KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Terbebas Dari Hukuman


__ADS_3

Umi Rara langsung berlari mengejar anaknya yang menangis selepas berkata pada ibu-ibu pengajian.


" Ra, buka pintunya, Geulis ..." Umi Rara terus mengetuk pintu kamar Azzahra yang terkunci dari dalam. " Ra, biarkan Umi masuk, Nak."


Tak lama pintu kamar Azzahra pun terbuka dan masih menyisahkan Azzahra yang berurai air mata karena rasa takut, terkejut, malu, kesal campur jadi satu saat mengetahui kelakuan Gavin yang menyebabkan mereka berposisi seperti tadi, terlebih tindakan mereka dilihat oleh ibu-ibu pengajian. Entah mau ditaruh di mana mukanya mengingat kejadian itu


" Ra, sayang ...."


" Umi ..." Azzahra langsung memeluk Uminya saat melihat sosok Umi Rara masuk ke kamarnya. " Umi, Rara malu, Umi ..." ucap Azzahra terus terisak. " Bagaimana kalau kejadian tadi diketahui semua warga sini? Apa jadinya kalau pihak sekolah tahu kejadian tadi, Umi? Rara pasti nanti dipecat, Rara pasti dicemooh, dikucilkan, dituduh berbuat asusila. Rara malu, Umi. Hiks ... hiks ...."


" Sabar, Ra ... nanti Umi bicarakan sama Abimu." Umi Rara mengusap lembut punggung Azzahra.


" Rara ingin orang itu pergi dari sini. Umi suruh Abi usir dia dari sini." Azzahra terus terisak.


" Iya, iya ... nanti Umi bilang sama Abi. Sekarang kamu tenang dulu, jangan nangis, ya." Umi Rara berusaha terus menenangkan putrinya.


" Rara malu, Umi. Kalau orang itu terus di sini, entah Rara akan dipermalukan apalagi sama dia."


" Iya, Umi mengerti. Sekarang kamu tenang dulu, nanti Umi bicara sama orang itu, ya." Umi Rara mengurai pelukannya. " Kamu istirahat saja dulu, tenangkan pikiran kamu. Umi mau menemui ibu-ibu pengajian, biar mereka nggak salah paham."


Azzahra mengangguk menyetujui uminya yang berpamitan.


Sementara itu di pekarangan rumah, ibu-ibu yang rencananya hendak menyusul Umi Rara masih sibuk bercengkrama dengan Gavin.


" Eh, Mas nya ini namanya siapa tadi?" tanya Ibu Amy yang akhirnya duduk di teras.


" Saya Gavin, Gavin Richard." Gavin menyahuti.


" Iihh namanya bagus seperti orang bule." Ibu Bety terkekeh.


" Mas Gavin ini tinggal di mana? Kerjanya apa? Bisa kenal Neng Rara di mana?" Ibu Cici bertanya layaknya seorang wartawan yang sedang mewawancarai nara sumber.


" Saya tinggal di Jakarta. Saya bertemu Rara di hotel tempat saya bekerja."


" Oh kerja di hotel. Neng Rara ke hotel? Memang mau apa Neng Rara pergi ke hotel?" selidik Ibu Amy curiga.


" Iya, waktu itu ada resepsi pernikahan Budi di hotel xxx. Kebetulan keluarga mempelai wanita masih kerabat dengan keluarga Rara."


" Oh ... Neng Lily, ya? Iya benar, Neng Lily 'kan resepsinya di hotel, soalnya suaminya kerja di hotel juga. Kenal sama suaminya Lily berarti Mas Gavin ini, tuh?" tanya Ibu Cici


" Iya, dia karyawan saya."


" Karyawan? Berarti Mas Gavin ini jabatannya lebih tinggi dari suaminya Lily? Setahu saya suaminya Lily itu jabatannya manager di hotel itu." Ibu Bety bercerita. " Memang Mas Gavin di sana jabatannya apa?" tanya Bu Bety kepo.


" Saya?"


" Iya." Ketiga ibu-ibu itu kompak menganggukkan kepala.


" Hotel itu milik papa saya."


" Oh milik papanya ... Hahh apa??" Ibu Amy sampai terperanjat.


" Milik papa Mas Gavin? Beneran punya papanya Mas Gavin?" Ibu Bety seolah tak percaya.

