
Dua bulan kemudian ...
Kehamilan Azzahra sudah masuk usia enam bulan. Kehidupan Gavin dan Azzahra pun sudah kembali berjalan normal. Bahkan kini mereka berdua sudah kembali ke apartemen mereka. Gavin sengaja membawa dua ART dari rumah Dad David untuk menemani Azzahra terutama saat Gavin pergi bekerja. Gavin juga sudah tidak memakai bodyguard lagi. Karena Joe, pelaku lain penyerangan terhadap Gavin sudah tetangkap empat hari setelah dia berhasil kabur saat melukai Grace. Sedangkan Grace sendiri saat ini sedang dalam pengawasan Rizal. Karena Dad David dan Gavin dengan kebesaran hatinya memilih mencabut laporan terhadap Grace. Namun mereka memberikan sangsi lain terhadap Grace selain meringkuk di penjara. Selama satu tahun ke depan Grace harus bekerja sukarela di salah satu panti wreda untuk mengurusi orang-orang lanjut usia. Awalnya keputusan itu ditentang Agatha terlebih lagi oleh Grace. Tapi daripada anaknya harus berakhir di jeruji besi akhirnya Agatha bisa menerima sanksi sosial yang akan dijalani oleh Grace. Sedangkan Grace sendiri tentu saja ogah-ogahan menerima sanksi tersebut dan selalu memancing keributan yang membuatnya harus selalu berdebat dengan Rizal yang ditugasi Dad David untuk mengawasinya.
***
" Kak, aku mau ikut senam hamil, ya?" Azzahra meminta ijin kepada suaminya selesai mereka menyantap sarapan pagi.
" Senam hamil? Kapan? Aku 'kan harus ke kantor, Honey. Aku nggak bisa temani kamu senam."
Gavin merasa dia tidak punya waktu untuk menemani istrinya itu senam hamil.
" Nggak usah ditemani juga nggak apa-apa kok, Kak. Nanti 'kan aku ditemani Teh Tata. Soalnya Teh Tata yang ajakin aku senam hamil." Azzahra menjelaskan agar suaminya tidak perlu merasa khawatir karena tidak bisa menemaninya mengikuti senam hamil
" Alexa yang mengajakmu? Apa Yoga juga ikut?" tanya Gavin kemudian.
" Kang Yoga 'kan mengajar, Kak. Jadi ya nggak menemani Teh Tata juga." Azzahra kemudian bangkit dari kursi makan membereskan piring kotor.
" Ya sudah kalau begitu, kamu kalau mau ikut senam hamil aku setuju saja," ucap Gavin meneguk segelas orage juice.
" Terima kasih ya, Kak." Azzahra lalu mendekat ke arah suaminya lalu memeluk suaminya yang masih terduduk dari belakang.
" Kapan kamu mulai senam?" tanya Gavin mengusap lengan Azzahra yang melingkar di lehernya.
" Mulai besok, Kak."
" Di mana tempat senamnya?"
" Dekat rumah Teh Tata ...."
" Ya sudah, besok sebelum berangkat ke kantor aku antar kamu ke sana dulu."
Azzahra semakin mengeratkan pelukannya.
" Terima kasih, Kak. Cup ..." Sebuah kecupan mendarat di pipi Gavin membuat pria itu mengulum senyuman. Gavin lalu mengurai pelukan istrinya dan menarik tubuh istrinya itu agar duduk di pangkuannya, Sebelumnya dia memundurkan terlebih dahulu kursi yang dia duduki.
" Baby temani Mommy senam, ya! Karena Daddy nggak bisa temani Mommy senam. Kalau baby nanti lihat Mommy lirik-lirik laki-laki lain, baby lapor sama Daddy, ya!" Gavin berbicara kepada perut Azzahra sembari mengusapnya dengan lembut.
" Papa tenang saja, dedek bayi pasti akan jaga Mama. Papa nggak udah khawatir, Mama nggak akan lirik-lirik laki-laki lain, karena Mama sayangnya cuma sama Papa saja." Kini giliran Azzahra yang membelai rambut lebat suaminya.
" Honey, kalau baby kita sudah lahir nanti panggilnya itu Mommy sama Daddy bukan Papa sama Mama." Gavin memprotes istrinya karena selalu menyebut panggilan Mama dan Papa untuk anaknya.
" Aku sukanya Papa sama Mama, Kak." sahut Azzahra lebih menyukai panggilan umum yang kebanyakan orang Indonesia pakai.
" Mom and Dad lebih enak didengar, Honey." protes Gavin.
" Tapi aku berat ngucapinnya, Kak." Azzahra terkekeh.
" Kita ini 'kan orang Indonesia, tinggal juga di Indonesia. Apalagi aku ini asli dari desa, kayaknya nggak cocok panggil Mommy sama Daddy deh, Kak. Kalau Kak Gavin 'kan dulu pernah tinggal di luar negeri, jadi enak saja panggil seperti itu." Azzahra menyampaikan alasannya kenapa tidak mengikuti panggilan suaminya itu.
" Kalau begitu mulai sekarang kau harus membiasakan dengan panggilan itu, Honey." ucap Gavin.
