KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Abi, Umi ...!!


__ADS_3

Gavin tak perdulikan protes Azzahra, karena saat itu rasanya libi*do nya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Dia justru menempatkan alat tempurnya di tepi bagian luar inti Azzahra yang sudah lembab karena sentuhan yang diberikan Gavin kepada istrinya itu.


" Are you ready, Baby?" Gavin siap menghujamkan senjatanya kepada inti istrinya.


" Allahu Akbar alllahu Akbar ..."


Terdengar suara adzan Maghrib yang berkumandang dari ponsel Azzahra. Wanita itu memang memasang pengingat waktu sholat di ponselnya itu.


Mendengar adzan maghrib dari ponselnya Azzahra langsung menjauhkan tubuh Gavin dari dirinya.


" S-saya mau sholat," ucap Azzahra berusaha untuk bangkit.


" Mau ke mana?" Gavin menghalangi Azzahra.


" Saya mau sholat Maghrib." Azzahra beralasan.


" Tapi kita baru saja mau mulai, sudah tanggung ini." Gavin memprotes.


" Dan saya mau sholat, tidak bisa ditunda-tunda." Azzahra menyahuti.


" Sebentar saja, sudah tegang punya saya ini, biarkan bertamu sebentar. Ada yang harus saya keluarkan, kepala saya sakit jika tidak dikeluarkan."


" Tidak bisa, waktu Maghrib hanya sebentar, kalau ditunda-tunda nanti malah terlewatkan." Azzahra kemudian bangkit dan menutup kembali tubuhnya dengan bathrobe lalu bergegas menuju bathrobe.


" Aaarrgghh ...!! Si*al ...!!" geram Gavin kesal.


" Ada saja alasannya, sudah dekat gawang pakai dianulir segala," Gavin menggerutu.


Dia kemudian mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkan kamar hotel dengan wajah merah padam karena harus menahan serbuan gai*rah yang membuncah tapi tidak bisa dilampiaskan.


Selepas membersihkan diri Azzahra segera melaksanakan sholat Maghrib. Dia tidak mendapati suaminya di ruangan kamar hotel itu.


" Dia pasti marah karena aku tolak lagi. Tapi biarkan sajalah," gumam Azzahra.


Setelah melaksanakan sholat, Azzahra merebahkan tubuhnya di sofa. Dia mengingat apa yang telah dia dan suaminya lakukan. Dia membayangkan milik suaminya yang tadi dia lihat. Dia membandingkan apa yang biasa dia lihat milik keponakannya saat dia memandikan keponakannya yang baru berusia empat tahun yang tidak ada sepanjang ibu jarinya dengan milik suaminya itu. Azzara sampai mengedikkan bahunya membayangkan betapa besar milik suaminya tadi.


" Bagaimana itu bisa masuk? Pasti akan ngilu sekali rasanya." Azzahra kembali bergumam.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa aku sampai memikirkan hal itu? Ya Allah ..." Azzahra menepuk keningnya.


***


Azzahra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam tapi Gavin tidak juga kembali ke kamarnya.

__ADS_1


" Ke mana sih itu orang? Aku 'kan sudah mengantuk. Kalau aku kunci pintu, dia pasti nggak akan bisa masuk. Kalau nggak aku kunci, aku takut ada orang lain yang tiba-tiba masuk ke kamar ini." Azzahra terlihat berpikir seraya melangkah hilir mudik.


Tak lama Azzahra memilih mengunci pintu kamar, karena dia berpikir Gavin bisa tidur di kamar manapun di hotel ini kalau dia mengunci kamarnya.


Sebelum Shubuh Azzahra terbangun, dia menoleh ke sisi tempat tidurnya yang kosong. Dia teringat jika semalam dia mengunci kamarnya, jadi tidak mungkin Gavin ada di kamar.


Sampai hampir jam sebelas siang Gavin tak juga menampakkan batang hidungnya membuat dirinya bingung apa yang akan dia lakukan sepanjang hari di dalam kamar.


Ceklek


Suara knop pintu di buka. Setelah mendapat hantaran breakfast dari pelayan hotel Azzahra memang tak mengunci kembali pintu kamar hotelnya.


Azzahra melihat suaminya itu terlihat masuk ke dalam kamar menggunakan kemeja slim fit warna navy dengan lengan ditekuk sebatas siku dipadu dengan celana jeans warna denim. Sungguh terlihat gagah sekali suaminya itu. Dia kembali teringat tubuh suaminya yang semalam tak terbungkus sehelai benang pun. Tubuh kekar dengan kotak-kotak di perutnya. Azzahra segera mengerjap agar dia tidak berbuai dengan fisik sempurna suaminya itu.


" Kita pulang sekarang." Gavin berucap dengan nada dingin. Tentu saja Azzahra menduga jika suaminya itu masih kesal kepadanya tapi Azzahra tidak memusingkan hal itu.


Azzahra justru sibuk memasukkan baju-baju yang kemarin sempat dibawa orang suruhan uminya ke dalam koper.


Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah ada dalam perjalanan.


" Lho, kok ke sini? Ini 'kan arah ke Jakarta?" tanya Azzahra heran karena bukannya berbelok, suaminya itu mengambil jalan lurus ke arah Jakarta.


" Kita mau ke mana? Katanya mau pulang," tanya Azzahra heran.


" Kita memang pulang, pulang ke apartemenku," tegas Gavin.


" Tentu saja, kamu ini istri saya jadi kamu wajib ikut dengan saya. Karena saya ini suami kamu walau belum berhasil mendapatkan hak saya sebagai suami dari kamu."


