KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Pengorbanan Seorang Ibu


__ADS_3

" Assalamualaikum, Honey ..." sapa Gavin saat sampai di kamarnya. Sepulang dari rumah sakit, Gavin memang langsung pergi ke kantor Dad David untuk membicarakan tentang kasus penyerangan terhadap dirinya dan Azzahra.


" Waalaikumsalam, Kak Gavin ..." Azzahra segera berlari mendekati suaminya, rasanya sebentar saja berpisah dengan pria yang awalnya selalu menjadi lawan debatnya itu membuatnya sangat merindu.


" Honey, jangan berlari!" Gavin segera menyambut istrinya dengan pelukan hangat lalu dia berjongkok. " Kasihan baby kalau sampai kena guncangan karena Mommy lari-lari." Gavin mengusap perut Azzahra lalu mengecupnya berkali-kali.


Azzahra terkekeh seraya membelai rambut tebal suaminya.


" Memangnya kalau Papa ajak hiya-hiya Mama itu nggak bikin dedek terguncang ya, Pa?"


Ucapan Azzahra membuat Gavin mendongakkan kepala ke arah istrinya itu seraya mengulum senyuman dan membuat Gavin bangkit.


" Itu beda, Mommy. Itu guncangan tanda cinta Daddy ke Mommy." Gavin lalu mengecup lembut bibir manis Azzahra yang sudah menjadi candu untuknya. Memberikan sentuhan terdalam hingga kini membuat kedua manusia itu saling berhas*rat.


" Mommy siap Daddy ajak hiya-hiya?" bisik Gavin menggoda di telinga Azzahra.


" Masih siang, Kak." Azzahra menolak secara halus.


" Bukankah kita sering melakukannya siang hari?" Gavin tak terima alasan istrinya.


" Iya, tapi saat nggak ada Umi ..." Azzahra melirik arah tempat tidur di mana terlihat Umi Rara sedang berbaring di sana.


Gavin sendiri langsung terkesiap menyadari jika ibu mertuanya sedang terlelap di atas tempat tidurnya.


" Honey, kenapa Umi bisa tidur di sini?" tanya Gavin merasa heran karena saat dia masuk tadi dia sama sekali tak menyadari kehadiran orang lain di kamar itu selain istrinya.


Azzahra langsung menarik suaminya hingga mereka berdua duduk di atas sofa.


" Aku yang tadi minta ditemani Umi, Kak." Azzahra memberikan alasan palsu karena sebenarnya dia tidak ingin Uminya itu mengacak rumah Dad David.


" Kenapa minta ditemani Umi? Di sini kamu aman, Honey." Gavin mencoba meyakinkan istrinya, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan istrinya itu.

__ADS_1


" Begini lho, Kak. Kami ini 'kan orang desa, masuk rumah semewah ini membuat kami merasa excited cendurung agak norak. Aku malu sama Mama kalau sampai Umi mengacak karena belum pernah masuk ke rumah semewah rumah Papa David seperti ini." Azzahra memberengut saat mengingat bagaimana tingkah Uminya saat baru sampai dari rumah sakit tadi.


" Honey, kenapa kamu berpikiran seperti itu terhadap Umi? Biarkan saja Umi ingin melakukan apapun juga selama nggak akan berbuat yang aneh-aneh." Gavin membelai kepala Azzahra.


" Masa kamu malu sama Umi kamu sendiri, Honey? Seorang ibu rela berkorban apapun untuk kebahagian anaknya, lantas kenapa si anak harus malu terhadap ibunya sendiri hanya karena ibunya itu bertindak yang menurut anaknya terlalu norak?" Gavin membelai rambut panjang Azzahra sembari menasehati istrinya itu agar tidak menyakiti hati orang tua terutama ibu karena Gavin sendiri termasuk anak yang sangat menyayangi Mommy nya walaupun Mommy Amanda termasuk keras mendidiknya.


" Kamu sedang mengandung, dari sinilah dimulai pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Nanti kamu akan merasakannya, jadi kamu jangan berpikiran sempit seperti itu terhadap Umi kamu."


" Umi kamu bukan orang yang pertama bersikap seperti itu jika masuk ke rumah ini. Teman Tante Linda bahkan rekan bisnis Dad juga banyak yang seperti itu jika kebetulan berkunjung kemari. Hanya sekedar mengangumi dan tidak mempunyai niat jahat, itu buat kami nggak masalah, Honey. Jadi kamu jangan merasa malu pada Dad atau Tante Linda." Gavin terus menasehati Azzahra agar istrinya itu berpikiran lebih terbuka.


