
Sementara itu beberapa saat sebelumnya terjadi kepanikan kecil di ballroom karena menghilangnya Azzahra.
" Gimana, Cup? Sudah ketemu?" tanya Abi Rara kepada Mang Ucup sekembalinya Mang Ucup keluar untuk mencari Azzahra.
" Di Lobby sama di taman hotel juga nggak ada." Mang Ucup yang ditugaskan mencari Azzahra tidak menemukan keberadaan Azzahra.
" Aduh ... gimana ini, Bi? Rara menghilang ke mana?" Umi Rara terlihat cemas berbicara pada suaminya.
" Umi tenang dulu, jangan panik begini." Abi Rara berusaha menenangkan istrinya.
" Kamu terakhir lihat, Rara bilang apa ke kamu, Hesti?" tanya Mama Yoga kepada Umi Rara. Saat Azzahra tak juga kembali setelah setengah jam, Umi Rara langsung menemui orang tua Yoga karena
" Rara bilang mau cari udara segar, tapi nggak bilang ke mana-mana nya, Ceu." Mama Rara menyahuti.
" Si Prayoga ke mana lagi itu anak? Dari tadi sibuk berdua terus dengan istrinya, nggak ngerti keadaan lagi kacau begini." Mama Yoga menggerutu. " Jadi gimana ini, Pih?" Mama Yoga meminta pendapat suaminya.
" Papih sudah bilang ke Budi, minta bantuan pihak hotel untuk melihat cctv, semoga diijinkan sama pihak Hotel."
Akhirnya setelah beberapa saat Abi dan Umi Azzahra diperkenankan melihat hasil dua rekaman cctv di pintu Ballroom yang mengarah ke bagian dalam dan luar Ballroom.
" Itu dia Rara, Bi. Ya Allah kenapa dia? Dia menabrak seseorang." Umi Rara menutup mulut dengan tangannya.
" Rara keluar dengan orang itu, kemana?" Abi Rara ikut berkomentar karena rekaman cctv itu hanya melihat bayangan Rara sampai depan lift.
" Mas, maaf ... apa saya bisa melihat ke mana mereka pergi?" tanya Abi Rara pada karyawan hotel.
" Emmm ... sebentar, Pak. Bapak dan Ibu bisa duduk dulu sebentar di sana." Karyawan itu menunjuk kursi lipat yang tersedia di ruangan itu.
" Bapak dan Ibu silahkan ikut saya." Tak lama karyawan itu menyuruh orang tua Rara mengikutinya.
" Biar saya yang handle, kamu kembali ke tempat." Perintah seorang pria saat mereka memasuki sebuah ruangan yang terdapat sebuah sofa tamu.
" Baik, Pak Iwan." sahut pria yang mengantar tadi.
" Oh ya, apapun yang terjadi, jangan sampai kamu sebarkan hal ini ke karyawan lain atau siapapun juga." Bisik pria bernama Iwan kepada pria itu.
__ADS_1
" Baik, Pak. Permisi." Pria itu pun keluar dari ruangan.
" Maaf, Pak, Bu ... mohon tunggu Tuan David sebentar, ya." ujar Iwan kepada Abi dan Umi Rara.
" Tunggu? Kamu suruh kami menunggu? Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap anak kami? Anak kami dibawa ke mana oleh pria itu?" Umi Rara terlihat nampak emosi.
" Ibu tenang saja, yang bersama ibu itu Tuan Gavin, anak dari pemilik hotel ini."
" Tenang-tenang, enak sekali kamu bicara seperti itu. Kalau terjadi sesuatu sama anak saya, memangnya kamu mau tanggung jawab?" semprot Umi Rara lagi masih emosi. Sementara Abi Rara hanya mengelus punggung istrinya, berusaha untuk menenangkannya.
" Kok saya yang disuruh tanggung jawab, Bu? Yang melakukan 'kan bukan saya." Iwan menyahuti dengan menyeringai, membuat Umi Rara membelalakkan mata bulatnya.
" Wan, bagaimana?" Tiba-tiba seorang pria paruh baya yang masih nampak gagah memasuki ruangan.
" Tuan David? Mereka ini orang tua dari wanita yang terekam bersama Tuan Gavin." Iwan mencoba menjelaskan.
" Maafkan atas kesalah pahaman ini, Pak, Bu. Tapi saya yakin jika anak saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan anak kalian." Dad David mencoba menenangkan. " Mari Ibu dan bapak ikut saya." akhirnya Dad David, Iwan dan kedua orang tua Azzahra menuju ke arah kamar Gavin berada.
