KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Pil KB


__ADS_3

" Ra, Abi sama Umi mau ke rumah Ceu Lena, kamu ikut ke sana juga, yuk!" ajak Umi Rara minggu pagi ini kepada Azzahra.


" Mau ke rumah Mamih Ellena, Umi? Memangnya ada acara apa?" tanya Azzahra saat Uminya mengajak dia berkunjung ke rumah orang tua dari Yoga.


" Mau ada pengajian, ajak suami kamu sekalian," ucap Umi Rara. " Umi mau siap-siap dulu, kamu juga cepat ganti baju ..." lanjutnya.


" Iya, Umi." Azzahra kemudian berjalan ke kamarnya.


" Kak, ayo ikut Abi sama Umi ke rumah Mamih Ellena," ujar Azzahra kepada Gavin yang terlihat sedang sibuk dengan laptop di pahanya.


" Mau apa memangnya kita ke sana?" tanya Gavin.


" Mau ada acara pengajian," jawab Azzahra seraya memilih gamis yang akan dia pakai.


" Aku malas, kau sajalah yang ke sana." Gavin menutup laptopnya lalu menaruhnya di atas nakas. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Nggak bisa gitu, dong! Kemarin waktu akad itu 'kan Kak Gavin sama keluarga menginap di rumah mereka, masa sekarang kita berkunjung ke Bogor nggak mampir ke mereka," protes Azzahra.


" Ya kamu bilang saja jika aku ini sedang tidak enak badan. Kamu tahu 'kan kalau aku ini capek sekali." Gavin beralasan.


" Capek? Kalau bersilaturahmi kamu bilang capek, kalau melakukan itu nggak kenal kata capek," sindir Azzahra.


Gavin langsung bangkit dan terduduk saat mendengar jawaban istrinya. " Melakukan itu tuh apa, hmm?" Gavin menyeringai seraya memainkan kedua alisnya membuat Azzahra kemudian berlari ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, karena dia tahu suaminya itu sudah siap untuk meledeknya.


Namun pada akhirnya Gavin ikut juga berkunjung ke rumah orang tua Yoga karena istrinya itu tak berhenti mengomel.


" Bagaimana prospek bisnis perhotelan saat ini, Gavin?" tanya Papih Prasetya saat Gavin terlihat mengobrol dengan Papa Yoga itu setelah acara pengajian selesai.


" Sejauh ini aman terkendali, Om ..." Gavin menyahuti.


" Om juga sebenarnya ingin Yoga bisa duduk sebagai pemimpin di perusahaan Om, Vin. Tapi sepertinya Yoga lebih tertarik sebagai pengajar ketimbang harus urus perusahaan. Jadi Om hanya berharap anak-anak Yoga yang akan bisa meneruskan usaha Om ini nantinya," ujar Papih Prasetya menoleh ke arah Gavin yang saat ini terlihat sedang memandang Azzahra yang terlihat sedang tertawa riang bersama beberapa teman-temannya yang kebetulan juga datang di acara pengajian rutin tiap bulan itu.


Papih Prasetya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. " Rara memang gadis yang cantik, dia sangat penurut terhadap orang tuanya. Kamu beruntung mendapatkan wanita seperti Rara, Vin."


" Ah, eh, i-iya, Om ..." Gavin terkesiap saat ketahuan sedang memperhatikan istrinya oleh Papih Prasetya.


" Mamih Yoga itu sayang sekali sama Rara, makanya dia ingin menjodohkan Rara dengan Yoga. Tapi ternyata jodoh Yoga adalah Natasha, dan jodoh Rara adalah kamu yang ternyata saudara sepupu Natasha." Papih Prasetya terkekeh mengingat perjalanan kisah cinta putranya juga Azzahra.

__ADS_1


Gavin hanya mengulum senyuman mendengar ucapan Papih Prasetya.


" Om harap pernikahan kalian akan langgeng sampai maut memisahkan. Rara itu anak baik, jangan sampai kamu mengecewakan dia apalagi menyakiti hatinya. Karena kami, Om dan Tante sudah menganggap Rara seperti anak kami sendiri." Papih Prasetya menasehati.


" Iya, Om." Gavin menyahuti sambil kembali menolehkan wajahnya ke arah Azzahra yang saat ini juga sedang menatap ke arahnya.


Azzahra sedang berbincang dengan teman-temannya selepas pengajian.


" Ra, kamu beruntung sekali dapat suami ganteng seperti itu, tajir lagi. Nggak kalah sama Kang Yoga." Ririn, salah satu teman sekolah Azzahra dulu mengomentari.


" Iya benar, Rin. Nggak dapat Akang Yoga, eh dapatnya Akang Gavin. Tapi sepertinya Akang Gavin itu lebih kaya dari Kang Yoga ya, Ra? Soalnya dia itu yang punya banyak hotel." Tanti menimpali.


