KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Untuk Apa Cari Kak Rama?


__ADS_3

" Mom, kenapa di setiap acara ulang tahun Rayya, foto keluarganya Om Ricky sama Tante Anin, Kak Rama nggak pernah ada ya, Mom? Adanya hanya Kak Arka sama Thalita saja?" tanya Rayya heran saat memperhatikan album foto ulang tahun Rayya di setiap tahunnya yang masih tersimpan rapih.


" Oh, itu ... kalau Tante Anin bilang sih katanya Kak Rama malu harus datang ke acara ulang tahunnya anak kecil." Azzahra teringat apa yang pernah dikatakan oleh Anindita saat ulang tahun pertama Rayya sekitar tujuh tahun lalu.


" Kak Rama itu baik banget ya, Mom?"


Azzahra yang sedang mengganti perban di lutut Rayya langsung melirik anaknya yang sedang tersenyum saat mengangumi sosok anak dari sahabatnya itu.


" Karena sudah menolong Rayya?" tanya Azzahra karena sebelumnya dia tidak pernah melihat anaknya itu menyebut apalagi mengagumi sosok anak laki-laki lain selain Alden, saudara sepupunya itu.


Rayya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


" Oh ya, Mom. Memangnya Rayya sama Kia itu masih saudara dengan Kak Rama ya, Mom? Seperti Rayya dan Kak Alden?" Rayya tiba-tiba teringat perkataan Ramadhan kepada temannya yang sempat mengatakan jika dia dan Azkia adalah adik-adik Ramadhan.


" Bukan, Rayya. Mom Rara sama Tante Anin itu sudah berteman baik, seperti Mom Rara berteman dengan Auntie Tata dan Tante Rania." Azzahra menjelaskan.


" Auntie Tata 'kan saudara Mom, bukan teman!" protes Rayya cepat sehingga membuat Azzahra terkekeh.


" Auntie Tata itu saudara dan juga teman buat Mom Rara. Nah, kalau Daddy Gavin sama Om Ricky, mereka itu rekan bisnis, Sayang."


" Rekan bisnis itu apa, Mom?" Kening Rayya berkerut.


" Rekan bisnis itu, seperti teman tapi dalam urusan pekerjaan."


" Begitu ya, Mom?" Rayya menganggukkan kepalanya.


" Iya, Sayang."


" Hmmm, kalau Rayya mau berteman sama Kak Rama boleh 'kan, Mom?" tanya Rayya kemudian.


" Boleh saja, tapi Rayya 'kan perempuan sedangkan Kak Rama laki-laki, lagipula Rayya dan Kak Rama itu 'kan beda sekolah. Kak Rama sudah kelas delapan, Rayya baru kelas dua." Azzahra memberi pengertian kepada Rayya


" Jadi Rayya bertemannya dengan Kia dan Fa saja yang sesama perempuan." Azzahra menasehati.


" Tapi Kia di sekolah itu senangnya main sama anak laki-laki, Mom. Kadang kalau Rayya ajak main sama teman-teman yang perempuan Kia suka nggak mau, Mom." Rayya menceritakan kebiasaan sepupunya itu.


" Mungkin karena Kia suka karate jadi senangnya main sama anak laki-laki."


" Mom, Rayya juga ingin belajar karate seperti Kia dong, Mom."


" Belajar karate?" Azzahra mengeryitkan keningnya.


" Iya biar hebat seperti Kia. Biar kalau ada anak laki-laki yang nakal sama Rayya nanti Rayya tendang burungnya."


" Astaghfirullahal adzim! Rayya nggak boleh bicara seperti itu! Nggak boleh pakai kekerasan, Sayang." Azzahra terpekik saat mendengar ucapan Rayya.


" Tapi kata Kia kalau ada anak laki-laki yang ganggu suruh tendang burungnya pasti langsung kalah." Rayya menyampaikan apa yang dia dengar dari Akzia.


