
Setelah berdiskusi dengan Dad David akhirnya Gavin pun terbang ke Singapura. Tentu saja kepergian Gavin ke sana membuat hati Azzahra terasa sendu. Walaupun bibir dia mengatakan mengijinkan sang suami untuk pergi, namun hati kecilnya merasa berat melepas Gavin pergi.
Azzahra duduk bersandar di tempat tidur dengan untaian swarovski yang membentuk tasbih di jemarinya. Setelah melaksanakan sholat isya dia memilih duduk di atas tempat tidur dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya.
" Kalau saja Kak Gavin tidak mempunyai anak dari Kak Jovanka, mungkin saat ini Kak Gavin ada di sini menemani aku." Air mata Azzahra menetes di pipi wanita cantik itu karena saat ini dia sangat merindukan suaminya.
" Astaghfirullahal adzim kenapa aku berpikiran seperti itu? Ya allah, ampuni hamba-Mu ini." Azzahra beristighfar karena sudah berpikir egois.
" Ra, kamu belum tidur?" tanya Umi yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar Azzahra.
" Ah, belum, Umi ..." Azzahra langsung mengusap air kata di pipinya.
" Ini susu hamilnya diminum dulu, atuh." Umi Rara membawakan segelas susu hamil untuk Azzahra.
" Oh iya, terima kasih, Umi." Azzahra langsung meraih gelas yang disodorkan kepadanya lalu meneguk susu rasa vanilla itu sampai tak tersisa.
" Kamu habis menangis, Ra?" Umi Rara bisa melihat mata Azzahra yang memerah karena habis menangis.
" Kamu itu, Ra. Kalau memang tidak ingin ditinggal suami kenapa kasih ijin ke Gavin untuk pergi ke Singapura? Kamu ini juga 'kan penting untuk dia. Kamu akan melahirkan anak dia. Memangnya mau melahirkan itu mudah? Tidak membutuhkan perjuangan? Melahirkan itu juga sama saja dengan mempertaruhkan nyawa," gerutu Umi Rara yang merasa kesal karena menantunya itu seperti menomerduakan putrinya.
" Umi jangan seperti itu. Kak Gavin juga pasti bingung harus memilih karena bagaimanapun juga William adalah anak Kak Gavin, Umi." Azzahra menepis anggapan Uminya yang sepertinya menganggap Gavin bersalah karena lebih memilih menunggu William
" Iya tapi Umi kesal, Ra! Kesannya itu suami kamu mengesampingkan kamu, tidak sayang sama kamu dan anak kalian," keluh Umi Rara.
" Kak Gavin nggak seperti itu, Umi! Kak Gavin sayang sama Rara sama dedek bayi di perut Rara juga, kok!" Mata Azzahra mulai berkaca-kaca. Dia sungguh tidak rela suaminya dikatakan seperti itu walaupun yang mengatakannya adalah orang tuanya sendiri. Karena Azzahra percaya jika suaminya itu tidak mengabaikan dirinya. Dan karena dia juga tahu sendiri, bagaimana tadi pagi suaminya itu merasa dilema, harus memilih di mana dia mesti berada saat ini. Azzahra hanya bisa berharap suaminya itu sudah kembali sebelum dia melahirkan.
***
Ddrrtt ddrrtt
Azzahra hampir saja terlelap saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Azzahra terkesiap karena ponsel itu ada digenggamannya saat dia terlelap. Dan kini bola matanya membulat dengan wajah berbinar saat mendapati suaminya lah yang menghubunginya malam ini melalui sambungan video call.
" Assalamualaikum, Kak. Bagaimana kabar William, Kak?" Yang pertama ditanyakan Azzahra adalah kabar anak dari suaminya itu, karena dia juga ikut merasa cemas.
" Waalaikumsalam, William masih di ruang PICU, Honey. Kamu tolong bantu doakan semoga William bisa semakin membaik." Nada suara dan wajah Gavin tidak menampakkan kebahagiaan. Namun wajah cemas dan lelahlah yang terlihat di wajah tampan suaminya saat ini.
" Iya, aku pasti doakan, Kak." Azzahra menatap sendu suaminya.
" Bagaimana William bisa terjatuh, Kak?" tanya Azzahra kemudian.
