KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Membantu Umi


__ADS_3

Sekitar sepuluh menit kepergian Azzahra dari kamarnya, Gavin pun tak lama memilih bangkit dari tempat tidur kemudian keluar kamar untuk mencari istrinya itu.


" Honey, kamu di mana?" Gavin berteriak memanggil istrinya. Dia tidak mengira jika Azzahra benar-benar keluar melakukan jogging di pagi hari.


" Honey, where are you?" teriak Gavin kembali.


" Neng Rara sedang jalan-jalan pagi, Den." Mang Ucup yang baru saja selesai memanaskan mobil memberitahukan.


" Jalan-jalan pagi sama siapa?" tanya Gavin


" Sama Bi Rusmi, Den. Neng Rara bilang ingin menikmati udara segar di sini, Den." Mang Ucup menjawab.


Selepas mendapatkan jawaban dari Mang Ucup, Gavin bergegas kembali ke kamarnya untuk menganti pakaiannya dan tergesa-gesa keluar dari kamar untuk menyusul Azzahra.


" Eh, eh, eh ... kamu mau ke mana?" tanya Umi Rara saat melihat menantunya itu sedang memakai sneakers.


" Saya ingin menyusul Rara, Umi." Gavin menyahuti pertanyaan ibu mertuanya.


" Kamu nggak boleh ke mana-mana, Gavin! Kamu mesti membantu Umi memasak!" Umi Rara dengan tegas melarang Gavin yang ingin menyusul Azzahra.


" Bantu Umi memasak? Apa tidak salah Umi? Kenapa saya disuruh bantu masak?" tanya Gavin terkesiap.


" Iya karena kamu tidak mau menemani istri kamu olah raga akhirnya Rusmi yang mengantar. Karena Rusmi tidak bisa membantu Umi memasak jadi sebagai hukumannya kamu yang mesti bantu Umi." Umi Rara menjelaskan.


" Ck, Umi ini perhitungan sekali dengan anak." Gavin berdecak.


Tentu saja perkataan Gavin membuat Umi Rara membelalakkan matanya.


" Apa kamu bilang?" geram Umi Rara.


" Iya Umi itu sama anak sendiri saja perhitungan. Memangnya yang ditemani Bi Rusmi itu siapa? Anak Umi sendiri 'kan, bukan anak tetangga!" sahut Gavin memasang wajah tak bersalah.


" Kamu itu semakin lama semakin ngelunjak sama mertua!" geram Umi Rara kesal.


" Umi, Umi itu jangan salah paham begitu sama saya. Saya 'kan bicara apa adanya, Rara itu 'kan putri kesayangan Umi sendiri, masa Umi nggak ikhlas Bi Rusmi menemani putri Umi yang cantik itu."


" Sudah-sudah, jangan bahas itu lagi! Sekarang cepat bantu Umi di dapur!" perintah Umi Rara kembali.


" Umi, bagaimana kalau hukuman untuk saya diganti dengan yang lain?" Gavin masih merasa keberatan disuruh mertuanya membantu pekerjaan di dapur.


" Diganti bagaimana maksud kamu?" tanya Umi Rara.


" Hmmm, bagaimana kalau hukumannya diganti dengan berbelanja di mall? Barangkali Umi mau beli gamis-gamis model terbaru. Atau Umi mau beli Tote bag untuk pengajian. Atau Umi mau beli perhiasan bertahtakan berlian? Umi tinggal pilih saja sepuasnya nanti aku yang bayar semuanya." Gavin mulai mempengaruhi ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Sontak saja tawaran yang diucapkan Gavin membuat Umi Rara berseri-seri membayangkan bisa belanja gamis, tas bahkan perhiasan mahal sepuasnya tanpa dibatasi. Benar-benar hal yang diinginkan kebanyakan kaum hawa.


" Kamu jangan bercanda! Jangan meledek Umi, ya!" Umi Rara sepertinya sudah kembali kesadarannya.


" Saya nggak bercanda, Umi. Saya serius. Memang Umi meragukan kemapanan menantu Umi ini?" Gavin terus saja merayu ibu mertuanya.


" Kamu pikir Umi itu matre, terus bisa kamu sogok dengan segala materi yang kamu tawarkan tadi?! Sudah cepat bantu Umi, jangan banyak alasan!!"


" Umi, saya ini seorang CEO dan tampan, masa saya harus masuk ke dapur sih, Umi! Yang benar saja ..." Gavin memutar bola matanya.


" Chef Juna itu nggak kalah ganteng dari kamu, dan dia nggak masalah 'kan harus ke dapur?"


" Itu 'kan profesi dia, Umi! Saya 'kan seorang CEO, mana bisa disuruh masak."


" Kata Rara kamu bisa masak, kok."


" Memang Rara tahu dari mana sampai bilang saya bisa masak?"


" Mana Umi tahu. Rara cuma bilang kamu pernah buatkan dia sup waktu pertama kali habis begituan."


