KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Nomer HP


__ADS_3

" Kia, Rayya ingin belajar karate seperti Kia," ujar Rayya saat mereka berdua duduk di kursi taman sekolah saat jam istirahat.


" Memangnya Uncle Gavin kasih ijin Baby untuk ikut karate?" ledek Azkia terkikik menyebut nama panggilan kesayangan Gavin yang diberikan untuk anaknya itu.


" Iiihh, Kia jangan ikut-ikutan panggil Baby, dong!" protes Rayya langsung mencebikkan bibirnya.


" Haha ... Rayya jatuh sedikit saja, Uncle Gavin langsung heboh apalagi kalau Rayya kena pukulan." Azkia sangat hapal bagaimana posesifnya Om nya itu terhadap Rayya.


" Kia, Rayya, kita main lompat tali karet, yuk!" ajak Danisa, salah seorang teman sekelas Rayya dan Azkia.


" Nanti kita mainnya berkelompok, aku sama Kia, Danisa sama Rayya," ucap Vania, teman Rayya dan Azkia lainnya.


" Ayo, Kia. Kita ikutan main, yuk!" ajak Rayya kemudian.


" Nggak ah, Rayya saja yang ikutan, Kia mau beli tahu bulat." Azkia menunjuk mobil yang terparkir di depan sekolahnya.


" Iihh, kita 'kan nggak boleh jajan di luar Kia!" sergah Rayya.


" Iya, kata Bundaku juga kita nggak boleh sembarangan jajan di luar, kalau mau jajan di kantin sekolah saja." Danisa ikut menimpali.


" Di kantin 'kan nggak ada tahu bulat gurih-gurih nyoy." sahut Azkia tertawa lalu beranjak meninggalkan Rayya dan dua temannya.


" Kia, Rayya ikut !" teriak Rayya. " Eh, teman-teman, Rayya nggak jadi ikutan main lompat talinya, ya!" setelah berpamitan dengan kedua temannya, Rayya pun ikut menyusul Azkia.


Buugghh


" Aaaahhh ...!" pekik Rayya ketika dia menabrak seseorang saat berlari mengejar Azkia. Untung saja dia tidak sampai terjatuh hanya mundur beberapa langkah ke belakang.


" Iiihh, Kak Raffa jalannya kok nggak lihat-lihat, sih!" Rayya justru menyalahkan Raffasya, Kakak kelasnya yang juga keponakan Raditya, pelatih karate Azkia dan Alden.


" Kamu yang lari-larian nggak lihat ada orang jalan." Raffasya menyahuti. " Memangnya Rayya mau ke mana sih, pakai acara lari-lari segala? Bodyguardnya mana?" Raffasya mengedar pandangan mencari sosok Azkia yang selalu dibuntuti oleh Rayya.


" Itu ...!" Rayya menunjuk ke arah pos satpam di dekat gerbang. " Sudah ya, Kak. Rayya mau ke Azkia dulu."


" Eh, tunggu dulu, dong!" Raffasya menarik tangan Rayya.


" Ada apa, Kak?" Rayya mengeryitkan keningnya.


" Kak Raffa minta nomer HP Rayya, dong!" ucap bocah laki-laki kelas enam SD itu.


" Rayya nggak ingat nomer HP Rayya, Kak."


" Masa nomer sendiri nggak ingat, sih?"


" Iya memang Rayya nggak hapal, Kak. Karena Rayya simpan nomer Rayya di HP."


" HP Rayya mana?" tanya Raffasya.


" Kan nggak boleh bawa HP kalau sekolah, Kak."


Raffasya lalu menarik tangan Rayya, dan dia mengambil pulpen dari saku bajunya.


" Eh, Kak Raffa mau apa?" Rayya terkejut saat Raffasya menarik tangannya.


" Kak Raffa mau catat nomer HP Kakak di sini, biar nanti kalau sudah sampai rumah, Rayya simpan nomernya." Raffasya kemudian menuliskan beberapa angka di telapak tangan Rayya.


