KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Daddy Yang Posesif


__ADS_3

" Daddy, Rayya mau mengerjakan peer sama Kia, ya!" Rayya meminta ijin Daddy nya seraya menenteng paper bag berisi buku dan peralatan belajar lainnya.


" Iya, Baby." sahut Gavin yang sedang duduk memangku Rahsya di sofa ruang keluarga. Sementara matanya terus terarah kepada putrinya yang akhirnya menghilang dibalik pintu.


Gavin menghela nafas panjang, kecintaannya kepada putri pertamanya itu membuatnya menjadi sosok Daddy yang posesif. Rasanya dia ingin melindungi putrinya itu agar tidak ada siapapun juga yang akan menyakiti dan mengusik Rayya..


" Kenapa, By?" Sebuah tepukan halus di pundak Gavin membuatnya terkesiap.


" Aku mengkhawatirkan Baby, Honey." ungkap Gavin mengutarakan rasa khawatirnya.


" Memangnya Rayya kenapa? Rayya tidak apa-apa, kan?" Azzahra merasa jika tidak terjadi sesuatu dengan putrinya.


" Anak laki-laki itu berulah lagi. Tadi siang di sekolah dia mengganggu Kia. Kau pasti sudah dengar dari Alexa, kan?"


Azkia terkesiap saat menyadari suaminya itu mengetahui kasus soal kenakalan Raffasya kepada Azkia.


" Hubby tahu masalah itu? Tahu dari mana?" tanya Azzahra penasaran.


" Dari orang yang aku suruh awasi Baby di sekolah."


" Hubby suruh orang awasi Rayya? Apa itu tidak berlebihan, By? Kasihan Rayya ruang geraknya tidak bebas." Azzahra memprotes ulah suaminya itu.


" Daripada anak itu mengganggu Baby kembali, aku tidak akan bisa tenang, Honey." Gavin menyampaikan alasannya.


" Apa Hubby tetap akan melaksanakan ancaman Hubby yang meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan Raffa?" Azzahra sangat khawatir jika ancaman suaminya itu benar-benar dilaksanakan.


" Tentu saja, Honey."


" Tapi kasihan anak itu, By. Dia itu sudah kelas enam, sebentar lagi juga lulus dan nggak sekolah di sana lagi " Azzahra berusaha menyakinkan suaminya agar membatalkan ancamannya itu.


" Iya kalau dia lulus, kalau dia tinggal kelas akan lebih lama lagi dia sekolah di sana. Dan dia akan terus-terusan mengusik murid-murid yang lain."


Azzahra mendesah, dia teringat akan cerita Natasha soal Amara. Dia bisa membayangkan jika Amara akan merasa serba salah dengan kejadian yang menimpa Raffasya.


" Hubby nggak kasihan sama Amara?" tanya Azzahra terus berusaha meluluhkan hati suaminya.


" Memangnya kenapa dia?"


" Kalau Hubby sampai mengeluarkan Raffa dari sekolah, kasihan Amara, By."


" Kenapa harus aku mengasihani Amara? Bocah itu keponakan suaminya bukan keponakan Amara. Amara pun pasti akan tidak suka jika Azkia, keponakan dia diusik oleh anak itu." Gavin merasa yakin jika Amara akan menyetujui tindakannya.


" Bukan begitu, By. Teh Tata bilang hubungan Amara dan Mama mertuanya itu baru saja membaik. Hubby tahu 'kan orang tua Radit sempat menolak niat Radit yang akan menikahi Amara hanya karena status Amara yang sudah pernah menikah dan punya anak?"


" Apa hubungannya mertua dan menantu itu dengan hukuman untuk Raffa?"


" Tentu saja ada dong, By! Raffa itu cucu kesayangannya Mama mertua Amara. Kalau Mama mertua Amara itu tahu cucu kesayangannya itu dikeluarkan dari sekolah karena ancaman Hubby gara-gara berbuat usil kepada keponakan Amara. Apa Hubby nggak berpikir jika itu akan menjadi masalah untuk Amara?"


" Amara itu adik sepupu Hubby, meskipun tidak sedekat Hubby dengan Teh Tata. Tapi jika hal buruk menimpa Amara, Teh Tata juga pasti ikut merasakan sedih. Hubby mau melihat Teh Tata sedih? Hubby 'kan sangat menyanyangi Teh Tata ..." Azzahra masih berusaha melemahkan keegoisan Gavin.


" Tentu saja aku tidak akan membiarkan Alexa bersedih, Honey."


" Kalau begitu kita sebagai saudara harus mengerti kondisi Amara. Teh Tata sendiri tadi pagi bilang sama aku supaya aku tidak menceritakan hal ini kepada Hubby, karena apa? Karena dia ingin melindungi adiknya walaupun yang diganggu oleh Raffa sendiri itu adalah Azkia, putrinya sendiri. Jadi aku harap, Hubby pikir-pikir lagi jika ingin mengeluarkan Raffasya."


