
Gavin sedang asyik memperhatikan Azzahra yang sedang tertidur dengan posisi tubuh miring ke arah kiri. Dia memainkan anak rambut wanita cantik itu yang tumbuh di sekitar kening Azzahra.
Gavin merasa jika dia merasa beruntung dipertemukan dengan wanita sederhana seperti Azzahra. Walaupun wanita itu sangat polos namun dia begitu sangat mencintainya.
Ddrrtt ddrrtt
Gavin segera bergegas mengambil ponselnya dan ternyata Rizal lah yang saat ini menghubunginya.
" Halo, bagaimana Pak Rizal? Apa ada perkembangan baru?" tanya Gavin saat dia mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
" Selamat siang, Tuan Gavin. Maaf mengganggu waktunya. Saya hanya ingin menginfokan jika pelaku utama wanita penyerangan terhadap terhadap Tuan Gavin sudah berhasil kami lumpuhkan, namun rekannya berhasil kabur." Rizal melaporkan.
" Maksud Pak Rizal ... Grace ini sudah tertangkap?" Gavin mencoba memperjelas perkataan Rizal.
" Benar, Tuan Gavin. Namun saat ini dia sedang dalam perawatan di rumah sakit karena rekannya itu ternyata berkhianat dengan menyayat leher Nona Grace untuk membuatnya bisa meloloskan diri dari kami." Rizal menjelaskan.
" Grace mengalami luka karena rekannya? Bagaimana keadaan dia sekarang? Apa parah?" Walaupun Grace sudah menyakitinya, Gavin tetap merasa khawatir mendengar perkataan Rizal yang mengatakan jika Grace terluka.
" Nona Grace sudah dalam perawatan, untung saja senjata itu tidak mengenai nadinya." Rizal memberitahukan kondisi Grace terkini.
" Syukurlah kalau begitu." Gavin menarik nafas lega mengetahui Grace bisa terselamatkan karena bagaimanapun dia tak tega melihat Grace sampai mendapatkan celaka.
" Apa Pak Rizal sudah memberitahukan Dad David?" tanya Gavin kemudian.
" Sudah, Tuan. Om David meminta saya segera mengabari Anda," sahut Rizal.
" Baiklah, Pak Rizal. Terima kasih untuk informasinya. Oh ya, Pak Rizal. Apa saya bisa mengunjungi Grace?" tanya Gavin kemudian.
" Tentu saja, Tuan. Nanti saya share lokasi rumah sakit dan kamar rawatnya."
" Terima kasih, Pak Rizal."
" Sama-sama, Tuan Gavin."
Gavin pun segera mengakhiri percakapan teleponnya bersama Rizal.
***
" Permisi, Pak. Pak di luar ada Nyonya Agatha. Dia memaksa ingin bertemu dengan Pak David." Maria yang masuk ke dalam ruangan Dad David melaporkan kedatangan Agatha.
" Ada apa dia kemari?" Dad David mengeryitkan keningnya.
" Saya kurang tahu, Pak." Maria menjawab pertanyaan bosnya itu.
" Baiklah, suruh dia masuk. Dan tolong kamu siapkan security untuk jaga-jaga jika wanita itu berbuat keributan di tempat ini, Maria!" perintah Dad David kepada Maria.
" Baik, Pak." Maria kemudian keluar dari ruangan Dad David.
Beberapa menit kemudian Maria sudah membawa Agatha masuk ke dalam ruangan Dad David.
" Selamat pagi, Tuan David." Agatha menyapa Dad David saat masuk ke ruangan Dad David.
" Silahkan masuk, Nyonya Agatha." Dad David tetap bersikap ramah mempersilahkan Agatha duduk di sofa dalam ruangannya.
" Ada keperluan apa Anda menemui saya, Nyonya Agatha?" tanya Dad David kepada wanita yang pernah menjadi menantunya itu.
__ADS_1
" Tuan David, saya mohon kepada Tuan untuk melepaskan anak saya Grace. Saya tahu jika yang dilakukan anak saya itu suatu hal yang berbahaya, tapi percayalah, Tuan. Semua itu karena pengaruh buruk dari temannya. Jadi saya mohon agar Tuan bisa mencabut perkara penyerangan itu." Agatha menyampaikan permohonannya kepada Dad David untuk membebaskan Grace dari jeratan hukum yang menimpa anaknya itu.
Dad David menghela nafas dalam-dalam. Sejak wanita itu menjadi istri Gavin, Dad David memang tidak menyukai Agatha. Dad David bahkan sempat kaget saat mengetahui Gavin menikah dengan wanita yang hampir seumuran dengan Mommy nya sendiri. Apalagi saat dia ketahui jika Agatha pernah menyebar berita tak sedap di lingkungan tempat orang tua Azzahra tinggal, sampai kejadian terakhir penyerangan terhadap Gavin, membuat rasa kesalnya terhadap wanita yang berusia sebaya dengan istrinya sekarang ini semakin menguat.