__ADS_1


" Hotel itu 'kan banyak, ada di mana-mana. Apa itu semua milik papa Mas Gavin?" Ibu Cici ikut bertanya.


" Iya, semua hotel xxx yang ada di Indonesia itu milik papa saya," jawab Gavin menegaskan.


" Wow ...."


" Masya Allah ...."


" Tajir melintir ...."


Komentar tiga ibu itu berbeda tapi sama menyuarakan kekaguman.


" Beruntung sekali Neng Rara dapat calon suami seperti Mas Gavin." lanjut Ibu Amy.


" Mas Gavin masih punya adik laki-laki lagi, nggak? Saya punya anak gadis umur dua puluh tahun, siapa tahu bisa dikenalkan sama adiknya Mas Gavin." Ibu Bety.


" Anak saya laki-laki, barangkali Mas Gavin punya adik perempuan." Ibu Cici malu-malu menawarkan.


" Lho, kok ini jadi ajang perjodohan?" protes Ibu Amy.


" Ya siapa tahu beruntung, Bu Amy. Kita-kita juga mau punya menantu kaya raya," ucap Bu Bety terkekeh.


" Benar yang Bu Bety bilang, siapa tahu rejeki. Bisa mengangkat derajat kita sebagai orang tua." Ibu Cici menambahkan.


" Beruntung sih beruntung, tapi ya lihat-lihat juga. Memangnya adiknya Mas Gavin mau gitu dijodohkan dengan golongan rakyat jelata seperti kita-kita?" Ibu Amy mencoba berpikir realistis.


" Iiihh si Ibu Amy, coba itu lihat Neng Rara saja bisa dapetin Mas Gavin," protes Ibu Cici.


" Neng Rara mah beda atuh, Bu Cici. Neng Rara anaknya Pak Abdullah. Pak Abdullah itu orang kepercayaannya keluarga Atmajaya, orang terkaya di sini. Bukan keluarga sembarangan berarti keluarga Pak Abdullah itu," terang Ibu Amy kembali. " Lagipula Mas Gavin sendiri belum tahu punya adik atau tidak."


" Atau perempuan?"


Ibu Bety dan Ibu Cici berebut bertanya.


" Hmmm, saya punya adik wanita ..." jawab Gavin.


" Alhamdulillah ..." Ibu Cici menyahuti dengan semangat seraya mengepalkan kedua tangannya ke udara karena dia yang mempunyai anak laki-laki.


" Tapi dia sudah menikah," lanjutan jawaban Gavin membuat Ibu Cici menelan salivanya sehingga membuat Ibu Bety terkikik.


" S-sudah menikah?" tanya Ibu Cici lemas.


" Iya, suaminya juga orang sini, kok. Ibu-ibu juga pasti kenal," balas Gavin.


" Memang orang sini siapa yang menikah dengan orang kaya?" tanya Ibu Bety saling berpandangan dengan kedua ibu yang lain.


" Yoga, Prayoga Atmajaya," sahut Gavin. Sebenarnya dari istri kedua Dad David, Gavin mempunyai dua adik wanita dan sekarang ini masih kuliah di luar negeri, tapi dia sengaja memakai Natasha sebagai tamengnya agar tak dipusingkan lagi soal adik yang ingin mereka joroh-jodohkan.


" Den Yoga??" Ketiga ibu itu menjawab serempak.


" Jadi yang menikah dengan anaknya Ibu Ellena itu adiknya Mas Gavin?" tanya Ibu Amy.


" Iya."

__ADS_1


" Oh ... pantas Den Yoga berpaling dari Neng Rara, calonnya lebih kaya ternyata," bisik Bu Bety ke telinga Ibu Cici yang langsung dibalas anggukan kepala Ibu Cici.


" Jadi judulnya tukar posisi ya, Mas." Ibu Bety terkikik seraya menutup mulutnya. " Neng Rara dulu itu 'kan rencananya mau bertunangan dengan Den Yoga, tapi Den Yoga malah nikah sama adiknya Mas Gavin. Dan sekarang Mas Gavin yang bertunangan sama Neng Rara."