" Kau tidak usah khawatir, Honey. Lagipula pihak sekolah menolak untuk mengeluarkan anak itu."


" Benarkah? Raffa tidak jadi dikeluarkan?" Azzahra nampak sumringah. Tidak dapat dipungkiri dia merasa lega masalah yang terjadi antara Azkia dan Raffasya tidak sampai berimbas drop out pada anak laki-laki itu.


" Ya begitulah ..." Gavin menjawab lemas.


Flashback on


" Bagaimana, Pak Wildan? Apa harus ada murid yang menjadi korban anak itu lagi, baru pihak sekolah akan mengeluarkan dia dari sekolah ini?!" Dengan sorot mata penuh intimidasi Gavin menanyakan soal keinginannya yang meminta pihak sekolah memberikan drop out kepada Raffasya.


" Kami mohon maaf jika keputusan kami tidak sesuai dengan keinginan Tuan Gavin. Kami mempertimbangkan karena anak itu saat ini sedang duduk di kelas enam dan sebentar lagi akan mengikuti ujian kelulusan. Saya rasa sangat tidak bijak jika kami harus mengeluarkan dia dari sekolah ini, Tuan Gavin."


" Pak Wildan benar, Tuan Gavin. Sebenarnya Raffasya itu anak yang pandai, tiga tahun pertama dia sekolah di sini dia menunjukkan sebagai siswa yang baik seperti siswa yang lainnya dan selalu mendapat rangking tertinggi. Namun tiga tahun belakang ini dia mulai nampak susah diatur. Kami menduga itu terjadi karena masalah dalam keluarganya yang membuatnya berulah dan mencari perhatian seperti itu." Ibu Santi ikut menjelaskan soal kondisi Raffasya.


" Lantas apa pihak sekolah akan terus membiarkan saja anak itu merajalela dan mengganggu murid-murid yang lain?" Gavin nampak kesal karena tujuannya tidak dapat terlaksana.


" Tentu saja kami tidak tinggal diam, Tuan Gavin. Kami tetap akan memberikan hukuman kepada Raffasya dengan tidak mengijinkan dia mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah selama tiga hari dan tetap memberikan tugas dari sekolah yang harus dia kerjakan di rumah." Pak Wildan menyampaikan keputusan yang diambil untuk menghukum Raffasya.


Flashback on


" Alhamdulillah, aku ikut senang mendengar Raffa tidak jadi dikeluarkan." Azzahra mengucapkan rasa syukurnya. Dia pun menarik nafas lega mendengar cerita suaminya itu.


" Tapi aku tetap kecewa dengan keputusan sekolah, Honey." Gavin memang tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.


" By, kita harus bijaksana sebagai orang tua. Mungkin Raffa itu tidak seberuntung anak-anak lain yang mendapatkan limpahan kasih sayang orang tua jadinya dia berbuat seperti itu. Anak seperti Raffa itu tidak seharusnya ditanggapi dengan sikap yang keras, tapi harus dirangkul dan diberi pengertian dengan cara yang halus dan penuh kelembutan." Azzahra mencoba membuka jalan pikiran suaminya yang masih diluapi emosi.


Gavin menoleh ke arah istrinya lalu merangkulkan tangannya di pundak istrinya itu dan merapatkan tubuh istrinya ke arahnya.


" Kau tahu, Honey? Aku sangat beruntung memilikimu."

__ADS_1


" Aku tahu, By. Hubby sudah berkali-kali mengatakan hal itu. Entah aku tidak ingat ini yang keberapa kali kalimat itu keluar dari mulut Hubby." Azzahra tersenyum menanggapi ucapan suaminya tadi.


" Hubby mau apa?" Azzahra menahan bibir Gavin yang mendekat ke arah bibirnya.


" Aku mau cium kamu, kenapa kamu tolak, Honey?" Gavin memprotes tindakan istrinya yang menghalangi dirinya ingin mencium Azzahra.


" Tuh, lihat ..." Azzahra melirik ke arah Rahsya yang sedang mendongakkan kepala ke arah mereka dengan menampakkan wajah bengong dan mulut ternganga.


" Ada anak kecil. Jangan melakukan aktivitas dua puluh satu tahun ke atas di hadapan anak kecil, By." Azzahra terkekeh.


" Ya sudah kita lanjut di kamar saja kalau begitu, Honey." Gavin berbisik di telinga Azzahra.


" Anak-anak belum tidur, By. Nanti kalau mereka sudah tidur saja biar aman dan tenang. Hubby mau minta berapa ronde juga aku layani." Kali ini Azzahra yang berbisik menggoda suaminya itu.


