
Azzahra melirik ke arah keluar jendela saat dia melihat beberapa orang tua murid sedang berkumpul dengan hebohnya. Azzahra sendiri tak tahu apa yang sedang diperbincangkan oleh ibu-ibu muda itu.
Tak lama bel tanda pelajaran usai pun berbunyi yang disambut suka cita murid-murid di kelas Azzahra. Setelah memimpin doa, seluruh murid pun keluar dari ruang kelas menuju orang tua masing-masing.
Selepas memasukkan buku ke dalam tote bag nya Azzahra pun keluar dari ruangan. Namun pandangannya kemudian tertumpu kembali kepada kumpulan orang tua murid yang masih saja terlihat berkumpul padahal anak-anak mereka sudah usai belajar.
Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi akhirnya Azzahra menghampiri kerumunan wali murid itu.
" Nah, itu dia Bu Rara ..." pekik salah satu wali murid hingga mengurai kumpulan orang-orang itu dan memperlihatkan dengan jelas apa yang menjadi pusat perhatian wali murid hingga mereka bergerombol.
Mata indah Azzarha terbuka lebar saat mendapati sosok Gavin yang berada di tengah-tengah orang tua murid-muridnya.
" Ada apa kemari?" tanya Azzahra tapi tidak memperlihatkan kekesalannya apalagi sampai berkata kasar pada Gavin, karena dia saat ini sedang bersama orang tua dan juga murid-muridnya. Tak enak jika harus memperlihatkan sikap kasar di depan mereka.
" Ciee, Bu Rara yang dijemput sama tunangannya."
" Bu Rara tunangannya ganteng, lho."
" Jadi ini tunangan Bu Rara yang sebenarnya? Soalnya saya itu dengarnya anaknya Pak Atmajaya yang mau tunangan sama Bu Rara. Ternyata bukan tapi nggak kalah ganteng sih sama anaknya Pak Atmajaya."
Blasshh
Wajah Azzahra seketika memerah karena malu saat mendengar ucapan-ucapan wali murid tadi.
" Hai, Honey ... kita pulang sekarang?" Gavin sengaja menggoda Azzahra seraya mengedipkan matanya.
" Iiihh ... Mas Gavin so sweet panggilnya honey bunny sweety. Uwu deh Mas Gavin sama Bu Rara." Zora mengomentari sikap Gavin yang terlihat manis terhadap Azzahra.
Azzahra kemudian berjalan mendekat ke arah Gavin. " Kita pulang sekarang," ucap Azzahra pelan. " Maaf Ibu-ibu, saya permisi dulu." Azzahra kemudian bergegas meninggalkan Gavin dan wali murid yang masih merumpi.
" Lho, Bu Rara ... kok tunangannya ditinggal nggak digandeng, sih? Nanti digandeng cewek lain lho, Bu ..." seru Delima menggoda Azzahra.
" Mas Gavin cepat itu Bu Rara digandeng nanti keburu lari, lho." Arini turut menimpali.
Gavin tersenyum. " Belum halal, Bu. Nanti kalau sudah halal sih, lebih dari menggandeng pun nggak masalah." Gavin berkelakar kemudian berlari menyusul langkah Azzahra.
Braakk
Umi Rara yang sedari tadi menunggu di dalam mobil dibuat terkejut saat tiba-tiba Azzahra yang masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan sangat kencang.
" Astaghfirullahal adzim ... kenapa, Ra? Ada apa?" Umi Rara bertanya heran.
" Rara sebal sama orang itu, Umi ..." Azzahra mengeluh.
__ADS_1
" Orang itu siapa? Gavin?"
" Siapa lagi kalau bukan pria menyebalkan itu," keluh Azzahra kesal.
" Ada apa lagi, sih?"
Namun belum sempat Azzahra menjawab, Gavin sudah masuk dan duduk di kursi kemudi.
" Kamu apain lagi anak saya?" Umi Rara langsung menyambut Gavin dengan pertanyaan.
Gavin melirik ke arah Umi Rara lewat spion kemudian mengalihkan pandangan ke arah Azzahra yang sedang memalingkan wajahnya ke arah jendela.
" Saya? Saya melakukan apa? Saya tidak melakukan apa-apa, Bu." Gavin menepis tudingan Umi Rara membuat Azzahra yang sedang memandang ke arah luar jendela langsung mengarahkan pandangan ke arah spion di mana Gavin juga sedang menatapnya. Mereka berdua pun saling memandang melalui media spion dengan tatapan mata yang berbeda. Azzahra dengan sorot mata kesal penuh amarah, sedangkan Gavin dengan tatapan mata seolah mengejek.
***
" Apa maksud kamu bicara seperti itu tadi di depan wali kelas murid-muridku?" tanya Azzahra saat melihat Gavin sedang tiduran di ayunan yang terbuat dari jaring di antara dua pohon rindang di halaman rumah Azzahra.
Gavin yang sedang menikmati berayun santai serasa di pantai seraya memejamkan mata langsung membuka satu matanya melirik ke arah Azzahra.
" Apaan, sih? Mengganggu saja ..." Gavin kembali menutup mata dan melipat tangan di bawah kepala membuat Azzahra makin kesal.