" Katanya dia sedang bermain di rumah salah satu teman sekolahnya, dan dia berlari-lari di tangga." Gavin menceritakan kejadian yang menimpa anaknya itu.
" Ya Allah, apa tidak ada yang mengawasi William?" tanya Azzahra kembali.
" Baby sitter dia sedang ke kamar kecil jadi William lepas dari pengawasannya."
" Ya Allah, Kak Jovanka bagaimana, Kak? Dia pasti sedih sekali, ya?"
" Iya, dia syok dan sampai pingsan. Apalagi saat ini Jo sedang hamil muda."
" Ya Allah. musibah ada-ada saja ya, Kak." Azzahra menghela nafas panjang mendengar cerita dari suaminya itu.
" Kamu bagaimana, Honey? Apa perutmu terasa sakit? Apa baby rewel?" Gavin kini yang menatap sendu Azzahra.
" Aku baik-baik saja, Kak. Dedek bayi juga tidak rewel. Sepertinya dia mengerti jika Papanya saat ini tidak sedang menemaninya." Azzahra mencoba menutupi, padahal seharian ini perutnya beberapa kali merasakan sakit.
" Arahkan kameranya ke perutmu, Honey," pinta Gavin.
Azzahra lalu menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya itu.
" Baby, baby harus temani Mommy selama Daddy tidak bersama Mommy. Baby tunggu Daddy pulang, ya! Jangan keluar dulu sebelum Daddy datang, karena Daddy ingin Daddy ada menemani Mommy dan menyambut kelahiran Baby."
Azzahra langsung mengusap air matanya. Tentu saja kata-kata yang diucapkan oleh Gavin sangat menyentuh hatinya. Tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya, karena itu akan membuat suaminya merasa bersalah.
" Papa nggak udah khawatir, dedek bayi pasti akan menunggu Papa pulang, dan semoga Papa cepat pulang, ya!" ucap Azzahra penuh harap.
" Iya, Honey. Semoga William segera melewati masa kritisnya jadi aku bisa kembali ke Jakarta secepatnya.
" Iya, Kak. Aamiin ....,"
" Apa vitamin dan susu hamilnya sudah kamu minum, Honey?"
__ADS_1
" Sudah, Kak."
" Ya sudah, sekarang kau istirahatlah, Honey. Ini sudah larut, jangan tidur terlalu malam."
" Iya, Kak."
" I love you, Honey."
" I love you too, Kak."
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Azzahra pun mengakhiri panggilan video bersama suaminya itu. Dan dia pun segera mengistirahatkan tubuhnya hingga tak lama dia kemudian terlelap ke alam mimpi.
***
Azzahra terbangun karena tiba-tiba perutnya merasakan melilit.
" Ssshhh ..." Azzahra merintih kesakitan seraya memegangi pinggulnya karena rasa sakit itu menyerang di bagian pinggulnya. Dia kemudian berjalan ke arah kamar mandi karena dia merasakan ingin buang air kecil. Azzahra berjalan perlahan dan memegangi apa yang bisa dipegangnya sebagai tumpuan agar dia tidak limbung dan terjatuh.
" Ya Allah, sakit sekali ..." keluh Azzahra menahan serbuan rasa sakit yang benar-benar luar biasa nikmatnya. Dia pun membuka ****** ******** dan dia terperanjat saat melihat ada bercak darah di sana, membuat dia memekik kaget.
" Astaghfirullahal adzim ... Ya Allah, apa aku mau melahirkan sekarang?" Azzahra langsung diserbu ketegangan yang teramat sangat.
" Umi ...!! Teh Zizah ...!! Teh Fatimah ...!!" Azzahra memanggil Umi dan kedua kakak iparnya. Karena Gavin sengaja meminta bantuan kakak dan kakak ipar Azzahra untuk tinggal sementara di apartemennya selama dia pergi ke Singapura, untuk jaga-jaga jika Azzahra mengalami kontraksi seperti yang saat ini terjadi pada anak ke tiga dari pasangan Abi Abdullah dan Umi Hesti itu.
" Umi ..!!" Azzahra seketika menangis karena Umi dan kakak iparnya itu tidak ada yang mendekatinya sama sekali padahal dia merasakan saat itu perutnya terasa kram.
