
Gavin menghela nafas panjang saat mengetahui hal apa yang dibicarakan Agatha kepada istrinya itu. Dia sama sekali tidak menduga jika Agatha akan membuka rahasia itu kepada Azzahra.
" Nyonya itu bilang kalau rumah tangga kalian itu hancur karena Teh Natasha." Azzahra kembali mengungkapkan apa yang tadi didengarnya dari Agatha.
" Nyonya itu bilang, mungkin kamu akan menceraikan aku karena kamu masih menginginkan Teh Natasha."
Gavin membelalakkan matanya mendengar ucapan Azzahra tadi.
" Dia juga bilang, mungkin saja kamu pernah tidur dengan Teh Natasha hingga kamu rela memberikan uang dalam jumlah besar ke Teh Natasha."
Tudingan Agatha yang disampaikan ke Azzahra kali ini benar-benar membuat rahang Gavin mengeras dibarengi dengan tangan yang mengepal.
Gavin mengusap kasar wajahnya, tuduhan Agatha kali ini benar-benar membuat hatinya meradang karena itu benar-benar sebuah fitnah.
Azzahra melirik suaminya yang tak membantah apapun yang dikatakannya sesuai apa yang disampaikan Agatha. Entah mengapa dia merasakan hatinya sangat kecewa karena suaminya itu tak memberikan sanggahan atas apa yang dituduhkan Agatha. Azzahra pun berpikir jika semua itu benar adanya.
Gavin kemudian berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
" Kemarilah, akan aku jelaskan semuanya," pinta Gavin kepada istrinya.
Azzahra pun berdiri dan melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya untuk duduk di sisi suaminya itu.
" Kamu percaya semua yang dikatakan Agatha?" tanya Gavin kemudian setelah Azzahra duduk di sampingnya.
Azzahra mengedikkan bahunya seraya berucap, " Yang aku rasakan, sikap dan perhatian kamu memang sangat berbeda kepada Teh Natasha."
" Berbeda apanya?"
" Sikap kamu terlihat manis terhadap Teh Natasha. Kamu perhatian juga sama dia." Azzahra tak ingin menatap wajah suaminya itu saat berkata-kata.
Gavin menghela nafas panjang.
" Maaf jika kamu harus tahu hal itu dari orang lain."
Deg
__ADS_1
Hati Azzahra langsung mencelos mendengar jawaban Gavin, rasanya ingin menangis mendengar ucapan Gavin yang dia artikan sebagai pembenaran dari tuduhan Agatha.
" Tapi tidak semua yang Agatha ucapkan itu benar," Gavin menyangkal apa yang tidak benar terjadi.
" Aku memang dulu pernah jatuh hati pada Alexa. Entahlah ... saat pertama kali berjumpa aku sudah tertarik kepadanya. Mungkin karena kontak batin karena kami bersaudara walaupun saat itu kami tidak mengetahuinya. Sejak awal bertemu pun aku memang sangat perhatian kepada Alexa. Hanya sebatas itu saja, tidak lebih. Jadi tuduhan lain yang disampaikan Agatha itu tidak benar." Gavin memberikan klarifikasi. " Soal uang yang aku beri itu karena aku tidak tega melihat Alexa ditekan oleh Agatha," lanjutnya.
" Dan itu murni aku lakukan karena aku ingin menolong adikku dan tidak ada timbal balik apapun atas uang yang aku keluarkan itu," tegas Gavin.
Azzahra mendesah, dia bingung harus mempercayai siapa.
" Kenapa kamu nggak pernah cerita hal itu ke aku?" tanya Azzahra.
" Oh ayolah ... memangnya kita ini punya waktu untuk bertukar pikiran? Bukankah selama ini waktu kita selalu kita habiskan untuk bertengkar dan berdebat? Jadi aku pikir untuk apa juga menceritakan hal itu? Lagipula itu hanya kisah lalu. Aku pun sudah tidak berharap apa-apa dari Alexa. Kau tahu sendiri dia dan suaminya itu sudah sangat bahagia dan sama-sama jatuh cinta." Gavin kini mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Azzahra sambil berbisik, " Aku juga nggak ingin kamu semakin cemburu pada Alexa karena tahu suami tampanmu ini juga pernah mencintai wanita yang sekarang menjadi istri pria idamanmu itu" Gavin terkekeh membuat Azzahra mendelik seraya memberengut.