" Aarrgghh ..." Gavin susah payah menahan ga irah yang dipercikan Azzahra kepadanya.


" Kau mulai nakal, Honey." Gavin menatap istrinya penuh hasrat.


" Teh Tata bilang, nakal sama suami sendiri itu nggak apa-apa, benar begitu, By?" Azzahra kemudian bangkit dari sofa.


" Kau mau ke mana, Honey?"


" Aku tunggu di kamar ya, By! Setelah anak-anak tidur tentunya." Azzahra mengedipkan matanya kemudian melangkah meninggalkan Gavin yang terasa tersiksa.


" Aarrgghh ...! Awas saja kau, Honey! Kau akan aku hukum ...!" seru Gavin kesal karena dia anggap istrinya itu sengaja menggodanya.


" Rahsya, Sayang. Rahsya cepetan bobo ya, Sayang. Papa mau boboin Mama, eh ... Papa mau menemani Mama bobo." Gavin berkata kepada anak keduanya itu.


" Bobo ... Papa ... bobo ... Mama ..." Rahsya menyahuti apa yang diucapkan Daddy nya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Iya, Sayang. Papa mau bobo sama Mama. Rahsya bobo sama Sus Imah, ya!" Gavin pun langsung bangkit dan menggendong Rahsya.


" Sus ...! Ini Rahsya mau bobo, nih! Tolong buatkan susu untuk Rahsya!" teriak Gavin memanggil pengasuh anaknya itu karena dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menyusul istrinya ke kamar.


***


" Kia, benar ya kalau Kak Raffa mau dikeluarkan dari sekolah?" tanya Rayya saat mereka selesai mengerjakan tugas dari sekolah.


Rayya sendiri sepulang sekolah tadi dinasehati Azzahra untuk tidak menceritakan hal ini di hadapan Daddy nya nanti.


" Iya, kata Mama begitu kalau sampai Daddy Rayya tahu. Makanya Mama bilang kita harus tutup mulut jangan bilang-bilang ke Uncle Gavin." Azkia menyahuti ucapan Rayya.


" Kasihan Kak Raffa ya, Kia?" Rayya berucap seraya menopang dagunya.


" Tapi tetap kasihan Kak Raffa ...."


" Iihh Rayya suka sama Kak Raffa, ya?"


" Nggak, kok! Rayya nggak suka sama Kak Raffa!" tepis Rayya cepat.


" Oh iya, Rayya 'kan nggak suka Kak Raffa. Rayya itu sukanya sama Kak Rama, kan?"


" Iihh, Kia ..." Rayya langsung tersipu saat Azkia menggodanya tentang Ramadhan membuat Azkia tertawa kencang.


" Lho, ada Rayya di sini?" Suara Natasha terdengar saat pintu kamar Azkia terbuka.


" Iya, Auntie. Rayya tadi mengerjakan peer dengan Kia." Rayya menyahuti pertanyaan Natasha.


" Oh ya? Peer nya sudah selesai belum? Ada kesulitan nggak pertanyaannya? Kalau ada yang susah tanyakan saja ke Kak Alden minta bantuan untuk menyelesaikan soal-soalnya." Natasha menyarankan agar Azkia dan Rayya meminta bantuan pada anak sulungnya.


" Sudah selesai kok, Ma." Azkia yang kini menjawab.


" Coba Mama lihat ..." Natasha lalu memeriksa hasil pekerjaan rumah yang dikerjakan bersama Azkia dan Rayya.


" Hmmm, iya sudah benar semua ini, tapi Kia harus belajar menulis lagi ya, Sayang. Biar tulisannya lebih jelas dan bisa dibaca," ucap Natasha menasehati anaknya.


" Iya, Ma."


" Ini sudah jam setengah sembilan." Natasha melirik jam dinding di kamar Azkia. " Rayya mau tidur di sini sama Kia atau mau pulang?" tanya Natasha pada keponakannya itu.


" Rayya mau bobo di sini saja, Auntie." Rayya menyahuti. " Nanti Auntie yang bujuk Daddy biar kasih ijin ya, Auntie?!"


" Ya sudah nanti Auntie bilang ke Mommy kamu kalau kamu tidur di sini. Sekarang bereskan dulu buku-bukunya lalu kalian cuci muka, cuci tangan, cuci kaki lalu gosok gigi!" perintah Natasha kepada dua gadis kecil itu.


" Iya, Ma."


" Iya, Auntie."


Azkia dan Rayya segera merapihkan buku-buku dan perlengkapan lainnya lalu berlari dan tertawa bersamaan ke arah bathroom yang ada di kamar Azkia.


