KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Ulah Azkia


__ADS_3

Azkia berlari seraya menarik tangan Sus Imah yang sedang menggendong Rashya menuju kamar Rayya.


" Eh eh eh, ada apa ini, Non Kia?" tanya Sus Imah yang kaget melihat tingkah Azkia yang tiba-tiba itu.


" Kia? Kenapa bawa Sus Imah ke kamar Rayya?" tanya Rayya yang terkejut saat melihat kemunculan Azkia dan Sus Imah di kamarnya.


" Sus Imah, mana HP nya?" Azkia mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Sus Imah.


" Buat apa memangnya, Non Kia?" tanya Sus Imah heran namun tetap menyodorkan Ponsel miliknya yang dia simpan di sakunya kepada Azkia.


" Sus Imah 'kan baby sitter nya Rashya jadi foto profilnya ganti pakai Rashya sama Rayya," perintah Azkia kembali menyerahkan ponsel itu kembali ke Sus Imah.


" Memangnya kenapa harus pakai foto Rayya sama Rashya, Kia?" Rayya ikut merasa heran dengan rencana yang ingin dijalankan sepupunya itu.


" Cepat, Sus Imah!" Azkia memaksa Sus Imah untuk melakukan apa yang diperintahkannya.


" Iya, Non." Sus Imah langsung melakukan apa yang diminta Azkia.


" Nanti kalau sudah Sus Imah kirim pesan ke nomer ini." Azkia menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan deretan angka yang merupakan nomer ponsel dari Raffasya. " Eh, tapi Kia saja sini yang kirim pesannya. Bi Imah tolong save saja nomer ini."


" Memang ini nomer HP nya siapa, Non Kia?" Sus Imah menyimpan nomer ponsel yang diserahkan Azkia.


" Kakak kelas Kia sama Rayya." Azkia menyahuti.


" Kia, itu nomer HP nya Kak Raffa, ya?" Rayya yang menyadari tindakan Azkia langsung berkomentar.


" Iya."


" Raffa itu siapa, Non Rayya?"


" Kakak kelas yang suka sama Rayya tuh, makanya kasih nomernya ke Rayya." Azkia mencibir.


" Ya ampun, Non Rayya, Non Kia, masih kecil nggak boleh pacar-pacaran!" Sus Imah menasehati.


" Iiihh, Kia gitu, deh! Rayya 'kan nggak pacar-pacaran!" bantah Rayya memberengut.


" Ini sudah dimasukan nomernya, Non." Sus Imah kemudian menyodorkan ponselnya ke Azkia.


Azkia kemudian mengetikkan pesan ke nomer Raffasya.


" Assalamualaikum, Kak Raffa. Ini nomer Rayya."


Azkia terkekeh saat mengirim pesan itu ke Raffasya.


" Ya ampun, Non Kia kok iseng banget, ya!" Sus Imah menggelengkan kepalanya menanggapi perbuatan Azkia.


" Kia kok bilang nomer Sus Imah itu nomer Rayya, sih?" Sementara Rayya memprotes tindakan Azkia.


" Memangnya Rayya mau kasih nomer asli Rayya ke Kak Raffa? Terus kalau Uncle Gavin tahu Rayya simpan nomer telepon anak laki-laki gimana?" tanya Azkia, karena kontak yang ada di ponsel milik Rayya semua adalah nomer keluarga, baik itu dari pihak Gavin atau dari pihak Azzahra. Berbeda dengan Azkia yang banyak menyimpan nomer telepon teman-teman sekolah dan teman-teman di tempat karatenya. Karena Natasha dan Yoga tidak seposesif Gavin dalam memperlakukan anak-anaknya.


" Kalau Kak Raffa telepon gimana? Masa Sus Imah yang angkat." tanya Rayya memutar bola matanya.


' Kalau Kak Raffa telepon ya jangan diangkat, dong! Bilang saja nggak bisa angkat telepon takut dimarahin oleh Uncle Gavin." Azkia menyahuti pertanyaan Azkia. Putri cantik Natasha dan Yoga itu tidak pernah kehilangan ide.


Klik


" Wah, ada pesan masuk tuh, Non." Sus Imah yang hapal bunyi suara notif pesannya langsung memberitahukan Azkia.


" Waalaikumsalam. Oke, Rayya. Kak Raffa simpan ya nomernya."


" Rayya sedang apa? Kak Raffa telepon boleh, kan?"


Balasan pesan dari Raffasya membuat Rayya, Azkia dan Sus Imah saling pandang.


" Nah, kan ... beneran minta telepon." Sus Imah terkekeh.


