KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Ketakutan Gavin


__ADS_3

Gavin sedikit termenung saat Steven berkata jika anak Jovanka sangat mirip dengan dirinya.


" Jangan bercanda lu, Steve!" sergah Gavin kemudian. Dia berusaha menepis anggapan Steven soal kemiripan itu. Bukankah memang ada anggapan jika setiap orang di dunia ini punya tujuh kembaran yang wajahnya mirip dengan kita. Tapi jika yang berwajah mirip dengannya itu adalah anak dari wanita masa lalu nya dulu, apakah mungkin dia bisa mengelak jika itu hanya suatu kebetulan saja? Apalagi usia anak itu dua tahun lebih. Dia kemudian mengingat terakhir kali bertemu dengan Jovanka adalah tiga tahun lalu, seminggu sebelum dia menikah dengan Agatha. Apakah anak itu benar anaknya? Hati Gavin mendadak gelisah.


" Gue serius, Vin. Tapi anak itu benar-benar mirip lu. Lu lihat sendiri deh kalau nggak percaya." Steven kemudian memperlihatkan gambar seorang anak kecil dari ponselnya.


Gavin meraih ponsel Steven. Dia memperhatikan wajah bocah itu lekat-lekat, seketika hatinya berdesir memandang wajah bocah itu memang sangat mirip dengannya. Gavin menelan salivanya. Kembali dia merasakan dadanya terasa sesak. Bagaimana jika ketakutannya tadi benar terjadi?


" Percaya 'kan lu sekarang?"


Gavin menoleh ke arah Steven, kemudian dia menyodorkan kembali posel milik Steven itu. Gavin lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah jendela dengan satu tangan berkacak pinggang, satu tangan lainnya memijat pelipisnya.


" Lu sempat bicara sama dia? Dia bicara apa tentang anak itu?" tanya Gavin penasaran.


" Ya, gue berbincang seputar kabar dia, tapi waktu gue tanya soal anaknya itu, dia seperti kurang nyaman. Apalagi waktu gue bilang anaknya itu mirip lu, dia terlihat gugup dan meminta gue untuk nggak cerita ke lu soal ini. Dia juga langsung tergesa-gesa pergi." Steven menceritakan apa yang terjadi saat dia bertenu dengan Jovanka.


Gavin mendengus dan mengusap kasar wajahnya.


" Memang kapan lu terakhir hubungan sama dia, Vin? Memang lu nggak pakai pengaman waktu itu? Ceroboh banget sih lu, Vin!" Steven menyayangkan keteledoran Gavin.


" Gue nggak kepikiran ke sana saat itu."


" Berarti benar dia anak lu dong, Vin?"


" Ah, entahlah, Steve. Kepala gue kayak mau pecah ini!" Gavin mengacak rambutnya.


Sungguh Gavin tidak menyangka kenakalan masa lalunya akan berakibat seperti ini. Tinggal di luar negeri yang kehidupannya bebas ditambah lagi dia sebagai produk broken home membuat imannya rapuh. Hingga dia terbiasa dengan kehidupan yang serba hingar bingar dan se*ks bebas, walaupun selama ini dia selalu memakai alat pengaman. Namun dia masih ingat kejadian terakhir yang dia lakukan bersama Jovanka dilakukannya tanpa alat pengaman itu.


***


" Assalamualaikum ..." sapa Gavin ketika sampai di apartemennya. Dia sama sekali tidak menjumpai istrinya itu ruang tamu. Gavin kemudian berjalan ke arah ruang makan, tak juga dia jumpai istrinya di sana. Dia hanya melihat di meja makan sudah tersedia beberapa lauk yang tertutup tudung saji.


Gavin kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya, tapi Azzahra tak juga ditemuinya. Seketika Gavin merasa cemas. Dia kemudian mencoba mencari Azzahra ke ruangan lain tapi dia tak juga mendapati sosok istrinya itu.

__ADS_1


" Honey, kau di mana?" Gavin terlihat senewen karena dia tak menjumpai Azzahra di apartemennya. Gavin lalu menghubungi posel istrinya. Dia mendengar nada panggil dari ponsel Azzahra berbunyi dari arah kamar. Dengan cepat Gavin berlari kembali menaiki anak tangga dan mencari asal suara itu. Gavin melihat ponsel Azzahra terselip di sofa kamarnya.


Gavin kembali mendengus. Dia kemudian membuka lemari pakaiannya, dia masih melihat pakaian Azzahra masih menggantung di sana.


" Ya Tuhan." Gavin mengusap kasar wajahnya. Entah mengapa hanya karena mengetahui soal anak dari Jovanka, dia seketika merasa ketakutan saat tidak menemui istrinya di apartemen. Dia takut istrinya itu pergi padahal Azzahra tidak tahu apa-apa masalah Jovanka.


" Honey, kau ada di mana?" Gavin bergegas kembali turun ke bawah. Dia ingin mencoba mencari Azzahra di luar apartemen karena dia teringat Azzahra pernah pergi ke taman. Dengan segera Gavin membuka pintu apartemennya.


