KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Tugas Orang Tua


__ADS_3

" Kau bicara apa dengan Grace tadi, Honey?" tanya Gavin saat mereka dalam perjalanan pulang dari rumah sakit tempat Grace dirawat.


" Aku hanya minta dia tidak mengusik kita lagi. Aku juga bilang kalau dia sudah salah menilai Kak Gavin. Karena suami aku ini adalah pria baik hati." Azzahra mengusapkan telapak tangannya ke pipi Gavin, membuat pria itu langsung meraih tangan istrinya lalu mengecupnya berkali-kali.


" Benarkah istriku ini sudah mengatakan hal itu?"


" Tentu saja, Kak. Karena suami aku ini benar-benar baik." Azzahra kini menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Hingga akhirnya lengan Gavin melingkar di pundak istrinya itu.


" Terima kasih, Honey. Terima kasih untuk cintamu yang begitu besar untukku." Gavin mengecup pucuk kepala Azzahra yang berbalut hijab syari.


" Kita langsung pulang sekarang?" tanya Gavin kepada Azzahra.


" Aku mau ke rumah Teh Tata, Kak. Aku ingin bertemu Alden. Mamih Ellena bilang waktu itu Alden sedang rewel terus. Kita 'kan sudah janji sama Mamih Ellena akan menengok Alden sepulang kita dari Bogor." Azzahra teringat janji mereka pada ibu mertua dari Natasha, bahwa mereka telah berjanji akan berkunjung ke rumah Natasha sesampai mereka di Jakarta.


" Kau ingin bertemu Alden? Atau Papanya Alden?" Gavin sengaja menggoda istrinya itu membuat Azzahra menarik kembali kepalanya yang tadi dia sandarkan ke bahu suaminya.


" Apaan sih, Kak! Siapa juga yang kangen sama Papanya Alden?" Azzahra melipat tangannya di dadanya seraya memberengut dan memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Gavin terkekeh kemudian menarik tubuh istrinya itu hingga kini sudah dalam rengkuhan tubuh gagahnya kembali.


" Aku hanya bercanda, Honey. Aku tahu di sini ..." Gavin mengetuk telunjuknya di dada Azzahra." Sudah tidak ada laki-laki lain selain aku dan hanya aku." Gavin dengan percaya diri mengatakan hal itu kepada istrinya.


" Aku nggak suka Kak Gavin selalu menyinggung hal itu. Aku sudah menganggap Kang Yoga itu seperti kakak aku sendiri, seperti Kang Asraf dan Kang Aydan." Azzahra mencebikkan bibirnya.


" Iya, Honey. Maaf." Gavin kemudian menangkup wajah cantik istrinya lalu membenamkan kecupan manis di bibir Azzahra yang sedang mengerucut sehingga Azzahra spontan memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut dari suaminya itu.


" Eheemm, Maaf, Tuan. Jadi kita sekarang akan ke mana?" Pertanyaan Pak Rudi yang mengendarai mobil yang ditumpangi Gavin dan Azzahra menghentikan aktivitas bercumbu pasangan suami istri itu. Sehingga membuat Azzahra langsung bergeser menjauh ke dekat pintu mobil seraya memijat pelipisnya dan membuang pandangan ke luar jendela karena merasa malu kepergok bermesraan di depan orang lain.


Sementara Gavin langsung mendengus kesal karena aktivitas terhenti karena pertanyaan supir pribadinya tadi.


" Pak Rudy, kalau mau bertanya itu lihat sikon! Kalau melihat kami sedang mesra-mesraan seperti tadi, Pak Rudy mau bawa kami keliling kota Jakarta sepuluh kali pun kami tidak masalah!" Gavin benar-benar merasa jengkel.


" Oh, maaf, Tuan." sesal Pak Rudy merasa bersalah.


" Pak Rudy 'kan sudah lama ikut dengan Dad David, bukan driver kemarin sore yang mesti diajari apa-apa saja aturan yang harus dijalankan!" Gavin sepertinya masih kesal dengan sikap Pak Rudy yang dianggapnya tidak tepat waktu menanyakan hal yang bisa dia tanyakan nanti.


" Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Gavin." Pak Rudy benar-benar merasa bersalah.


" Kak, jangan seperti itu! Jangan bicara begitu kepada Pak Rudy!" Azzahra yang melihat suaminya nampak emosi. langsung menegur Gavin.


" Aku kesal, Honey! Pak Rudy itu kerja dengan Daddy aku sudah lama, mestinya dia tahu bagaimana aturan cara bekerja di tempat Dad David," keluh Gavin sedikit menggerutu.


" Iya tapi jangan berkata kasar seperti itu terhadap Pak Rudy! Biarpun Kak Gavin ini atasan Pak Rudy, tapi usia Pak Rudy itu lebih tua dari Kak Gavin. Semestinya Kak Gavin juga bisa menghormati Pak Rudy dengan menegur secara baik-baik." Azzahra memprotes cara Gavin menegur drivernya itu. Karena menurutnya sebesar apapun jabatan, pangkat dan kedudukan kita, menghormati orang yang lebih tua adalah hal yang paling utama, meskipun orang tersebut adalah bawahan kita.


