dia tidak meminta tanggung jawabmu karena dia hamil anakmu?" Dad David merasa heran.
" Tapi kalau dengar cerita Steven, jika wanita itu meminta Steven untuk tutup mulut darimu. Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan semua itu? Kenapa Jovanka tidak ingin kamu tahu tentang keberadaan anak yang mirip denganmu itu? Apa jangan-jangan anak itu benar-benar anakmu, Gavin?" Logika Dad David mulai bekerja. Jika Jovanka tidak ingin Gavin tahu, pasti ada sesuatu yang ingin wanita itu sembunyikan dari Gavin.
" Dad jangan menakutiku." Seketika hati Gavin menjadi terusik dengan perkataan Daddy nya itu.
" Dad tidak berusaha menakutimu, Nak. Dad hanya mencoba mengambil kesimpulan yang masuk akal. Dia melahirkan anak yang mirip denganmu, tapi dia tidak memberitahumu dan berusaha menyembunyikannya darimu. Jika dilihat dari usia anak itu, dihubungkan dengan terakhir kali kamu melakukan hubungan badan dengan Jovanka. Bukan tidak mungkin jika dia memang anakmu, Gavin."
Gavin menarik nafas yang terasa berat untuk dia hirup.
" Aku harus bagaimana jika itu benar, Dad?" Gavin mulai dirayapi kegelisahan.
" Tentu saja kau punya tanggung jawab terhadap anak itu. Dan tergantung di mana hatimu saat ini berada. Sudah kau labuhkan di hati Rara atau kau masih mengharapkan kembali dengan mantan kekasihmu itu?"
" Aku tidak ingin ada perceraian, Dad. Tapi bagaimana nasib pernikahan aku dengan Rara, jika Rara tahu kenyataan ini, Dad?"
" Tergantung bagaimana kamu bisa memberi pengertian kepada istrimu itu. Rara itu wanita yang polos, dia sangat mudah down jika terpengaruh dengan hal-hal yang akan mengecewakannya."
" Bertanggung jawab bukan berarti harus menikahi wanita itu. Tapi kamu bertanggung jawab atas kehidupan anak itu hingga dia dewasa."
" Jika anak itu benar anakmu, apa Rara bisa menerima anak itu dengan semua masa lalumu? Itu tugas yang mesti kau tanggung mulai saat ini."
Gavin mendengus kasar, dia benar-benar tidak menyangka akan terjebak akan masa lalunya seperti ini. Jika saja dia mengetahui keberadaan anak itu saat masih terikat pernikahan dengan Agatha, mungkin dia akan lebih mudah mengambil tindakan dan bertanggung jawab secara utuh atas Jovanka dan anak itu. Tapi sekarang saat dia mulai membuka hati dan menerima kehadiran cinta yang baru tiba-tiba masalah ini datang. Ini lebih sulit untuk dia hadapi.
__ADS_1
" Ini sudah larut, Gavin. Istirahatlah, besok sepulang kerja datanglah ke tempat Dad, kita bicarakan lagi tentang hal ini."
" Baiklah, Dad. Selamat malam, Dad." Gavin kemudian menutup panggilan teleponnya.
" Kak Gavin ada di sini? Habis telepon sama Papa David, ya?"
Gavin langsung terkesiap saat mendengar suara Azzahra dari arah pintu ruang kerjanya. Dengan cepat dia menutup laptopnya yang menampilkan wajah Jovanka dan anak Jovanka yang mirip di layar laptopnya itu.
" H-honey?" Gavin kemudian bergegas berjalan menghampiri Azzhara.
" Ada apa Papa David telepon malam-malam, Kak? Apa ada masalah yang penting?" tanya Azzahra penasaran.
" Tidak, aku hanya menyapanya saja. Sekalian aku bertukar pikiran tentang masalah perusahaan aku di Jerman." Gavin berbohong.
" Mengajak bertukar Papa malam-malam begini? Kak Gavin nggak kasihan suruh Papa David bergadang tengah malam begini?" protes Azzahra.
" Dad baru bangun dari tidur tadi," sahutnya beralasan. " Kita kembali ke kamar." Gavin merangkul pundak Azzahra kemudian menuntunnya kembali ke arah kamar.