" Aahh, jangan kencang-kencang, Kak! Sakit ..." keluh Rayya saat Raffasya terlalu keras menekan pulpennya ke telapak tangan Azkia.

__ADS_1


" Sebentar, Rayya. Nah ... sudah selesai. Nanti langsung Rayya simpan di HP Kak Raffa, Terus nanti Rayya miscall ke ke nomer Kak Raffa itu, ya!"


Rayya menganggukkan kepalanya memahami apa yang diperintahkan.


" Jangan sampai satpam kamu itu tahu. ya!"


" Kia?"


" Memangnya siapa lagi yang galak dan cerewet kalau bukan saudara kamu itu?" cibir Raffasya.


" Kia 'kan saudara Kak Raffa juga." Rayya terkekeh menyindir Raffasya dan Azkia yang tidak pernah akur dan selalu saja bertengkar setiap kali bertemu.


" Kak Raffa nggak punya saudara galak kayak tukang pukul seperti itu." Raffasya berkelit.


" Tapi Om nya Kak Raffa 'kan menikah sama Auntie Mara kemarin. Auntie Mara 'kan adik Mamanya Kia," ucap Rayya.


" Rayya ...! Kenapa dekat-dekat sama Kak Raffa." Azkia yang sudah selesai membeli makanan kesukaannya langsung menarik tangan Rayya yang sedang mengobrol dengan Raffasya.


" Perusuh datang ..." Raffasya memutar bola matanya mendapati kehadiran Azkia.


" Yang perusuh itu Kak Raffa, senangnya usil ke orang!" Azkia membalas kata-kata yang diucapkan Raffasya.


" Biarin ..." Raffasya menarik rambut Azkia yang diikat membuat Azkia memekik dan dia menepis gerakan tangan Raffasya namun bocah laki-laki itu sepertinya telah mengantisipasi terlebih dahulu sehingga dia terhindar dari serangan gadis kecil itu.


" Nggak kena, weekkk ..." Rayya meledek sambil menjulurkan lidahnya. " Rayya jangan lupa yang tadi Kak Raffa bilang, ya!" Raffasya memilih pergi meninggalkan Rayya dan Azkia.


" Kak Raffa bilang apa tadi, Rayya?" Azkia menatap curiga Rayya.


" Nggak bilang-bilang apa-apa kok." Rayya berkelit.


" Rayya nggak bohong, kan?" Azkia memberikan satu bungkus plastik tahu bulat yang dia beli untuk Rayya juga.


" Awas kalau Rayya bohong sama Kia, nanti Kia bilang sama Uncle Gavin, lho!" ancam Azkia mencoba menakuti.


" Nggak, Kia! Kia jangan suka mengadu gitu, dong!" Rayya langsung menyembunyikan tangannya yang tadi bertuliskan nomer ponsel Raffasya.


" Rayya sembunyikan apa di tangan?" Azkia semakin curiga.


" Nggak ada, Kiaaaa ...!" Rayya tetap menyembunyikan tangannya.


" Lihat sini! Kia mau lihat!" Azkia memaksa Rayya untuk membuka telapak tangannya.


" Apa ini, Rayya?" Azkia memperhatikan deretan angka yang dimulai dari angka nol.


" I-itu nomernya Kak Raffa." Rayya tidak bisa meneruskan kebohongannya.


" Untuk apa Kak Raffa catat nomernya di tangan kamu?" tanya Azkia heran.


" Kak Raffa suruh Rayya save nomernya."


" Kak Raffaa suruh kamu save nomer dia? Kak Raffa naksir Rayya, ya? Iiihh, jangan mau, Rayya! Awas saja kalau Rayya jadi suka sama Kak Raffa, Azkia nggak mau main sama Rayya lagi! Ancam Azkia sambil berkacak pinggang.