" Apa Anda tahu apa yang diperbuat oleh putri Anda telah membahayakan tiga nyawa sekaligus, Nyonya? Putra saya, menantu saya dan calon cucu saya!" Dad David menatap dengan sorot mata dingin.
" Saya tahu, Tuan. Anak saya telah salah jalan. Dia bahkan terluka dan hampir tewas oleh teman prianya itu. Karena itu saya memohon bebaskanlah anak saya, saya janji akan mengawasi anak saya agar tidak melakukan hal buruk lagi kepada keluarga Anda, Tuan David." Agatha terus memohon.
" Anda bilang anak Anda hampir tewas? Apa Anda tidak berpikir jika anak saya pun hampir tewas di tangan anak Anda jika saja malam itu tidak ada orang yang menolongnya!" Dad David tidak bisa menutupi rasa kesalnya karena Agatha yang seolah bermain playing victim.
Agatha menelan salivanya. Memang apa yang dikatakan Dad David memang benar.
" Tapi saya mohon, Tuan. Saya mohon kemurahan hati Tuan David. Grace anak saya satu-satunya. Saya tidak ingin dia semakin hancur jika harus mendekam di penjara." Agatha terisak saat mengucapkan kalimat itu.
" Saya tidak tahu apa yang sudah Anda tanamkan terhadap anak Anda tentang Gavin, sehingga dia sangat membencinya sampai hampir mencelakainya!"
" Saya masih tidak mengerti kenapa Amanda menyerahkan anaknya kepada wanita seperti Anda, Nyonya Agatha." Dad David benar-benar menyesali keputusan mantan istrinya itu menikahkan Gavin dengan Agatha.
" Tuan David, saya mohon ..." Agatha sampai turun berlutut di samping Dad David hingga membuat Dad David terbelalak.
" Nyonya, apa yang ada lakukan? Anda tidak perlu berlutut kepada saya! Apa yang anak Anda lakukan adalah suatu perbuatan kriminal, dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya agar ada efek jera baginya." Dad David seakan tak perduli dengan apa yang dilakukan Agatha.
" Tuan David, tolonglah ... saya mohon maafkan anak saya, Tuan. Tuan boleh menghukum dia tapi tolong jangan penjarakan, Grace. Jangan tuntut dia ke jalur hukum, Tuan." Agatha semakin kencang menangisinya. Dia benar-benar merasa terpukul atas apa yang terjadi dengan putrinya sekarang ini.
***
" Aku akan mengunjunginya di rumah sakit, Dad. Aku ingin tahu bagaimana kondisi dia saat ini."
Azzahra mendengar suaminya sedang berbincang di telepon yang sepertinya berbicara dengan Dad David saat dia keluar dari kamar mandi.
Azzahra semakin mengeryitkan keningnya mendengar nama Agatha disebut dalam pembicaraan antara suami dan ayah mertuanya.
" Baiklah, Dad. Iya, aku akan hati-hati, Assalamualaikum ...."
" Siapa yang di rumah sakit, Kak?" Azzahra buru-buru menanyakan saat suaminya itu mengakhiri percakapan di telepon dengan Dad David.
Gavin terperanjat saat menyadari kehadiran istrinya saat dia selesai berbincang dengan Dad David di telepon. Karena hari ini Gavin masih belum aktivitas ke kantor atas perintah Dad David yang menyuruhnya untuk beristirahat dulu di rumah.
" Honey ..." Gavin langsung merangkul pundak istrinya.
" Siapa yang sakit? Siapa yang ingin Kak Gavin jenguk? Apa Nyonya Agatha?" Azzahra menduga-duga karena dia tadi sempat mendengar suaminya menyebut nama Agatha.
" Hmmm, sini aku jelaskan." Gavin membawa Azzahra duduk di tepi tempat tidur.
" Setelah diselidik oleh Pak Rizal, ternyata pelaku penyerangan kepada kita kemarin itu adalah Grace, dia anak dari Agatha."
Azzahra langsung terbelalak seraya membuka mulutnya lebar.
" Astaghfirullahal adzim, a-anaknya Nyonya Agatha?"
" Iya." Gavin menganggukkan kepala.
" Ya Allah, lalu kenapa dia menyerang Kak Gavin? Apa dia merasa sakit hati karena Kak Gavin bercerai dengan Nyonya Agatha?" Azzahra benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia dengar dari suaminya.