Buugghh


" Astaghfirullahal adzim ..." pekik Azzhara saat dia ingin membuka pintu apartemen namun dia malah menabrak tubuh suaminya itu.


" Honey??" Gavin dengan cepat memeluk erat tubuh Azzahra. Dia seperti orang yang ditinggal lama oleh Azzahra.


" K-Kak, kamu kenapa? Kenapa peluk-peluk gini?" Azzahra merasa heran dengan sikap Gavin. Awalnya dia menduga jika Gavin iseng. Namun saat dia merasa Gavin tak juga mengurai pelukannya, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya itu.


" Kak lepaskan aku, aku nggak bisa bernafas kalau kamu peluk aku sekencang ini," keluh Azzahra.


Gavin pun akhirnya mengurai pelukannya namun tangannya masih memegang lengan Azzhara.


" Aku habis dari mini market, Kak. Aku beli kornet ini buat masak besok." Azzahra menunjukkan plastik minimarket di tangannya.


" Lagipula kenapa kok Kak Gavin kelihatan cemas seperti itu?" tanya Azzahra.


" Aku takut kamu pergi dariku, Honey." Gavin kini merangkum wajah Azzahra.


" Memangnya aku mau pergi ke mana, Kak? Di Jakarta ini 'kan aku nggak tahu tempat. Paling tahu rumahnya Teh Natasha sama hotel Papa David saja. Kalau aku pergi yang ada aku malah tersesat di jalan," ucap Azzahra terkekeh.


Gavin kembali memeluk Azzahra, dia merasakan kenyamanan saat memeluk tubuh ramping istrinya itu walaupun sebenarnya saat ini hatinya sedang dilanda kegundahan. Saat ini yang dirasakan Gavin selain ketakutan akan kehilangan Azzahra adalah rasa bersalah kepada istrinya itu. Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya dengan rumah tangga nya saat Azzahra tahu soal itu. Yang pasti dia tahu jelas Azzahra akan sangat kecewa jika mengetahui masa lalunya dulu seperti apa.


" Honey, jangan pergi jauh-jauh dariku, ya!" pinta Gavin berbisik di dekat telinga Azzahra yang tertutup hijab.


" Iya, Kak. Memangnya aku mau pergi jauh ke mana? Paling pergi jauh aku cuma sampai Bogor saja." Azzahra yang merasa aneh dengan sikap suaminya itu hanya menjawabnya dengan sedikit bercanda dan mengusap punggung sang suami.

__ADS_1


" Ya sudah, Kak Gavin mandi dulu sana. Aku mau menghangatkan makanan untukmu, Kak. Setelah Kak Gavin selesai mandi baru kita makan." Azzahra meminta Gavin untuk segera membersihkan diri.


" Temani aku."


Azzahra mengeryitkan keningnya.


" Temani aku di kamar. Kau hangatkan makanannya nanti saja. Temani aku saja dulu," pinta Gavin.


" Aku nggak mau menemani mandi lho, Kak. Aku baru saja mandi," tolak Azzahra.


" Kamu nggak perlu menemani aku mandi, Honey. Cukup temani aku di kamar saja. Jangan jauh-jauh dariku." Gavin bertingkah layaknya anak kecil yang takut ditinggal sendirian hingga harus ditemani.


" Kamu kenapa sih, Kak? Kok tiba-tiba aneh begini?" selidik Azzahra.


" A-aku hanya tidak ingin jauh darimu, Honey." Gavin kemudian memeluk Azzahra kembali, namun dengan cepat Azzahra melerai pelukan Gavin.


" Ya sudah, ayo aku temani. Manja sekali ..." Azzahra segera menarik tangan Gavin dan membawa ke kamar suaminya untuk menemani suaminya itu yang akan membersihkan diri.


*


*


*


Bersambung ...


Salah satu tantangan penulis adalah saat menggulirkan suatu konflik apalagi menyangkut orang ketiga, pasti akan ada saja readers yang kecewa, jadi kurang semangat baca dan memilih berhenti membaca ( Padahal Othornya dua hari belakangan lg semangat double up, kan?😁)


Kalau baca novel aku yang lain, bisa dilihat karya-karya aku itu anti pelakor dan aku juga malas buat cerita tentang pelakor yg bikin istri sah menderita. Pelakor? No way!!


Cuma memang kadang konflik yang aku hadirkan itu memang tak terduga, dan aku pun ingin buat cerita yang tidak sama dengan novel lain.


Untuk yang pernah baca MSI pasti sudah tahu Azzahra dan Gavin itu endingnya akan seperti apa. Othor akan memberikan kebahagian kepada tokoh utama di setiap novel yang Othor tulis walaupun mungkin harus ada air mata untuk menebus kebahagian itu. Jadi percaya saja pada Othor dan ikuti terus alur cerita yang disajikan oleh Othor ya. Semangat baca, dong! Seperti semangat Othor nulis double up walaupun mata udah hampir lima watt kalau nulis bab kedua😂😂 Makasih yang selalu setia membaca dan kasih dukungan² lainnya🙏🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2