" Azkia apaan, sih? Kemarin Kia bilang sendiri kalau masih kecil itu nggak boleh pacar-pacaran." Rayya memprotes ucapan Azkia.


" Ya sudah sekarang Rayya hapus nomer itu!" perintah Azkia.


" Antar ke toilet dulu, Kia! Rayya mau cuci tangan biar noda pulpennya cepat hilang." Rayya meminta Azkia menemaninya.

__ADS_1


" Eh, tapi sebelum dihapus disalin dulu di kertas." Tiba-tiba Azkia menemukan ide.


" Untuk apa, Kia?" tanya Rayya terheran.


" Untuk mengerjai Kak Raffa, dong!" Azkia menyeringai licik.


" Kia mau mengerjai Kak Raffa apa?" tanya Rayya penasaran.


" Rahasia, dong! Ya sudah, kita ke kelas lagi, yuk!" Azkia kemudian mengajak Rayya untuk kembali ke kelas mereka menyisakan rasa penasaran di hati Rayya akan ucapan saudaranya itu.


***


" Assalamualaikum, Ra, Rara ... " Natasha memanggil Azzahra saat masuk ke dalam rumah Azzahra yang bersebelahan dengan rumahnya.


" Waalaikumsalam, ada apa, Teh?" tanya Azzahra saat keluar dari kamar dan menghampiri Natasha.


" Ra, tadi Anin telepon aku katanya acara pengajian bulanan bulan ini 'kan kebagian di rumah Anin, tapi minta dimajuin ke Minggu ini. Kamu bisa 'kan?" tanya wanita hamil yang sudah memiliki dua anak laki-laki dan dua anak perempuan itu.


" Oh jadi Minggu ini ya, Teh? Insya Allah Rara bisa, Teh." Azzahra menyahuti. " Mau minum apa, Teh?" tanya Azzahra saat Natasha mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu di rumah milik Gavin dan Azzahra.


" Nggak usah, Ra. Kayak tamu saja. Rashya mana?" tanya Natasha mencari anak bungsu Azzahra.


" Sedang tidur, Teh." Azzahra kemudian duduk di samping Natasha. " Masih suka mual, Teh?" tanya kemudian menyentuh perut Natasha yang saat ini sedang hamil muda.


" Aku mual tapi kalau sudah masuk mall mualnya langsung hilang." Natasha berkelakar. Wanita yang sejak dulu selalu mempunyai seribu macam tingkah yang selalu membuat orang menggelengkan kepala menanggapinya.


" Itu sih maunya Teh Tata." Azzahra ikut tertawa mendengar ucapan Natasha tadi.


" Kamu nggak niat tambah anak lagi, Ra? Biar ramai suasana di rumah." tanya Natasha kemudian.


" Kak Gavin juga kepingin seperti itu, Teh. Tapi tunggu satu atau dua tahun lagi saja dulu, tunggu Rashya sudah bisa mandiri dulu, kalau Rashya sudah empat tahun baru aku hamil.lagi, jadi pas bayi lahir Rashya sudah umur lima tahunan.


" Oh, gitu ... berarti seusia aku sekarang ini kamu baru mau tambah anak laginya?"


" Iya, Teh."


" Assalamualikum ..." Terdengar suara Rayya yang baru datang dari sekolah.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra dan Natasha menyahuti membalas salam yang diucapkan gadis kecil nan cantik jelita itu.


" Rayya sudah pulang, ya? Kia sama Alden sudah pulang juga?" tanya Natasha saat melihat kehadiran keponakannya itu.


" Kia dan Kak Alden langsung masuk ke rumah Auntie ..." Rayya menghampiri Azzahra lalu mencium punggung tangan Azzahra kemudian berganti mencium punggung tangan Natasha.


" Oh ya sudah kalau gitu aku pulang ya, Ra. Kia sama Alden pasti cari aku kalau aku nggak ada di rumah. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Natasha kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan rumah Azzahra dan Gavin


***


*


*


.

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2