KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
" Saaaahhhh ...!!


__ADS_3

" Mas, Astaga ... besok aku mesti tampil cantik dan fresh. Kenapa kamu bikin aku lemas begini, sih?" Natasha memprotes suaminya yang terus mengajaknya melakukan pergu*mulan yang sangat melelahkan.


" Kita ini 'kan sedang program bikin anak, Yank. Kita harus segera memberikan cucu kepada papih sama mamih. Aku ingin cepat tumbuh Yoga junior di sini." Yoga mengecup kulit perut istrinya yang terasa lembab karena peluh sisa percintaannya bersama Natasha.


" Ya sudah awas aku mau ketemu sama Kak Gavin." Natasha mencoba menyingkirkan tubuh suaminya itu dari tubuhnya.


" Mau apa kamu menemui Gavin?" Yoga memicingkan matanya.


" Mau kasih petuahlah ...."


Yoga terkekeh mendengar jawaban istri cantiknya itu.


" Sok-sokan kasih petuah kamu, Yank." Yoga menarik hidung Natasha.


" Iisshh ... aku tadi saja kasih wejangan sama Rara, kok."


" Wejangan apa?"


" Wejangan biar dia bisa ikhlas menerima jodohnya. Walaupun mereka menikah sekarang ini tanpa cinta dan karena terpaksa, tapi aku meyakinkan nantinya pasti akan tumbuh cinta di antara mereka. Seperti aku sama kamu, Mas. Dulu kita selalu berdebat, dulu kita terpaksa nikah. Tetapi sekarang lihatlah, justru kamu jadi bucin banget sama aku." Natasha menyeringai.


" Yakin cuma aku saja yang bucin?" Yoga kembali mengungkung tubuh istrinya.


" Mas ... sudah, ah. Aku mau ke Kak Gavin," rengek Natasha.


" Kamu di sini saja, biar aku yang bicara dengan Gavin."


" Kak Gavin itu kakak sepupuku, kenapa kamu yang harus bicara dengan dia?" protes Natasha.


" Lalu kenapa kamu yang tadi bicara dengan Rara? Rara itu sudah seperti adikku sendiri," balas Yoga.


" Memangnya kamu mau bicara apa sama Rara? Yang ada bukan dia ikhlas tapi malah baper ketemu kamu." Natasha mencebikkan bibirnya.


Cup


Sebuah kecupan langsung Yoga sematkan di bibir Natasha yang mengerucut.


" Sudah kamu istrirahat saja, katanya besok ingin tampil fresh dan cantik." Yoga langsung beranjak meninggalkan Natasha yang masih berbaring di atas tempat tidur.


***


Gavin mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar terjebak dalam situasi yang tidak dia inginkan. Dia baru saja terbebas dari pernikahan dengan Agatha sekarang harus menikah dengan Azzahra. Gavin mendengus nafas kasar.


Tok tok tok


" Bro, sudah tidur?" suara Yoga terdengar dari luar kamar tamu lantai dua rumah Pak Prasetya. Atas saran Natasha, keluarga Gavin menginap di rumah orang tua Yoga, bukan di hotel milik Om David. Alasannya agar tak terlalu jauh dari rumah Azzahra.


Gavin berjalan untuk membuka pintu kamar.


" Ada apa, Ga?" tanya Gavin kepada suami dari adik sepupunya itu.

__ADS_1


" Apa aku mengganggu?" Yoga balik bertanya.


" Masuklah ... " Gavin berjalan lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar tamu.


" Gimana, Bro? Siap?" Yoga menyunggingkan senyumannya.


Gavin menarik sedikit sudut bibirnya ke atas tak menjawab pertanyaan Yoga.


" Aku mengenal Rara sejak dia masuk SMA. Dia anak yang baik dan sangat santun. Mungkin karena itulah mamihku sangat berharap aku berjodoh dengan dia. Aku sudah menganggap Rara seperti adikku sendiri. Mamih sudah menganggap Rara seperti anak gadisnya karena beliau memang tidak mempunyai anak perempuan. Karena itu aku minta tolong padamu, Bro. Aku titip Rara, jaga dia baik-baik, jangan kecewakan dia. Aku lihat video pertengkaran kalian dari Natasha. Aku yakin itu bukan Rara yang sesungguhnya."


Gavin menghela nafas yang terasa berat.


" Aku dulu pun terpaksa harus menikah dengan Natasha tanpa rencana. Aku diajak ketemu dengan Papa Farhan, karena waktu itu diajak Natasha untuk menjadi pacar pura-puranya. Tapi aku malah terjebak masuk ke dalam satu ikatan pernikahan. Seandainya kau tahu bagaimana angkuh dan sombongnya adik sepupumu itu." Yoga menggelengkan kepala seraya mengembangkan senyumnya mengingat bagaimana sikap istrinya dulu.


