
Gavin mencari nomer kontak seseorang di ponselnya. Dia lalu mencoba menghubungi nomer telepon orang tersebut. Cukup lama Gavin menunggu sampai akhirnya orang yang dihubungi Gavin pun mengangkat panggilannya.
" Hallo ..." Suara wanita terdengar dari dalam ponsel Gavin.
" Hallo, Jo. Bagaimana kabar William?" Gavin membuka pembicaraan.
" Willy baik-baik saja. Hari ini Mama sudah mulai daftarkan dia di playgroup." Jovanka menjawab seputar kabar anaknya.
" Oh ya? William pasti sangat senang bisa bertemu banyak orang." Gavin menanggapi cerita Jovanka.
" Iya, aku memang ingin William bisa bergaul dengan banyak anak dan tidak pemalu."
" Pemalu seperti Mommy nya?" Gavin terkekeh mengingat bagaimana sosok Jovanka yang dia kenal dulu.
Jovanka tak merespon candaan Gavin hingga membuat hening seketika.
" Oh, maaf ..." Gavin segera meminta maaf, dia merasa jika Jovanka sepertinya terusik saat disinggung tentang sifatnya yang dulu.
" Hmmm, Jo ... apa kamu ada waktu? Istriku ingin kenal dan bertemu denganmu." Akhirnya Gavin mengatakan tujuannya menghubungi Jovanka.
" Istrimu ingin bertemu denganku? Ada apa?" Suara Jovanka tampak cemas.
" Dia hanya ingin mengenalmu. Kau tenanglah, dia tidak seperti Agatha." Gavin mencoba memberi penjelasan agar Jovanka tidak perlu merasa khawatir terhadap istrinya.
" Kapan istrimu ingin kemari?" tanya Jovanka kembali. " Lusa aku baru cuti bekerja," lanjutnya.
" Apa kau masih akan bekerja setelah menikah nanti?"
" Peter tak melarangku, dia bahkan minta aku membantu pekerjaan dia."
" Oh, oke. Apa kamu tidak keberatan jika istriku ingin bertemu denganmu sebelum pesta pernikahanmu nanti?" Gavin meminta kepastian.
" Baiklah, kapan dia akan menemuiku?"
" Aku jadwalkan lusa. Di mana bisa bertemu?"
" Di apartemen pemberian Papamu saja. Bagaimana? Aku tidak ingin banyak berkeliaran di luar saat jelang pernikahanku nanti."
" Oke, nanti aku beritahukan istriku. Terima kasih,. Jo. Maaf jika mengganggu waktumu."
" It's oke. Bye ..." Jovanka menutup teleponnya terlebih dahulu.
Setelah sambungan teleponnya dengan Jovanka selesai Gavin mencoba menghubungi nomer telepon istrinya.
" Assalamualaikum, Kak." Suara Azzahra tedengar dibarengi suara musik instrumental.
" Waalaikumsalam. Honey, kau sedang ada di mana ini?" tanya Gavin.
" Aku sedang ada di Mall, Kak."
" Di Mall?" Gavin membelalakkan matanya. Karena tadi istrinya itu meminta ijin akan kembali mengunjungi Natasha.
" Iya, Kak. Aku menemani Teh Tata ngemall." Azzahra terikik.
" Ya ampun, dia berkeliaran di Mall dengan perut yang buncit itu?" Gavin terkesiap. " Kalian hanya berdua?"
" Bertiga dengan Pak Hasan, Kak." Azzahra menyebut nama supir pribadi Natasha.
Gavin lalu mengalihkan panggilannya menjadi video call. " Mana adikku itu?"
" Ini ..." Azzahra mengarahkan kamera ponselnya ke arah Natasha.
" Hai, Kak ..." Natasha melambaikan tangannya ke arah layar ponsel Azzahra.
" Astaga, Alexa. Kau sedang apa di mall? Bukannya istirahat di rumah malah keluyuran begitu. Hati-hati perutmu sudah membesar seperti itu! Apa tidak lelah harus jalan lama di mall?" Gavin mencoba menasehati adik sepupunya itu.
" Refreshing, Kak. Bete tahu di rumah terus! Bumil juga 'kan perlu cuci-cuci mata, Kak. Biar baby nya senang." Natasha tertawa bahagia.
" Kalau Yoga tahu, aku yakin suamimu itu pasti akan langsung datang ke sana dan langsung menyeretmu pulang."
" Kak Gavin jangan bilang-bilang Mas Yoga, dong!" Natasha melarang Gavin mengadu pada suaminya itu.
" Sebaiknya kalian cepat pulang!" perintah Gavin.
" Kami baru saja sampai lho, Kak. Belum selesai menghabiskan uang suamiku, ini." Natasha terkikik.