" Aku nggak mau, Kak!" tolak Azzahra menggelengkan kepalanya.
" Kenapa nggak mau?" Gavin mengeryitkan keningnya.
" Ya karena nggak cocok saja sama lidahku, Kak. Mungkin karena dulu waktu kecil Kak Gavin sarapan sama roti dan keju jadi cocok dengan panggilan itu. Kalau aku waktu kecil sarapannya sama nasi kuning, nasi uduk jadi nggak nempel panggilan itu di lidahku " Azzahra berkelakar sambil terkekeh sendiri.
" Honey, kau jangan buat baby kita galau diantara dua pilihan, dong!" protes Gavin.
" Ya sudah, kalau begitu Kak Gavin menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia kebanyakan saja panggil Mama sama Papa. Kan cocok tuh, Papa Gavin sama Mama Rara." ucap Azzahra memainkan alisnya.
__ADS_1
" Tapi, Honey ...."
" Sudah nggak usah bahas itu lagi. Kak Gavin cepat betangkat." Azzahra berdiri dari pangkuan Gavin.
" Aku kok jadi malas ke kantor, Honey."
Azzahra mendelik ke arah suaminya yang mengatakan jika dia malas ke kantor.
" Jangan malas-malasan! Nanti dipecat, lho!"
Gavin tergelak mendengar ucapan istrinya.
" Memang siapa yang berani pecat aku? Dad David? Kalau dia berani pecat aku, aku akan larang Dad bertemu dengan baby kalau baby kita lahir." ancam Gavin membuat Azzahra spontan memukul lengan Gavin.
" Hush, jangan asal bicara! Memangnya selama ini kalau kita ada masalah yang membantu siapa kalau bukan Papa David?!" Azzahra mengkomplain apa yang dikatakan suaminya tadi, sementara Gavin hanya terbahak mendengar perkataan istrinya.
***
Hari ini Azzahra sudah mulai mengikuti senam hamil bersama Natasha. Hanya ada sepuluh orang ibu hamil yang ikut program senam hamil di tempat yang ditunjuk Natasha sebagai tempat mereka senam.
Azzahra menyeka keringat yang mengembun di keningnya saat mereka selesai melakukan senam hamil.
" Member baru ya, Mom?" tanya seorang wanita hamil menyapa Azzahra. Sementara Natasha sedang asyik menerima panggilan telepon dengan suaminya.
" Oh, iya, Bu ..." sahut Azzahra.
* Aduh ... panggilnya Mom saja biar lebih keren, jangan panggil Ibu!" protes wanita hamil itu.
" Oh, maaf, Mom." jawab Azzahra tersenyum kaku.
" Namanya siapa, Mom? Aku Shanty." Wanita itu memperkenalkan diri.
" Mom Rara itu ke sini tadi sama Mom Natasha, ya?" tanya Shanty.
" Iya, Mom. Saya sama Teh Natasha ke sininya."
" Teman atau saudara sama Mom Natasha?" tanya Shanty kembali.
" Kami iparan ..."
" Oh, adiknya Pak Dosen, ya?" tebak Shanty.
" Bukan, Mom. Teh Natasha itu adik sepupu suami saya." Azzahra menjelaskan.
" Oh, gitu ... memangnya suami Mom Rara ini kerja di mana? Kalau suami saya kepala cabang leasing Yuk Kredit cabang Bekasi. Mom Rara kalau mau beli mobil, pakai leasingnya ke tempat suami saya saja." Shanty mempromosikan.
" Saya nggak bisa setir mobil, Mom." ucap Azzahra.
" Belajar dong, Mom. Minta dibeliin dulu saja sama suaminya Mom Rara. Sekarang 'kan banyak mobil-mobil kecil yang murah di bawah harga dua ratus juta. Murah cicilannya, hanya tiga jutaan, Mom." Shanty sudah seperti sales marketing.
" Saya masih belum perlu mobil lagi, Mom." Azzahra menolak tawaran Shanty, tentu saja dia tolak karena suaminya saat ini sudah memiliki tiga buah mobil dan semuanya masuk dalam kategori mobil mewah.
" Pasti mobilnya dipakai suami, kan? Mobilnya pakai mobil apa, Mom? Kalau saya sama seperti punya Mom Natasha tapi warna hitam. Kalau suami saya pakainya yang Pa jero." Shanty memamerkan merek mobil yang dimilikinya, sembari ingin tahu merek mobil yang dipakai oleh suami Azzahra.
" Hmmm, apa ya? Saya lupa mereknya. Agak susah menyebutnya." Azzahra sendiri memang tidak pernah mengingat nama mobil yang biasa dipakai oleh suaminya.
" Hahaha, masa mobil suami sendiri nggak ingat namanya apa sih, Mom? Pasti nggak terkenal ya mereknya? Jangan malu-malu sebut saja mereknya nggak apa-apa, Mom." Shanty menduga jika Azzahra malu menyebutkan merek mobilnya karena bukan mobil mewah.
" Sepertinya seru banget ngobrolnya, lagi ngomongin apa, nih?" Natasha yang baru saja selesai telepon dengan Yoga kembali menemui Azzahra.
