
Jantung Gavin berdebar demi mendengar kalimat yang disampaikan Rizal. Sesungguhnya dia berharap Rizal menyampaikan berita jika anak itu bukanlah anak Jovanka. Bukannya dia tidak ingin bertanggung jawab jika dugaan anak Jovanka itu adalah darah dagingnya benar. Tapi dia berharap tidak ada hal buruk yang akan mempengeruh ketentraman rumah tangganya yang saat ini dia rasakan bersama Azzahra.
" Info apa yang sudah Pak Rizal dapat?" Gavin mencoba berusaha tenang walaupun hatinya harap-harap cemas.
" Kami sudah menemukan keberadaan Nona Jovanka. Jovanka Federica tinggal di sebuah unit apartemen xxx bersama ibu dan anaknya yang berusia dua puluh delapan bulan bernama William Richard ...."
Deg
Jantung Gavin seakan ingin terlepas saat mendengar nama belakang Richard di belakang nama anak Jovanka. Dia sampai hampir hilang konsentrasi atas apa yang dikatakan Rizal selanjutnya.
" Hmmm, maaf Pak Rizal, bisa Pak Rizal ulangi lagi apa yang Pak Rizal ucapkan setelah nama William ... Richard." Dada Gavin sendiri terasa sesak saat harus menyebut nama belakang milik ayahnya itu.
" Oh, baik, Pak. Saat ini Nona Jovanka bekerja di perusahaan advertising terkemuka di sana. Nona Jovanka sejak dua setengah tahun lalu tinggal di Singapura. Berdasarkan info yang kami dapat dari tempat kerjanya jika Nona Jovanka adalah single parent dan tidak pernah terikat oleh pernikahan dengan pria manapun. Namun dari info yang kami terima, jika saat ini dia sedang menjalin hubungan serius dengan boss tempat dia bekerja."
Gavin menghela nafas dalam-dalam mendengarkan penjelasan demi penjelasan yang disampaikan oleh Rizal.
" Kami juga mendapatkan info tentang rumah sakit mana Nona Jovanka melahirkan anaknya. Jika Tuan Gavin berniat melakukan tes DNA ...."
" Tidak! Saya rasa itu tidak perlu." Gavin memotong kata-kata Rizal. Karena tanpa melakukan test DNA pun dia sudah bisa mengetahui kebenarannya.
" Pak Rizal bisa berikan alamat dia kepada saya?" pinta Gavin.
" Tentu bisa, Tuan Gavin. Nanti saya akan kirim alamat dan juga nomer ponsel milik Nona Jovanka."
" Baiklah, Pak Rizal saya tunggu segera."
" Kak ...."
Suara Azzahra yang tiba-tiba terdengar dari belakang Gavin membuat Gavin terperanjat.
Beberapa menit sebelumnya...
" Cari siapa, Neng?" tanya Umi Rara saat melihat Azzahra sedang mencari suaminya beberapa saat setelah Gavin keluar dari kamar Azzahra.
" Umi lihat Kak Gavin, nggak?" tanya Azzahra kepada Umi Rara.
" Lho, bukannya tadi masuk ke kamar sama kamu?" Umi Rara menyahuti.
" Iya, tapi tadi keluar angkat telepon," jawab Azzahra.
" Mungkin ada di pekarangan, Ra."
" Oh, ya sudah, Umi. Rara coba lihat ke sana."
Azzahra pun langsung menuju pekarangan rumahnya. Dia melihat suaminya itu sedang serius berbicara dengan seseorang di telepon, entah dengan siapa Azzahra tidak tahu.
__ADS_1
" Kak ..."
Gavin terkesiap saat mendengar suara Azzahra.
" H-honey?" Gavin membelalakkan matanya.
" Hmmm, Pak Rizal, nanti saya hubungi Anda lagi." Gavin dengan segera mengakhiri perbincangannya di telepon.
" Telepon dari siapa, Kak? Kenapa Kak Gavin tutup teleponnya? Kalau Kak Gavin ada hal yang mesti dibicarakan laniutkan saja obrolannya nggak apa-apa, Kak."
" Ah, tidak apa-apa, Honey. Aku bisa telepon nanti," sahut Gavin kemudian mendekat ke arah istrinya.
" Honey, sepertinya aku harus segera pulang ke Jakarta malam ini," ucap Gavin kemudian.
" Memangnya kenapa, Kak? Apa ada masalah penting?" tanya Azzahra khawatir.
" Iya ada yang perlu aku urus, tapi kamu tak perlu khawatir, Honey. Hanya masalah kecil saja." Gavin mencoba menenangkan Azzahra agar tak merasa khawatir.
" Ya sudah, kita pulang sekarang, Kak." Azzahra memutar tubuhnya ingin masuk ke dalam rumah orang tuanya namun tangan Gavin mencekal lengannya.
" Honey, biar aku saja yang pulang. Kamu mungkin masih kangen sama Abi dan Umi, biar kamu di sini dulu saja tidak apa-apa." Gavin meminta Azzahra untuk tetap tinggal di rumah Abinya.
" Aku mau ikut Kak Gavin pulang saja," tegas Azzahra.