Gavin menyeringai mendengar Umi Rara bicara seperti itu.


" Begituan itu apa maksudnya, Umi?"


" Hanya kamu dan Rara lah yang tahu." Umi Rara sepertinya tidak ingin terpancing dengan sikap iseng menantunya.


" Ya ampun, Umi. Tolong jangan sampai terjadi lagi drama part dua, ya!" Gavin seketika teringat akan kejadian beberapa bulan silam saat dia dan Azzahra mesti dipisahkan akibat ulah Dad David dan Abi Rara.


" Makanya jangan membantah kalau Umi perintah! Cepat bantu Umi!" Umi Rara kemudian berjalan ke arah dapur dengan Gavin berjalan di belakangnya dengan menggerutu.


***


Azzahra ditemani Rusmi menikmati udara sejuk pagi ini di daerah tempat tinggal orang tuanya. Tempat tinggal di mana sejak dilahirkan hingga menjadi dewasa sekarang ini.


" Udara seperti inilah yang bikin Rara selalu kangen pulang ke Bogor, Bi Rusmi." Rara melakukan gerakan stretching, meregangkan otot di bagian bahu, dada dan punggung atas.


" Iya di sini mah 'kan masih alami, belum banyak terkontaminasi sama polusi udaranya. Banyak tanaman, banyak perkebunan. Bikin seger di mata." Rusmi menimpali.


" Iya, Bi. Kadang rasanya ingin bisa menetap di sini sampai tua. Sampai punya banyak anak dan cucu, aku dan Kak Gavin menghabiskan waktu tua di sini." Azzahra melambungkan harapannya.


" Aamiin, Neng. Tapi apa Aa Gavin mau tinggal di desa seperti ini, Neng? Ya sehari dua hari sih mungkin betah, tapi kalau menetap lama, memang mau, Neng? Secara Aa Gavin 'kan orang kota, pernah tinggal di luar negeri juga." Rusmi menyangsikan jika Gavin akan memenuhi permintaan Azzahra.


" Ya semoga saja mau, Bi. Kak Gavin 'kan bisa urus hotel Papa David yang di Bogor, jadi lebih dekat pulang ke sini." Azzahra masih terus berharap.

__ADS_1


" Ih, Bi Rusmi teh masih nggak percaya Neng Rara itu menikah sama anak sultan."


" Anak sultan? Memang Papa David sultan dari daerah mana, Bi Rusmi?" tanya Azzahra polos.


" Aiihh ... Neng Rara ini kudet amat, ya!" Rusmi terkekeh. " Sultan yang dimaksud Bi Rusmi itu orang kaya, tajir melintir, Neng."


" Ck, aneh-aneh saja bahasa Bi Rusmi ini." Azzahra memutar bola matanya.


" Itu bukan bahasa Bi Rusmi, Neng! Itu bahasa anak jaman now." Bi Rusmi terkikik.


" Bi, Rara lapar deh rasanya. Coba cari makanan apa gitu ... " Azzahra mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.


" Eh, debay nya lapar ya rupanya." Bi Rusmi membungkukkan badannya seolah berbicara kepada bayi di dalam kandungan Azzahra


" Iya, Bi Rusmi." Azzahra terkekeh menirukan suara anak kecil.


" Nanti anak Rara panggil Bi Rusmi apa? Bi Rusmi juga? Atau Nini Rusmi?" Azzahra kini tergelak mendengar ucapannya sendiri.


" Nggak apa-apa dipanggil Nini Rusmi juga, asal jangan dipanggil Nini Pelet saja, Neng." Rusmi tertawa hingga membuat Azzahra pun tertular ikutan tertawa.


" Oh ya, Neng Rara lapar, apa kita mau pulang saja?" tanya Rusmi kemudian.


" Nggak, Bi Rusmi. Kita cari makanan saja untuk mengganjal perut." Azzahra mengedar pandangan mencari penjual makanan.


" Itu ada jualan apa ya, Bi?" tanya Azzahra menunjuk ke sebuah gerobak.


" Itu orang jual lontong sayur sepertinya, Neng. Neng Rara mau?" tanya Rusmi.


" Kalau ada Rara mau lontong sama gorengan saja deh, Bi Rusmi." Azzahra merogoh uang dari saku celana trainingnya kemudian duduk di sebuah batu besar yang banyak tersusun di tepi jalan.


" Ya sudah, Bi Rusmi belikan dulu, ya!" Rusmi pun kemudian menghampiri gerobak penjual lontong sayur itu.


Sementara Azzahra berselonjor seraya meneguk air mineral yang memang sengaja dia bawa dari rumah. Dia kemudian mengusap peluh yang mengembun di keningnya.


" Neng Rara?"


Azzahra terkesiap saat seseorang memanggil namanya. Dia pun kemudian menolehkan wajahnya mencari asal suara tadi.


*


*


*

__ADS_1


.Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2