
Gavin membawa Azzahra ke kantornya. Dia sengaja tidak membawa Azzahra ke apartemen karena dia tidak ingin meninggalkan Azzahra sendiri dan sepertinya Azzahra pun tidak ingin ditinggal oleh suaminya itu.
" Selamat pagi, Pak Gavin. Eh, ada Ibu juga." Shella menyapa saat melihat kedatangan Gavin dan Azzahra.
" Pagi, Shel." Gavin lalu melingkarkan tangannya ke pundak Azzahra. " Dia tidak ingin jauh dari saya, Shel." Gavin menyeringai.
" On the way bucin, Pak Gavin dan Ibu Rara ini rupanya." Shella terkikik menutup mulutnya.
Ucapan Shella membuat Azzahra hanya menunduk malu sedangkan Gavin tertawa kecil seraya berjalan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Kalau kau lelah, kau bisa istirahat di kamar, Honey." Gavin menyuruh Azzahra untuk beristirahat di kamar istrirahat di belakang ruang kerja Gavin.
" Aku ingin dengar cerita Kak Gavin soal wanita itu dan anaknya," ujar Azzahra.
Gavin yang semula ingin segera duduk dan mulai kerja karena kemarin dia harus ke Singapura, akhirnya memilih menemani istrinya itu duduk di sofa.
" Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Gavin kemudian.
" Pasti dia cantik, kan?" Azzahra merasa penasaran.
" Kau ingin aku bicara jujur?" Gavin balik bertanya.
" Berarti benar cantik, kan?" Hati Azzahra terasa berdebar-debar saat suaminya bertanya seperti itu.
" Cantik itu relatif, tapi ...."
" Tapi benar cantik, kan?"
Gavin kemudian duduk bersimpuh di depan Azzahra. Tangannya menggenggam erat tangan istrinya. "Ya, dia cantik dan juga baik. Karena itulah aku dulu sangat mencintai dia. Tapi itu masa lalu. Aku sudah menyakitinya dengan meninggalkan dia saat kami berdua merasakan cinta yang mendalam karena keinginan Mommy. Aku sudah mengecewakan dia. Karena itu aku ingin menebus kesalahanku dengan memberi nafkah kepada William."
Sungguh hati Azzahra merasa sesak mendengar pengakuan suaminya tadi. Walaupun Itu bagian dari masa lalu suaminya dan itu terjadi sebelum mereka bertemu dan menikah, tetap ada rasa sakit di hati Azzahra mengetahui itu. Tapi mau bagaimana lagi? Apapun yang terjadi dengan Gavin, dia adalah suaminya. Walau begitu terasa berat tapi dia harus menerimanya.
" Apa dia masih mengharapkan Kak Gavin?" Setelah berusaha untuk menenangkan diri, akhirnya dia berani kembali bertanya.
" Dia sudah mempunyai tunangan dan akan menikah bulan depan."
Azzahra menarik nafas lega mendengar penjelasan Gavin.
" Jovanka sudah menemukan kebahagiannya sendiri. Dia beruntung mendapatkan pria yang mau menerima dia dan juga William. Seperti aku yang beruntung mendapatkan istri sepertimu yang mau berbesar hati menerima kehidupan masa laluku yang buruk." Gavin mengecup jemari lentik Azzahra.
__ADS_1
" Bagaimana dengan William? Bagaimana saat dia tahu kalau Kak Gavin adalah papanya?"
" Dia tidak tahu. Jovanka tidak mengenalkan aku kepada William sebagai papanya. Dia masih terlalu kecil untuk tahu masalah ini. Biarlah dia mengetahuinya nanti saat dia sudah memahami. Saat ini yang harus aku lakukan adalah memberikan kasih sayang kepadanya walaupun aku tak bersama dia, agar nantinya dia tidak salah pergaulan. Aku tak ingin dia bernasib seperti aku dulu."
Azzahra sedikit tahu tentang bagaimana Gavin dulu karena jauh dari Dad David. Suaminya itu tidak mendapatkan kasih sayang dari Dad David karena Mommy Amanda melarang Dad David bertemu dengan Gavin. Bahkan sampai akhirnya membawa kabur Gavin kecil dan tinggal di luar negeri hingga Dad David benar-benar kehilangan jejaknya. Mungkin karena kurang perhatian dari orang tua yang lengkap dan pergaulan bebas dunia barat yang akhirnya membuat Gavin terjebak dengan kehidupan bebas seperti itu.