" Rayya sedang belajar, Kak Raffa." Azkia buru-buru membalas sebelum Raffasya menelepon.


" Oh, Rayya rajin banget ya belajarnya. Ya sudah, nanti kalau Rayya sudah selesai belajarnya Kak Raffa boleh telepon Rayya, kan?"


" Jangan, Kak. Daddy Rayya nanti marah kalau tahu Rayya telepon-teleponan sama anak cowok." Azkia memberi alasan.


" Oh ya sudah, nggak apa-apa. Tapi Kalau Kak Raffa kirim pesan, Rayya balas, ya." Raffasya meminta Rayya untuk selalu merespon setiap pesannya.


" Oke, Kak. Sudah ya, Rayya mau lanjut belajar lagi. Assalamualaikum ..." Azkia segera mengakhiri chatingnya dengan Raffasya dan menyerahkan ponsel milik Sus Imah. " Hihihi ... kalau Kak Raffa balas pesan nanti Sus Imah balas saja. Sus Imah pura-pura jadi Rayya." Azkia terkikik.

__ADS_1


" Non Kia iseng banget, deh." Sus Imah menimpali.


" Iiihh, Kia kok bohong begitu, sih!" Rayya nampak tidak suka dengan rencana yang dijalankan Azkia itu. " Nanti kalau di sekolah Kak Raffa tanya gimana?"


" Kalau Kak Raffa tanya, Rayya jawab aja seperti yang Kia balas tadi. Bilang saja kalau Uncle Gavin memang nggak kasih ijin Rayya terima telepon dari anak cowok," sahut Azkia enteng.


" Terima telepon dari anak cowok siapa?" Suara Azzahra yang tiba-tiba muncul di dalam kamar Rayya membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersentak kaget.


" Mommy?"


" Auntie?"


" Ibu?"


" Mommy ..." Bahkan Rashya pun ikut memanggil dan berlari ke arah Azzahra yang langsung menyambutnya.


" Anak cowok siapa yang mau telepon Rayya, Kia?" Azzahra mengulang pertanyaannya. Meskipun pertanyaannya ditujukan kepada Azkia namun pandangan mata Azzahra menatap penuh selidik ke arah putrinya.


" Oh itu, Auntie ... ada kakak kelas Kia sama Rayya yang minta nomer teleponnya Rayya, tapi Kia larang Rayya kasih nomer Rayya karena Uncle Gavin pasti akan marah kalau sampai tahu." Azkia menceritakan permasalahannya.


" Kakak kelas?" Azzahra mengerutkan keningnya.


" Iya, Auntie. Kakak kelas enam," balas Azkia kembali.


" Kelas enam?" Azzahra membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin ada anak laki-laki kelas enam minta nomer telepon Rayya yang baru kelas dua SD. Anak jaman sekarang usia anak kelas enam sekitar sebelas-dua belas tahun dia perkirakan sudah mengerti istilah mengenal dan menyukai wanita. Apa artinya putri pertamanya itu sudah membuat seorang anak laki-laki jatuh cinta? Seketika itu juga rasa khawatir menyeruak di hatinya.


" Rayya, Rayya dengar Mom. Jangan sekalipun kasih nomer HP Rayya ke orang lain terutama anak laki-laki apalagi beda kelas sama Rayya. Nomer HP Rayya hanya untuk keluarga saja. Kalau ada info di sekolah Bu guru pasti kasih tahu ke Mom Rara." Azzahra menasehati Rayya.


" Iya, Mom." Rayya menyahuti dengan cepat.


" Kalau di sekolah ada anak laki-laki yang dekat-dekat, Rayya jangan mau, ya! Rayya harus ikut sama Kia terus nggak boleh sendirian." Azzahra mulai posesif saat mengetahui putrinya itu sepertinya sedang didekati anak laki-laki.


" Kalau Kia ke toilet memangnya Rayya harus ikut Kia juga, Auntie?" tanya Azkia terkekeh.


" Kalau waktu istirahat nggak apa ikut tunggu Kia, kecuali kalau sedang belajar di kelas." Azzahra memberikan amanat agar anaknya mengikuti apa yang diperintahkannya.


" Iya, Mom." sahut Rayya kembali.


" Ini kenapa Sus Imah ikut-ikutan ngumpul di sini?" tanya Azzahra menatap curiga kepada pengasuh Rashya itu.


" Ya sudah, kamu mandikan Rashya dulu sana, sudah jam setengah lima," perintah Azzahra kemudian menyerahkan Rashya kepada Sus Imah.


" Baik, Bu." Sus Imah kemudian membawa Rashya keluar kamar Rayya.