" Lagipula masalah seperti itu jangan terlalu dibesar-besarkan, Kak!" Azzahra mendekatkan lagi posisi duduknya ke dekat Gavin.


" Kita juga kok yang salah, bermesraan nggak lihat tempat." Azzahra mengecilkan volume suaranya berbisik kepada suaminya agar tidak terdengar oleh Pak Rudy karena dia merasa malu jika Pak Rudy mendengar ucapannya itu.


" Nggak lihat tempat kau bilang, Honey? Ini mobilku, aku bebas melakukan apa saja yang aku mau di sini termasuk mencumbumu, Honey!" Gavin kembali mendekap tubuh istrinya kemudian melancarkan kecupan-kecupan di pipi istrinya itu bertubi-tubi hingga membuat Azzahra memekik.


" Kak, Asataghfirullahal adzim ... malu itu dilihat Pak Rudy." Kembali Azzahra berbisik.


" Pak Rudy nggak usah lihat-lihat ke belakang! Nggak usah kepo dengan apa yang kami lakukan! Fokus saja sama jalan di depan!" Gavin memperingatkan Pak Rudy agar tidak melakukan kesalahan yang sama.


" Baik, Tuan." Pak Rudy dengan cepat menyahuti.

__ADS_1


" Kami akan ke rumah adikku Alexa. Pak Rudy tahu jalannya, kan?" tanya Gavin kemudian.


" Iya, saya tahu, Tuan." sahut Pak Rudy.


" Kalau begitu nggak ada yang perlu Pak Rudy tanyakan lagi, dan jangan ganggu kami lagi!" Gavin memperingatkan kembali supirnya itu.


" Baik, Tuan."


***


Mobil yang dikendarai Pak Rudy berhenti di depan rumah kediaman Yoga dan Natasha.


" Sebentar, Honey. Kau jangan turun dulu!" Gavin buru-buru keluar dari mobilnya dan dengan langkah lebar bergegas untuk membukakan pintu istrinya lalu memegangi Azzahra yang akan turun dari mobil.


" Hati-hati!" Gavin meminta istrinya untuk tidak terburu-buru turun dari mobil.


" Terima kasih, Kak." Azzahra tak lupa mengucapkan terima kasih, walaupun Gavin adalah suaminya tapi dia mengucapkan kalimat itu.


" Hati-hati jalannya." Gavin kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Azzahra dan dengan langkah beriringan mereka berdua berjalan menuju teras rumah Natasha dan Yoga.


* Mobil Kang Yoga sama Teh Tata nggak ada, Kak. Apa jangan-jangan mereka pergi, ya?" tanya Azzahra saat dia tak menjumpai mobil Yoga dan Natasha terparkir di garasi.


" Yoga sudah pasti di Kampus, Honey. Dia 'kan harus mengajar. Kalau Alexa, aku sendiri nggak tahu. Kita tadi nggak sempat kasih kabar akan berkunjung kemari, jadi mungkin Alexa nggak tahu kalau kita akan ke sini." Gavin lalu menekan tombol bel di dekat pintu.


" Aku ingin juga tinggal di perumahan seperti ini, bukan di apartemen, Kak." ucap Azzahra sambil menunggu pintu dibuka.


" Sekarang kita tinggal di rumah Dad David, bukan di apartemen, kan?" Gavin menyahuti perkataan Azzahra.


" Bukan rumah seperti itu juga yang aku mau, Kak. Aku ingin yang seperti ini. Tanpa pagar, tidak ada dinding pembatas halaman sesama tetangga. Jadi kita bisa berinteraksi bersama tetangga sekitar. Nggak saling acuh dan saling kenal dengan sesama tetangga seperti di tempat Abi dan Umi." Azzahra memang sejak pertama kali berkunjung ke rumah milik pasangan Natasha dan Yoga ini sudah jatuh hati.


Setelah sekitar lima menit mereka menunggu akhirnya pintu rumah Natasha terbuka dan menampakan sosok Ibu Ratna yang berdiri di depan pintu.


" Assalamualaikum, Bu Ratna ..." sapa Azzahra memberi salam kepada ART di rumah Natasha itu.


" Waalaikumsalam, eh ... Neng Rara, Den Gavin? Ayo masuk-masuk ..." Bu Ratna mempersilahkan Gavin dan Azzahra untuk masuk ke dalam ruang tamu.


" Terima kasih, Bu Ratna. Teh Tata nya ada nggak, Bu?" tanya Azzahra seraya mendudukkan tubuhnya ke sofa.


" Neng Tata ada di kamar, Neng. Sebentar Ibu panggilkan." Bu Ratna pun kemudian masuk ke dalam ruangan untuk memanggil penghuni rumah itu.


" Alhamdulillah, Teh Tata nya ada, Kak." Azzahra menoleh seraya tersenyum ke arah Gavin.


" Iya, Honey. Jadi tidak sia-sia jauh-jauh berkunjung ke sini." Gavin menimpali ucapan istrinya tadi.


