
" Ra, bangun Geulis. Sholat Shubuh dulu, setelah itu kamu bersiap-siap."
Azzahra mengerjap saat mendengar suara Uminya yang membangunkannya.
" Bersiap ke mana, Umi?" tanya Azzahra langsung bangkit saat Uminya menyuruhnya untuk bersiap. Seketika itu juga hatinya langsung dilanda kegelisahan saat mendengar kata bersiap.
" Umi nggak tahu Abi kamu mau bawa kamu ke mana, Neng." Umi Rara menunjukkan wajah sedihnya. Umi Rara memang merasa kasihan atas apa yang menimpa putrinya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berharap suaminya itu bisa berubah pikiran.
" Umi, Rara nggak mau pergi dari sini." Azzahra menolak dibawa pergi Abinya.
" Ra, jangan buat Abi kamu semakin marah."
" Tapi Rara nggak ingin dijauhkan dari Kak Gavin, Umi." Azzahra menggenggam lengan Uminya.
" Umi, tolong Rara! Rara nggak ingin berpisah dari Kak Gavin. Hiks ... hiks ..." Azzahra terisak seraya menyandarkan wajahnya di bahu Uminya.
Umi Rara menarik nafas dalam-dalam.
" Hmmm, kamu turuti saja dulu Abi kamu. Nanti Umi cari cara untuk menolong kamu." Umi Rara mencoba menenangkan Azzahra. Dan tak lama Umi pun berlalu dari kamar Azzahra.
Selepas Kepergian Umi Rara, Azzahra segera meraih ponselnya untuk mengabari Gavin jika dia akan dibawa Abinya pagi ini. Dia berharap suaminya itu akan menolongnya.
Namun pesan dari Gavin yang masuk di ponselnya sekitar jam sebelas kemarin malam membuat hatinya kecewa.
" Honey, maafkan aku. Besok pagi aku tidak bisa menemuimu karena besok aku harus pergi dengan Dad David ke Bandung."
Setelah membaca isi pesan dari Gavin, Azzahra langsung melakukan panggilan telepon kepada suaminya itu.
" Assalamualaikum, Honey."
" Waalaikumsalam ... Kak, cepat ke sini! Abi mau bawa aku pergi! Aku nggak mau ikut Abi, Kak." Azzahra mengadu dengan terisak.
" Honey, kau tenang dulu." Gavin meminta istrinya yang terlihat gusar.
" Bagaimana aku mau tenang, Kak?! Kalau aku dibawa pergi dari sini, bagaimana kita bisa bertemu?" keluh Azzahra cemas.
" Honey, Dad David akan bicara dengan Abimu. Aku harap Dad bisa menahan Abi yang ingin membawamu pergi." Gavin teringat akan janji Dad David yang akan membantunya menyelesaikan masalahnya.
" Tapi kalau Papa nggak bisa membujuk Abi gimana, Kak?" Azzahra nampak frustasi.
" Pasti ada jalan, Honey. Tenanglah."
" Kak Gavin selalu suruh aku tenang,
suruh aku bersabar. Kak Gavin selalu bilang sedang berusaha dan sedang diusahakan. Tapi
apa hasilnya? Abi bukannya memaafkan Kak Gavin tapi malah semakin membenci Kak Gavin!" Suara Azzahra terdengar menyentak.
Gavin menghela nafas panjang. Dia sedih melihat istrinya yang nampak putus asa karena menghadapi tekanan yang diberikan orang tuanya sendiri.
__ADS_1
" Honey, istighfar ... jangan berteriak-teriak seperti itu." Gavin meladeni Azzahra dengan kesabaran.
" Aku takut, Kak. Aku takut kita tidak akan bisa bertemu kembali, hiks ...."
" Honey, kita jangan putus asa. Yakinlah Allah akan bantu kita." Hati Gavin merasa teriris mendapati istrinya yang benar-benar tak berdaya menentang keinginan Abinya
***
Azzahra duduk di tepi tempat tidur. Dia hanya mencuci muka dan menyikat giginya lalu melaksanakan sholat Shubuh setelah mengambil air wudhu. Dia sama sekali tidak melakukan hal yang diminta oleh Uminya. Azzahra malah merebahkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur. Dia berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini? Apa dia kabur saja seperti yang pernah dia lakukan dulu saat dipaksa menikah dengan Gavin. Tapi kalau kabur saat ini dia sama sekali tidak mempunyai persiapan. Atau, apa dia harus berpura-pura sakit saja? Agar Abi tidak jadi memindahkannya.
Azzahra berjalan mengendap ke arah dapur. Dia melihat hanya ada Rusmi yang ada di sana.
" Eh, Neng Rara? Ada apa, Neng? Neng Rara mau kabur, ya!" tuduh Rusmi saat melihat Azzahra mengendap.
" Sssttt ...!! Bi Rusmi jangan berisik!!" Azzahra mendekatkan telunjuk ke bibirnya.
" Kalau Neng Rara mau kabur, Bi Rusmi harus teriak agar Neng Rara nggak kabur!" Rusmi mengancam.
Azzahra melotot mendengar ucapan Rusmi.
" Siapa juga yang mau kabur?!" tepis Azzahra. Dia lalu melangkah ke lemari pendingin. Dia mengambil beberapa air mineral dingin berukuran besar di tangannya. Namun sebelum pergi Azzahra menatap tajam Rusmi.