" Rayya sama Azkia sudah pada mandi belum?" tanya Azzahra kemudian kepada putri dan keponakan dari suaminya itu.


" Ini Kia mau mandi, Auntie. Kia pulang dulu ya Rayya. Assalamualaikum ..." Azkia langsung berlari keluar kamar Rayya sebelum dia mendapatkan pertanyaan lebih lanjut dari Azzahra.


" Waalaikumsalam," sahut Azzahra dan Rayya bersamaan.


" Mom mau tanya, kenapa kakak kelas Rayya itu tiba-tiba meminta nomer telepon Rayya?" Azzahra kembali menyelidik.


" Rayya nggak tahu, Mom. Tiba-tiba saja Kak Raffa minta nomer teleponnya Rayya, tapi Rayya nggak kasih kok, Mom. Kan Rayya nggak ingat nomer telepon Rayya sendiri. Terus juga HP nya ditinggal di rumah." Rayya menjelaskan ke Azzahra karena dia tidak ingin Mommy nya itu mencurigainya macam-macam.


" Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana." Azzahfra menyuruh anaknya itu mandi.


" Oh ya, nanti hari Minggu Mom mau ada acara pengajian di rumah Tante Anin, Rayya mau ikut tidak?" tanya Azzahra sebelum di keluar kamar karena niat dia sebenarnya masuk ke kamar Rayya adalah menanyakan hal itu kepada Rayya.


" Ke rumah Tante Anin, Mom? Rayya ikut, Mom!" Rayya nampak antusias menanggapi tawaran dari Mommy itu.


" Rayya kok kelihatannya semangat sekali Mom ajak ke rumah Tante Anin?" selidik Azzahra.


" Hmmm, Rayya 'kan ingin main sama Thalita, Mom."


Azzahra tersenyum menanggapi jawaban anaknya.


" Ya sudah Rayya cepat mandi, nanti Daddy keburu datang." perintah Azzahra kemudian keluar dari kamar putrinya itu.


***


Tok tok tok


" Masih belum selesai pekerjaannya, By?" tanya Azzahra masuk ke ruang kerja Gavin.


" Belum, Honey."

__ADS_1


" Jangan terlalu berat-berat lemburnya, By. Di rumah itu waktunya beristirahat, aku nggak mau Hubby jadi sakit karena kebanyakan lembur." Azzahra kemudian berjalan ke belakang Gavin duduk dan memijat pundak suaminya itu.


Gavin mendongakkan kepala seraya menyentuh tangan Azzahra yang ada di pundaknya.


" Kau tenang saja, Honey. Aku tidak akan berpikir berat-berat, karena aku ingin panjang umur dan mendampingi anak-anak kita hingga mereka dewasa kelak," ucap Gavin.


" By ...."


" Ada apa, Honey? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Gavin yang merasa istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.


" Rayya ...."


" Baby? Ada apa dengan Baby, Honey?" Gavin mulai serius menanggapi saat nama Putri kesayangannya itu disebut.


" Sepertinya ada kakak kelas laki-laki Rayya yang suka sama Rayya deh, By. Soalnya anak itu meminta nomer HP Rayya." Azzahra memilih bercerita kepada Gavin karena dia sangat mengkhawatirkan pergaulan anak jaman sekarang yang tidak seperti masa dia kecil dulu.


" What? Ada anak laki-laki yang suka sama Baby? Minta nomer HP Baby?" Gavin langsung bangkit dari tempat duduknya. " Siapa anak itu? Berani sekali menyukai anak kecil seperti Baby." Gavin nampak geram mendengar cerita istrinya.


" By, tenang dulu ..." Azzahra mencengkram lengan Gavin yang hendak melangkah keluar ruang kerjanya. " Mau ke mana, By?"


" Aku harus tanya pada Baby apa maksud anak laki-laki itu meminta nomer Baby."


" Rayya sudah tidur, By. Lagipula jangan menegur Rayya, aku sudah tanya ke Rayya dan dia sendiri nggak tahu kenapa kakak kelasnya itu meminta nomer teleponnya." Azzahra mencoba menenangkan suaminya.


" Ini tidak bisa didiamkan, Honey! Aku harus menegur anak laki-laki itu agar jangan berani macam-macam terhadap Baby, atau aku akan mengadu ke pihak guru karena anak laki-laki itu sedang berusaha menggoda putriku!" tegas Gavin.


" Hubby ingin mengadukan anak itu ke guru?" Azzahra terkesiap, dia tidak menduga jika respon yang diperlihatkan oleh suaminya itu terlalu berlebihan.


