
Gavin keluar dari kamar mandi setelah Azzahra berlari keluar. Gavin yang menyadari jika istrinya tadi berada di kamarnya itu langsung melirik ke arah keranjang tempat dia sengaja menyampirkan kemejanya yang telah ditempelkan bibir dia yang sempat dia polesi lipstik.
Gavin menyeringai, dia merasa kalau ide gilanya itu sukses mengerjai sang istri.
Keesokan harinya ...
Gavin berjalan menuruni anak tangga. Dia melihat pintu kamar tamu yang dihuni Azzahra masih tetutup. Dia menduga jika istrinya itu sedang berada di dapur. Namun saat dia sampai di dapur tak dijumpainya Azzahra di sana. Dia pun tak melihat ada makanan tersaji di meja makan.
Gavin kemudian melangkah mendekati kamar tamu. Dia segera membuka handle pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Gavin mendapati Azzahra masih bergelung selimut hingga menutupi tengkuknya.
" Sudah hampir jam delapan masih tidur saja!" umpat Gavin.
" Hei, bangun ...!! Sudah siang ... !!" seru Gavin membangunkan Azzahra.
Tak ada respon dari Azzahra, Gavin mencoba membangunkan Azzahra kembali.
" Hei, bangun sudah jam delapan ini. Aku mau berangkat kerja." Gavin kini berjalan menghampiri Azzahra. " Ra, bangun ..." Gavin menepuk pipi Azzahra karena istrinya itu tak juga terbangun.
" Astaga, badan kamu panas. Kamu demam, Ra?" Gavin langsung menempelkan punggung telapak tangannya ke kening Azzahra saat dia merasakan hawa panas saat menepuk pipi Azzahra tadi.
" Ra, kamu sakit?" Gavin langsung menarik lengan Azzahra sehingga wanita itu yang awalnya tidur membelakanginya kini menghadap ke arahnya.
Gavin terkesiap saat dia mendapati mata Azzahra yang masih terpejam namun sembab di sekitar mata wanita cantik itu terlihat jelas. Ada rasa bersalah yang merayapi hati Gavin melihat wajah Azzahra yang nampak sendu.
Gavin segera berlari untuk mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadinya agar segera datang ke apartemen miliknya. Sementara dia sendiri segera mengambil wadah dan air hangat serta sapu tangan handuk yang akan dia gunakan untuk mengompres Azzahra.
" Ra, bangun ... aku buatkan bubur buat sarapan, ya! Nanti dokter sebentar lagi datang, perut kamu harus diisi."
Azzahra masih saja memejamkan matanya dan tak menanggapi setiap ucapan yang dikatakan suaminya itu.
Gavin kemudian beranjak menuju arah dapur dan membuatkan bubur untuk Azzahra.
Beberapa menit kemudian dokter pribadi Gavin pun tiba dan segera memeriksa Azzahra.
" Bagaimana, Dok?" tanya Gavin penasaran.
" Hanya kelelahan saja, tidak perlu khawatir. Nanti saya buatkan resepnya." Dokter Aliyah menjawab. " Biarkan Nyonya Azzahra istrihat dulu, sepertinya ada masalah yang sedang dia pikirkan juga."
Deg
Gavin langsung menelan salivanya saat Dokter Aliyah mengatakan sedang ada masalah yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Dan Gavin tahu masalah yang sedang dipikirkan Azzahra terjadi karena hasil ulahnya yang usil mengerjai sang istri.
__ADS_1
" Nanti saya suruh pegawai saya antarkan obatnya kemari, Tuan Gavin." Dokter Aliyah kemudian beranjak meninggalkan kamar Azzahra.
" Baik, terima kasih, Dok." Gavin menyahuti.
" Kalau begitu saya permisi, Tuan Gavin." Dokter Aliyah berpamitan.
" Silahkan, Dok." Setelah mengantar Dokter Aliyah sampai pintu apartemen, Gavin kembali ke arah dapur untuk mengambil bubur dan sup macaroni yang sengaja dia buat.
" Ra, bangun ... kamu sarapan dulu." Gavin mencoba membangunkan Azzahra yang sedari tadi masih terlelap, bahkan saat diperiksa oleh Dokter Aliyah pun Azzahra sama sekali seakan tak berminat membuka matanya.
Gavin mendekatkan wajahnya ke arah istrinya, kemudian menepuk pelan pipi Azzahra.
" Ra, bangun ... ayo bangun. Kamu mau minum obat, harus masuk makanan dulu. Aku sudah buatkan bubur dan sup untuk kamu. Ayo dimakan nanti keburu dingin nggak enak." Gavin berbisik di telinga Azzahra seraya memberikan kecupan-kecupan di wajah Azzahra yang masih terasa hangat.
