KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Hanya Mimpi


__ADS_3

Mata Azzahra terbelalak lebar saat mendengar suara wanita dari ponsel suaminya seraya menggigit bibirnya.


" Waalaikumsalam, Tante. Apa kabar?" Gavin menyahuti salam yang diucapkan wanita tadi yang ternyata Mama Nabilla, Mama dari Natasha.


" Gavin? Alhamdulillah baik, Nak. Kamu sama istri kamu sendiri bagaimana?" Tante Nabilla balik bertanya.


" Alhamdulillah, aku juga sama Rara sehat, Tante. Ini Rara malah bilang ingin mampir ke tempatnya Tante." Gavin melirik istrinya seraya menjulurkan lidahnya membuat Azzahra mencebikkan bibirnya.


" Oh ya? Ya sudah mainlah ke sini. Memangnya kalian ini ada di mana sekarang?" tanya Tante Nabilla kemudian.


" Kami ada di Bandung, Tante. Di Villa Mommy Amanda daerah Lembang. Tante pernah tahu villa milik Mommy ku dulu?" tanya Gavin.


" Hmmm, iya Mbak Manda pernah cerita punya villa di daerah Lembang, tapi Tante tidak pernah tahu tempatnya di mana? Lagipula itu tempat privacy orang tuamu dulu, jadi Tante pun tidak ikut campur urusan itu," jawab Tante Nabilla.


" Aku pun baru tahu sekarang, Tante. Dan Dad David bilang akan memberikan villa ini untuk Rara."


Bola mata Azzahra membulat sempurna mendengar ucapan suaminya tadi.


" Kak ...." Azzahra seakan tak percaya dengan pengakuaan yang baru saja Gavin sampaikan.


" Oh ya? Itu milik Mommy kamu, sepantasnya memang diserahkan kepada kamu atau istrimu," sahut Tante Nabilla.


" Iya, Tante."


" Oh ya, jadi kapan kalian akan main ke sini?" tanya Tante Nabilla.


" Insya Allah kalau jadi besok ya, Tan. Nanti aku kabari lagi."


" Ya sudah, Tante tunggu kamu dan istrimu mampir ke sini."


" Iya, Tante. Oh ya, bagaimana Amara? Sibuk apa dia sekarang?"


" Amara sibuk kuliah. Dia sih ingin pindah ke Jakarta, biar dekat sama Mbaknya dia bilang. Apalagi dekat-dekat Tata mau melahirkan Tante akan di Jakarta."


" Ya sudah, kenapa tidak pindah ke Jakarta saja biar kita bisa kumpul di sana, Tante?"


" Tante betah di sini, Gavin. Tante juga takut kalau nggak ada yang mengontrol Amara jika di sana. Sedangkan Tata sendiri sekarang akan sibuk urus anak dan suaminya nanti."


" Hmmm, benar juga. Ya sudah salam untuk Amara ya, Tan."


" Iya nanti Tante sampaikan. Dia pasti akan senang dengar kamu akan kemari."


" Iya, Tan. Ya sudah, aku pamit dulu ya, Tante. Besok pagi aku kabari jika akan ke sana. Assamualaikum ..." pamit Gavin.


" Waalaikumsalam ...."

__ADS_1


" Kak, serius apa yang Kak Gavin katakan tadi?" tanya Azzahra saat hubungan telepon antara suaminya dan Mama dari Natasha itu terputus.


" Apa?" Gavin balik bertanya.


" Soal villa ini. Memang Dad David kasih ini ke aku?" tanya Azzahra nampak kaget.


" Iya, Dad mengatakan itu tadi pagi sebelum aku ke sini." Gavin menerangkan.


" Kenapa buat aku, Kak? Kenapa tidak untuk Kak Gavin saja? Kak Gavin 'kan anaknya, aku 'kan hanya orang lain." Azzahra nampak keberatan dengan pemberian yang dinilainya terlalu besar itu.


" Kau bukan orang lain, Honey. Kau adalah istriku, menantu mereka." Gavin menegaskan.


" Tapi apa ini tidak terlalu berlebihan, Kak?"


' Jika Dad David yang sudah memutuskan, itu artinya mutlak tak bisa diganggu gugat."


Azzahra hanya mendesah pasrah. Dia pun mulai paham karakter ayah mertuanya itu. Apalagi saat dia dengar dari suaminya kalau Dad David pun membelikan sebuah apartemen untuk William. rasanya dia tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya.