" Umi ...!! Kak Zizah ...!!" Azzahra berjalan gontai keluar dari kamar mandi.
" Kak Gavin ... sakit ..." Azzahra kini terduduk di tepi tempat tidur seraya mengadu kepada suaminya seolah suaminya itu ada bersamanya saat ini. Dia lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Uminya.
" Umi, perut Rara sakit, hiks ..." Azzahra langsung mengadu pada Uminya itu.
" Astaghfirullahal adzim, perut kamu sakit? Tut Tut Tut ..." Sambungan telepon langsung tertutup.
" Ra, kamu mau melahirkan?"
" Sudah kerasa kontraksi?"
" Apa sudah keluar flek?"
Secara bersamaan Umi Rara, Azizah dan Fatimah masuk ke dalam kamar Azzahra.
" Sakit, Umi ..." Azzahra menangis bersandar di pundak Uminya saat Uminya itu kemudian duduk di samping Azzahra.
" Bangunkan Aydan sama Asraf, kita ke rumah sakit sekarang saja." Umi Rara menyuruh kedua menantunya itu untuk memanggil suami mereka masing-masing.
" Iya, Umi." Azizah dan Fatimah bergegas keluar kamar Azzahra untuk membangunkan suami mereka masing-masing.
" Umi, Rara nggak kuat ...." rintih Azzahra karena dia merasakan tulang-tulangnya seakan dipaksa terlepas dari tubuhnya.
" Ra, nggak boleh bicara seperti itu, Geulis. Kamu harus kuat. Istighfar ..." Umi Rara mengusap bagian punggung Azzahra.
" Sakit, Umi ...."
" Iya, sabar ya, Nenk." Umi Rara terus berusaha menenangkan putrinya.
" Rara mau melahirkan, Umi?" tanya Asraf yang lebih dahulu sampai di kamar Azzahra.
" Iya, kasep." Umi Rara menyahuti putra pertamanya.
" Rara kenapa?" Kini giliran Aydan yang masuk ke dalam kamar Azzahra.
" Dan, cepat kamu hubungi dokter dan perawat yang jaga, kita ke rumah sakit sekarang."Asraf menyuruh Aydan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membawa Azzahra ke rumah sakit bersalin.
" Iya, Kang." Aydan pun lalu menghubungi dokter dan perawat yang sudah disiapkan oleh Gavin untuk menanggani Azzahra.
Sementara Asraf langsung mengangkat tubuh Azzahra dengan kedua lengannya.
__ADS_1
" Ya Allah, sakit, Kang." Azzahra mengeluh kepada Asraf.
" Iya, sabar ya, Neng. Kita ke rumah sakit sekarang." Asraf mencoba menenangkan Azzahra yang tak juga berhenti menangis.
" Bun, nanti ikut pakai mobil Aydan saja. Ayah nanti sama Umi temani Rara di mobil ambulance." Aydan menyuruh Azizah untuk bergabung menggunakan mobil Aydan bersama Fatimah.
" Iya, Yah." Azizah lalu mengambil tas berisi pakaian dan keperluan Azzahra untuk melahirkan.
Akhirnya semua yang ada di sana kecuali ART Gavin ikut menemani Azzahra menuju ke rumah sakit. Dan selama dalam perjalanan ke rumah sakit tak henti-hentinya Azzahra merintih dan menangis.
***
Gavin menyandarkan tubuhnya di kursi sambi menunggu perkembangan kondisi William. Otak Gavin benar-benar merasa penat. William dan Azzahra dengan calon baby nya sama-sama penting saat ini. Dia ingin mereka semua baik-baik saja. Walaupun pihak keluarga Jovanka tidak menuntutnya untuk mengakui William sebagai anaknya tapi bagaimanapun juga William adalah darah dagingnya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Sebagai seorang pria dan sebagai seorang ayah dia mesti menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya terhadap William.
Gavin melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya, waktu saat ini sudah menunjukkan jam tiga dini hari. Sejak sampai ke Singapura Gavin belum mengistirahatkan tubuhnya. Bahkan dia tidak sempat pergi ke hotel untuk booking tempat istirahat karena dia ingin menemani William di rumah sakit.