" Eh, ada Ongkel Gavin cama Onty Lala. Mau ketemu cama Alden, ya?" sapa Natasha yang muncul di ruang tamu dengan menggendong bayi berusia sembilan bulan itu di lengannya.


" Oh, hai, Teh. Hai, Alden ..." Azzahra langsung berdiri dan melakukan cipika-cipiki dengan Natasha lalu mencium pipi chubby Alden.


" Hai, Alexa. Hai keponakan Uncle." Gavin pun memeluk Natasha kemudian mengambil Alden dari tangan Natasha membuat bayi itu merengek.


" Uuhh ... sayang-sayang, kenapa nangis? Sama Uncle kok nangis, sih? Ayo lihat ikan di kolam, yuk!" Gavin membawa Alden keluar rumah membiarkan istrinya dan adik sepupunya berbincang.


" Aku pikir Teh Tata sedang pergi keluar, soalnya nggak lihat mobilnya," ucap Azzahra kemudian.


" Oh itu, Pak Hasan lagi jemput Mama di stasiun. Mama aku mau nengokin Alden. Soalnya beberapa hari ini rewel terus." Natasha menceritakan jika anaknya itu sedang kondisi kurang fit.

__ADS_1


" Ada yang terkilir mungkin, Teh. Jadi ada yang dirasa sama dia." Azzahra menebak-nebak apa yang terjadi pada Alden.


" Kemarin sudah diurut. Mungkin juga ada yang dia rasa, habisnya anaknya nggak mau diam, sih. Aktif sekali si Alden itu, seperti Papanya." Natasha terkikik seraya menutup mulut sendirinya.


Azzahra hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Natasha. Karena sejauh dia kenal Yoga, Yoga itu sosok pria yang kalem dan pembawaannya tenang dan bukan sosok yang banyak tingkah.


" Oh ya, kalian habis dari mana? Atau memang sengaja berkunjung ke rumahku?" tanya Natash kemudian.


" Kami baru saja pulang membesuk ... Grace, Teh." Azzahra menjawab pertanyaan Natasha.


" Grace? Siapa itu Grace, Ra?" Natasha merasa penasaran dengan ucapan Azzahra.


" Pelaku penyerangan kami, Teh."


Natasha terkesiap mendengar siapa orang yang baru saja ditengok Azzahra dan Gavin di rumah sakit.


" Pelakunya sudah ketemu? Sekarang di rumah sakit? Pasti pelakunya melawan jadi kena timah panas, kan? Terus sekarang dia dirawat di rumah sakit. Begitu, kan?" Natasha menganalisa informasi yang disampaikan Azzahra.


" Dia terluka karena dilukai oleh temannya sendiri yang berhasil kabur, Teh." Azzahra menjelaskan.


" Rasain, deh! Tinggal nunggu waktunya mendekam di penjara!" umpat Natasha ikut terbawa emosi karena dia dengar penyerang itu hampir saja menghabisi nyawa Gavin.


" Teh Tata tahu siapa Grace itu?"


" Siapa memangnya, Ra?"


" Anaknya Nyonya Agatha."


" Hah??" Mata Natasha terbelalak dengan mulut terbuka lebar mendengar jika pelaku kriminal yang hampir mencelakakan Gavin dan Azzahra adalah anak dari Agatha.


" Serius kamu, Ra?" Natasha sampai tak percaya dengan pendengarannya.


" Benar, Teh. Dia anaknya Nyonya Agatha. Dia masih muda, baru sembilan belas tahun," lirih Azzahra, karena sejujurnya Azzahra merasa prihatin dengan nasib yang akan menimpa Grace. Masih muda dan harus mendekam di jeruji besi, sungguh miris sekali.


" Ya ampun, Si Nenek Lampir itu kena karma, dong! Iihh, aku penasaran ingin lihat mukanya gimana waktu tahu anaknya tertangkap karena tindakan kriminal, pasti syok banget dia." Natasha membayangkan wajah angkuh Agatha jika mengetahui kasus yang menimpa anaknya itu.


" Bukan syok lagi, Teh. Nyonya Agatha sampai menangis dan berlutut di depan Kak Gavin dan Papa David, Teh." Azzahra menceritakan apa yang dilakukan Agatha di hadapan suami juga ayah mertuanya.


" Ya ampun ..." Natasha menempelkan telapak tangannya di kedua pipinya menandakan dia sangat terkejut dengan apa yang dia dengar.


" Sampai segitunya Nyonya Agatha ya, Ra?" Natasha menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Ya, namanya juga seorang Ibu, Teh. Seorang ibu tidak akan sanggup melihat anaknya menderita. Mungkin kalau bisa, dia rela bertukar tempat dengan anaknya itu."


" Benar, Ra. Karena itu tugas kita sebagai orang tua, terutama sebagai seorang ibu, kita harus menanamkan hal kebaikan kepada anak kita, agar kelak jika mereka dewasa tidak salah jalan dan agar selalu berada di jalan yang tepat." Natasha merangkul pundak Azzahra hingga kini kepalanya juga kepala Azzahra saling bersandar satu sama lain.


"


*


"


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2