
Azzahra tersentak kaget saat merasakan goncangan akibat benturan keras dari arah belakang mobil Gavin. Untung saja saat itu dia memakai seat belt hingga tidak membuat dia mengenai dashboard ataupun kaca mobil
" Ah, shi*t ...!!" geram Gavin saat mobil mewahnya tertabrak dari arah belakang. Dia pun langsung turun dari mobilnya.
Sementara Azzahra seakan masih tercengang dengan kejadian yang baru saja terjadi sembari memegang dadanya. Seketika dia teringat sumpah serapahnya yang belum lima menit terucap tadi.
" Astaghfirullahal adzim." Azzahra menyadari kesalahannya dalam berucap. Tak lama dia pun ikut turun melihat apa yang terjadi.
" Ya Allah, Tuan. Saya minta maaf, saya tadi kehilangan konsentrasi karena baru dapat kabar istri saya meninggal. S-saya benar-benar syok mendengar kabar itu." Seorang pria berkata sambil tersedu di depan Gavin saat Azzahra keluar dari mobil Gavin.
Azzahra melihat mobil mini box terlihat menabrak bagian belakang mobil suaminya itu.
" Kalau Tuan tidak percaya, Tuan boleh cek panggilan masuk di HP saya. Saya benar-benar tidak berbohong Tuan." Pria itu terus menangis tergugu.
Gavin mendengus seraya mengusap kasar wajahnya.
" Ya sudah, Bapak saya maafkan. Sebaiknya Bapak segera pergi dari sini." Gavin kemudian merogoh kantong celananya mengambil dompetnya di sana. Dia lalu mengeluarkan seluruh lembaran uang seratus ribuan dan menyodorkannya kepada supir mobil box yang menabrak mobilnya itu hingga membuat supir itu terkejut.
" Ambillah, mungkin Bapak perlukan untuk biaya pemakaman istri Bapak," ucap Gavin kemudian.
" Ya Allah, Tuan. Tidak usah, saya sudah merusak mobil Tuan, saya yang seharusnya ganti rugi tapi Tuan malah memberi saya uang sebanyak itu." Supir itu berusaha menolak.
" Tak masalah dengan mobil saya, nanti saya bisa atur orang ke bengkel. Sekarang Bapak pulanglah, mungkin keluarga Bapak di rumah sudah menunggu kedatangan Bapak." Gavin menarik tangan pria itu dan menaruh seluruh uang seratus ribuan dari dalam dompetnya tadi ke telapak tangan pria itu.
Azzahra terkesima dengan apa yang baru saja dilakukan Gavin kepada orang yang jelas-jelas bersalah merusak mobilnya. Bukannya menuntut orang itu, Gavin malah memberikan uang santunan kepada penabraknya. Azzahra sungguh tak percaya jika pria yang selama ini dia kenal sangat menyebalkan dan sering membuatnya kesal, pria yang selama ini dia anggap terlalu sombong karena membanggakan status ekonominya itu ternyata berhati Malaikat. Tanpa sadar seulas senyuman mengembang di bibir Azzahra mengetahui sifat dan sikap suaminya yang mungkin selama ini tidak ditunjukkan pria itu terhadapnya.
Bukan cuma Azzahra saja yang tertegun, sebagian besar orang yang berkerumun yang ingin melihat kejadian itu pun sama-sama tepukau melihat kemuliaan hati Gavin. Tidak sedikit dari mereka yang berbisik mengagumi Gavin.
" Alhamdulillah, sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Dan terima kasih atas kebaikan Tuan ini. Saya doakan agar Tuan dan Nyonya selalu dilimpahkan rejeki, diberikan kesehatan dan diberi kebahagian lahir batin. Semoga Tuan dan Nyonya diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah." Pria itu mengucapkan kata-kata yang mendoakan Gavin dan Azzahra.
" Aamiin ...."
" Aamiin Ya Rabbal Alamin ...."
Gavin dan Azzahra menyahuti.
__ADS_1
Tak berapa lama bapak supir mobil box itu pun pergi membawa mobilnya.
" Doamu terkabul," sindir Gavin seraya mendekatkan ponsel ke telinganya.
" Saya minta maaf ..." ucap Azzahra penuh penyesalan tapi tak didengar Gavin karena pria itu terlebih dahulu berbicara dengan seseorang di ponselnya.
" Wan, mobil saya mengalami kecelakaan, kamu tolong atur orang untuk urus mobil saya. Sekalian bawa mobil lain ke sini untuk saya. Nanti saya share lokasinya. Secepatnya!" perintah Gavin pada Iwan.
Azzahra masih ingat saat pertama kali dia berjumpa dengan suaminya itu saat pernikahan Lily dan Budi, Iwan lah yang terlihat marah kepadanya karena Azzahra telah menabrak dan menumpahkan seluruh isi minuman Gavin yang mengenai pakaian pria itu.
" Saya minta maaf," lirih Azzahra tertunduk.
Gavin hanya mendengus kasar dan melirik sepintas ke arah istrinya itu kemudian kembali ke mobilnya dan menepikan mobilnya itu di bahu jalan, sementara Azzahra kemudian berjalan mendekati arah mobil suaminya itu terparkir.
Sembari menunggu orang suruhan Iwan datang, akhirnya Gavin dan Azzahra memilih untuk makan pecel ayam di pinggir jalan yang ada dekat lokasi kejadian.