***
Azzahra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sedangkan Gavin terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya.
" Lu masih saja ada di sini?"
Azzahra mengeryitkan keningnya saat mendengar suara suaminya itu berbicara dengan seseorang.
" Urusan gue di sini 'kan belum beres." sahut suara pria yang Azzahra tidak kenal.
Azzahra beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang berbicara dengan suaminya itu.
" Ada siapa, Kak?" tanya Azzahra saat keluar kamar istirahat Gavin.
Suara Azzahra sontak membuat Gavin dan pria yang ternyata adalah Steven menoleh ke arahnya.
" Bidadari surga ...."
Gavin dan Steven menyahuti pertanyaan Azzahra. Namun sahutan Steven membuat Azzahra mengeryitkan keningnya.
" Ini bini lu, Vin? Gi*la, ternyata lebih cantik aslinya." Steven menatap kagum seraya melangkah mendekati Azzahra.
Gavin yang melihat aksi Steven yang seakan terpesona dengan istrinya dengan cepat menarik lengan Azzahra hingga kini tubuh Azzahra sudah berada dalam dekapannya.
" Mau apa lu dekat-dekat bini gue?" tanya Gavin ketus.
" Ah, si*al lu, Vin. Gue 'kan cuma ingin kenalan." Steven menggerutu.
" Lu sudah kenal dia bini gue, kan? Mau apa lagi?" Gavin terlihat posesif melindungi Azzahra dari gangguan pria-pria seperti Steven. Walaupun dulu dia senang bermain wanita tapi dia tidak separah Steven yang mudah tertarik dengan sembarang wanita. Setiap melihat wanita cantik, Steven pasti selalu semangat mengejar wanita itu.
" Ya gue 'kan ingin kenal lebih dekat. Siapa tahu dia punya kakak, adik atau saudara wanita, boleh dong, kasih ke gue." Steven menyeringai seraya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
" Dia nggak punya kakak, adik atau saudara wanita." Gavin menjawab cepat.
__ADS_1
" Ck, pelit amat lu, Vin!" Gavin mencebikkan bibirnya.
" Gue juga ingin berubah lebih baik seperti lu, Vin. Siapa tahu kalau gue dapat wanita seperti bini lu ini gue jadi tobat."
" Alasan, lu! Lu lihat sekretaris gue saja lu ingin ajak kencan, mengaku mau tobat," sindir Gavin.
" Hahaha, masalahnya kalau lihat sekretaris lu itu mendadak libi*do gue sampai naik ke ubun-ubun." Steven tertawa kencang mengucapkan kalimat itu tanpa malu.
Sementara Gavin langsung menutup telinga Azzahra dengan telapak tangannya.
" Honey, kau jangan dengar omongan dia. Omongan dia itu virus semua. Aku nggak ingin kau terkontaminasi karenanya," ucap Gavin berbisik ke istrinya.
" Si*alan lu, Vin. Dianggapnya gue bakteri, apa?! Kaya lu dulu nggak seperti itu saja!" cibir Steven.
" Hei, gue sudah tobat, ya!" Gavin menyangkal dengan cepat.
Steven terbahak mendengar ucapan Gavin.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat tiga orang yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah pintu ruang kerja Gavin. Tak lama sekretaris Gavin nampak masuk ke dalam ruangan.
" Permisi, Pak. Ada yang mencari Pak Gavin." Stella memberitahukan kepada Gavin.
" Hai, Kak Gavin." Nampak seorang wanita cantik dengan perut buncit masuk dan menyapa Gavin.
Steven yang melihat kehadiran wanita cantik itu langsung mengeryitkan keningnya.
" Vin, wanita cantik siapa lagi ini? Apa jangan-jangan dia ini wanita yang lu hamili juga?" tanya Steven menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Tentu perkataan Steven membuat Gavin, Azzahra dan wanita cantik itu membelalakkan matanya terlebih lagi wanita itu yang langsung mendelik dengan galak dan memasang wajah garang ke arah Steven.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1