
Gavin memperhatikan wajah Azzahra yang terus saja memberengut. Sepertinya istrinya itu benar-benar marah kepadanya.
" Jangan cemberut terus, nanti cepat tua, lho. Nanti dikiranya saya menikahi tante-tante lagi." Gavin terkekeh menggoda istrinya.
" Saya 'kan sudah minta maaf, masa kamu masih juga tidak mau memaafkan." Gavin berjalan ke arah istrinya yang sedang memasang hijabnya di depan cermin.
" Kalau minta maaf nggak dikasih, kalau minta cium dikasih nggak?"
Azzahra hanya melirik sekilas lalu berniat meninggalkan kamar namun tangan Gavin menghalangi langkahnya.
" Mau ke mana? Ditanya suami kok nggak dijawab?"
" Saya mau masak, menyiapkan makanan untuk sarapan," ketus Azzahra.
" Istri yang baik." Gavin lalu melepas tangannya dari lengan Azzahra. " Masak yang enak, ya! Masakan istri harus lebih enak, lho. Daripada suamimu jajan di luar." Gavin mengedipkan matanya.
" Bisa-bisa kamu nangis kejer-kejer kalau suami kamu ini jajan di luar," lanjut Gavin.
" Kenapa harus menangis? Kalau kamu mau jajan di luar silahkan saja. Suka-suka kamu." Azzahra menjawab ketus, dia tidak memahami maksud perkataan suaminya itu.
" Yakin kasih ijin saya jajan di luar?"
" Silahkan, uang-uang kamu juga, kok." Azzahra kemudian berjalan keluar dari kamar. Dia lebih memilih segera menghindari suaminya dari pada terus berdebat dengan suaminya itu.
Gavin sengaja membuntuti Azzahra, lalu dia menghentikan langkahnya di ujung tangga memperhatikan istrinya yang sedang menuruni anak tangga
" Kamu tahu artinya suami jajan di luar? Itu artinya suami menyalurkan has*rat sek*sualnya kepada wanta lain di luar istrinya. Atau kalau dipersingkat hiya-hiya sama wanita lain, kamu rela?"
Azzahra mendadak menghentikan langkahnya lalu menengok suaminya yang sedang tersenyum meledek kepadanya seraya menggerakkan alis matanya.
" Silahkan saja!! Tapi jangan harap saya mau meladeni kamu hiya-hiya lagi!" ancam Azzahra mempercepat langkahnya.
Gavin terkesiap mendengar jawaban Azzahra namun tak lama dia terkekeh sembari menggelengkan kepala karena berhasil menggoda istrinya itu kemudian berlari menuruni anak tangga menyusul Azzahra ke dapur.
" Kalau saya tidak jajan di luar, berarti kamu mau dong meladeni saya hiya-hiya lagi? Sekarang boleh? Di situ juga bisa." Gavin melirik ke arah meja makan. " Menu sarapan pagi."
Azzahra yang kesal karena Gavin terus saja meledeknya langsung meraih pisau berukuran besar lalu menunjukkan ke arah Gavin.
" Kalau kamu masih saja mengganggu jangan salahkan kalau pisau ini melayang ke tubuhmu!" ancam Azzahra.
Gavin tersentak melihat Azzahra perlahan mendekat ke arahnya sambil mengacungkan pisau.
__ADS_1
" Eits ... kamu mau apa, Honey?"
" Pergi, nggak!" usir Azzahra.
" Iya-iya, saya kembali ke kamar. Ternyata kalau seperti ini kamu lebih menyeramkan dari Suzana. Hiiiii ..." Gavin pun kemudian berlari keluar dari ruangan dapur sehingga membuat Azzahra bisa melanjutkan niatnya untuk membuat sarapan tanpa harus diganggu oleh suami usilnya itu.
Tuk tuk tuk tuk
Suara saat Azzahra mengiris wortel dengan kesal untuk membuat capcay, saat mengingat suaminya itu bilang akan jajan di luar.
" Coba saja dia berani hiya-hiya dengan wanita lain, akan aku buat itu nya bernasib seperti wortel ini." Azzahra mengumpat selanjutnya mencuci potongan-potongan sayuran yang telah dia iris sebelumnya.
***
Azzahra mengeryitkan keningnya saat mobil yang dikendarai Gavin memasuki halaman sebuah butik yang Azzahra ingat itu adalah milik Natasha.
" Ayo turun ..." Gavin melepas seat belt nya dan menyuruh Azzahra untuk turun dari mobil.
" Mau apa ke sini?" tanya Azzahra.
" Saya ingin menitipkan kamu ke Alexa, biar kamu tidak merasa kesepian harus menunggu sendirian di apartemen selama saya bekerja," tutur Gavin mengatakan niatnya menitipkan Azzahra ke adik sepupunya.