Ddrrtt ddrrtt
Gavin merasakan ponselnya bergetar membuat dia meraih benda pipih itu. Dia melihat nama Azizah yang muncul di layar ponselnya. Seketika itu juga hatinya langsung diserang kecemasan karena kakak iparnya itu menelponnya di jam yang tidak wajar orang menelepon.
" Assalamualaikum, Rara kenapa, Teh?" Gavin dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu. Karena dia sudah mengira pasti terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
" Waalaikumsalam, maaf Teh Zizah mengganggu. Teh Zizah hanya ingin memberitahu jika saat ini Rara mengalami kontraksi dan sepertinya akan melahirkan. Sekarang ini Rara sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," Azizah menyampaikan kabar soal Azzahra kepada Gavin.
" Rara mau melahirkan, Teh?" Gavin terperajat hingga membuat Tante Maya, Mama Jovanka yang baru saja memejamkan matanya ikut terbangun karena kaget mendengar suara Gavin.
" Iya, Gavin." Azizah menyahuti, namun tiba-tiba Gavin merubah panggilannya menjadi panggilan Video.
" Mama Rara, Teh? Aku mau lihat. Tolong arahkan kamera ponselnya ke Rara," Gavin ingin mendampingi Azzahra meskipun dia tidak ada di dekat istrinya itu. Setidaknya dia ingin menyemangati Azzahra dengan melakukan video call.
" Rara di mobil ambulance sama Umi sama Kang Asraf." Azizah menjelaskan. " Coba kamu telepon Umi saja atau Kang Asraf."
" Oh ya sudah kalau begitu, aku telepon, Umi." Gavin langsung mematikan panggilan teleponnya sampai lupa mengucapkan salam. Dia Langsung melakukan panggilan video ke nomer telepon Umi Rara.
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam, Umi, mana Rara? Saya ingin bicara sama Rara, Umi." Gavin meminta Ibu mempertuanya itu memperlihatkan wajah istrinya.
" Kamu ini gimana sih jadi suami?! Harusnya menunggui istri yang mau melahirkan! Memangnya Rara itu nggak penting buat kamu?! Kamu lebih sayang anak mantan kamu itu daripada istri kamu sendiri?!" geram Umi hingga menyemprot Gavin dengan umpatan-umpatannya.
" Umi ..." Terdengar Asraf menegur Uminya yang terlihat nampak emosi.
" Hiks ... hiks ... sakit, Umi." Kali ini Gavin mendengar suara tangis dan keluhan istrinya.
" Umi, tolong ... aku mau lihat Rara." Gavin memohon agar mertuanya itu mengabulkan permintaannya.
Akhirnya kali ini Gavin dapat melihat wajah istrinya yang nampak pucat menahan rasa sakit dengan berurai air mata.
" Honey ..." Gavin merasa pilu melihat istrinya kesakitan seperti itu.
" Kak, hiks ... sakit, Kak." rintih Azzahra kembali.
" Honey kau harus sabar, kau pasti kuat, Honey. Aku akan pulang besok pagi ke Jakarta. Kau jangan menangis, Honey. Kau pasti kuat. Aku yakin kau pasti bisa melewati ini." Gavin mencoba menasehati dan mensupport istrinya.
" Sakit, Kak. Aakkhh ..." Rasa sakit kembali menyerang punggung Azzahra. " Umi, Rara nggak kuat, hiks ...."
" Istighfar, Neng." Terdengar Asraf menyuruh Azzahra lebih banyak mengucapkan istighfar untuk mengurangi rasa sakitnya.
" Geulis, jangan bicara seperti itu. Rara pasti kuat. Rara mesti semangat untuk bayi kamu, Ra. Neng Rara ingin melihat dedek bayinya, kan? Katanya Neng Rara sudah nggak sabar ingin gendong dedek bayi Neng Rara." Kini Umi terlihat menciumi wajah putri bungsunya itu.
Gavin memandangi pemandangan di layar ponselnya dengan hati tergigit, karena di saat istrinya itu butuh kehadirannya, dia berada di tempat yang jauh dari istrinya.
*
"
*
Bersambung
Happy Reading ❤️
__ADS_1