" Itulah namanya takdir, Bu. Biarpun orang tua menjodohkan, tapi yang menjalani dan merasakan itu anak-anaknya. Seperti Yoga yang ternyata jatuh cinta pada adik perempuan saya. Begitu juga Rara, siapa sangka dia pun tertambat hatinya pada saya. Bisa dibilang love at the first sight Rara ke saya itu, Bu ..." kelakar Gavin.


" Naon eta teh artinya?" tanya Ibu Cici.


" Cinta pada pandangan pertama." Gavin menyeringai.


" Eleuh-eleuh ... meni so sweet pisan ..." celetuk Ibu Amy seraya memegang kedua pipinya sendiri.


" Ya seperti itulah ..." Gavin kembali cengegesan.


" Hmmm, Bu Amy, Bu Bety, Bu Cici ... punten pisan, saya nggak bisa ikut pengajian ya, ada keperluan mendadak soalnya." Umi Rara yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah menyampaikan permohonan maafnya.


" Oh, ya sudah nggak apa-apa kalau begitu," Ibu Amy menyahuti.


" Umi selamat ya, beruntung sekali Neng Rara dapat calon suami seperti Mas Gavin, sudah ganteng, kaya raya lagi. Nggak rugi nggak jadi tunangan sama Den Yoga, Umi." Ibu Bety berkomentar.


" Iya, Umi. Mas Gavin ini nggak kalah ganteng dari Den Yoga. Jangankan Neng Rara, saya juga kalau masih muda masih gadis, mau atuh punya suami meni kasep kieu." Ibu Cici tersipu.


" Umi, kalau nanti Neng Rara sama Mas Gavin ini nikah di hotel, jangan lupa undang-undang kita ya, Umi. Biar nanti kita bikin seragam buat kondangannya ya, bu-ibu?" celetuk Ibu Amy yang disahuti oleh kedua rekannya.


Ucapan-ucapan ketiga ibu-ibu itu membuat Umi Rara langsung menatap tajam ke arah Gavin yang dibalas dengan seringai oleh Gavin.


" Ya sudah, kalau begitu kami pamit ya, Umi. Takut telat, Assalamualaikum ..." pamit ketiga ibu tadi.


" Waalaikumsalam ..." sahut Umi dan Gavin.


" Apa maksud kamu dengan mengaku-ngaku calon tunangan Azzahra?" Umi Rara langsung berkacak pinggang setelah rekan-rekan pengajiannya pergi.


Gavin mengedikkan bahunya seraya berucap santai, " Tidak ada. Saya hanya berusaha menyelamatkan nama baik putri Ibu. Kalau saya tidak mengaku sebagai tunangan Azzahra, ibu-ibu tadi bisa saja menggunjingkan hal-hal negatif tentang putri ibu," lanjutnya kemudian.


" Semua ini gara-gara kamu! Anak saya selalu dapat kesusahan karena kamu! Sekarang juga kamu ambil barang-barang kamu, dan pergi dari sini!!" usir Umi Rara geram.


" Oh ... will be my pleasure. Saya bereskan barang-barang saya dulu ya, Bu." Gavin terlihat girang mendapat pengusiran dari Umi Rara karena dia merasa terbebas dari hukuman yang diberikan Abi Rara kepadanya. " Terima kasih, Bu ... terima kasih." Gavin langsung meraih dan menciumi punggung tangan Umi Rara membuat Umi Rara cepat-cepat menarik tangannya.


" Eh-eh ... jangan kurang ajar kamu, ya!" Umi Rara terlihat sewot.


" Terserah Ibu beranggapan seperti apa, saya hanya ingin berterima kasih." Gavin menyeringai seraya bergegas ke bangunan di samping rumah Abi Rara untuk mengambil baju dan tasnya, sambil bersorak. " Yess!!"


Sementara Umi Rara langsung membulatkan matanya saat menyadari jika Gavin pergi dari sini, apa jadinya jika kejadian tadi tersebar di luar sana? Kejadian memalukan yang akan mencoreng nama keluarga Abdullah Zulchair Dengan tergesa akhirnya Umi Rara berlari menyusul Gavin ke tempatnya.


*


*


*


Bersambung ...


Pin, Gapin ... di MSI biarpun kamu dapet julukan buaya buntung dari readers tapi di sana kamu keliatan cool n calm. Tapi di sini, ancooooorrr, rumpi amat dikau pin😂😂😂

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2