Gavin merebahkan tubuhnya di samping Azzahra yang kini menjadikan lengannya sebagai penyangga kepalanya.
" Honey ...."
" Ya, Kak?"
Azzahra mendongakkan kepala menatap wajah suaminya.
" Kenapa Kak Gavin tanya seperti itu?"
" Karena jika mengingat saat kita pertama bertemu dulu dan awal pernikahan kita ..." Gavin menjeda kalimatnya sembari terkekeh. " Kita ini seperti pasangan Tom & Jerry, setiap saat selalu saja berdebat."
Azzahra pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan suaminya tadi.
" Iya, kita selalu saja bertengkar dan Kak Gavin yang selalu memulai."
" Dan selalu berhasil membuat kamu kesal, ujung-ujungnya kamu menangis." Gavin kembali terkekeh.
" Iya, memang Kak Gavin itu dulu menyebalkan." Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Tapi bikin kangen, kan?" ledek Gavin membuat Azzahra semakin mendekatkan wajahnya di dekat dada Gavin.
" Honey, apa kau menyesal menikah denganku?"
" Kenapa Kak Gavin bicara seperti itu?" Kali ini jemari tangan Azzahra melepas kancing piyama yang dikenakan Gavin kemudian mengusap dada Gavin.
__ADS_1
Gavin memejamkan mata seraya menelan salivanya. Tindakan yang dilakukan Azzahra saat ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Jovanka malam itu yang akhirnya membuat pergumulan itu terjadi dan mungkin saja yang akhirnya menyebabkan anak itu terlahir ke dunia ini.
" Apa justru Kak Gavin sendiri yang menyesal menikah denganku? Karena aku dengar dari apa yang Kak Steven bilang, jika aku bukan tipe wanita yang Kak Gavin sukai." Kali ini Azzahra yang bertanya.
" Tidak, itu tidak benar. Aku tidak menyesal menikah denganmu walaupun awalnya aku memang tidak menginginkan pernikahan ini." Gavin membelai wajah cantik istrinya. Kali ini dia menatap wajah itu lekat-lekat. Dia berpikir, apakah dia masih bisa merasakan kehangatan ini jika kenyataan tentang anak Jovanka itu terungkap.
" Honey, jika aku berbuat kesalahan fatal, apa kau akan memaafkan aku?" tanya Gavin kemudian.
Azzahra mengeryitkan keningnya mendengar pertanyaan Gavin.
" Kesalahan apa maksud Kak Gavin?" Azzahra bingung dengan pertanyaan suaminya itu.
" Ya seandainya aku berbuat kesalahan yang membuat kamu kecewa apa kamu bisa memaafkan aku?"
" Aku tidak tahu kesalahan apa yang Kak Gavin lakukan, bagaimana bisa aku berkata bisa atau tidak memberikan maaf, Kak?"
" Tapi aku ingin mengikuti prinsip yang dijalani Abi dan Umi selama berumah tangga, Kak. Mereka berprinsip, dalam rumah tangga setiap permasalahan bisa diselesaikan dan dimaafkan kecuali satu hal ...."
" Apa?" Gavin dengan cepat memotong perkataan Azzahra.
" Perselingkuhan. Apapun kesalahan Kak Gavin, Insya Allah akan bisa aku maafkan, tapi tidak jika itu menyangkut urusan menduakan hati."
Deg
Hati Gavin seketika mencelos mendengar perkataan Azzahra yang menegaskan jika istrinya itu menolak memberi maaf dirinya jika menyangkut urusan orang ketiga. Lalu apa Azzahra bisa memaafkannya jika tahu orang ketiga di antara dia dan istrinya itu adalah seorang anak kecil yang kemungkinan adalah darah dagingnya.
*
*
*
Bersambung
Readers : Thor, kenapa pasangan kiyut, kocak bin gesrek ini dikasih konflik seberat ini, sih?
Othor : Entahlah, karena itu yang ada di otak Othor untuk kisah KCA ini 😁😁😁✌️
Readers : Trus Rara sama Gavin gimana dong akhirnya?
Othor : Bacalah MSI, di sana jawabannya sudah terpampang jelas sebelum kisah KCA ini dibuat 🤭🤭🤭
Happy Reading❤️
__ADS_1