" Bagaimana kau menaklukkan Alexa?" Gavin tertarik kisah masa lalu Yoga dan Natasha.


" Harus sabar, menghadapi tipe wanita seperti istriku itu harus butuh kesabaran."


" Tapi Azzahra bukanlah Alexa."


" Aku tak menyamakan mereka. Natasha adalah Natasha, Rara adalah Rara. Tapi aku yakin mereka sama-sama wanita yang baik dan mereka pantas mendapatkan pria yang baik juga seperti aku dan kau, Bro." Yoga lalu menepuk bahu Gavin.


" Besok pagi kau dan Rara akan jadi pusat perhatian para tamu, jadi beristirahatlah."


Yoga langsung beranjak meninggalkan kamar yang ditempati oleh Gavin.


***


Gavin duduk di depan Abi Rara. Jantungnya berdebar kencang saat dia harus berhadapan langsung dengan Abi Rara dalam kondisi seperti sekarang ini.


Sementara di ruangan sebelah di mana acara ijab qobul berlangsung seorang wanita berhijab terlihat cantik menggunakan kebaya brokat warna putih.


" Ra, akhirnya tiba juga saatnya, kamu melepas masa lajang kamu."


Azzahra menoleh ke arah uminya. Dia melihat wajah sendu wanita paruh baya itu.


" Nanti kamu pasti akan meninggalkan Umi dan rumah ini."


" Siapa yang akan meninggalkan Umi? Rara nggak akan meninggalkan Umi dan Abi. Rara akan tetap bersama kalian." Azzahra menggenggam tangan uminya.


" Kamu pasti akan ikut dengan suamimu, Ra."


" Rara nggak mau, Umi. Kalau Rara pindah, Umi sama Abi juga harus ikut sama Rara."


" Nggak bisa begitu atuh, Ra. Masa abi sama umi harus ikut sama kalian?"


" Kalau begitu Rara nggak mau ikut sama dia, Umi."


" Kamu harus mengikuti suami, Ra."

__ADS_1


" Kalau gitu dia saja yang suruh tinggal di sini, Umi."


" Apa dia mau? Dia itu 'kan pengusaha, urus hotel di Bali juga. Mana mungkin dia mau tinggal di sini."


Azzahra mendesah, kemungkinan dia akan berpisah dengan orang tuanya setelah menikah sangatlah besar dan jujur saja dia belum siap untuk itu.


Setelah beberapa acara yang harus dilalui, kini saatnya acara yang dinanti-nanti yaitu pengucapkan ijab kabul.


Gavin mengulurkan tangannya menjabat tangan calon ayah mertuanya itu.


" Ananda Gavin Richard bin David Richard saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kami Ananda Azzahra Faranisa Abdullah binti Abdullah Zulchair dengan maskawin berupa perhiasan emas dua puluh empat karat seberat dua ribu dua puluh satu gram dibayar tunai." Terdengar suara tegas Abi Rara memulai pembacaan ijab qobul.


Azzahra sendiri di ruangan sebelah merasa berdebar menanti pengucapan ijab qobul. Dia mendengar suara abinya yang terdengar sangat tegas. Dan jantungnya semakin berdetak tak karuan saat kini giliran calon suaminya yang akan mengucapkan kalimat ijab qobul.


" Saya terima kawinnya Azzahra binti ...."


Suara gemuruh langsung terdengar saat Gavin salah mengucapkan kalimatnya.


" A' Gavin inginnya cepat-cepat kawin saja, nih." celetuk suara di belakang Gavin.


" Wah, Mas Gavin grogi, ya? Santai saja Mas jangan terburu-buru, Neng Azzahra sudah menunggu di sebelah, nggak akan ke mana-mana, kok." Seloroh Pak Penghulu.


Azzahra kembali mendesah, salah pengucapan yang dilakukan Gavin membuat suasana di sebelah ruangannya itu terdengar cukup berisik.


" Ayo diulang lagi Mas Gavin. Tarik nafas dulu dan jangan tegang."


Dan setelah Abi Rara mengucapkan ijabnya, Gavin pun dengan cepat menjawab.


" Saya terima nikah dan kawinnya Azzahra Faranisa Abdullah binti Abdullah Zulchair dengan mas kawin tersebut, tunai!"


" Sah?"


" Saaahhhh ...!"


" Alhamdulillah ..."


Ucapan syukur dan tarikan nafas lega kembali terdengar setelah Gavin sukses menyempurnakan kalimat ijab qobul tadi.


*


"


*


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak lewat like & komennya, ya. Makasih 🙏


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2