KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Romantis


__ADS_3

Gavin menatap tajam anak laki-laki yang tertunduk sejak masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Sementara Rayya sendiri sudah diminta Gavin untuk masuk ke dalam kelasnya.


" Kami sudah menghubungi wali murid Rafflasya, Tuan Gavin. Apa Tuan Gavin akan menunggu di sini?" Pak Wildan mengetahui jika Gavin adalah seorang CEO yang sangat padat jadwalnya, bagaimana mungkin Gavin mau membuang waktu hanya untuk menunggu wali murid Raffasya.


Bagi Gavin sendiri, putrinya itu lebih penting dari pekerjaannya.


" Tidak masalah, Pak Wildan. Saya akan menunggu sampai orang tua anak ini datang kemari," tegas Gavin.


" Baiklah, Tuan Gavin." Pak Wildan yang justru nampak serba salah dengan kehadiran Gavin di ruangannya.


Beberapa menit kemudian saat Gavin terlihat serius dengan laptopnya.


Tok tok tok


" Selamat pagi, Pak Wildan."


Suara ketukan pintu diikuti dengan suara seseorang terdengar dari luar ruangan kepala sekolah membuat Gavin mengeryitkan keningnya saat melihat orang itu.


" Kau? Sedang apa kau di sini?" tanya Gavin kemudian.


" Aku ingin menemui Pak Wildan karena ada masalah dengan keponakanku," ucap pria itu.


" Keponakan?" Gavin lalu menoleh ke arah Raffasya." Jangan bilang jika anak laki-laki itu adalah keponakanmu, Dit." Gavin menebak jika Raffasya adalah keponakan Raditya.


" Iya, dia memang anak kakakku. Kenapa? Apa murid yang diusik Raffa adalah anakmu, Bang?" tanya Raditya sebagai wali murid dari Raffasya menemui panggilan kepala sekolah karena lagi-lagi Raffasya bermasalah di sekolahnya.


" Cih, pantas sekali dia keponakanmu! Tidak Om nya tidak keponakannya, sama-sama tidak punya malu." Gavin menutup laptopnya kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Raditya.


" Dulu kau mengganggu adik-adik sepupuku, sekarang keponakanmu menganggu putriku. Apa keturunan keluargamu itu memang punya hobi mengganggu wanita?" sindir Gavin mengingat dulu Raditya pernah mengejar Natasha walaupun jelas-jelas wanita itu sudah mempunyai suami dan anak. Mungkin Gavin pun tidak menyadari jika dia sendiri pun pernah melakukan hal yang sama. Untung saja Raditya tidak mengetahui masalah itu hingga tidak menjadi serangan balik untuk Gavin sendiri.


" Maaf, apa Tuan Gavin dengan Mas Raditya ini saling kenal satu sama lain?" Pak Wildan yang memperhatikan interaksi mereka langsung menebak jika Gavin dan Raditya memang saling mengenal sebelumnya.


" Iya, dia suami adik sepupu saya, Pak Wildan." Gavin menjelaskan. " Saya tidak tahu jika anak itu keponakannya. Tapi setelah saya tahu, saya rasa mereka memang cocok mempunyai hubungan darah, karena kelakuan keponakannya itu sebelas dua belas dengan Om nya," cibir Gavin kembali.


" Waktuku sudah banyak terbuang gara-gara keponakanmu itu. Tolong kau beritahu keponakanmu agar jangan sekali lagi berani mendekati putriku!" Gavin kemudian menaruh laptopnya kembali di tas kerja.


" Saya permisi, Pak Wildan. Kalau anak itu berulah lagi, sebaiknya segera Anda ambil tindakan untuk mengeluarkannya dari sekolah ini. Permisi ..." Gavin berpamitan kemudian keluar dari ruangan kepala sekolah untuk menuju kelas Rayya.


Tok tok tok


" Permisi, Bu. Saya ingin bertemu dengan putri saya, Rayya Faranisa Richard," ucap Gavin kepada Bu Fransisca.


" Oh, silakan, Tuan." Bu Fransisca mempersilahkan karena Gavin sudah melangkah masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu sebelum dia memberikan ijin kepada pria itu.


" Hai, Uncle Gavin ..." Sapa Azkia saat melihat Om nya itu berjalan mendekat ke arah mejanya dimana dia dan Rayya berada di meja yang sama.


Gavin melemparkan senyum menanggapi sapaan Azkia serasa mengusap kepala Azkia, kemudian Gavin duduk berjongkok di samping putrinya duduk.


" Baby ...."