***
Gavin tersentak saat tiba-tiba pintu kamarnya dibuka paksa. Bersama itu muncullah empat orang dari pintu itu. Sepasang orang asing yang tak dikenalnya, Iwan asistennya dan tentu saja yang membuat Gavin terkesiap adalah kehadiran seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang dengan sangat geram berkata kepadanya.
" Gavin! Apa yang telah kamu lakukan?!" Suara pria itu terdengar menggelegar.
" Dad??" Gavin yang saat itu hendak menyapu pipi mulus Azzahra buru-buru menarik tangannya dari wajah Azzahra dan bangkit.
Apa yang telah kamu perbuat terhadap gadis itu, Gavin?" Selidik Dad David memperhatikan kemeja Gavin yang terbuka.
" Astaghfirullahal adzim, Rara." Umi Rara langsung menghampiri tubuh Azzahra yang terbaring dan dengan cepat menggoyang tubuh Azzahra agar terbangun.
" Gavin, jawab Daddy ... apa yang sedang kalian lakukan di kamar ini?" Dad David makin geram karena Gavin tak juga membalas perkataannya.
" A-aku tidak melakukan apa-apa, Dad." Gavin terlihat bingung.
" Tidak melakukan apa-apa bagaimana? Anak saya tertidur seperti ini, dan kamu?" Umi Rara juga melihat bagaimana baju yang dikenakan Gavin yang terbuka, belum lagi saat masuk dia melihat tubuh Gavin condong ke arah Azzahra yang tertidur.
__ADS_1
" Maaf, Bu. T-tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun terhadap dia." Gavin menyangkal tuduhan Umi Rara.
" Ra, Rara ... bangun, Nak." Umi Rara terisak, pikirannya sudah ke mana-mana.
Akhirnya beberapa saat setelah ditepuk-tepuk pipinya, Azzahra mengerjapkan mata, bayangan Uminya yang pertama dia lihat. Azzahra langsung mengedar pandangan hingga matanya terkunci pada sosok Gavin yang memperlihatkan sebagian dadanya, membuat Azzahra langsung bangkit dan terisak memeluk Uminya dan berkata ...
" Umi, Rara takut, Rara mau diperkosa ...."
Perkataan Azzahra sontak membuat semua orang yang ada di sana terkesiap, terutama Gavin yang langsung membulatkan matanya demi mendengar tuduhan konyol yang dilontarkan Azzahra kepadanya.
Mata Gavin memperhatikan orang-orang yang saat ini sedang menatapnya dengan sorot mata penuh amarah dan kekecewaan. Bagaimana tidak? Tuduhan yang ditudingkan Azzahra kepadanya seperti sebuah petir yang menyambar tubuhnya. Mungkin dia bukanlah pria yang baik, tapi dia bukanlah pria kurang ajar yang berani melecehkan seorang wanita. Apalagi wanita muslimah seperti Azzahra.
" Gavin!! Apa benar yang gadis ini katakan?!" geram Dad David.
" Kamu mau memperkosa anak saya?!" tanya Abi Rara tak kalah emosi.
" Astaghfirullahal adzim, salah anak saya apa?" Umi Rara terisak, bagi seorang ibu tentu saja akan merasa sedih jika sesuatu hal buruk apalagi masalah kesucian harus dipertaruhkan oleh anak gadisnya.
" I-itu tidak benar, S-saya tidak ada maksud melecehkan dia," bantah Gavin menghunuskan tatapan tajam ke arah Azzahra yang langsung memalingkan wajahnya.
" Jadi kamu mau bilang jika anak saya berbohong?! Selama ini saya dan istri saya mengajarkan kepada anak saya untuk berkata sesuai jujur, kami tidak mengajarkan dia untuk berdusta dengan ucapannya," ungkap Abi Rara.
" Tapi saya memang tidak melakukan hal itu, Pak." Gavin terus menyangkal, karena memang dia tak melakukan hal itu.
" Ra, coba kamu jelaskan apa yang sudah dia lakukan kepadamu, Nak?" tanya Umi Rara.
" D-dia suruh Rara masuk ke kamar, Umi. Dia bilang akan kasih hukuman ke Rara. Dia langsung buka kancing bajunya, Umi." Azzahra tersedu di pelukan Uminya.
" Tapi bukan berarti saya ingin memperkosa kamu, kan? Demi Tuhan saya tidak mempunyai niatan ke arah sana," sanggah Gavin kesal.
" Ada apa, ini? Apa yang terjadi?" Tiba-tiba dari arah pintu suara seorang pria terdengar membuat semua orang yang ada di kamar itu menoleh ke arahnya.
Bersambung...
Happy Reading❤️
__ADS_1