KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Mantan Istri


__ADS_3

Gavin bergegas menyusul Azzahra yang tadi berlari akibat merajuk karena ulahnya. Entahlah, rasanya senang sekali baginya jika sudah mengerjai istrinya itu.


Gavin menyeringai memandang Azzahra yang terlihat memberengut kesal.


" Kita nggak jadi belanjanya, Honey? Kenapa ditinggal belanjaannya?" sindir Gavin.


" Kenapa nggak susul saja tante-tante tadi?!" ketus Azzahra menatap dengan sorot mata tajam ke arah Gavin.


" Yakin, bolehin aku susul tante tadi? Nanti ada yang tiba-tiba demam lagi seperti kemarin." Gavin kemudian membukakan pintu untuk Azzahra. Azzahra pun kemudian mendudukkan tubuhnya ke jok depan dengan sedikit kasar karena benar-benar merasa kesal.


" Tuan, ini belanjaannya." Seorang pelayan toko membawa dua kantong plastik bahan makanan.


Sebelum menyusul istrinya, Gavin meminta bantuan satu pelayan untuk membayarkan ke kasir bahan-bahan yang ada di troli yang diambil istrinya tadi dan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada pelayan supermarket itu.


" Oh, tolong taruh di bagasi saja." Gavin kemudian membuka bagasi mobilnya.


" Total belajaannya satu juta dua ratus dua ribu rupiah, Tuan. Dan ini uang kembaliannya." Pelayan itu menyerahkan struk pembelian dan uang kembalian karena Gavin tadi memberikan uang sejumlah satu juta lima ratus ribu rupiah.


" Ambil saja kembaliannya untuk kamu." Gavin menutup bagasi belakang mobilnya setelah pelayan itu memasukkan semua belanjaannya


" Aduh, terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih." Pelayan itu membungkukkan tubuhnya mengucapkan terima kasih.


" Sama-sama." Gavin kemudian berjalan ke arah pintu mobil dan dan menaiki kendaraannya.


" Aku tadi suruh pegawai di toko itu untuk mengantri di kasir dan mengantarkan belanjaan kamu tadi ke sini, Honey." Gavin melaporkan apa yang tadi dilakukannya kepada Azzahra yang masih memasang wajah cemberut.


" Aku benar-benar nggak menyangka ternyata kamu sudah tertular Alexa dalam hal mempertahankan suamimu dari godaan wanita lain." Gavin terkekeh mengingat sikap posesif Azzahra tadi.


Tentu saja apa yang dikatakan Gavin membuat Azzahra membulatkan matanya. Dia pun baru menyadari jika dia tadi bersikap tak seperti dirinya sendiri. Dan itu tentu saja membuat dia merasa sangat malu.


" Kamu tahu apa yang aku lakukan pada kartu nama wanita itu tadi? Aku merobeknya dan aku buang. Kamu pikir aku mau meladeni wanita seperti itu? Istriku lebih cantik dan lebih menggemaskan. Jadi untuk apa aku mau meladeni wanita yang sudah berumur itu?" Gavin merengkuh tubuh Azzahra dan membenamkan kecupan di kening sang istri.


" Sudah ya, jangan marah lagi." Gavin kemudian mengurai pelukannya dan segera menyalakan mesin mobilnya lalu kemudian membawa mobilnya keluar dari halaman supermarket itu.


***


Beberapa hari kemudian ...


Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah warung di mana ada beberapa ibu-ibu berkumpul di sana.

__ADS_1


Seorang wanita tinggi semampai mengenakan rok selutut dan heels setinggi tujuh sentimeter turun saat mobil itu dibuka oleh sang supir.


Wanita itu melepas kacamatanya dan menaruh di atas kepala kemudian berjalan menghampiri ibu-ibu yang berkumpul di warung tadi.


" Permisi ibu-ibu. mau ikut tanya, kalau rumahnya Bapak Abdullah Zulchair di mana, ya?" tanya wanita itu kepada ibu-ibu di sana.


" Pak Abdullah? Maksud Nyonya ini, Abi Rara?" sahut salah satu ibu.


" Abi Rara?" Wanita itu mengeryitkan keningnya. " Ah, iya benar Abi Rara, Papanya Azzahra, kan?" Wanita itu menegaskan.


" Iya Abi Abdullah itu Abinya Neng Rara," jawab ibu yang lain.


" Nyonya ini kerabatnya Abi sama Umi Rara, ya?" Ibu yang pertama bertanya memperhatikan mobil mewah dan juga penampilan wanita di hadapannya yang pantas disebut wanita sosialita.


" Oh, bukan ... saya ini mantan istri dari menantunya Bapak Abdullah Zulchair." Wanita yang ternyata adalah Agatha memperkenalkan dirinya kepada ibu-ibu itu dengan percaya diri.