" Dad ..." protes Rayya karena Gavin menyebut panggilan sayang Gavin terhadap anaknya itu. Sebelumnya Gavin sudah berjanji akan memanggil nama itu hanya jika di rumah saja. Sedangkan saat berada di sekolah dan di hadapan teman-teman Rayya, Rayya meminta agar Daddy nya itu memanggil namanya saja.


" Rayya, Daddy tinggal ke kantor, ya! Nanti Dad akan suruh orang untuk mengawasi agar tidak ada lagi anak laki-laki yang mengganggumu."


" Iya, Dad." Rayya yang masih belum memahami jika orang yang diperintahkan oleh Gavin akan membatasi geraknya hanya mengangguk menyetujui.


" Dad, berangkat sekarang, Assalamualikum ..." Gavin kemudian mengecup kening putrinya.


" Waalaikumsalam, Dad." Rayya menjawab salam yang diucapkan Gavin seraya mencium tangan Daddynya.


Dan setelah berpamitan kepada Bu Fransisca, Gavin pun segera meninggalkan ruangan kelas Rayya.


" Rayya sama Daddy nya so sweet banget deh, cium kening segala," celetuk salah satu teman Rayya yang duduk di depan Rayya. " Papa Risty nggak pernah kasih aku cium di kening kalau Risty mau berangkat sekolah.


" Papa Kia juga selalu cium kening Kia, apalagi kalau mau tidur. Bukan Papa saja, Mama juga suka cium kening Kia. Itu artinya Papa Mama Kia sayang sama Kia."Azkia ikut berkomentar.


" Jadi maksud Kia, Papa Mama Risty nggak sayang sama Risty gitu?" Wajah Risty langsung memberengut mendengar ucapan Azkia.


" Mana Kia tahu, tanya saja sama Papa Mama Risty, kenapa tanya sama Kia?" sahut Azkia enteng.

__ADS_1


" Azkia, Risty, kenapa kalian malah mengobrol? Sudah cepat selesaikan tugas kalian!" Bu Fransisca langsung menegur Azkia dan Risty saat terdengar kegaduhan dari arah Azkia duduk.


***


" Yang benar, Kia?" Rayya terbelalak saat Azkia mengatakan jika kehadiran orang yang akan mengawasi yang diperintah oleh Gavin justru akan membuat ruang gerak Rayya terbatas.


" Iya, Rayya. Nanti Uncle Gavin akan tau kalau Rayya itu suka jajan tahu bulat," sahut Azkia menyodorkan makanan bulat yang ditusuk lidi itu ke dekat mulut Rayya, namun saat Rayya membuka mulutnya, Azkia memutar arah dan memasukan jajanan kesukaannya itu ke mulutnya sendiri.


" Rayya mau dimarahi Uncle Gavin karena makan ini?" Azkia sengaja memejamkan matanya saat mengunyah makanan yang masih hangat itu membuat Rayya hanya bisa menelan salivanya.


" Kia jangan meledek gitu dong makannya!" protes Rayya mencebikkan bibirnya. Dia lalu mengedar pandangan mencari orang yang Daddy nya bilang akan mengawasinya.


" Om-Om suruhan Daddy ada di mana, Kia?" tanya Rayya karena dia melihat tidak ada yang aneh di sekitar gedung sekolahnya itu.


" Rayya lihat Om-Om yang berdiri di depan gerbang itu?" Azkia menunjuk satu bodyguard yang berdiri di luar gerbang.


" Sama di sana!" Kia menunjuk satu orang bodyguard lain yang berdiri bersandar di depan mobil dengan berlipat tangan di dada di depan pagar sekolah yang mengarah tepat ke depan kelas Rayya.


" Kok Om-Om nya seram-seram semua sih, Kia?" Rayya mengedikkan bahunya melihat tampang pria-pria bertubuh kekar itu.


" Namanya juga bodyguard, harus seram, Rayya. Biar orang pada takut nggak ada yang berani melawan." Azkia menjelaskan kenapa tampang-tampang seram dan tegas itu diperlukan untuk menjadi bodyguard.


" Kia tahu dari mana kalau Om-Om itu yang disuruh Daddy?" Rayya penasaran karena sepupunya itu tahu orang-orang yang diperintah Gavin untuk menjaganya.


" Tadi waktu Kia beli tahu bulat ini 'kan Kia tanya sama Om itu. Soalnya kemarin-kemarin Om itu nggak pernah ada di sana. Waktu Kia tanya Om sendirian? Om itu bilang berdua dengan temannya di sana." Azkia menjelaskan apa yang diselidikinya tadi.


