KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Kartu Nama


__ADS_3

Agatha menatap sinis ke arah Natasha yang mengusirnya secara halus.


" Hai, Nona Natasha," Agatha menyapa basa-basi kemudian menoleh ke arah Yoga yang duduk di samping Natasha.


" Apa dia ini suami Anda, Nona Natasha?" tanya Agatha, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Yoga mengajaknya bersalaman.


Natasha yang melihat Agatha ingin bersalaman dengan Yoga langsung memeluk tubuh suaminya itu.


" Iya, dia ini suami saya! Nyonya jangan pegang-pegang suami saya! Dia itu cuma punya saya! Dia juga nggak minat dengan wanita yang jauh lebih tua darinya. Jadi sebaiknya Nyonya menyingkir saja dari sini!" usir Natasha bernada ketus.


Azzahra sendiri sampai menahan nafasnya memperhatikan bagaimana Natasha berusaha melindungi miliknya dari wanita seperti Agatha. Mungkin jika dia yang berposisi seperti Natasha dia tidak akan punya keberanian untuk melakukan itu.


" Kau dengar Agatha. Kehadiranmu di sini sangat mengganggu dan sangat tidak diinginkan. Jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini!" usir Gavin kemudian.


" Baiklah ... it's oke kalau aku mendapat penolakan di sini. Aku harap kalian tidak menyesal telah mengusirku." Agatha tersenyum licik kemudian berlalu dari hadapan mereka berempat.


***


Selama perjalanan pulang ke apartemen, Azzahra lebih banyak terdiam. Bukan karena semua perkataan Natasha yang menggodanya, tapi pertemuan dengan mantan istri dari suaminya itu. Azzahra merasa khawatir jika wanita itu akan terus mengusik kehidupan rumah tangganya bersama Gavin. Dari yang dia dengar tadi dari Gavin, Natasha dan Yoga setelah kepergian Agatha, dia mengetahui jika Agatha itu sangatlah licik. Apalagi jika mendengar ancamanya tadi. Dan dia bukanlah Natasha yang bisa berani berdebat dengan Agatha.


" Honey, kenapa? Masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Gavin saat diliriknya istrinya itu sedang termenung.


.


Azzahra menoleh ke arah suaminya seraya mendesah.


" Apa Nyonya itu akan terus mengusik kita, Kak?" tanya Azzahra mengungkapkan kekhawatirannya.


" Aku pastikan dia tidak akan berani mengganggumu, Honey." ucap Gavin menegaskan.


" Tapi aku takut, Kak. Nyonya itu terlihat galak," Azzahra masih belum yakin jika wanita tidak akan mengusiknya.


" Jika dia datang ke apartemen sebaiknya kau jangan bukakan pintu untuknya. Kau bisa lihat dari CCTV, kan?" Gavin terus berusaha meyakinkan istrinya.


Azzahra pun menganggukkan kepalanya.


" Maaf aku nggak bisa seperti Teh Natasha yang bisa melawan Nyonya itu," lirih Azzahra.


" Hei, jangan samakan dirimu dengan Alexa. Kamu adalah kamu, jangan rubah dirimu seperti dia kecuali kalau urusan melayani suami, kau memang mesti banyak belajar darinya." Gavin menyeringai membuat Azzahra mencebikkan bibirnya.


" Kak, nanti mampir ke supermaket sebentar, ya! Banyak bahan makanan yang habis," ucap Azzahra kemudian.


" Oke, Honey ..." Gavin menyahuti.


Tak sampai sepuluh menit mobil yang dikendarai Gavin sampai di supermarket yang menjual bahan makanan segar.

__ADS_1


Di dalam supermarket Azzahra mencari semua bahan makanan yang dia butuhkan untuk beberapa hari ke depan, sementara Gavin membantunya membawa troli.


" Honey, kau tahu ... terakhir kali aku menyentuh ini saat aku menaikinya saat aku masih kecil ketika Mommy ku membawaku belanja." Gavin menunjuk ke arah troli yang dipegangnya.


" Memang selama ini Kak Gavin nggak pernah belanja ke supermarket? Bukannya Kak Gavin juga suka memasak?" tanya Azzahra heran


" Aku biasa suruh orang untuk belanja. Tapi sepertinya sekarang ini aku harus terbiasa mendorong ini karena menemanimu belanja. Selanjutnya aku akan mendorong stroller baby kita." Gavin kemudian merangkulkan tangannya ke pundak Azzahra hingga membuat wajah Azzahra bersemu merah.


" Hai, Gavin ...."


Keasyikan Gavin dan Azzahra yang sedang bercanda ringan seketika terusik dengan kehadiran seorang wanita dewasa cantik di hadapan mereka.


Gavin dan Azzahra saling berpandangan dan sama-sama mengerutkan keningnya.


" Masih ingat saya?" tanya wanita yang mengenakan dress di atas lutut dengan handbag menggantung di lengannya.


" Maaf, saya rasa saya tidak mengenal Anda, Nyonya." Gavin merasa tidak mengenali wanita itu.


" Kita pernah bertemu di acara wedding party beberapa bulan lalu, Saya Helen, salah satu teman sosialita nya Agatha," ujar wanita


Sementara Gavin masih berpikir, Azzahra seperti sudah mengingat siapa wanita di hadapannya itu.