" Aku minta kamu jangan mudah terhasut oleh omongan orang yang tidak kamu kenal terutama Agatha." Gavin membelai kepala Azzahra yang saat itu tidak tertutup hijab. " Kamu mestinya tahu apa maksud dia menceritakan hal itu ke kamu. Jika dia bermaksud baik tidak mungkin dia akan menjelekkan suamimu ini di depan kamu."
Azzahra kembali menghela nafas, setidaknya penjelasan Gavin ini bisa membuat hatinya sedikit tenang.
" Aku lapar, kamu masak apa?" tanya Gavin kepada Azzahra.
" Ya sudah, kita cari makan di luar saja kalau gitu. Aku mandi dulu sebentar." Gavin kemudian melangkah menuju kamar mandi.
***
Azzahra mendapatkan notif pesan masuk dari nomer tak dikenalnya. Dia langsung membuka pesan itu.
" Selamat siang, Bu. Saya kurir dari The Flash Express. Ada kiriman paket untuk Ibu Azzahra Faranisa. Paketnya sudah saya titip ke FO sesuai dengan arahan Ibu."
Pesan itu disertai dengan gambar paket yang diterima salah seorang penjaga front office di tower apartemen yang dihuni suaminya.
" Baik, Pak. Terima kasih." Azzahra cepat mengetikkan balasan dan mengirimnya kepada kurir itu.
Azzahra kemudian keluar unit apartemen Gavin dan menuju meja front office di lantai dasar.
" Permisi, Mbak. Apa ada titipan paket atas nama Azzahra Faranisa?" Tanya Azzahra pada petugas yang tadi dia lihat di foto yang dikirim oleh oleh kurir.
__ADS_1
" Oh iya, Mbak." Petugas itu kemudian mengambil kotak paket milik Azzahra kemudian memberikan kepada Azzahra.
" Terima kasih ya, Mbak. Permisi ..." Azzahra segera berpamitan dan kembali ke apartemen milik suaminya.
Azzahra segera membuka isi paket itu. yang berisi dua kotak pil kontrasepsi yang dia pesan beberapa hari lalu lewat salah satu marketplace ternama.
Azzahra membaca aturan pakai dalam kotak obat itu. Sejak dia ketakutan akan sikap Gavin yang berubah dia langsung memesan obat itu dan baru tiba hari ini. Dia sendiri masih ragu akan meminumnya atau tidak. Dia masih belum yakin rumah tangga nya bersama Gavin akan aman-aman saja, apalagi setelah dia tahu jika Gavin pernah menyukai Natasha. Walaupun suaminya itu sudah memberikan penjelasan namun rasa khawatir itu tetap ada.
Namun tiba-tiba Azzahra terkesiap saat dia mengingat jika suaminya itu memantau aktivitasnya di apartemen ini. Azzahra segera beranjak menuju meja rias dan mengambil beberapa strip pil itu dari kotaknya. Dia menempatkan di kontainer kecil di mana dia juga menaruh strip tablet vitamin E agar Gavin tidak mencurigainya. Dia juga kemudian merobek bungkus obat itu hingga berkeping-keping dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dapur.
Sore harinya saat Gavin pulang, Azzahra sedang membuat ayam goreng lengkuas, sambal dan cah kangkung. Hanya masakan-masakan Indonesia seperti itulah yang biasa dia masak.
" Assalamualaikum ..." sapa Gavin saat melihat Azzahra sedang menata makanan di meja makan.
" Waalaikumsalam ..." Azzahra menyahuti seraya menyambut tangan Gavin dan mencium punggung tangannya.
" Istri Sholehah." Gavin menyeringai sambil menyodorkan tas kerjanya." Sekalian dong, bawakan ke ruang kerjaku."
Azzahra melirik ke arah Gavin namun akhirnya meraih tas itu dan hendak melangkah ke ruang kerja Gavin.
" Yang ikhlas mengerjakannya, jangan sambil ditekuk gitu mukanya. Nanti nggak akan mendapatkan pahala, percuma." Gavin menyindir sembari tertawa kecil dan langsung meraih ayam goreng yang masih terasa hangat di atas meja makan.
" Cuci tangan dulu! Barangkali tangan kamu banyak bakterinya habis sentuh tante-tante di luar sana!" kini gilaran Azzahra yang menyindir balik suaminya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Yang belum mampir ke kisahnya Anindita ( teman kerja Azzahra di toko bunga ) tengok di novel ini ya👇 Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️