
Umi Rara memperhatikan anak dan menantunya yang sedang menyantap sarapan pagi sambil tersenyum dan saling pandang seolah tak menyadari keberadaannya.
" Eheemm ..." Umi Rara berdehem sehingga membuat sepasang suami istri yang baru saja memadu kasih itu terkesiap dan memusatkan pandangannya ke arah Umi Rara.
" Sebaiknya cepat habiskan makananmu terus segera pergi, Gavin." Umi Rara seolah mengusir Gavin.
" Umi ..." Azzahra yang merasa Uminya itu mengusir suaminya langsung berkomentar.
" Apa lagi? Umi sudah ijinkan kalian campur, kan?!"
Azzahra kemudian menoleh suaminya.
" Tidak apa-apa, Honey. Aku juga mesti berangkat ke kantor." Gavin kemudian menyelesaikan makannya.
Setelah selesai sarapan Gavin pun berpamitan kepada ibu mertua dan istrinya.
" Aku berangkat dulu ya, Honey. Jaga kesehatanmu." Gavin memeluk dan mengecup kening Azzahra.
" Kak Gavin kapan datang ke sini lagi?" tanya Azzahra.
" Mungkin lusa aku akan ke sini," ucap Gavin.
" Aku berangkat, ya!" pamit Gavin kemudian.
" Iya, Kak. Hati-hati ..." Azzahra mencium punggung tangan suaminya.
" Saya berangkat, Umi. Terima kasih sudah mengijinkan saya bertemu dengan Rara. Assalamualaikum ..." Gavin kini mencium tangan Umi Rara.
" Waalaikumsalam ..." sahut Umi Rara dan Azzahra bersamaan.
***
" Selamat pagi, Tuan Gavin." sapa Maria, sekretaris Dad David.
" Pagi, apa tamu Daddy ku sudah datang, Maria?" tanya Gavin kepada Maria, sekretaris Dad David.
" Sudah dari setengah jam lalu, Tuan." sahut Maria.
" Oh, ya sudah, terima kasih." Gavin kemudian berjalan memasuki ruang kerja Dad David.
" Assalamualaikum, Dad. Selamat siang, Tuan Hendrik." Gavin menyapa Dad David dan tamu yang ada di ruangan Dad David.
" Waalaikumsalam ..." sahut Dad David.
" Selamat siang, Tuan Gavin." Tuan Hendrik menyahuti.
" Maaf, Tuan Hendrik. Saya baru saja sampai dari luar kota. Jadi saya minta Daddy saya yang menghandle terlebih dahulu." Gavin menyampaikan permintaan maafnya.
" Tidak apa-apa, Tuan Gavin. Saya justru senang bisa bertemu langsung dengan Tuan David. Suatu kesempatan yang langka bisa bertemu dengan beliau." Tuan Hendrik memaklumi.
" Bagaimana, Tuan Hendrik? Apa sudah disampaikan kepada Daddy tentang rencana Tuan Hendrik?" tanya Gavin kemudian.
" Sudah, Tuan Gavin. Saya sudah sampaikan apa maksud dan tujuan saya. Saya tinggal menunggu keputusan dari Tuan David dan Tuan Gavin." ujar Tuan Hendrik.
__ADS_1
" Tuan Hendrik ini berencana mengadakan gathering akhir tahun ini di Bali dan beliau ingin memakai hotel kita di sana untuk acaranya." Dad David menerangkan.
" Benar, Tuan Gavin. Mungkin Tuan Gavin akan memberikan penawaran tarif khusus untuk perusahaan kami." Tuan Hendrik mengajukan penawaran harga sewa tempat dan kamar hotel.
" Berapa lama acara gathering diadakan, Tuan Hendrik?" tanya Gavin.
" Kami rencana menginap dua malam, Tuan. Dan kemungkinan kami akan menyewa sekitar lima puluh kamar hotel."
" Bagaimana, Dad?" tanya Gavin.
" Dad serahkan keputusan kepadamu, Nak." Dad David menyerahkan Gavin untuk menentukan keputusannya.
" Baiklah, kami akan berikan penawaran harga spesial untuk Anda, Tuan Hendrik." ujar Gavin.
" Tapi untuk jumlah kamar hotel yang tersedia nanti saya kabarkan segera, Tuan. Karena untuk event akhir tahun seperti ini, kamar hotel sudah mulai banyak di pesan dari beberapa bulan sebelumnya."
" Baiklah, tolong kabari segera, Tuan Gavin."
" Pasti, Tuan Hendrik. Secepatnya akan segera saya kabari."
" Terima kasih, Tuan Gavin. Semoga kerjasama kita bisa berlangsung untuk jangka waktu ke depan." Tuan Hendrik menyampaikan harapannya .