" Pulang sekarang atau aku telepon suamimu saat ini juga!" tegas Gavin.
" Ck, Kak Gavin nggak asyik, deh!" Natasha berdecak.
" Aku telepon Yoga sekarang!" Gavin kembali mengancam.
__ADS_1
" Kak ...!!" Natasha mencebik.
" Kalau kamu nggak dengar Kakak, jangan salahkan Kakak kalau sebentar lagi Yoga yang akan menjemputnya!"
" Iya-iya!" Natasha nampak menggerutu. " Suamimu menyebalkan sekali, Ra."
Gavin sempat mendengar umpatan Natasha di telinganya.
" Halo, Kak ..." Kali ini suara merdu terdengar kembali di telinga Gavin.
" Honey, kenapa kau biarkan dia pergi?" Gavin menyanyangkan Azzahra yang malah mendukung Natasha berkeliaran dengan perut buncitnya.
" Teh Tata maksa, Kak." Azzahra membela diri.
" Iya, tapi kalau tiba-tiba perut Alexa sakit dan mau melahirkan gimana?" tanya Gavin.
" Teh Tata 'kan masih sebulanan lagi melahirkannya, Kak." Azzahra mencoba menerangkan.
" Iya tapi aku nggak ingin jika Alexa kenapa-kenapa lalu kamu ikut disalahkan dalam hal ini, Honey." Gavin mengutarakan rasa cemasnya.
" Maaf, Kak." Azzahra merasa bersalah.
" Ya sudah sekarang kamu ajak Alexa pulang."
" Iya, Kak. Assalamualaikum ..."
" Waalaikumsalam ...."
***
" Teh, ayo kita pulang!" Azzahra kemudian menarik tangan Natasha mengajaknya kembali pulang.
" Iisshh ... kenapa buru-buru sih, Ra?! Baru juga sampai." Natasha berkata dengan santai.
" Tapi kalau Kak Gavin telepon Kang Yoga gimana, Teh?" Azzahra merasa khawatir dengan ancaman suaminya tadi.
" Ck, urusan menjinakkan suamiku yang marah sih, kecil ..." Natasha mengibaskan tangannya ke udara.
" Ayo kita ke sana!" Natasha kini berganti menarik Azzahra menuju rak display pakaian dalam wanita.
" Ra, lingerie yang aku sama adikku kasih waktu kamu nikah dulu sudah habis belum?"
" Memangnya makanan bisa sampai habis, Teh?" Azzahra terkikik seraya menutup mulutnya.
" Iisshh ... kamu nggak tahu saja, suamiku kalau aku pakai pakaian ini suka nggak sabaran main robek-robek saja. Entah sudah berapa puluh lingerie terbuang karena ulah suamiku."
Azzahra membelalakkan matanya mendengar cerita Natasha yang nampak santai mengatakan hal itu tanpa merasa jengah apalagi di sana ada pengunjung pria yang langsung memperhatikan dan tersenyum nakal menatap tubuh Natasha dari atas sampai bawah.
" Kamu suka warna ini nggak, Ra? Aku belikan ya, beberapa potong untuk kamu." Natasha nampak sibuk memilihkan lingerie untuk Azzahra.
" Teh, nggak usah! Yang dulu saja masih belum terpakai." Azzahra teringat saat malam pertamanya dulu dengan Gavin. Gavin sengaja memasangkan pakaian tidur minim bahan itu ke tubuhnya, setelah itu dia tidak pernah berani memakai baju itu.
" Hah?? Belum terpakai? Kok bisa? Kamu sering berhubungan badan dengan Kak Gavin, kan?"
Beberapa orang yang ada di sana langsung memusatkan perhatiannya kepada Natasha.
" Teh, jangan keras-keras bicaranya! Malu dilihat orang!" Azzahra berbisik ke dekat Natasha.
Natasha yang menyadari semua mata menatap ke arahnya langsung menyeringai dan mendekati SPG pakaian dalam brand terkenal itu.
" Mbak, saya ambil ini, ya!" ucap Natasha kepada Mbak SPG.
" Baik, sebentar saya buatkan dulu notanya, Kak." SPG itu menyahuti Natasha ramah.
" Sekali-kali kamu harus menggoda suamimu sendiri, Ra. Daripada suami kamu di goda wanita lain!"
" Astaghfirullahal adzim." Azzahra beristighfar dalam hati.
" Ra, nanti kita ke outlet Gucci dulu, aku mau cari tas keluaran model baru," ujar Natasha.
" Belanja lagi?"
" Iya, dong!"
" Tapi tadi kita janji sama Kak Gavin ...."
" Kak Gavin itu hanya khawatir akan kandunganku. Tapi kamu lihat 'kan aku baik-baik saja, baby nya juga happy aku ajak jalan-jalan." Natasha memotong ucapan Azzahra.
