KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Dilarang Tebar Pesona


__ADS_3

Gavin menautkan kedua alisnya saat adik sepupunya itu mengatakan jika wanita cantik yang pernah mencuri hatinya itu ternyata mengetahui keberadaan Azzahra.


" Kamu tahu di mana dia berada?" Gavin terlihat antusias.


" Iya kemarin aku ketemu dia." Natasha menyahuti.


" Di mana?" tanya Gavin cepat.


Natasha melirik Gavin dengan senyum tersungging di bibirnya, senyuman meledek tepatnya sembari berkata, " Ciee ... yang nggak sabaran ingin ketemu calon istrinya. Ciee ... yang bentar lagi mau menikah lagi." Tawa Natasha kembali terdengar. " Sudah nggak sabar ya mau ngerasain yang masih segar. fresh from the oven. Kalau yang dulu 'kan sudah rada-rada basi." Tak henti-hentinya Natasha meledek kakak sepupunya itu.


" Alexa ... Kakak serius ini ..." Gavin dibuat senewen dengan tingkah Natasha.


Natasha kemudian bangkit dan berjalan menuju meja kerja untuk mengambil ponselnya. Dia lalu menghubungi seseorang.


" Kamu telepon siapa? Rara?" tanya Gavin penasaran.


" Sssttt ..." Natasha menempelkan telunjuk ke dekat bibirnya meminta Gavin untuk jangan berkata-kata


" Hallo, Natasha ...?" sapa suara dari dalam ponsel Natasha saat hubungan telepon tersambung.


" Hallo Ci Lucy ... Ci, aku mau order buket lagi, dong." Natasha menyahuti pemilik Alabama Florist, orang yang diteleponnya.


" Boleh ... mau order buket atau apa, Nat?" tanya Lucy.


" Hmm ... aku mau standing flowers buat di butikku."


" Boleh ... mau pakai berapa?"


" Hmm ... satu, dua, tiga ... lima, Ci. Aku minta lima saja."


" Oke, Nat."


" Minta diantar ke butikku secepatnya ya, Ci."


" Oke."


" Oh ya, Ci. Aku minta ada pegawai wanita Ci Lucy yang ngawal kemari, bisa 'kan, Ci?"


" Oh, bisa-bisa. Nanti Cici suruh Anindita ikut ke sana."


" Jangan Anindita, Ci. Aku mau pegawai Ci Lucy yang baru itu. Azzahra ...."


" Azzahra? Kamu kenal Azzahra, Nat?"


" Iya, Ci. Ci Lucy nggak tahu ya, kalau dia itu buronan ..." Natasha menahan senyumnya seraya melirik ke arah Gavin yang terlihat menautkan alisnya mendengar perkataan Natasha yang mengatakan jika Azzahra adalah buronan.

__ADS_1


" Astaga? Azzahra buronan, Nat? Dia orang jahat maksud kamu?" Ci Lucy terdengar syok.


" Iya, Ci. Dia itu 'kan kabur, makanya melamar pekerjaan di tempat Ci Lucy. Dia itu sedang dicari-cari lho, Ci." Natasha menyeringai mendapati tatapan sorot mata Gavin.


" Ya Tuhan ... dia itu buronan karena kasus apa, Nat? Apa dia mencuri di butik kamu? Cici benar-bebar kecolongan sampai mempekerjakan penjahat di tempat Cici." Suara Ci Lucy terdengar lemas.


" Dia memang pencuri, Ci. Tapi bukan mencuri barang, tapi mencuri hati kakak sepupuku, Ci." Natasha langsung tertawa membuat Gavin membulatkan matanya karena tingkah konyol Natasha itu.


" Oh, astaga ... Cici kira beneran Azzahra itu melakukan tindakan kriminal, sampai lemas ini Cici. Kamu ini ada-ada saja, Nat." Lucy pun tertawa kecil mengetahui hal yang sebenarnya.


" Ternyata dia calon kakak ipar kamu ya, Nat?"


" Iya, Ci. Aku juga baru tahu ternyata Rara itu sudah dijodohkan dengan kakak sepupuku. Tapi ternyata mereka berdua sama-sama kabur menolak untuk dinikahkan. Heran deh anak jaman now dipilihkan jodoh yang baik-baik sama orang tua tapi malah nolak-nolak. Belum ngerasain yang namanya bucin akut, sih." Natasha menyindir seraya menjulurkan lidahnya ke Gavin yang memasang wajah geram mendengar celotehan Natasha.


" Hahaha ... kamu bisa saja, Nat. Ya sudah, nanti Cici suruh Azzahra yang ikut ke sana."


" Eh, Ci ... tapi nanti bilang sama supirnya jangan berani godain calon kakak ipar ku itu ya, Ci."


" Beres, Nat."


" Ya sudah, kalau gitu, Ci. Bill nya kirim via WA ya, Ci. Ntar aku transfer. Bye, Ci Lucy ..." Natasha langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Lucy.