" Jangan-jangan Bi Rusmi yang mengadu ke Abi soal Kak Gavin masuk ke kamarku, ya?!" Kali ini Azzahra yang menuduh balik Rusmi.
" Astaghfirullahal adzim!! Neng Rara jangan sembarangan menuduh!" Rusmi menyangkal.
" Lalu bagaimana Abi tahu soal itu?" tanya Azzahra menyelidik.
" Neng, buat apa ambil air es banyak-banyak begitu?" Rusmi kemudian memandang botol minuman di tangan Azzahra.
" Oh ... Rusmi tahu ini." Rusmi mengacung-acungkan telunjuknya. Sepertinya dia paham apa yang ada di pikiran Azzahra.
" Neng Rara mau mandi pakai air es biar nantinya jadi sakit agar nggak jadi pergi, kan? Hayo deh ngaku."
" Rara, sedang apa kamu di sini?" tiba-tiba suara Abi Rara terdengar di antara percakapan antara Azzahra dan Rusmi, membuat dua orang itu terperanjat terutama Azzahra yang ketahuan Abinya sedang merencanakan sesuatu.
" Kenapa kamu belum berganti pakaian?" tanya Abi Rara saat mendapati putrinya masih mengenakan piyama tidurnya.
" Lalu buat apa kamu ambil air dingin itu?" selidik Abi Rara kemudian.
" Abi, Rara nggak mau pergi dari sini." Azzahra menaruh beberapa botol air mineral yang dipegangnya ke atas meja.
" Abi ..." Rara kini melingkarkan tangannya di lengan Abinya seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Abi Rara.
" Kamu mau mandi dan ganti baju atau akan pergi dengan keadaan seperti ini?" Abi Rara seolah tak terpengaruh dengan sikap Azzahra yang merengek.
" Abi, kenapa Abi jahat sekali sama Rara? Rara punya salah apa Abi, sampai Abi siksa Rara seperti ini?" Azzahra mulai menagis.
" Abi lakukan ini karena Abi sayang sama kamu, Ra."
__ADS_1
" Bohong! Abi nggak sayang sama Rara! Kalau Abi sayang, nggak mungkin membuat Rara menderita seperti ini! Rara sangat mencintai Kak Gavin, Abi! Rara cuma ingin bersama Kak Gavin!"
" Cepat bersiaplah!" Abi Rara menepis tangan Azzahra yang tadi merangkulnya.
" Abi ...!! Kalau Abi memaksa Rara untuk pergi, Rara akan nekat bunuh diri!"
" Astaghfirullahal adzim!! Neng, istighfar!! Jangan suka bicara sembarangan!" Umi Rara yang baru masuk ke arah dapur karena mendengar suara teriakan Azzahra langsung beristighfar dan mendekati anaknya.
" Kamu mau bunuh diri? Apa kamu pikir jika kamu bunuh diri, Gavin akan sedih dan melakukan hal yang sama denganmu? Siapa tahu dia akan mencari wanita lain atau mungkin kembali mantan kekasihnya itu!"
Azzahra terbelalak saat mendengar Abinya bicara menjelekan suaminya.
" Kak Gavin nggak mungkin seperti itu!" Azzahra menyangkal.
" Bukankah dia mudah menarik perhatian lawan jenis untuk takluk kepadanya?! Anak Abi sendiri buktinya."
" Rara benci sama Abi!!" geram Azzahra lalu bergegas menuju kamarnya.
" Ra ..." Umi Rara ingin menyusul.
" Suruh dia cepat berkemas. Dan ambil ponselnya! Jangan biarkan dia memegang HP." Abi Rara sempat memberi perintah kepada istrinya untuk menangani Azzahra sebelum Umi Rara meninggalkan ruang makan.
Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Mang Ucup keluar dari pekarangan rumah orang tua Rara. Dengan Abi Rara di samping Mang Ucup. Dan Azzahra yang terus saja terisak seraya membuang pandangan ke luar jendela dan Umi Rara yang terus mengelus lengan Azzahra meminta anaknya untuk bersabar.
" Kita ke mana, Abi?" tanya Mang Ucup.
" Ke tempat yang kita bicarakan kemarin, Cup." Abi Rara menyahuti.
" Baik, Abi." Mang Ucup pun kembali fokus pada kemudinya.
***
Gavin baru saja masuk ke dalam mobil yang akan membawanya dan Dad David ke Bandung. Dia nampak gelisah karena sedari tadi dia menghubungi Azzahra, nomer kontak istrinya itu tidak dapat dihubungi.
" Dad, apa sudah hubungi Abi?" tanya Gavin kepada Dad David yang sudah berada di dalam mobil lebih dulu.
" Sudah." Dad David menjawab singkat.
" Lalu apa kata Abi? Apa dia membatalkan rencana memindahkan Rara dari Bogor?" Gavin merasa penasaran.
Dad David menggelengkan kepalanya.
" Pak Abdullah tetap akan membawa anaknya pergi dari Bogor pagi ini."
" What??" Gavin langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban dari Dad David. Dia lalu bergegas keluar dari mobil.
" Kau mau ke mana Gavin?" tanya Dad David
" Aku harus ke Bogor sekarang juga, Dad!" Gavin kemudian berlari ke dalam mobilnya dan bergegas melajukan mobilnya keluar dari rumah Dad David menuju arah Bogor.
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️