Azzahra menggeliat saat mendengar suara di telinganya apalagi saat pipinya tak henti-henti dihujani ciuman oleh Gavin.
" K-kak Gavin?" Azzahra langsung terkesiap saat melihat wajah Gavin bergitu dekat dengan wajahnya, apalagi saat melihat Gavin tersenyum kepadanya. Ah ... rasanya Azzahra begitu merindukan suaminya itu yang kadang suka membuatnya kesal. Dia merasa senang melihat suaminya itu sepertinya sudah tidak marah lagi kepadanya. Rasanya dia ingin sekali memeluk suaminya itu. Namun tiba-tiba dia teringat akan noda lipstik dan parfum di baju kemeja suaminya semalam membuat dadanya kembali merasa sesak.
" Mau apa Kak Gavin kemari?!" Azzahra mendorong tubuh Gavin agar menjauh dari tubuhnya.
" Kamu demam, Ra. Kamu harus makan dulu. Ini aku buatkan bubur untukmu. Mau aku suapin?" tanya Gavin mengambil mangkuk bubur yang sudah dia campur sup.
" Untuk apa Kak Gavin perduli sama aku?" Azzahra membuang muka, dia tak ingin menerima suapan dari suaminya itu.
" Tentu saja aku perduli sama kamu, kamu ini istriku," sahut Gavin.
Azzahra tersenyum sinis. " Bukankah sekarang ini Kak Gavin sudah punya wanita lain. Untuk apa perduli aku lagi? Pergi saja sana dengan selingkuhan kamu." Azzahra menyibak selimut dan hendak turun dari peraduan.
" Kamu mau ke mana?" Gavin menaruh kembali mangkuk bubur ke atas nakas saat dilihatnya Azzahra ingin bangun dari tempat tidur.
" Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku! Aku nggak sudi dimadu." Azzahra hendak berdiri namun tubuhnya terasa lemas karena seharian kemarin dia tidak menyentuh makanan karena merasa kepikiran dengan sikap Gavin.
Tubuh Azzahra terkulai hampir terjatuh ke lantai kalau saja tangan kokoh Gavin terlambat merengkuh tubuh istrinya.
" Kamu nggak bertenaga begini mau nekat pulang ke Bogor?" sindir Gavin.
" Lepaskan!! Jangan sentuh aku!!" Azzahra segera menepis tangan Gavin yang kini memeluk tubuhnya.
" Memangnya kamu nggak kangen aku peluk seperti ini?" Gavin menyeringai seraya mengedipkan matanya.
" Untuk apa kangen sama buaya buntung seperti kamu!" tepis Azzahra membohongi hatinya sendiri.
__ADS_1
" Masa sih nggak kangen sama suami kamu ini?" Gavin tak melepas pelukannya, dia malah mengangkat tubuh Azzahra dan membawanya keluar kamar tamu dan berjalan menuju kamarnya.
" Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Azzahra terkesiap saat Gavin menaiki anak tangga.
" Ke kamar kita." Gavin menyahuti.
" Aku nggak mau!! Lepaskan!! Jangan kamu pikir aku mau melayani kamu setelah kamu bermesra-mesraan dengan wanita lain!! Aku nggak sudi!!" tegas Azzahra terus meronta mencoba melepaskan diri dari lengan kokoh suaminya.
" Kamu mau melawan sama suamimu?"
" Suami nggak punya perasaan!!"
" Siapa yang nggak punya perasaan, hmm?"
" Kamu!!"
" Nggak punya perasaan apanya?"
" Aku suami siaga gini, kok! Istri sakit langsung aku panggilkan dokter. Aku buatkan bubur. Harusnya kamu bersyukur punya suami pengertian seperti aku."
" Kalau suami pengertian nggak akan selingkuh dengan wanita lain!" geram Azzahra.
" Siapa yang selingkuh, sih?" Gavin merebahkan tubuh Azzahra di atas tempat tidur di kamarnya.
" Kamu! Kamu yang selingkuh!" pekik Azzahra kesal.
" Aku nggak selingkuh, tuh!" tepis Gavin santai.
Azzahra langsung melirik keranjang pakaian kotor, dia masih melihat kemaja suaminya itu di sana. Dengan cepat dia berjalan dengan sempoyongan ke arah keranjang pakaian itu.
" Ini apa?? Buktinya ada di sini!! Ini lipstik siapa? Ini bau parfum siapa kalau bukan selingkuhan kamu?!" Azzahra menghampiri Gavin kemudian memukuli suaminya dengan kemeja itu. " Kamu jahat banget sih jadi orang!" Azzahra seketika terisak dan terduduk di tepi tempat tidur seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1