" Honey, sepertinya aku akan pergi ke luar negeri besok dan aku tidak bisa mengajakmu ikut serta. Kau pasti akan kesepian tinggal sendirian di apartemen. Sebaiknya kau di sini saja biar kau ada yang menemani." Gavin mengusap lembut wajah Azzahra.
" Ada urusan pekerjaan yang mesti aku urus, Honey."
" Berapa lama Kak Gavin akan pergi?" tanya Azzahra.
" Kemungkinan satu atau dua hari. Tapi aku janji akan secepatnya kembali jika masalahnya sudah selesai." Gavin mencoba meyakinkan Azzahra.
" Tapi aku ingin ikut pulang ke Jakarta. Aku ingin menunggu Kak Gavin di apartemen saja. Kak Gavin baru akan pergi besok, kan? Malam ini berarti Kak Gavin masih bisa temani aku." Azzahra bersikukuh ingin ikut pulang menemani suaminya.
Gavin mendesah. Dia tidak bisa memaksa istrinya untuk tetap tinggal di rumah Abinya. Hal ini berpotensi membuat Azzahra curiga.
" Baiklah jika itu maumu. Kita pulang sekarang. Tapi kamu janji jangan sedih aku tinggal sendirian di apatemen, oke?" Gavin merangkum wajah cantik Azzahra.
Azzahra langsung menganggukkan kepala dengan cepat, tanda dia menyetujui syarat yang diajukan suaminya itu. Tak lama mereka berdua pun masuk ke dalam rumah Abi Rara untuk berkemas sebelum meninggalkan rumah orang tua Azzahra itu.
***
" Honey, kau tidurlah terlebih dahulu. Aku ingin ke ruang kerja. Ada yang ingin aku obrolkan dengan Dad David tentang rencana kepergianku besok." Gavin mengelus kepala Azzahra yang sedang berbaring sambil menonton televisi.
" Tapi jangan lama-lama, Kak." rengek Azzahra manja.
__ADS_1
" Iya, nanti aku kembali. Kau tidurlah dulu. Good night, Honey. Sweet dream." Gavin lalu mengecup kening Azzahra sebelum meninggalkan istrinya itu menuju ruang kerjanya.
Gavin mencoba menghubungi nomer ponsel Daddy nya.
" Dad, Assalamualaikum ..." sapa Gavin saat teleponnya tersambung.
" Waalaikusalam, Nak." Dad David menjawab namun sempat terdengar di telinga Gavin suara menguap Daddy nya itu.
" Dad, apa sudah tidur?"
" Sebentar lagi Dad ingin istirahat. Ada apa, Gavin?"
" Dad, maaf jika aku mengganggu. Dad sudah dengar info dari Rizal?"
" Ah, iya ... Dad baru dengar jelang Maghrib tadi. Dad sebenarnya ingin tanya kamu tapi takut mengganggu acara kamu di Bogor sana."
" Aku sudah di Jakarta, Dad."
" Kau sudah kembali?"
" Iya, sejak dengar info dari Rizal aku memutuskan kembali ke Jakarta saat itu juga."
" Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Nak?"
" Aku besok akan ke Singapura, Dad. Aku harus bertemu dengan Jovanka."
" Untuk menanyakan apa anak itu anakmu atau bukan?"
" Tidak, Dad! Berdasarkan info yang diberikan Rizal, aku rasa aku tidak perlu butuh pengakuan dari Jovanka tentang siapa ayah dari anak itu. Karena aku sudah tahu jawabannya." Gavin nampak tak meragukan siapa William baginya.
" Rizal bilang ke Daddy jika kau menolak melakukan test DNA, kenapa, Nak? Bukanlah itu lebih menguatkan jika anak itu anakmu atau bukan?"
" Tidak, Dad! Aku tidak akan melakukan itu. Jika aku melakukan itu artinya aku meragukan atas perbuatan aku yang salah di masa lalu. Dengan penjelasan dari Pak Rizal tentang tanggal lahir dan kemiripan wajah aku dengan William. Aku sangat percaya seratus persen jika William itu adalah anakku, Dad. Darah dagingku," tegas Gavin mantap.
" Dad tahu apa yang kamu lakukan dulu itu adalah kesalahan besar. Tapi Dad bangga, kamu tidak punya keraguan untuk mengakui dan bertanggung jawab atas apa yang pernah kamu lakukan di masa lalu. Dengan kamu menolak test DNA terhadap anak itu, itu sudah menunjukkan sikap tegas kamu jika kamu menerima kenyataan jika anak itu adalah anakmu." Ada rasa haru di hati Dad David mengatakan hal itu karena bagaimanapun Dad David sudah merasa jika William adalah benar cucunya.
Sementara tanpa mereka sadari sepasang telinga sedang mendengarkan percakapan Gavin dengan Dad David, walaupun hanya suara Gavin saja yang terdengar di telinganya saat itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Readers Budiman, bagaimanapun alur kisahhya tetap kasih dukungan kisah KCA ini ya. Jangan lupa like n komennya, agar KCA bisa baik level lagi. Makasih🙏
Happy Reading❤️