" Ini lho, Mom. Aku 'kan tawarin ke Mom Rara kalau mau kredit mobil pakai leasing suami saya saja. Saya bilang suruh minta ke suaminya belikan mobil. Mobil yang murah juga 'kan banyak sekarang ini, harga seratus jutaan lebih saja. Tapi Mom Rara bilangnya belum butuh mobil lagi karena nggak bisa setir mobil." Shanty menjelaskan apa yang diperbincangkan dengan Azzahra tadi.
__ADS_1
" Terus lucunya aku tanya merk mobilnya apa? Mom Rara malah bilang lupa. Pasti mobilnya nggak terkenal jadi nggak bisa ingat mereknya." sindir Shanty.
Natasha yang melihat Shanty sepertinya meremehkan kemapanan kakak sepupunya langsung mendengus kesal.
" Rara mana perduli naik mobil merek apa? Yang penting kalau dipakai rasanya nyaman, iya nggak, Ra?" Natasha memainkan alisnya.
" Iya, Teh." sahut Azzahra. " Teh, Rara mau ganti baju dulu, ya." Azzahra berpamitan ke Natasha ingin berganti pakaian senamnya.
" Oke, Ra." sahut Natasha.
" Mom, memang mobil suami Mom Rara itu apa?" Shanty terkesan terlalu ingin tahu dengan kendaraan yang dimiliki Azzahra.
" Kalau yang biasa dipakai sehari-hari sama suaminya sih, Bentley Bentayga," sahut Natasha meneguk air mineral dari botol.
" Bentley apa, Mom? Memang ada ya merek mobil itu? Kok aku baru dengar, ya?" Shanty merasa asing dengan merek mobil yang disebutkan oleh Natasha.
" Ada dong, Mom. Coba aja cek di goo gle." Natasha sengaja menyuruh Shanty mengecek ke mesin pencarian itu.
Shanty pun lalu mengambil ponselnya kemudian melakukan pencarian ke mesin pencarian informasi itu.
" Apa tadi mereknya, Mam?" Shanty sendiri tidak hapal merek mobil yang disebut oleh Natasha.
" Bentley, B-E-N-T-L-E-Y Bentayga B-E-N-T-A-Y-G-A." Natasha sengaja mengeja merek mobil yang dipakai Gavin. Sambil mengarahkan sudut ekor matanya ke arah Shanty yang lalu terbelalak melihat harga mobil itu, dengan sembilan nol berjejer di belakang angka sembilan.
" Kalau acara pergi kondangan ke hotel-hotel pakainya yang Rolls Royce, R-O-double L-S R-O-Y-C-E. itu mobil yang terbaru." Natasha kemudian menyebutkan merek mobil Gavin lainnya yang baru saja diberikan oleh Dad David sebagai hadiah pernikahan Azzahra dan Gavin.
Shanty nampak lebih syok saat mengetahui harga mobil yang baru saja disebutkan Natasha ternyata lebih mahal lebih dari dua kali lipat dengan mobil yang pertama.
" Nah, kalau buat aktivitas Rara sehari-hari, kaya pergi ke salon, ke mall, hang out, Rara pakai yang BMW."
Shanty nampak menelan salivanya bahkan hampir pingsan mengetahui jenis-jenis mobil yang disebutkan Natasha berharga milyaran.
" Kalau yang mobil ke satu sama ke tiga aku tahu itu mobil suaminya dari jaman sebelum menikah. Kalau yang ke dua itu hadiah pernikahan dari mertuanya Rara." Natasha nampaknya senang memanas-manasi Shanty.
" Hadiah pernikahan?" Shanty terbelalak. Hanya seorang berjuluk Sultan saja yang berani memberi kado senilai dua puluh milyaran lebih itu.
" Mom, m-memang mertuanya Mom Rara itu kerjanya di mana, sih?" Shanty merasa penasaran tingkat akut.
" Di Hotel xxx." Natasha masih meladeni Shanty yang super kepo.
" Di hotelnya bagian apa, Mom?"
" Yang punya hotelnya."
Shanty seakan kena skakmat mengetahui hotel yang dia tahu sebagai hotel bintang lima dan terdapat di beberapa kota di Indonesia itu ternyata milik mertua Azzahra.
" Teh, aku sudah ganti baju. Teh Tata buruan ganti baju, katanya kita mau ke mall." Azzahra kembali dari berganti pakaian dan dia tidak mengetahui jika dirinya tadi masih diperbincangkan oleh Shanty.
" Oke, Ra. Aku mau ganti baju sekalian dandan yang cantik. Siapa tahu di mall ketemu perjaka yang ganteng, kan lumayan buat cuci-cuci mata." Natasha tertawa seraya berlalu dari hadapan Azzahra dan juga Shanty.
" Mom, saya permisi duluan, ya!" Shanty yang telah mengetahui jika Azzahra menantu dari salah satu konglomerat langsung minder dan memilih melipir dari hadapan Azzahra.
*
*
*
Bersambung ...
.Happy Reading❤️
__ADS_1