***


Azzahra meraba sisi bagian kanan tempat tidur yang nampak rata, membuatnya lalu mengerjapkan. Dia lalu melebarkan matanya saat tak dijumpainya sang suami di sampingnya itu.


Azzahra lalu menyibak selimut yang menggelung tubuhnya. Tempat tidur yang dia tiduri nampak rapih, sama sekali tak menampakkan kain yang kusut seusai aktivitas bercinta. Azzahra lalu mengecek kamar mandi dan nampak kosong. Dia juga mencoba melongok ke arah balkon dengan membuka pintu balkon namun beberapa detik kemudian dia tutup kembali karena udara dingin yang terasa sampai menembus kulitnya sementara langit di luar masih nampak gelap.


Azzahra mencoba mencari barang-barang suaminya seperti dompet, ponsel dan juga baju yang sudah disiapkan Dad David di lemari, namun tak satu pun dia temukan barang-barang itu. Tiba-tiba hatinya dilanda gelisah.


" Kak Gavin ...!! Kak Gavin ....!!" Azzahra berteriak memanggil nama suaminya itu.


" Kak Gavin ...!! Kak Gavin di mana?!" Azzahra menuruni anak tangga tergesa-gesa.


" Neng Zahra? Kenapa teriak-teriak?" tanya Ibu ART yang melihat Azzahra nampak panik.


" Bu, Kak Gavin mana?" tanya Azzahra.


" Kak Gavin? Kak Gavin siapa maksud si Neng tuh?" tanya Gavin kemudian.


Azzahra terkesiap mendengar jawaban dari Ibu ART itu.


" Kak Gavin suamiku, Bu. Ibu juga 'kan tahu kalau semalam suamiku ada di sini."


Ibu ART nampak mengerutkan keningnya.


" Maaf, Neng. Di sini itu nggak ada siapa-siapa selain kami berempat dan Neng Zahra."


" Nggak mungkin, Bu! Kemarin itu suami aku ada di sini dan datang bersama Papa David."

__ADS_1


" Maaf, Neng. Tapi kemarin tidak ada yang datang ke sini selain Neng Zahra dan kedua orang tua Neng Zahra yang menitipkan Neng Zahra di sini." Bu ART menegaskan.


Azzahra menggelengkan kepala. Dia berharap apa yang kemarin dia rasakan ada di dekat suaminya bukanlah hanya sekedar mimpi.


" Ibu jangan bohong sama saya! Jelas-jelas kemarin Ibu tahu 'kan kami makan malam? Ibu sendiri yang menyiapkan makanannya untuk kami." Cairan bening mulai mengembun di bola mata Azzahra.


" Mang, kemarin itu nggak ada siapa-siapa datang kemari selain kelaurga Neng Zahra, kan?" Bu ART bertanya pada tukang kebun yang ikut mengurus villa yang kebetulan nampak keluar dari kamar dengan sarung yang menggantung di pundaknya.


" Iya, benar, Neng. Tidak ada siapa-siapa yang datang kemari selain Neng sama ibu bapak Neng." Tukang kebun itu menjelaskan.


Sontak saja penegasan dari tukang kebun itu membuat air mata yang sedari tadi dibendungnya seketika tumpah berderai membasahi pipi Azzahra.


" Hiks ... hiks ... Kak Gavin ..." Azzahra menangis tersedu dengan tubuh luruh di kursi.


" Mungkin Neng Zahra berminpi, ya?" tanya Bu ART.


" Itu semua terasa nyata, Bu. Nggak mungkin ini hanya mimpi aku. Kak Gavin, hiks ..."


" Sebaiknya Neng Zahra kembali ke kamar saja. Ini masih jam tiga pagi, Neng." Bu ART menyuruh Azzahra kembali ke kamar.


" Mari Bibi bantu." Bu ART menuntun Azzahra menaiki anak tangga dan mengantarnya kembali ke kamar.


Sesampainya di kamar Azzahra mencari tasnya untuk mencari ponselnya. Dia berharap ponsel yang sempat dipegang Uminya ada di dalam tasnya itu agar dia bisa menghubungi suaminya.


Setelah Azzahra berhasil menemukan ponselnya Azzahra pun langsung menghubungi nomer ponsel suaminya itu.


" Assalamualaikum, Honey ... kau ada di mana?" suara Gavin dari ponsel Azzahra terdengar parau disertai gambar Gavin yang nampak baru bangun dari tidur. Seketika itu juga tangis Azzahra kembali pecah karena dia benar-benar merasa jika kebahagian yang tadi dia rasakan hanyalah sekedar mimpi belaka.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2