" Nggak, Sayang. Mom Rara nggak kasih Rayya ijin berbuat seperti itu, ya!" Azzahra memperingatkan anaknya.


" Tapi kata Kia ...."

__ADS_1


" Rayya ..." Kedua tangan Azzahra menyentuh pundak Rayya. " Tidak semua yang dilakukan orang lain harus kita ikuti. Kita harus bisa memilih hal itu baik atau tidak untuk ditiru. Rayya paham apa yang Mom Rara bilang?"


" Iya, Mom." Rayya pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


***


" Baby, kenapa kamu jalannya seperti itu, Sayang?" tanya Gavin yang melihat Rayya berjalan tertatih saat mereka hendak makan malam.


" Tadi Rayya jatuh di sekolah.." Azzahra yang menjawab pertanyaan Gavin kepada anaknya.


" Mom ..." Rayya menoleh ke Azzahra karena dia sudah meminta Azzahra untuk tidak menceritakan hal itu kepada Gavin.


" Jatuh? Pasti Baby lari-larian ya mainnya?" Gavin langsung bangkit dari duduk kemudian menghampiri putrinya itu. " Mana yang sakit, Baby? Sini Daddy lihat." Gavin kemudian menarik kursi di samping putrinya itu.


" Apa sakit? Apa berdarah? Apa langsung diobati?" Gavin nampak khawatir memperhatikan perban yang terbalut di lutut Rayya yang sudah diganti oleh Azzahra.


" Sudah diganti sama Mommy, Dad. Terus tadi juga Rayya ditolong sama Kak Rama kok, Dad." Rayya menceritakan tentang pertolongan yang diberikan oleh Ramadhan kepadanya.


" Rama? Ramadhan maksud Baby?" tanya Gavin memastikan.


" Iiihh, Daddy jangan panggil Baby-baby terus dong, Dad! Rayya 'kan bukan anak bayi lagi. Tuh, Rashya yang pantas dipanggil baby." Rayya memprotes Gavin yang masih saja memanggilnya dengan panggilan baby meskipun kini dia sudah berusia delapan tahun. Dia kemudian menunjuk adiknya yang baru berumur dua tahun yang sedang berjalan mendekati Azzahra.


" Buat Daddy kamu itu selamanya akan menjadi putri kecil Daddy, tidak akan berubah." Gavin beralasan seraya membelai kepala putrinya itu.


" Tapi Rayya malu dipanggil seperti itu sekarang, Dad. Apalagi kalau Kia dengar, pasti Rayya akan diledekin sama Kia." Rayya memberengut.


" Kamu malu? Kamu malu terlihat orang jika Daddy sangat menyayangimu?" tanya Gavin. " Seharusnya Baby senang karena tidak semua anak seberuntung kamu. Ada anak yang orang tuanya sibuk bekerja tanpa memperdulikan anaknya sehingga kekurangan kasih sayang meskipun hidupnya berkecukupan." Gavin mencoba memberi pengertian kepada anaknya itu.


" Sus, ini Rashya tolong jagain dulu." Kemudian Azzahra menyuruh baby sitter untuk menjaga anak bungsunya karena dia akan menemani Gavin dan Rayya makan malam.


***


" Anakmu itu sudah semakin kritis pemikirannya. Dia sudah bisa memprotes apa yang tidak sesuai dengan keinginannya, Honey." ucap Gavin saat dia masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Azzahra yang sedang melepas hijabnya.


" Rayya 'kan bukan anak aku saja tapi anak Hubby juga." Azzahra memprotes. Azzahra kini sudah merubah panggilannya kepada Gavin sejak Rayya mulai bisa berbicara


" Kau benar, Honey. Baby itu hasil kolaborasi kita berdua." Gavin kini memeluk Azzahra dari belakang.


" Honey, apa kau ingin kita punya anak lagi?" Kini Gavin menciumi ceruk leher Azzahra.


" Rashya masih kecil, By." Azzahra menahan percikan ga*irah yang mulai diletupkan oleh Gavin.