Rona merah langsung terlihat jelas di wajah Azzahra saat Gavin mengatakan tentang hak yang seharusnya suaminya itu dapat dari dirinya dan Azzahra dapat menduga arah pembicaraan Gavin itu ke arah mana.


Mobil Gavin memasuki sebuah bangunan masjid dan dia memarkirkan mobilnya di pekarangan masjid itu.


Azzahra menoleh ke arah suaminya. " Kenapa berhenti di sini?" tanya Azzahra heran


" Ini sudah masuk waktu Dzuhur, kan?" tanya Gavin.


" Iya." jawab Azzahra melirik arlojinya yang menunjukkan jam dua belas siang.


" Ya sudah sana sholat jangan sampai telat." Gavin menganjurkan.


Azzahra masih merasa heran, kenapa suaminya itu menyuruh dia sholat sekarang. Padahal sekarang ini sudah masuk kawasan Jakarta. Dia memperkirakan kurang lebih satu jam lagi akan sampai ke apartemen suaminya hingga dia berpikir akan sholat setelah sampai tujuan.


" Cepat sholat kenapa malam melamun?" sindir Gavin melihat Azzahra tak juga turun dari mobil.

__ADS_1


" Nggak perlu kamu suruh juga saya pasti sholat." Azzahra kemudian melirik ke arah suaminya. " Memangnya kamu sudah disuruh tapi nggak mau menjalankan." Azzahra balas menyindir kemudian membuka pintu dan masuki bangunan masjid


Lima belas menit kemudian Azzahra kembali ke mobilnya setelah selesai sholat Dzuhur, tapi dia tak mendapati suaminya itu di dalam mobil.


Azzahra mengedar pandangan ke arah sekitar parkiran dan sekitar luar masjid termasuk di warung depan masjid tapi tak juga dia temui Gavin di sana. Dia lalu menoleh ke arah bangunan masjid. Di sana dia melihat Gavin sedang memakai kaos kaki dan sepatunya. Dia pun bisa melihat rambut atas kepala dari nya nampak lembab. Seulas senyuman langsung terukir di bibirnya itu, karena dia sudah menduga jika Gavin baru saja ikut sholat di masjid itu.


" Alhamdulillah ..." tanpa sadar batin Azzahra berucap syukur.


***


Jam satu kurang sepuluh menit Gavin tiba di apartemennya, apartemen yang tentu saja sangat luas menurut Azzahra dan dilengkapi dengan teknologi smart home.


Gavin tidak mengajak Azzahra untuk melihat ruangan-ruangan yang ada di apartemennya itu. Dia justru mengarahkan Azzahra langsung ke kamarnya.


" Ini kamar yang saya pakai selama ini." Gavin membukakan pintu mempersilahkan Azzahra untuk masuk ke dalam kamar.


Nuansa maskulin langsung terasa saat memasuki kamar Gavin yang nampak rapih.


" Bagaimana? Apa kita bisa lanjut yang tertunda kemarin sore? Kamu sudah sholat, tidak ada alasan lagi untuk menolak."


Azzahra langsung menoleh ke Gavin yang berdiri di dekat pintu yang telah tertutup. Azzahra pun terkesiap dengan ucapan suaminya itu.


" S-sekarang?"


" Iya, tentu saja." Perlahan Gavin mendekati Azzahra dengan tangan yang melepas ikat pinggangnya kemudian melepas kancing kemejanya.


" Tapi ini masih siang, memang boleh?" Pertanyaan polos itu keluar dari mulut Azzahra.


" Memang siapa yang berani melarang?" Setelah sampai di hadapan Azzahra, Gavin menarik pinggang ramping Azzahra yang berbalut gamis longgar. Gavin kemudian membuka hijap panjang Azzahra. Dia pun kemudian membuka resleting Gamis Azzahra, hingga dengan satu gerakan sudah membuat gamis yang dikenakan Azzahra jatuh ke lantai.


" Aakkhh ...!" Azzahra langsung menyilangkan tangan di dadanya karena saat ini dadanya hanya terbungkus oleh bra. Sedangkan untuk bawahan masih aman karena dia memakai leging.


Gavin kemudian mengangkat tubuh Azzahra dan menghempaskan ke atas tempat tidur dan setelah Gavin melepas bajunya dan celananya sendiri, dia lalu menin*dih tubuh Azzahra. Dia membaca doa yang semalaman dia hafalkan.


Gavin meletakkan telapak tangannya di leher Azzahra, kemudian memberikan sentuhan memabukan di bibir dan ronga mulut Azzahra, bahkan kini lidahnya membelit lidah istrinya itu. Sementara tangannya melepaskan penutup kedua wilayah pegunungan istrinya. Seperti yang dilakukan sehari sebelumnya, Gavin kini sedang bermain-main di kedua asset Azzahra, membuat Azzahra mendesah. Setelah puas menjelajahi pegunungan kini Gavin mulai mengunjungi wilayah inti sang istri. Kembali dia memberi sentuhan kenikmatan yang membuat tubuh Azzahra menggelinjang dan daerah inti istrinya itu lembab karena sepertinya istrinya itu sudah mendapatkan pelepasan pertama. Dan saat Gavin mendapati sorot mata Azzahra yang berkabut gairah, dia langsung memasukkan alat tempurnya ke dalam goa penuh kenikmatan yang masih sangat sempit hingga membuat Azzahra memekik kencang.


" Aaaakkhh ,.. sakiiiit ...!! Abi, Umi ...!!" Azzahra meracau berteriak memanggil abi dan uminya saat Gavin akhirnya berhasil merobek sela*put dara milik istrinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2