" Kia kok pintar banget, sih?" Rayya merasa kagum sepupunya itu cepat tanggap menghadapi sesuatu.


" Pintar, dong! Anaknya Mama Tata ..." sahut Azkia cepat. " Mama bilang jadi anaknya Mama Tata harus pintar, apalagi Papanya Dosen. Rayya lihat 'kan kalau Kak Alden sama Kia selalu rangking satu terus?" ucap Azkia bangga.


" Rayya ...."


Rayya dan Azkia langsung menoleh saat terdengar suara memanggil nama Rayya.


" Kak Raffa?" Rayya dan Azkia terkesiap.


" Rayya kenapa bilang Papa Rayya kalau Kak Raffa minta nomer Rayya?" Raffasya berjalan mendekat ke arah Rayya.


" Diam, kamu! Nggak usah ikut-ikutan!" hardik Raffasya menatap kesal ke arah Azkia.


" Memangnya Kak Raffa berani lawan Om bodyguard?" cibir Azkia menakuti.


" Siapa takut?!" tantang Raffasya.


" Om bodyguard ...! Om bodyguard ...! Ini ada Kak Raffa ganggu Rayya lagi, nih!" Azkia langsung berteriak seraya melambaikan tangan ke arah bodyguard yang ada di dekat gerbang.


" Rese banget sih ini cewek!" Raffasya langsung membekap mulut Azkia yang terus saja berteriak dari arah belakang.


" Kak Raffa lepasin Kia!" seru Rayya yang kaget melihat Raffasya bersikap kasar terhadap Azkia.


" Aawww ...!" pekik Raffasya saat merasakan telapak tangannya digigit oleh Azkia hingga dia melepaskan bekapannya dari mulut Azkia.


" Rasain, weekkk ...!" Azkia tertawa penuh kemenangan lalu menarik lengan Rayya. " Ayo Rayya kita ke kelas." Azkia pun lalu mengajak Rayya berlari meninggalkan Raffasya yang nampak kesal karena ulahnya itu.


" Awas saja kamu, Azkia!!" geram Raffasya emosi.


***


Mobil yang dikendarai oleh Pak Rudy memasuki pekarangan rumah milik seorang Executive Assistant Angkasa Raya Group, yang sudah cukup lama mengabdi di perusahaan properti itu. Nampak beberapa mobil terparkir di halaman rumah berwarna coklat dengan desain eksterior Scandinavian. Sementara itu beberapa warga sekitar rumah Anindita pun sudah mulai nampak berdatangan.


Setiap satu bulan sekali, Azzahra bersama Natasha, Kirania, Anindita juga Amara dan Karina selalu melakukan kegiatan rutin pengajian satu bulan sekali yang diadakan bergantian di rumah mereka. Tidak seperti kebanyakan istri-istri eksekutif muda yang senang mengadakan arisan atau membentuk geng sosialita, mereka lebih senang berkumpul mengadakan pengajian dengan mendatangkan ustadz dan mendengarkan siraman rohani sekaligus mempererat silahturahmi antar mereka. Warga sekitar pun selalu mereka libatkan dalam acara itu. Seperti saat ini, karena acara pengajian diadakan di rumah Anindita, maka tetangga sekitar Anindita lah yang ikut hadir di acara itu.


" Rania sudah datang kayaknya, mobilnya sudah terparkir, tuh." Natasha menunjuk mobil berwarna hitam yang hampir serupa namun lebih mewah dari miliknya.


" Iya, Teh." Azzahra menyahuti. Dia kemudian membantu Rayya turun dan juga Rashya, sementara Sus Imah turun belakangan. Begitu juga dengan Natasha yang turun lebih dulu dari pintu sebelah kanan disusul Azkia juga Aulia dan Sus Veni. Setelah semua turun, mereka pun lalu berjalan memasuki rumah Anindita yang sudah ramai dengan beberapa tetangga Anindita


" Assalamualaikum ..." sapa Azzahra dan Natasha berbarengan saat memasuki ruang tamu rumah Anindita.


" Waalaikumsalam, Rara, Natasha ... Ayo masuk-masuk ..." Anindita menyambut kedatangan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


" Sudah pada ngumpul semua, Nin?" tanya Natasha.


" Rania dan Karina ada di dalam sedang mengobrol. Adikmu yang belum datang," ucap Anindita.