" Ini notanya, Kak. Silahkan di kassa E." Mbak SPG menyerahkan nota kepada Natasha.
" Makasih ya, Mbak." Natasha mengambil nota itu dari tangan Mbak SPG. " Ayo, Ra ..." Natasha kemudian mengajak Azzahra menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
__ADS_1
***
" Assalamualaikum ..." Gavin mengucap salam saat membuka pintu apartemennya sepulang kerja.
" Waalaikumsalam, Kak." Azzahra yang baru keluar dari arah dapur langsung menyahuti salam yang diucapkan suaminya tadi.
" Kak Gavin sudah pulang?" Azzahra melirik jam yang belum melewati jam empat sore lalu mendekati sang suami, mencium punggung tangan suami dan mengambil tas kerja suaminya.
" Iya, karena aku mau cek apa istriku sudah pulang atau belum dari shopping nya." Gavin merangkulkan tangannya di pundak Azzahra seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Aku paham adik sepupuku itu seperti apa. Ancamanku tidak akan mempan untuknya. Hanya Yoga yang bisa mengendalikan dia."
" Habis belanja apa tadi dengan Alexa?" tanya Gavin menyelidik saat melihat beberapa goodie bag di sofa kamarnya.
" I-itu Teh Tata yang kasih, Kak." Azzahra menggigit bibirnya.
Gavin kemudian mengecek isi di dalam goodie bag itu. Dan bola matanya membulat saat dia mendapati beberapa pakaian dalam berbahan tipis dan transparan. Tak lama senyum nakal langsung nampak di sudut bibirnya.
" Kamu beli ini, Honey?" Gavin menyeringai memperlihatkan satu lingerie berwarna merah.
" Bukan aku yang beli, Kak. Itu Teh Tata yang beli." Azzahra menepis pertanyaan suaminya.
" Boleh juga nanti malam kamu coba. Kau akan semakin sek*si jika pakai ini, Honey. Sepertinya untuk urusan itu, kau cocok berguru pada Alexa, Honey."
Ucapan Gavin membuat Azzahra merona.
" Itu belum dicuci, Kak!"
" Ya sudah besok kau laudry saja semua yang dibeli Alexa."
" Laudry?"
" Iya."
" Malu dong, Kak!"
" Malu kenapa?"
" Malu kasih itu ke Abang laundry nya. Lagipula bahan sedikit begitu dicuci sendiri pakai tangan bisa, kok!" Azzahra lalu mengambil pakaian itu dari tangan Gavin.
" Ya sudah buruan dicuci lalu dikeringkan agar besok bisa kamu pakai, Honey. Aku sudah tidak sabar melihat kau memakai pakaian itu lagi." Gavin berbisik.
" I-iya, Kak. Tapi jangan robek-robek ya, Kak! Mubazir, buang-buang uang," pinta Azzahra.
" Kenapa dirobek?"
" Teh Tata bilang Kang Yoga suka robek baju tidurnya itu karena nggak sabaran." Dengan polosnya Azzahra menceritakan apa yang didengarnya tadi dari Natasha.
" Benarkah? Wah sepertinya aku harus mengikuti cara si Yoga itu." Gavin tergelak.
Spontan Azzahra memukul lengan suaminya.
" Astaghfirullahal adzim, Kak!"
" Bagi-bagi ilmu tak masalah, Honey. Kau berguru pada istrinya, aku berguru pada suaminya." Gavin kembali tertawa kencang.
" Oh ya, Honey. Aku sudah menghubungi Jovanka tadi. Dan dia ada waktu bisa bertemu denganmu lusa. Apa kau siap pergi ke Singapura besok lusa?" Gavin memberitahukan istrinya.
" Lusa?" Seketika jantung Azzahra berdebar kencang saat dia akan dipertemukan dengan mantan kekasih terindah suaminya itu.
" Iya, aku sudah pesankan tiket pesawatnya juga."
" Aku ke sana dengan siapa, Kak?" tanya Azzahra.
" Aku tidak bisa mengantarmu, Honey. Karena lusa aku harus menghadiri rapat penting sedangkan Papa ada urusan di Jepang.
" Lalu aku pergi sama siapa, Kak? Aku nggak pernah pergi ke luar negeri!" Azzahra seketika cemas saat dia mengetahui suaminya tidak bisa mengantarnya.
" Kamu nanti diantar sama Tante Linda ke sana. Nggak apa-apa 'kan kamu diantar Tante Linda?"
Azzahra menelan salivanya. Sesungguhnya dia berharap suaminya lah yang akan menemani dirinya bertemu Jovanka. Sudah bisa dibayangkan jika dia akan kebingungan nantinya tanpa ada sosok Gavin di dekatnya.
*
*
*
Bersambug ...
Happy Reading❤️
__ADS_1