" Ya sepertinya memang begitu. Aku nggak tahu dari mana asal kebenciannya itu. Karena dulu kami hampir tidak pernah bertemu. Aku hanya jumpa saat dia berusia lima belas tahun sekitar empat tahun lalu." Gavin menjelaskan kepada Azzahra.
__ADS_1
" Empat tahun lalu? Berarti sekarang dia baru sembilan belas tahun, Kak? Ya Allah semuda itu sudah salah jalan, sampai berbuat kriminal bahkan hanpir mencelakai orang lain." Azzahra sangat prihatin dengan apa yang dialami oleh Grace.
" Kau benar, Honey. Masih muda telah berbuat kesalahan yang fatal." Gavin menghela nafas panjang.
" Kau tahu, Honey ... Tadi Dad David bilang jika Agatha datang ke kantor Dad ...."
" Untuk apa Nyonya Agatha datang ke kantor Papa, Kak?" tanya Azzahra penasaran sampai memotong kalimat suaminya.
" Untuk meminta aku kembali padanya agar anaknya itu tidak dendam lagi kepadaku." Gavin berkelakar hingga membuat mata Azzahra melotot.
" Kak ...!" Azzahra memukul lengan Gavin karena dia tahu jika suaminya sedang menggodanya.
Gavin tergelak melihat mata Azzahra membulat sempurna.
" Agatha memohon kepada Dad agar Dad mencabut perkara perihal penyerangan itu. Dia memohon sampai berlutut dan menangis di hadapan Dad David, meminta agar Dad memaafkan dan melepaskan Grace."
Azzahra kembali terperanjat mengetahui seorang Agatha yang sepintas dia kenal sebagai sosok yang angkuh dan keras kepala harus rela merendahkan diri berlutut di depan Papa mertua Azzahra itu.
" Nyonya Agatha sampai berlutut, Kak?" Azzahra masih belum percaya.
" Ya, apapun akan dilakukan oleh seorang Ibu untuk menolong anaknya walaupun jelas-jelas anaknya itu salah. Meskipun kasusnya beda, tapi kau bisa lihat, Honey. Apa yang dilakukan Agatha bisa dijadikan contoh. Agatha sampai merendahkan harga dirinya dan membuang rasa malunya untuk menyelamatkan anaknya. Naluri seorang Ibu tidak akan rela melihat anaknya menderita. Aku sendiri tidak menyangka Agatha sampai rela berbuat seperti itu untuk menolong Grace. Begitu besar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya." Gavin membelai rambut panjang Azzahra.
" Iya, Kak. Aku mengerti dan aku berjanji untuk tidak mengecewakan Umi!" tekad Azzahra.
" Ya sudah, aku mau siap-siap dulu sekarang." Gavin kemudian bangkit ingin berganti pakaian.
" Aku ikut, Kak." Azzahra ikut bangkit menyusul suaminya itu.
" Honey, sebaiknya kau di rumah saja. Kau sebaiknya istirahat di sini atau kau mengobrol dengan Tante Linda."
" Aku nggak mau, aku mau ikut Kak Gavin! Aku juga ingin bertemu dengan Grace, aku ingin berbicara dengan dia, Kak!" Azzahra memaksa ingin tetap ikut.
" Kau ingin bicara apa dengan dia, Honey? Untuk apa?" Gavin mengeryitkan keningnya.
" Aku ingin dia nggak salah paham terhadap Kak Gavin. Aku ingin beritahukan dia jika suamiku ini orang baik, tidak seperti yang dia pikirkan. Agar dia bisa melupakan kebencian dan rasa dendamnya terhadap Kak Gavin." tekad Azzahra.
Gavin menatap penuh haru istrinya itu.
" Terima kasih, Honey. Kau menang seorang istri yang luar biasa. Aku beruntung memikimu. Tapi kau tak perlu seperti itu. Satu pelaku rekan Grace berhasil kabur dan masih buron. Aku takut pria yang ternyata pacarnya itu akan berkeliaran di sana untuk kembali mencelakai Grace." Gavin mengungkapkan rasa khawatirnya.
" Melukai Grace? Maksudnya, Kak?" Azzahra merasa tidak mengerti ucapan Gavin.
" Pacar Grace itu menyayat leher Grace agar dia bisa kabur dari penyergapan yang dilakukan oleh Pak Rizal dan Pak Vito." Gavin menjelaskan apa yang dia dengar dari Rizal.
" Grace dikhianati pacarnya? Ya Allah, kasihan sekali. Tapi aku ingin tetap ikut, Kak! Aku ingin menghibur Grace. Aku tahu pasti rasanya sedih dikhianati oleh orang yang dia cintai ...."
Gavin menatap istrinya lalu bertanya, " Honey, kau tidak sedang curhat, kan?"
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️