" Tentu saja, aku tidak ingin Baby jadi korban anak-anak kecil me sum seperti anak itu."


" Astaghfirullahal adzim! Kenapa Hubby bicara seperti itu?" Azzahra sampai menutup mulut dengan tangannya.


" Coba kau pikir saja, mereka itu masih SD, untuk apa meminta nomer telepon adik kelas perempuan mereka kalau bukan karena ingin modus dan mendekati putri cantik kita itu? Mestinya mereka itu memikirkan pelajaran bukan nomer HP anak-anak perempuan." Gavin berargumentasi.


" Iya tapi Hubby nggak usah menegur apalagi melaporkan anak itu, nggak enak kalau sampai orang tua mereka tidak terima anaknya ditegur oleh Hubby." Azzahra mencoba membujuk suaminya agar lebih tenang dan tidak menggunakan emosi.


" Kalau mereka tidak terima memangnya mereka mau apa? Aku tinggal lapor ke Dirga saja, sekolah itu 'kan milik yayasan Angkasa Raya dan Dad David juga ikut menyokong dana di sana. Apa orang tua anak itu akan berani macam-macam? Lagipula alasan aku menegur anak itu juga sangat jelas, aku rasa Dirga pun akan setuju denganku karena dia juga punya anak perempuan dan dia sangat posesif terhadap putrinya itu." Gavin tak gentar apalagi dia sekarang ini sudah berteman akrab dengan Dirga, bukan hanya sekedar partner bisnis semata.


***


Dengan langkah tegap Gavin menggandeng tangan Rayya berjalan menyusuri koridor sekolah tempat Rayya sekolah. Sebelum berangkat ke kantornya Gavin sengaja menyempatkan diri datang ke sekolah Rayya untuk melaporkan tindakan salah satu siswa laki-laki yang sudah berani meminta nomer telepon putrinya.


" Selamat pagi, Tuan Gavin. Ada hal apa yang membuat Tuan Gavin berkenan datang kemari?" tanya Pak Wildan, kepala sekolah Rayya.


" Pagi, Pak Wildan. Saya datang kemari karena saya ingin melaporkan jika ada kakak kelas laki-laki yang meminta nomer telepon putri saya ini. Pak Wildan tahu jika anak saya ini baru kelas dua SD tapi sudah ada kakak kelasnya yang meminta nomer telepon Rayya. Menurut Pak Wildan apa tujuan anak laki-laki itu terhadap putri saya ini?" tanya Gavin dengan tangan mengusap lembut kepala Rayya. Sementara Rayya hanya tertunduk, karena ketakutan jika sampai Daddy nya tahu masalah ini akhirnya terjadi juga. Karena ulah Azkia yang menceritakan kepada Azzahra, Daddy nya itu kini mendatangi sekolahnya untuk menemui Raffasya yang sudah dianggap Gavin berani mengganggu putri kesayangannya itu.


" Apa benar itu, Rayya? Siapa Kakak kelas yang meminta nomer telepon Rayya? Anak kelas berapa?" Pak Wildan langsung bertanya ke Rayya.


" Kak Raffa yang minta nomer telepon Rayya," lirik Rayya hampir tak terdengar.


" Siapa namanya? Kelas berapa?" tanya Pak Wildan.


" Kak Raffasya, kelas enam." sahut Rayya kembali.


" Raffasya? Dia lagi?" Pak Wildan menghela nafas mendengar nama Raffasya yang disebut oleh Rayyya.


" Kenapa dengan anak itu, Pak Wildan? Apa anak itu selalu bermasalah?" tanya Gavin menyelidik.


" Ya, anak itu memang selalu dalam pantauan kami, Tuan Gavin. Karena selalu ada saja ulah anak itu yang senang mengganggu murid-murid lain, termasuk dengan keponakan Tuan Gavin sendiri beberapa waktu lalu." Pak Wildan mengingatkan kejadian setahun silam saat Raffasya pernah bermasalah dengan Azkia saat Azkia masih duduk di bangku kelas satu.


" Keponakan saya? Maksud Pak Wildan?" Gavin mengeryitkan keningnya.


" Iya, dulu juga Raffasya pernah bermasalah dengan Azkia, hingga mereka harus menghadap guru BP."


" What? Anak itu pernah membuat masalah dengan Azkia?!" Gavin langsung berdiri.


" Pak Wildan, saya minta Bapak suruh orang tua anak itu datang ke sini sekarang juga! Saya ingin orang tuanya itu tahu dan mendidik anaknya dengan baik agar tidak membuat masalah di sekolah ini!" geram Gavin penuh emosi.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2