" Rashya sudah lepas ASI, kan? Kita bisa sewa baby sitter lagi untuk mengurus Rashya."


" Jangan sekarang ini, By. Tunggu satu dua tahun lagi saja." Azzahra memberikan penawaran kapan akan memulai program hamil lagi.


" Ya sudah kalau begitu." Tangan Gavin kini masuk ke dalam piyama atas Azzahra dan menangkup kedua bagian kembar favoritnya.


" By, sudah ah, aku sedang halangan ..." Azzahra menepis tangan suaminya yang sedang memainkan puncak kembarnya.


" Halangan? Bukannya kau tadi sholat Maghrib, Honey? Apa kau ingin berbohong padaku seperti dulu lagi?" tanya Gavin menatap curiga.

__ADS_1


" Ya Allah, By. Aku beneran baru saja dapet menstruasi." Azzahra kini memutar tubuhnya dan kini menghadap suaminya.


" Ya ampun, Honey. Ini. 'kan malam Jumat, kenapa tidak kau tunda dulu sih tamu bulannya." Gavin merunduk dan menaruh keningnya di bahu Azzahra membuat Azzahra terkekeh.


" Ya ampun, By. Kayak nggak biasa puasa bulanan saja, deh." Azzahra terkekeh seraya mengusap kepala suaminya itu.


" Kau sudah membuatku tergila-gila, Honey. Kau sudah menjadi candu untukku." bisik Gavin menggigit cuping telinga Azzhara.


" Sudah ah, By. Jangan godain terus." Azzahra buru-buru menjauh dari suaminya agar suaminya itu menghentikan aksinya.


***


Bel pelajaran terakhir berbunyi membuat sebagian besar murid-murid berhamburan ke luar kelas masing-masing termasuk Rayya dan Azkia


" Kak Alden masih belum keluar kelas ya, Kia?" tanya Rayya.


" Iya, kita tunggu di mobil saja, yuk!" ajak Azkia.


" Ayo ..." Rayya pun mengikuti langkah Azkia menuju mobil Pak Hasan.


Saat keluar dari gerbang, Rayya memandang ke arah sekolah Ramadhan yang ada di seberang sekolahnya.


" Kia, Kak Rama sudah pulang belum, ya?" tanya Rayya kepada Azkia karena dia tidak melihat anak-anak SMP itu berhamburan ke luar gedung sekolah.


" Mana Kia tahu ... Kia 'kan nggak sekelas sama Kak Rama, sekolahnya juga berbeda," sahut Azkia. " Lagian kenapa Rayya tanya-tanya Kak Rama? Hayooo ... Rayya suka sama Kak Rama, ya? Iiihh ... masih kecil nggak boleh pacar-pacaran, tauuu!"


" Iiihhh ... apaan sih, Kia? Siapa yang pacaran? Rayya 'kan cuma tanya saja." Rayya menepis anggapan Azkia jika dia menyukai Ramadhan.


" Lalu untuk apa Rayya cari-cari Kak Rama?" tanya Azkia menelisik.


" Rayya itu hanya ingin mengucapkan terima kasih saja kepada Kak Rama karena kemarin sudah menolong Rayya." Rayya beralasan.


" Tapi kemarin juga Rayya sudah bilang terima kasih, kan?" Azkia mulai curiga dengan alasan Rayya.


" Tapi nggak apa-apa 'kan Rayya ucapin terima kasih lagi? Kata Mommy Rara kita itu harus mengingat kebaikan orang lain yang sudah membantu kita, Kia." Rayya masih terus berkelit.


" Iya, tapi nggak harus bilang terima kasih terus-terusan juga, kali!" Azkia memutar bola matanya.


" Ngaku saja deh kalau Rayya itu suka sama Kak Rama!" ledek Azkia terbahak.


" Nggak, Kia!! Rayya nggak suka Kak Rama ...!!" sangkal Rayya cepat sementara Azkia tak memperdulikan sanggahan Rayya membuat Rayya mendengus kesal.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2