" Aamiin, Tuan Hendrik. Saya juga berterima kasih karena Tuan Hendrik mempercayakan tempat kami untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh perusahaan Tuan Hebdrik selama ini." Gavin pun menyampaikan terima kasihnya.
***
" Jadi, apa yang membuatmu sampai terlambat, Gavin?" tanya Dad David kepada Gavin setelah Tuan Hendrik pergi.
" Sampai sesiangan ini?" tanya Dad David curiga.
Gavin menyeringai. " Iya, Dad. Tadi kebetulan Abi tidak ada di rumah jadi aku bisa berlepas rindu dengan Rara."
" Melepas rindu?" Dad David memicingkan matanya.
" Biasalah, Dad." Gavin kembali menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.
" Kau mencuri kesempatan di saat Abi Rara tidak ada? Kalau Papa mertuamu tahu, Dad tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya." Dad David menggelengkan kepalanya.
" Aku berharap Rara akan segera hamil agar Abi bisa berpikir ulang agar tidak memisahkan kami." Gavin berharap.
Dad David menghela nafas mengetahui apa yang telah diceritakan Gavin kepadanya.
" Kapan Pak Abdullah akan menentukan keputusannya? Sudah dua Minggu tapi hukumanmu masih saja berjalan."
" Entahlah, Dad. Aku juga tidak mengerti. Aku sudah berusaha membuktikan tapi kekerasan hati Abi susah untuk diruntuhkan," keluh Gavin.
" Dad hanya bisa bantu doa agar semua permasalahan rumah tanggamu cepat terselesaikan," harap Dad David.
" Aamiin, Dad. Terima kasih atas doa dan dukungan Dad selama ini." Gavin mengungkapkan rasa terima kasih atas semua bantuan dan dukungan yang telah dilakukan oleh Dad David atas semua permasalahan yang di hadapinya.
***
Selepas sholat Isya Azzahra mencoba menelpon suaminya. Dia sudah tak malu harus menghubungi suaminya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Kak." sapa Azzahra yang melihat suaminya itu nampak baru saja keluar dari lift.
" Waalaikumsalam, Honey. Aku baru saja sampai apartemen." Gavin mengarahkan poselnya ke setiap sudut koridor di sekitarnya.
" Kak Gavin baru pulang?" tanya Azzahra.
" Iya, Honey." Gavin sampai di depan apartemennya lalu membuka pintu apartemen.
" Ya Allah, pasti capek sekali ya, Kak?" Azzahra sedih karena dia tidak ada untuk menyambut saat suaminya itu lelah sepulang dari kantor.
" Rasa capeknya terasa hilang setelah melihat wajah dan mendengar suaramu, Honey." Gavin mengulum senyuman bahagia.
Mendengar itu hati Azzahra merasa terenyuh.
" Maafkan aku ya, Kak. Karena aku nggak ada saat Kak Gavin merasa penat dan suntuk selepas bekerja." Azzahra berucap sedih.
" Tidak masalah, Honey. Aku ikhlas menjalani hukuman ini asalkan nantinya kita akan kembali bersama." Tangan kanan Gavin mencoba melepas dasi di kerah lehernya.
" Aamiin, Kak." sahut Azzahra
" Oh ya, Honey, bagaimana kabarmu hari ini? Lebih semangatkah menjalaninya?" Gavin mengulum senyuman menggoda istrinya, mengingat apa yang mereka lakukan pagi tadi.
" Kak ..." Azzahra tersipu malu.
" Aku berharap Abimu sering-sering keluar kota, agar kita bisa sering melakukannya, Honey." Gavin terkekeh.
" Tapi apa Umi nanti akan kasih kita ijin lagi, Kak?" Azzahra khawatir Uminya tidak akan memberikan kesempatan kedua.
" Kita kasih iming-iming cucu saja, pasti Umi kamu kasih ijin." Gavin menyeringai.
" Tapi kalau aku belum hamil juga gimana, Kak?"
" Namanya juga 'kan usaha, Honey ..." sahut Gavin.
Tok tok tok
" Neng, dipanggil Abi. Disuruh ke kamar Abi, katanya Abi mau bicara." Suara Rusmi terdengar setengah berteriak.
" Ada apa, Honey?" Gavin yang melihat Azzahra membulatkan matanya seraya menatap ke arah pintu kamar langsung bertanya.
" Abi sudah datang, Kak. Dan Abi panggil aku, katanya Abi mau bicara sama aku. Aduh gimana ini kalau Abi sampai tahu apa yang kita lakukan tadi pagi, Kak?" Azzahra seketika dilanda kegelisahan.
" Honey, kau tenanglah. Jangan panik, baca doa lebih dulu. Berdoa agar semua baik-baik saja. Jika kamu sudah bicara pada Abi. Tolong kamu segera hubungi aku, oke?!" Gavin mencoba menenangkan Azzahra yang sudah nampak gusar.
*
*
*
Bersambung ...
Happy reading❤️
__ADS_1