Dan pengakuan Agatha sontak membuat orang-orang yang ada di sana terperanjat.


" Mantan istri??" seru mereka kompak.


" Menantunya Pak Abdullah yang laki-laki hanya suaminya Neng Rara. Jadi maksud Nyonya, suaminya Neng Rara itu mantan suami Nyonya ini?" Ibu yang ke dua kembali bertanya.


" Wah, kalau begitu Neng Rara pelakor dong, ya!" Ibu yang lain ikutan bergabung dengan kedua ibu sebelumnya yang mengobrol dengan Agatha.


" Nggak sangka ya, Neng Rara itu terlihat kalem, solehah ternyata perebut suami orang." Ibu ke tiga tadi kembali berpendapat.


" Iya, benar. Nggak sangka ternyata Neng Rara seperti itu." Ibu ke dua menimpali.


" Eh, tapi maaf ... apa benar Nyonya ini mantan istri suaminya Neng Rara? Soalnya kalau dilihat-lihat usia Nyonya ini ...."


" Saya memang di atas usia Gavin. Usia kami terpaut delapan belas tahun." Agatha jujur mengatakan selisih usianya dengan Gavin.


" Wah, ternyata suaminya Neng Rara itu simpanan Tante-tante," bisik ibu ke tiga.


" Maaf lagi, Nyonya. Tapi bukannya suaminya Neng Rara itu anaknya orang kaya, ya!" Ibu pertama seakan tidak percaya orang sekaya Gavin menjadi simpanan Tante-tante.


" Kami menikah sebelum Gavin bertemu dengan Daddy nya yang kaya raya itu. Kami menikah karena permintaan Mommy nya. Karena saya banyak membantu Mommy dia saat sedang terpuruk. Mommy nya mantan suamiku itu depresi karena mencintai suami adiknya sendiri tapi ditolak mentah-mentah. Makanya dia melampiaskan kekecewaannya itu dengan minum-minuman dan obat-obatan. Dan saya salah satu orang yang sudah mengurus Mommy mantan suami saya. Tapi setelah Mommy nya meninggal dan dia bertemu dengan Daddy nya, dia seakan mencampakkan saya." Agatha mendramatisir cerita tentang Mommy Amanda, Ibunda Gavin.


" Wah, tidak tahu terima kasih ...."

__ADS_1


" Nggak tahu diri sekali namanya ...."


" Habis manis sepah dibuang itu ...."


Ibu-ibu itu langsung berkomentar.


" Jadi ibu-ibu ini bisa kasih tahu saya di mana rumah mertua mantan suami saya itu?" tanya Agatha kembali.


" Dari sini lurus saja lalu belok kanan, rumah ke dua itu rumahnya Abi Rara." Ibu pertama memjawab.


" Oh, terima kasih ibu-ibu. Kalau begitu saya permisi." Agatha pun kemudian meninggalkan kumpulan ibu-ibu tadi yang akhirnya membahas tentang Azzahra dan Gavin.


Beberapa menit berlalu ...


" Assalamualaikum Umi, ibu Amy, Ibu Bety, Ibu Cici. Mau ikut pengajian, ya?" sapa Ibu-ibu yang masih berkumpul di warung menyapa Umi Rara dan ibu-ibu yang berjalan bersamaan menuju masjid.


" Iya, mau pengajian. Ibu-ibu ini tidak ikut pengajian juga?" tanya Umi Rara.


" Saya sedang berhalangan, Umi." jawab Ibu yang bertanya tadi.


" Saya juga." Ibu yang tadi berkata paling nyinyir saat berbincang dengan Agatha ikut menimpali. " Oh ya, Umi. Apa benar kalau suami Neng Rara itu menceraikan mantan istrinya karena ingin menikahi Neng Rara? Kok Abi sama Umi tidak menasehati Neng Rara supaya tidak merebut suami orang? Abi dan Umi ini 'kan sangat paham soal agama, kenapa membiarkan Neng Rara merusak rumah tangga wanita lain?" tuding ibu ke tiga yang tadi paling aktif nyinyir


" Hati-hati bicaranya, Bu! Jangan sembarang menuduh seperti itu, nanti jatuhnya fitnah!" Geram Umi Rara, tentu saja dia tidak terima Azzahra dikatai seperti itu.


" Saya nggak sembarangan menuduh, kok! Mantan istrinya menantu Umi sendiri yang bilang. Benarkan ibu-ibu?" Ibu ke tiga itu membela diri.


" Mantan istri?" Umi Rara terbelalak mendengar penjelasan dari ibu itu.


" Iya, tadi dia kemari tanya alamat Abi Rara, dan dia bilang kalau dia itu mantan istri suaminya Neng Rara."


Wajah Umi Rara langsung merah padam saat mengetahui mantan istri dari menantunya itu mulai mengusik ketenangan keluarganya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2