" Iya, Tan. Hoki banget kamu ini, Ra. Tukeran atuh, Ra." Ririn terkikik.


" Tukeran sama apa, Rin? Pacar saja kamu belum punya ..." Tanti memutar bola matanya.


" Ya tukeran tempat lah, Tan. Aku yang jadi istri Kang Gavin, Rara yang jadi jomblo seperti aku sekarang ini." Ririn tergelak setelah mengucapkan kalimat itu.


Azzahra hanya tersenyum saja menanggapi semua ucapan teman-temannya itu. Dia lalu menoleh ke arah Gavin yang sedang menatapnya, membuat pandangan mata mereka saling bertautan tanpa ada yang mau memutuskan tatapan itu terlebih dahulu.


" Ehem ... ciee ciee saling pandang memandang, duh aku kok jadi envy lihat kalian, Ra." Suara Tanti lah yang membuat tatapan mata mereka berdua terputus.


Sontak pertanyaan Ririn membuat Azzahra dan Tanti tertawa.


" Aku nggak pakai doa apa-apa, Rin. Kalau habis sholat aku hanya berdoa untuk Umi dan Abi, memohon diberikan kesehatan, diberi keselamatan dunia akherat. Dijauhkan dari segala marabahaya, dilimpahkan rejeki yang halal dan dipertemukan dengan jodoh yang terbaik yang sudah Allah siapkan buat aku. Sudah sih itu saja. Aku nggak doa khusus untuk mendapatkan suami yang tampan dan kaya seperti suamiku itu." Azzahra dengan gamblang menjelaskan.


" Itu bonus karena Rara ini adalah anak yang baik, nurut sama orang tua, nggak seperti kamu, Rin. Yang tiap hari ribut terus sama mama kamu," sindir Tanti.


" Ya habisnya aku pusing, dibilang malas mau nya makan tidur terus nggak mau kerja. Malah sekarang disuruh cari jodoh dan menikah. Memangnya cari kerja sama cari jodoh itu gampang?" keluh Ririn menggerutu.


" Ya sudah kalau begitu jangan berharap dapat jodoh kaya suaminya Rara, dong!" sindir Tanti membuat Ririn memberengut.


***


Sepulang dari rumah orang tua Yoga, Gavin dan Azzahra berpamitan kembali ke Jakarta.


" Kenapa nggak besok pagi-pagi saja sih pulangnya, Ra?" Umi Rara terlihat berat melepas anaknya pulang ke Jakarta.

__ADS_1


" Kak Gavin ada kerjaan, Umi." Azzahra menyahuti.


" Kenapa nggak Gavin nya saja yang pulang, kamu tetap di sini dulu sama Umi, Umi tuh masih kangen, Ra." Umi merangkul pundak Azzahra.


" Lho, kan Umi sendiri yang menasehati jika Rara itu mesti ikut sama suami Rara," balas Azzahra.


" Oh, iya-ya ... ya sudah tapi nanti setiap akhir pekan main ke sini ya, Ra!" pinta Umi Rara.


" Insya Allah kalau Kak Gavin nggak sibuk ya, Umi." Azzahra menjawab permintaan Uminya itu.


" Umi, saya pamit dulu ..." Gavin yang sudah selesai memasukan koper ke dalam bagasi mobil lalu berpamitan kepada ibu mertuanya itu sambil mencium punggung tangan Umi Rara


" Hati-hati di jalan ya, Vin." Abi Rara menasehati.


" Iya, Abi." Kini Gavin menyalami ayah mertuanya.


" Rara pulang dulu ya, Abi, Umi ... Assalamualaikum ..." Setelah menyalami kedua orang tuanya Azzahra pun mengikuti langkah suaminya ke masuk ke dalam mobil.


Sesudah mobil yang dikendarai Gavin menjauh dari rumahnya Abi dan Umi pun masuk ke dalam rumah.


" Rus, Rusmi ..." teriak Umi Rara kepada Rusmi.


" Rus, tolong kamar Rara dibereskan, ya! Rara bilang spreinya minta diganti tadi pesannya begitu." Umi Rara tersenyum saat berkata dan Rusmi pun paham arti senyum majikannya itu.


" Baik, Umi. Nanti Rusmi bersihkan kamar Neng Rara." Rusmi pun kembali ke dalam menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya dia masuk ke kamar Azzahra untuk merapihkan dan mengganti sprei yang baru.


Saat Rusmi menyapu lantai kamar Azzahra, Rusmi menemukan sesuatu terjatuh di lantai di bawah meja rias Azzahra.


" Vitamin Neng Rara ketinggalan sepertinya." Rusmi lalu meraih strip obat itu, namun keningnya langsung berkerut saat dia membaca nama dan bentuk obat itu


" Ini 'kan pil KB, punya siapa? Apa punya Neng Rara? Tapi masa Neng Rara minum pil KB?" tanya Rusmi pada dirinya sendiri sambil berpikir keras.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy reading ❤️


__ADS_2