" Iya maaf, Kak." Azzahra tertunduk seraya menyandarkan kepalanya di bahu Gavin


" Jangan minta maaf sama aku, tapi sama Umi kamu." Gavin menunjuk ke arah Umi Rara yang masih berbaring.


" Iya, Kak. Nanti aku minta maaf sama Umi."


" Nah, begitu baru namanya anak yang baik dan istri yang nurut sama suami." Gavin kemudian mengecup kening Azzahra.


" Jadi hiya-hiya nya jadi atau nggak, Honey?" bisik Gavin di telinga Azzahra.


" Kak Gavin jangan macam-macam, deh! Ada Umi, Kak!" Azzahra mendelik saat suaminya itu mengusulkan satu hal yang gi*la.


" Asal kamu suaranya nggak berisik Umi pasti nggak akan terbangun. Umi pasti kalau tidur seperti kamu, ada gempa juga nggak akan terbangun, hahaha ..." Gavin tertawa kencang saat ingat awal-awal mereka menikah saat dia mengga*uli istrinya yang terlelap.


" Kak ...!" Azzahra mencubit pinggang Gavin hingga membuat Gavin meringis.


" Eh, menantu Umi sudah datang?" Tanpa Gavin dan Azzahra sadari, suara ribut mereka berdua membuat Umi Rara terbangun dari tidurnya.


" Lho, Umi sudah bangun? Pasti terbangun karena suara Rara yang berisik ya, Umi?" Gavin menyeringai seraya mendekati Umi Rara dan menyalami ibu mertuanya itu.


" Duh, Umi tertidur, ya? Di sini tempatnya nyaman sampai nggak kerasa kalau tertidur." Umi Rara terkekeh.

__ADS_1


" Honey ayo ... katanya mau minta maaf sama Umi." Gavin kembali menegur istrinya yang masih terdiam duduk di sofa.


Azzahra pun kemudian bangkit menghampiri lalu memeluk tubuh wanita separuh baya itu.


" Umi, Rara minta maaf." Azzahra lalu terisak saat memeluk Uminya membuat Uminya kebingungan.


" Lho, kamu kenapa kok nangis? Memangnya minta maaf untuk apa Geulis?" Umi membelai kepala putrinya itu.


" Rara minta maaf karena tadi menyinggung hati Umi sengan mengatakan malu dengan sikap Umi tadi. Rara nggak mau jadi anak durhaka, Umi. Maafkan Rara ya, Umi?" pinta Azzahra.


" Ya ampun, Neng. Umi kira minta maaf karena apa? Umi nggak ambil pusing dengan sikap kamu itu kok, Ra. Umi sih santai saja, kamu jangan merasa bersalah seperti ini, ya!" Umi mengusap punggung Azzahra.


" Kau lihat 'kan, Honey? Seorang ibu tidak akan mempunyai dendam terhadap anaknya walaupun kadang sikap atau perkataan anaknya itu membuat hati ibu kecewa," ucap Gavin kembali.


Umi Rara sampai tertegun mendengar kalimat yang diucapkan oleh Gavin.


" Masya Allah, kamu teh beruntung sekali punya suami seperti Gavin, Ra." Umi menggelengkan kepala mengagumi ucapan bijak yang disebutkan Gavin tadi.


" Umi nggak salah pilih menantu kalau begini. Sudah ganteng, kaya, baik, sayang sama mertua, sayang sama anaknya mertua. Umi nyesel dulu sempat bersikap buruk sama kamu, Gavin. Maafkan Umi, ya." Kini giliran Umi Rara yang minta maaf kepada menantunya.


" Saya sudah lama lupakan hal itu kok, Umi. Saya juga minta maaf karena dulu suka bersikap buruk terhadap Umi dan Rara." Tak ketinggalan Gavin pun meminta maaf kepada ibu mertuanya.


" Ini kenapa jadi ajang maaf-maafan, ya? Seperti lebaran saja." Umi Rara terkekeh, membuat Azzahra dan Gavin pun ikut tertular tertawa hingga ruang kamar itu riuh dengan gelak tawa.


***


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2