" Jangan berlarian dan bercanda di kamar mandi nanti jatuh!". teriak Natasha menasehati.


Natasha lalu menoleh ke arah tempat tidur sebelah di mana putri kecil lainnya sudah terlelap dengan memeluk little pony di tangannya dengan mulut menganga.

__ADS_1


" Aulia sudah bobo rupanya." Natasha mencium pipi anaknya yang berusia tiga tahun itu kemudian menyelimuti tubuh mungil itu.


" Kia sudah selesai, Ma." Azkia keluar dari arah bathroom lebih dahulu, anak perempuan pertama Natasha itu memang lebih gesit dalam segala macam hal ketimbang Rayya.


" Rayya juga sudah, Auntie." Rayya menyusul di belakang Azkia.


" Kalau sudah, sekarang kalian tidur dan jangan lupa berdoa dulu."


" Iya, Ma."


" Iya, Auntie."


" Harus langsung tidur, nggak boleh mengobrol dan jangan main HP! Besok kalian harus sekolah dan harus bangun pagi. Kalian mengerti?!"


" Mengerti, Ma."


" Iya, Auntie. Rayya mengerti."


" Ya sudah, ayo naik ke tempat tidur!"


Azkia dan Rayya segera menuruti apa yang Natasha perintahkan.


" Jangan lupa baca doa. Goodnight and sweet dream." Natasha mengecup kening Azkia bergantian dengan Rayya lalu menyelimuti kedua putri kecil itu sampai sebatas pundak mereka.


" Lampunya matikan, Ma."


" Jangan, Auntie! Rayya takut gelap."


" Tapi Kia nggak bisa tidur kalau lampunya terang, Rayya!"


" Rayya takut kalau gelap, Kia!"


" Sudah-sudah kalian jangan bertengkar! Mama nyalakan lampu tidur saja, biar tetap ada penerangan. Sekarang kalian cepat tidur!"


Setelah Natasha menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama, Natasha pun akhirnya keluar meninggalkan kamar Azkia.


***


" By, handphone aku berbunyi ...."


" Biarkan saja, Honey." Gavin mengacuhkan ponsel Azzahra yang berbunyi karena dia sedang menikmati percintaan dengan istrinya itu.


" Tapi itu barangkali penting, By."


" Sebentar, Honey, Sedang tanggung sebentar lagi keluar."


Azzahra diam tak melanjutkan ucapannya karena dia pun sudah terhanyut dengan buaian dan sentuhan yang diberikan suaminya itu.


Ddrrtt ddrrtt


" By, handphone nya bunyi lagi ...."


" Acuhkan saja! Suruh dia menunggu urusan kita selesai." Gavin semakin mempercepat gerakannya untuk segera menuntaskan aktivitasnya. Dan setelah Gavin mencapai puncak kenikmatannya dia pun melepaskan diri dari tubuh istrinya kemudian terkulai dengan nafas tersengal di samping Azzahra. Azzahra sendiri langsung mengambil ponselnya walaupun dia sendiri merasa kelelahan karena harus meladeni ga irah suaminya yang sedang memuncak.


Azzahra melihat Natasha yang meneleponnya dan dia juga melihat pesan yang ditinggalkan oleh Natasha.


" Ra, Rayya minta tidur di sini. Aku sudah suruh dia tidur sama Kia."


" Siapa, Honey?" tanya Gavin merasa penasaran pada orang yang sudah mengganggu aktivitas bercintanya.


" Teh Tata. Dia bilang Rayya menginap di sana." Azzahra menjawab pertanyaan Gavin.


" Ya sudah tidak apa-apa dia menginap di sana."


Azzahra mengeryitkan keningnya, karena dia tahu suaminya itu agak susah memberikan ijin jika anaknya itu ingin menginap di rumah Natasha. Bukan karena dia tidak percaya pada adik sepupunya itu, tapi setiap Rayya akan tidur, Gavin selalu menemani putrinya itu sampai Rayya tertidur baru dia akan berpindah ke kamarnya sendiri. Namun kali ini suaminya langsung menyetujui.


" Tumben, By?"


" Iya, Teh. Aku sudah bilang ke Daddy nya Rayya, dia sudah kasih ijin." Azzahra pun kemudian membalas pesan dari Natasha.


Gavin kemudian berjalan ke arah Azzahra tanpa sehelai benang pun membalut tubuhnya.


" Demi memperlancar aktivitas kita, Honey." Gavin langsung mengangkat tubuh Azzahra yang berbalut selimut hingga membuat Azzahra memekik kaget apalagi saat Gavin menghempaskan tubuh Azzahra ke tempat tidur dan kembali menindih tubuh istrinya untuk kembali membawanya terbang ke langit ke tujuh.


*


*


*


Bersambung ..


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2