" Oh iya, Amara sepertinya berhalangan hadir, deh." Natasha menoleh ke arah Azzahra. Karena saat Gavin menceritakan jika anak laki-laki yang mengganggu Rayya salah keponakan dari Raditya, Natasha langsung menegur Amara. Sudah pasti hal itu membuat hubungan Amara dan Raditya yang baru saja menikah tiga bulan lalu sedikit menegang.


" Lho, memangnya kenapa Amara berhalangan hadir, Nat?" tanya Anindita kemudian.


" Biasalah, pengantin baru ..." Natasha mengibaskan tangannya.


" Apa sudah isi Amara, Nat?" tanya Anindita.


" Belum, Nin." sahut Natasha.


" Ya sudah, ayo ke dalam dulu, barangkali mau ketemu Rania dan Karina, kebetulan ada Nadia juga," ujar Anindita.


" Nadia? Nadia ada di Jakarta?" Natasha nampak surprise dengan kehadiran Nadia. " Wah, tahu dia mau balik ke Indonesia aku mau minta dibawain oleh-oleh dari Italy ke sini." Natasha terkekeh yang disambut tawa Anindita dan Azzahra.


***


" Memang sering ngadain acara seperti ini ya, Ram?" tanya seorang gadis cantik sebaya dengan Rama saat mereka mengobrol di balkon depan ruang keluarga lantai atas rumah Anindita.


" Iya, memang rutin tapi tempat bergilir." Ramadhan menjelaskan seraya memetik senar gitar di tangannya.


" Kamu berapa lama ada di Indonesia, Kay?" tanya Ramadhan kemudian.


" Hanya tiga hari saja. Nanti dari Jepang Papa Edo jemput aku, Mama sama Darren terus balik ke Milan," sahut gadis cantik yang tak lain adalah Kayla itu menjawab pertanyaan Ramadhan. Sejak orang tua Ramadhan bersatu, tentu saja Ramadhan dikenalkan dengan anggota keluarga dari Pak Poetra Laksmana, termasuk pada Kayla yang merupakan cucu pertama dari keluarga Poetra Laksmana yang merupakan anak biologis dari Bimantara, kakak kandung Dirgantara.


" Kenapa kamu sama Tante Nadia nggak ikut Paman Edo ke Jepang?" tanya Ramadhan menaruh gitar di samping dia duduk.


" Papa Edo sih memang mengajak kami ikut, tapi Mama bilang kangen keluarga di sini, jadi ya akhirnya kami mendarat di sini." Kayla tertawa kecil hingga kecantikan gadis itu semakin terpancar dan membuat Ramadhan sampai tak mengedipkan matanya.


" Kamu senang tinggal di Milan, Kay?" tanya Ramadhan mencoba menyadarkan dirinya dari keterpesonaannya pada Kayla.


" Suka-suka saja, sih. Tapi aku juga suka kalau pas Mama ajak ke Indonesia ini. Kangen sama Nenek Utami, sama Papa Dirga, Mama Rania juga." Kayla menoleh ke arah Ramadhan yang sedang memperhatikannya.


" Kamu sekali-kali minta Om Ricky liburan ke Italy, deh! Nanti aku tunjukin tempat-tempat yang bagus di sana. Atau ikut nonton pertandingan bola langsung di San Siro, kamu 'kan Interisti," bujuk Kayla karena dia tahu Ramadhan salah satu penggemar klub sepak bola asal kota Milan itu.


Ramadhan tersenyum menanggapi ajakan Kayla.


" Aku kepingin tuh, ke tempat syuting Spiderman ...."


" Far Away From Home ..." Ramadhan dan Kayla mengucapkan judul sequel Spiderman secara bersamaan hingga membuat mereka berdua terkekeh.


" Itu di Venice atau kalau orang sana bilang Venesia," ujar Kayla.


" Kota yang unik ..." sahut Ramadhan.


" Dengan wisata Grand Canal dan transportasi Gondola nya," sambung Kayla.


" Romantis ...."


Kayla mengeryitkan keningnya dan menoleh ke arah Ramadhan saat mendengar ucapan Ramadhan.


" Iihh, Rama ... sudah mengerti kata romantis. Hayo ... Rama sudah punya pacar, ya?" goda Kayla kemudian membuat Ramadhan menyunggingkan senyumannya menatap lekat wajah cantik Kayla.


" Rayya, Kia cari-cari ternyata ada di sini !"


Suara Azkia membuat Kayla dan Ramadhan yang sedang asyik memandang Kayla langsung mengarahkan pandangannya ke asal suara Azkia berasal.


*


*


*


Bersambung ...


🤔🤔 Rama nggak sekaku Papanya nih untuk urusan cewek

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2