" Kenapa kamu suruh dia kemari, Alexa?" protes Gavin.


" Iya, tapi bukan berarti aku ingin bertemu sama dia." keluh Gavin melipat tangan di dadanya.


" Aku pikir tadi Kakak antusias banget karena kangen ingin bertemu."


" Kalau aku bertemu dia, aku tidak bisa kabur lagi. Nanti aku malah disuruh antar dia pulang ke Bogor. Kamu cukup kasih tahu posisi dia di mana, biar nanti suruh orang tuanya sendiri saja yang menjemputnya." Itulah yang diinginkan Gavin sebenarnya.


" Oh astaga, Kakak kok jahat banget, sih. Nggak boleh gitu Kak sama wanita, apalagi wanita lemah lembut seperti Azzahra itu." Natasha menyesali sikap Gavin yang ingin lepas tanggung jawab.


" Lemah lembut katamu? Kamu belum tahu saja aslinya dia itu bagaimana ..." Gavin memutar bola matanya.


" Memang dia itu bagaimana?" Natasha penasaran.


" Ah, malas menceritakan dia. Sebaiknya aku pergi saja." Gavin bangkit dari duduknya.


" Eh-eh, Kak Gavin mau ke mana?" Natasha segera menyusul langkah Gavin.


" Aku mau kabur lagi."


" Eits ... tunggu dulu!" Natasha langsung berlari mendahului Gavin dan berdiri di depan pintu menghalangi niat Gavin yang ingin pergi.


" Alexa, biarkan Kakak pergi. Kakak tidak ingin menghabiskan sisa hidup Kakak dengan hidup dengan wanita itu."

__ADS_1


" Kak Gavin nggak adil banget, deh." Natasha melipat tangan di dadanya seraya mencebikkan bibirnya.


" Nggak adil bagaimana maksud kamu?"


" Dulu Kak Gavin bersedia dijodohkan oleh mommy kakak dengan Agatha. Kenapa sekarang menolak dijodohkan dengan Rara? Kenapa Kakak nggak mencoba menjalani hidup berumah tangga dengan Rara? Aku rasa Kakak itu lebih cocok dengan Rara ketimbang Agatha itu."


" Alexa, tujuan aku berpisah dengan Agatha itu karena aku ingin hidup bahagia dengan wanita yang aku cintai, bukan untuk kembali terjerumus dalam pernikahan pura-pura penuh sandiwara. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa rumah tangga kami. Pasti yang ada hanya pertengkaran, karena selama ini kami selalu berdebat tak pernah bisa akur. Lagipula dia bukan tipeku."


Natasha lalu mendekat ke arah Gavin lalu menarik tangannya menyuruh pria itu kembali duduk.


" Kakak tahu, bagaimana dulu aku bertemu dengan Mas Yoga? Awalnya antara aku sama suamiku itu selalu berdebat, apalagi aku yang selalu menghina dia, meremehkan dia. Tapi pada akhirnya ... justru rasa cinta yang akhirnya tumbuh di antara kami berdua. Kadang sebuah hubungan tidak selalu diawali dengan hal yang menyenangkan." Natasha mencoba membuka pikiran Gavin.


Gavin hanya menghela nafas mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan Natasha.


" Jadi sekarang aku nggak ijinkan Kakak pergi. Kakak harus bertemu dengan Rara, dan mengembalikan Rara ke rumah orang tuanya." Natasha kemudian menelpon seseorang.


" Sin ...."


" I-iya, Bu. Siap ... klik." Belum selesai Natasha mengakhiri kalimatnya, Sinta sudah mematikan panggilan teleponnya membuat Natasha terbengong menatap ponselnya. Namun tak lama pintu ruangan kerja terbuka dan muncullah Sinta di hadapannya.


" Ada apa, Bu?" tanya Sinta melirik ke arah Gavin.


" Sin, aku belum selesai bicara kenapa kamu matikan teleponnya? Lalu kamu kenapa pakai masuk segala?" tanya Natasha sedikit kesal.


" Ya kalau bicara secara langsung lebih jelas gitu lho, Bu." Sinta menyahuti sementara tatapan matanya masih memperhatikan Gavin seraya mengembangkan senyuman.


Natasha yang akhirnya menyadari apa yang dilakukan sekretarisnya itu langsung menutup mata Sinta dengan tangannya.


" Nggak usah lirik-lirik Kakak sepupuku, ya! Dia itu sudah punya calon istri, sebentar lagi dia mau menikah. Jadi kamu dilarang tebar pesona sama dia!" ancam Natasha.


" Ya ampun, Ibu tega banget, deh." Sinta mencebikkan bibirnya.


" Sudah kamu keluar saja, dan bilang sama security di depan kalau ada pegawai wanita yang antar buket bunga suruh ke ruanganku." Natasha mengusir sekretarisnya itu agar segera keluar dari ruang kerjanya.


*


*


*


Bersambung ...


Like juga komennya jangan lupa ya, makasih🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2