" Heh, borokokok!! Maksud kamu apa mengaku sebagai tunangan aku?!" Karena kesal Azzahra menarik ayunan yang dipakai Gavin hingga membuat tubuh Gavin hampir terjatuh. Gavin yang menyadari tubuhnya akan terjatuh secara refleks menarik tangan Azzahra. Tapi karena Azzahra tak mampu menopang tubuh besar Gavin akhirnya membuat dia ikut terjatuh tepat di atas tubuh Gavin.
" Awww ..." pekik Azzahra saat dia terjatuh seraya memejamkan mata.
Tak lama penciumannya merasakan aroma maskulin yang begitu tajam membuat dia tersadar dan membulatkan matanya saat mendapati kini wajahnya berada dekat dengan wajah Gavin, hingga membuat mereka kini beradu pandang tak menyadari posisi mereka berdua saat ini sangatlah intim.
" Astaghfirullahal adzim, Neng Rara ... istighfar, Neng."
Azzahra langsung terkesiap saat terdengar orang berteriak memanggil namanya, dan dengan cepat dia menarik tubuhnya lalu bangkit dengan wajah merah padam.
" Neng Rara, dia itu siapa? Bukan muhrim ya Allah Neng Rara ...."
" Kalian hampir berbuat zinah tadi."
Beberapa ibu-ibu pengajian yang memang bermaksud menjemput Umi Rara dibuat kaget dengan tingkah Gavin dan Azzahra yang terlihat seperti sedang bermesraan.
" Bu-bukan seperti itu ceritanya, Bu. Kami tidak berbuat zinah, tadi itu salah paham." Azzahra mencoba menjelaskan.
" Salah paham bagaimana, Neng Rara? Jelas-jelas tadi kami lihat kalian tidur saling berpelukan," tuding Ibu Any salah satu dari ketiga ibu pengajian tadi.
" Eh, ibu-ibu sudah datang, mari silahkan masuk dulu." Umi Rara yang melihat beberapa ibu-ibu pengajian berdiri di pekarangan langsung menyuruhnya masuk.
__ADS_1
" Umi, sebaiknya Neng Rara segera dinikahkan saja, dari pada nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang mencoreng nama baik keluarga Pak Abdullah." Kembali Ibu Amy itu menyahuti.
Umi Rara yang tidak mengetahui hal sesungguhnya terjadi dibuat bingung. " Maksudnya gimana ya, Bu?" tanyanya kemudian.
" Itu anak gadis Umi kepergok hampir berbuat zinah di pekarangan." Ibu Beti ikut menimpali.
" Astaghfirullahal adzim, siapa yang berbuat zinah?" Umi Rara langsung menoleh ke arah yang ditunjuk ibu itu, hingga kini Umi Rara mendapati anaknya sedang berdiri di samping Gavin dengan wajah yang memerah.
" Umi ini salah paham. Yang terjadi tidak seperti itu Umi." Azzahra menghampiri uminya lalu terisak memeluk tubuh uminya itu.
" Apa maksud semua ini, Ra? Umi nggak mengerti." Umi Rara benar-benar dibuat bingung dengan kejadian yang terjadi.
" Umi tadi dia hampir terjatuh dari ayunan lalu menarik tangan Rara hingga akhirnya kami terjatuh bersama." Azzahra menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi.
" Kalau hanya terjatuh, mestinya cepat-cepat bangun. Bukannya saling asyik pandang-pandangan seperti tadi atuh, Neng," seru Ibu Cici ikut berkomentar.
" Tapi kami tidak berbuat zinah. Ibu-ibu jangan memfitnah saya seperti itu!" sanggah Azzahra langsung berlari ke dalam rumahnya.
" Ra, Rara ..." Umi Rara langsung menyusul Azzahra ke dalam rumah, meninggalkan tiga ibu-ibu itu bersama dengan Gavin.
" Kamu itu siapanya Rara? Kami baru lihat kamu." tanya Ibu Amy.
" Saya? Saya tunangan Azzahra, bulan depan kami akan segera menikah." Gavin menyahuti santai seolah tanpa beban dengan kejadian tadi.
" Tunangan??"
Pekik ketiga orang ibu-ibu itu berbarengan.
" Oh, pantesan sudah nggak sabar, ya?" tanya Bu Beti
" Ya sudah, mending segera dihalalkan saja, Mas. Daripada nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Ibu Cici memberi saran.
" Iya apalagi Mas nya ganteng begini, pantas saja Neng Rara mau dipeluk-peluk." Ibu Amy kembali menimpali membuat Gavin tersenyum penuh kemenangan. Niatnya membalas karena keluarga Azzahra menjadikan supir sedikit demi sedikit mulai dijalankan. Tujuannya sudah pasti membuat malu Azzahra di mana pun wanita itu berada.
*
*
*
Bersambung ...
Pin, sok atuh kamu balas dendam sesuka hatimu kepada Neng Rara, buat Neng Rara sampai nangis² juga gpp. Sebelum nanti Othor buat kamu bertekuk lutut dan bucin abis ama Neng Rara #tawajahatothor
__ADS_1
Happy Reading❤️