" Daripada kamu sendirian di apartemen, mending kamu di sini. Biar kamu semakin akrab dengan Alexa. Kan bagus tuh kalau dijadikan sinetron judulnya ' Adik iparku ternyata wanita yang menjadi istri dari lelaki pujaan hatiku' keren 'kan?" Gavin langsung tergelak membuat hati Azzahra kesal berkali-kali lipat. Harus bertemu dengan Natasha saja sudah membuat hatinya meradang belum lagi sekarang diledek oleh suaminya sendiri.
" Selamat pagi, Tuan Gavin." Pak Joko menyapa Gavin. Saat Gavin sudah berada di dekat pintu masuk.
" Pagi, Pak Joko. Alexa belum datang?" tanya Gavin karena dia sama sekali tidak melihat mobil Alphard putih kesayangan sepupunya itu terparkir.
" Ibu Natasha? Ibu sekarang ini jarang datang ke butik, Tuan Gavin." Pak Joko memberitahukan.
" Memang kenapa, Pak?" Gavin mengeryitkan keningnya.
" Dilarang sama Mas Yoga, karena sekarang ini 'kan Ibu sedang hamil muda, Tuan. Mas Yoga sepertinya tidak ingin kejadian saat Ibu keguguran terulang lagi, Tuan." Pak Joko menerangkan.
" Oh gitu, hmmm ... ya sudah, kalau begitu saya permisi, Pak." Gavin segera berpamitan.
" Baik, Tuan." Pak Joko menyahuti.
Gavin dan Azzahra pun kembali ke dalam mobil dan keluar dari pekarangan Alexa Butique.
" Teh Natasha pernah keguguran?" Azzahra penasaran saat mendengar ucapan satpam di butik Natasha.
__ADS_1
" Iya." Gavin menjawab.
" Innalillahi Wainnaillaihi Roji'un, keguguran karena apa?" tanya Azzahra merasa prihatin.
" Jatuh karena disenggol anak-anak yang sedang berlari di restauran saat makan siang."
" Ya Allah," Azzahra menutup mulut dengan telapak tangannya merasa kaget dengan kejadian yang menimpa wanita selama ini selalu dia anggap sebagai perebut sumber kebahagiaannya itu.
" Pasti Teh Natasha sedih banget," lirih Azzahra tanpa sadar berucap.
" Tentu saja, dia merasa bersalah karena dia merasa tidak bisa menjaga kehamilannya itu. Bahkan dia sampai ketakutan. Karena kegugurannya itu, dia takut jika mama mertuanya akan melanjutkan niatnya menjodohkan kembali Yoga dengan calon menantu idaman mamanya Yoga itu."
Azzahra langsung membulatkan matanya saat mendengar penjelasan dari Gavin tentang ketakutan Natasha yang mengira jika Mamih Ellena akan menjodohkan kembali dirinya dengan Yoga.
Azzahra lalu menoleh ke arah suaminya itu.
" Teh Natasha berpikiran seperti itu?" tanyanya kemudian.
" Iya, dia pernah keceplosan bicara jika hubungan dia dan mama mertuannya tidak terlalu akrab, karena mama mertuanya itu punya calon sendiri yang disiapkan untuk menjadi menantunya." Gavin melirik ke arah Azzahra yang kemudian mendesah.
" Apa karena itu Teh Natasha begitu semangat menjodohkan kita? Dia takut saya akan merebut Kang Yoga? Padahal saya tidak punya pikiran seperti itu walaupun saya merasa sangat kecewa. Saya tidak akan mungkin merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain," lirih Azzahra, dia sedikit sedih karena Natasha berpikiran buruk terhadapnya.
" Tidak seperti itu. Alexa itu bilang ke saya jika kamu itu wanita yang baik dan sewajarnya mendapatkan pria yang baik seperti saya." Gavin menyeringai kembali melirik istrinya yang juga kini menoleh ke arahnya.
Azzahra yang mendapati senyum usil suaminya itu ditambahkan gerakan alisnya yang turun naik membuat dia memutar bola matanya sembari mencebikkan bibirnya
Mungkin bagi Azzahra apa yang baru saja dikatakan Gavin adalah suatu perkataan gombal yang biasa kebanyakan pria ucapkan. Tapi memang seperti itulah yang Natasha ucapkan kepada Gavin dulu.
Bagi Natasha, Gavin dan Azzahra adalah dua orang baik yang kurang beruntung mendapatkan balasan dari orang yang dicintainya. Azzahra yang tidak mendapatkan sambutan perasaan dari Yoga. Dan Gavin pun yang harus mengubur ketertarikan terhadap Natasha saat dia tahu jika Natasha adalah adalah adik sepupunya yang sudah lama berpisah.
Untuk Natasha, walaupun awalnya dia merasa jengah dengan kehadiran Gavin, karena selalu saja berusaha mendekatinya meskipun pria itu berstatus suami Agatha, namun dia mesti jujur jika selama ini kehadiran Gavin tidak pernah sedikit pun berniat jahat terhadap dirinya. Justru Gavin sangat perduli terhadapnya. Karena itulah Natasha menginginkan jika kakak sepupunya itu bisa berjodoh dengan Azzahra
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1