" Kak, bukankah dia ini, Tante-tante yang ingin menculik Kak Gavin dulu di pestanya Teh Natasha?" bisik Azzahra sambil berjinjit karena postur tubuh Gavin yang lebih tinggi darinya.


" Oh, maaf, Nyonya. Saya sudah tidak ada sangkut paut dengan Agatha," tegas Gavin kepada wanita yang bernama Helen itu.


" Ah, tidak-tidak ... ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan Agatha, kok." Helen mengulum senyum seraya memainkan ujung rambutnya yang ikal.


Azzahra yang melihat Helen yang dia duga berusia tidak jauh beda dengan Agatha langsung memutar bola matanya menanggapi sikap flirting wanita itu terhadap suaminya.


" Apa kita bisa ngobrol-ngobrol berdua sambil ... ya minum kopi, gitu? Saya rasa Agatha tidak akan marah, kan? Kalau saya dekat denganmu, Gavin." ucap Helen dengan nada bicara dibuat manja seraya menggigit bibirnya.


Kali ini bola mata Azzahra yang membulat sempurna melihat wanita itu terang-terangan menggoda suaminya di hadapan matanya sendiri.


" Nyonya Agatha tidak akan marah, tapi saya yang akan marah! Tante jangan coba-coba berani menggoda suami saya, ya!" Entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba saja Azzahra menarik lengan Gavin hingga saat ini Gavin berada di belakang Azzahra berdiri.


" Suami?" Helen memperhatikan Azzahra dari atas sampai bawah, lalu dia menoleh ke arah Gavin. " Memang dia istrimu?"


" Iya, saya memang istrinya. Apa Tante nggak percaya?" Azzahra lalu meraih tangan Gavin lalu memperlihatkan jari manisnya dengan jari Gavin yang tersemat cincin pernikahan dengan desain yang sama ke arah Helen.


" Ini cincin pernikahan kami!" tegas Azzahra berapi-api.


Sedangkan Gavin sendiri hanya tersenyum melihat tindakan posesif yang dilakukan istrinya tadi. Walaupun awalnya dia sempat kaget dan tidak menyangka istrinya bisa bersikap begitu namun tentu saja dia sangat menikmatinya.


" Oh, maaf bukannya saya tidak percaya, tapi ... kamu ini saya rasa nggak cocok berdampingan dengan Gavin yang charming, fashionable dan keren. Mestinya Gavin itu lebih pantas dengan wanita sosialita seperti saya," cibir Helen.

__ADS_1


" Saya rasa lebih tidak cocok lagi jika suami saya ini berdampingan dengan tante-tante seperti Tante ini. Cukup satu kali suami saya ini melakukan kesalahan menikah dengan tante-tante!" ketus Azzahra.


" Sudahlah, nggak level saya bicara dengan kamu." Helen mengibas tangannya ke udara, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


" Hmmm, Gavin ... jika kamu berubah pikiran dan mau menerima ajakan saya, hubungi saja saya di sini." Helen kemudian menyodorkan kartu namanya ke arah Gavin.


Azzahra ingin menyambar kartu nama itu tapi tangan Gavin lebih dulu meraih kartu nama Helen.


" Baiklah, Nyonya." Gavin menyahuti seraya memperhatikan kartu nama itu.


" Panggil saja saya Helen, Gavin." pinta Helen.


" Baiklah, Helen ...." Gavin tersenyum membuat Helen tersipu malu.


Tentu saja sikap Gavin membuat Azzahra membelalakkan matanya. Sedangkan wajahnya sudah terlihat merah padam karena suaminya itu malah meladeni Helen.


" Saya tunggu telepon kamu ya, Gavin." Helen mengedipkan matanya ke arah Gavin kemudian melirik ke arah Azzahra dengan senyum memperolok, sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan Gavin dan Azzahra.


Azzahra memberengut kesal dengan dada bergemuruh. Hatinya seketika terasa sakit mendapati suaminya itu meladeni wanita tadi. Apalagi saat dilihatnya mata suaminya itu menatap tanpa kedip ke arah punggung Helen yang semakin menjauh. Bola mata Azzahra kini mulai mengembun, hawa panas pun mulai menyerang di sekitar matanya hingga siap menumpahkan lelehan cairan yang akan membanjiri pipinya.


" Aku mau pulang!" ketus Azzahra seraya berjalan meninggalkan Gavin.


" Hei, Honey ... ini belanjaannya bagaimana?" tanya Gavin seolah tak bersalah.


" Aku nggak perduli!!" Azzahra kemudian terlihat berlari menjauh dari Gavin.


Gavin yang melihat istrinya merajuk langsung menyeringai. Dia lalu menatap kembali kartu nama milik Helen.


" Aku punya kartu debit, punya kartu blackcard juga. Aku rasa kartu ini tidak bermanfaat untukku." Gavin kemudian merobek kartu nama milik Helen dan membuangnya sembarang lalu berjalan menyusul sang istri.


*


*


*


Bersambung ...


Readers KCA yg blm mampir di karyaku Anindita, Sepenggal Kisah Masa Lalu, dimohon mampir di sana ya, Biar bisa naikin level karya ASKML itu, Makasih🙏



Happy Reading❤️


"

__ADS_1


__ADS_2