***
Azzahra melirik Gavin yang langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah melaksanakan sholat isya. Sejak makan tadi hingga pulang kembali ke apartemen, suaminya itu lebih banyak berdiam diri, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet dan banyak bicara. Dan Azzahra menduga jika suaminya itu sedang marah kepadanya karena kejadian mobil suaminya tertabrak tadi.
" Hmmm ..." Hanya itu yang keluar dari mulut Gavin.
" Saya minta maaf, saya benar-benar nggak bermaksud mendoakan kamu celaka," sesal Azzahra.
Gavin hanya diam tak membalas. Dia malah melingkarkan lengannya di sepanjang keningnya hingga menutupi matanya.
Azzahra akhirnya memilih untuk tidur karena Gavin tetap memilih bungkam. Azzahra melepas dan melipat hijabnya lalu menaruh di tepi tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah. Sebelumnya dia sempat melirik ke arah suaminya yang tertidur di sofa. Namun tak lama dia pun memilih untuk memejamkan matanya.
Sebelum Adzan Shubuh berbunyi Azzahra terbangun. Dia mendapati suaminnya itu masih tertidur di sofa. Dia mendesah kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Gavin terbangun setelah Azzahra menyelesaikan kewajiban shubuhnya. Gavin sama sekali tidak menoleh ke arah Azzahra. Dia justru beranjak ke kamar mandi. Azzahra sendiri akhirnya memutuskan untuk pergi ke arah dapur. Dia memilih untuk memasak menu sarapan pagi ini.
Azzahra melihat isi kulkas empat pintu di dapur yang terlihat cukup mewah di apartemen Gavin. Ada beberapa jenis sayuran juga ikan laut di dalam kulkas itu yang Azzahra cek masih nampak segar. Azzahra heran bagaimana suaminya itu bisa menyimpan banyak bahan makanan di kulkas itu. Dia tidak tahu jika Gavin sudah menyuruh Iwan mengatur orang untuk menyediakan bahan makanan kemarin pagi sebelum kepulangan Gavin, karena Gavin tahu jika istrinya itu memang hobi memasak.
Azzahra sendiri tidak tahu apa masakan kesukaan Gavin, tapi dia memilih memasak udang saos asam manis, dan tumis sawi putih dan telur puyuh.
__ADS_1
Azzahra berniat memanggil Gavin untuk sarapan saat dia selesai memasak, namun sebelum dia menaiki anak tangga terlihat Gavin sedang menuruni anak tangga dengan tas di tangannya.
" Saya akan berangkat kerja, kamu di sini jangan kabur ke mana-mana," ucap Gavin dingin.
" Kamu mau berangkat? Saya sudah masakan untuk sarapan," tutur Azzahra.
" Tidak sempat, saya mesti ke kantor pagi ini." Gavin melirik arlojinya.
" Kalau begitu saya bawakan saja buat bekal, biar bisa dimakan di kantor." Azzahra menyarankan.
" Tidak perlu. Resto di hotel banyak pilihan makanan yang nikmat. Saya berangkat, Assalamualaikum ..." pamit Gavin seraya meninggalkan Azzahra.
" Waalaikumsalam ..." sahut Azzahra dengan nada kecewa.
Selepas mengantar Gavin sampai ke pintu Apartemen Azzahra kembali ke dapur dan mendudukkan tubuhnya di kursi makan seraya memandangi hidangan yang sudah dia siapkan untuk mereka sarapan.
Azzahra mendesah, sikap Gavin yang tiba-tiba berubah acuh dan dingin terhadapnya membuat hatinya merasa tak nyaman. Tanpa dia sadari setetes air mata menitik di pipinya.
Bersambung ...
Aku kasih perbandingan grafik KCA selama 21 hari terakhir di bulan Agustus.
Kemarin pihak MT/NT kasih jawaban alasan menurun secara global itu karena mulai berkurangnya pembaca harian yang setia mengikuti karena mereka merasa bosan dan jenuh dengan cerita novel itu hingga meninggalkan novel tersebut.
Padahal justru KCA itu aku pantau tiap lagi banyak banget pembacanya, terutama readers baru yang mulai membaca dari awal sampe bab terakhir. Dikata readers bosan? Bukannya justru readers lagi pada seru²nya menikmati kisahnya Gavin & Rara ya?
Bukan masalah nominal yg aku permasalahkan karena hitungannya cuma turun Rp. 100,- / 1000 viewer kalo dikali sebulan pun dari rata² jumlah pembaca harian mungkin nominalnya tidak seberapa. Tapi ini masalah prestise kita sebagai penulis yg tidak bisa dinilai secara objektif oleh Pihak NT/MT. Disaat performa meningkat tajam bahkan naik signifikan lebih dari 100% Level malah turun. Kan aneh?
Ayolah NT/MT, jangan buat Author yang ramah sama kantong mak² berdaster yang sedang giat²nya memberikan bacaan gratis yg tidak dipusingkan harus membeli koin ini jadi patah semangat untuk menulis.
Dan Sebagai Penulis yang rela begadang sampai tengah malam demi setor bab terbaru memenuhi kepuasan readers, aku rasa wajar jika kita mengkritik/memprotes NT/MT.
Jangan lupa selalu kasih dukungan like & komen.
__ADS_1
Happy Reading ❤️