
" Ra ...."
Azzahra mengerjap saat mendengar Tante Linda memanggilnya.
" Iya, Ma?" tanya Azzahra menoleh ke arah ibu mertuanya saat dalam perjalanan kembali ke Jakarta di dalam pesawat.
" Dari sekarang kamu harus mempersiapkan diri menghadapi William jika dia besar nanti. Mama berharap dia sebaik Gavin dan tidak membuat kamu kesulitan berkomunikasi. Seperti Mama juga bisa menerima Gavin, walau ceritanya sedikit berbeda. Tapi setidaknya Jovanka wanita yang baik. Dia tidak menanamkan kebencian kepada William terhadap sosok Gavin. Itu akan membuat William lebih mudah menerima keberadaan Gavin dan kamu nantinya, Ra."
" Iya, Ma. Sepertinya Rara mesti banyak belajar dari Mama."
Tante Linda menepuk pundak Azzahra.
" Mama yakin kamu bisa melewatinya dengan baik," ucap Tante Linda kepada Azzahra.
***
" Honey, kau sudah pulang?" tanya Gavin saat dia mendapati istrinya itu menutup pintu kamar ketika dia keluar dari kamar mandi.
" Ah, Kak Gavin. Assalamualaikum, Kak. Kak Gavin sedang mandi, ya? Pantas tadi aku beri salam tidak ada sahutan." Azzahra meletakkan tas tangannya lalu menyalami suaminya itu.
" Waalaikumsalam, Honey. Iya, tadinya aku pikir ingin menjemputmu di rumah Daddy." Gavin menyahuti.
Azzahra lalu berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Gavin.
" Kak Gavin sudah makan?" tanya Azzahra.
" Sudah tadi di hotel, karena aku pikir tidak ada yang menemani makan kalau di sini." Gavin kemudian mendekati Azzahra dan melingkarkan tangannya di pinggang Azzahra.
" Bagaimana setelah bertemu dengan Jovanka?" tanya Gavin melepas hijab yang dikenakan Azzahra perlahan.
" Kak Jovanka baik orangnya dan sangat cantik ternyata. Aku heran kenapa Kak Gavin meninggalkan dia?" Azzahra menyesali kenapa wanita sebaik Jovanka harus disakiti.
" Kalau aku tidak meninggalkannya, aku tidak akan menikah denganmu, kan?"
Azzahra lalu memeluk tubuh Gavin yang masih berbalut bathrobe.
" Apa kau sudah merasa tenang sekarang?" tanya Gavin kemudian.
" Aku akhirnya paham kenapa Kak Gavin memilih tidak melakukan test DNA untuk William. Karena Kak Jovanka memang wanita yang baik. Dia tidak memanfaatkan keadaan untuk keuntungannya sendiri. Aku berharap Kak Jovanka bahagia dengan pernikahannya nanti, Kak. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan." Azzahra mengharapkan kehidupan yang layak untuk wanita seperti Jovanka.
" Aamiin, kita doakan saja semoga Peter adalah pria yang tepat untuk Jovanka." Gavin pun ikut mendoakan yang terbaik untuk Jovanka.
***
Tiga hari kemudian, Gavin dan Azzahra kembali ke Singapura untuk menghadiri pesta pernikahan Jovanka dan Peter.
" Congratulation for your wedding and long life, Peter. Please take care Jovanka. She's a good girl." Gavin menyalami dan memberikan selamat kepada Peter dan meminta Peter untuk menjaga Jovanka baik-baik.
__ADS_1
" Thanks, Sir. Of course, I do love Jovanka so much. So I would like to take care her," tegas Peter berjanji jika dia akan menjaga Jovanka karena dia memang mencintainya.
"Congratulation, Sir." Kali ini Azzahra yang memberikan ucapan selamat seraya mengatupkan kedua telapak tangan.
"Thanks, Mrs. Gavin. Nice to meet you ..." sapa Peter ramah.
" Nice to see you too, Sir." sahut Azzahra.
" Jo, selamat, ya! Aku berharap kau akan mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya bersama Peter." Gavin menyalami Jovanka seraya menepuk bahu Jovanka. Gavin tidak memeluk Jovanka walaupun ingin dia lakukan sebagai bentuk dukungan terhadap wanita yang dulu pernah dicintainya itu. Gavin tentu saja menghargai perasaan istrinya dan suami Jovanka sekarang.
" Thanks, Gavin."
" Kak, selamat menempuh hidup baru. Semoga langgeng sampai kakek nenek dan diberikan kebahagiaan selalu." Kini Azzahra yang memberi ucapan selamat pada Jovanka seraya memeluk wanita mantan kekasih suaminya itu.
" Terima kasih, Azzahra."
" Oh ya, di mana William?" tanya Gavin membuat Jovanka dan Azzahra melerai pelukannya.
Jovanka lalu menunjuk arah di sisi kiri gedung dekat pelaminan.
" Itu, di sana bersama tantenya."
" Kami ingin bertemu dengan William dulu kalau begitu," pamit Gavin kemudian menggenggam tangan Azzahra turun dari stage pelaminan dan berjalan mendekat ke arah William.
" Hai, William ..." Gavin membungkukkan tubuhnya menyapa William yang sedang duduk memakan cookies.
" How are you, William?" Gavin lalu mengangkat tubuh William hingga kini tubuh mungil itu berada di lengan kekar Gavin.
" I'm fine, Uncle." William lalu menatap ke arah Azzahra.
" Oh, She is your Aunt, William. You can call her Auntie Rara." Gavin mencoba mengenalkan Azzahra sebagai Tante bagi William. Karena untuk mengenalkan sebagai istrinya rasanya untuk anak seusia William masih belum memahami.
"Hai, William ..." Azzahra mengusap pipi chubby bocah laki-laki itu.
"Hai, Auntie Lala." William menyapa balik Azzahra. Namun tak lama suara tawa William yang terdengar karena Gavin terus menciumi William hingga membuat William merasa geli dengan bulu-bulu di sekitar rahang dan dagu Gavin yang dirasanya serasa menusuk kulitnya.
Sementara Azzahra merasa tertegun menatap interaksi antara anak dan ayah di hadapannya. Azzahra bisa melihat betapa Gavin sangat menyanyangi William. Dia lalu mengelus perutnya, dia berharap bisa secepatnya mendapatkan buah hati atas pernikahannya bersama Gavin.
***
Enam bulan kemudian ...
" Neng Rara, ayo turun!! Nanti jatuh, Neng!" Rusmi berteriak meminta Azzahra agar turun karena anak majikannya itu sedang menaiki pohon mangga yang ada di pekarangan belakang rumah Abi Rara.
" Neng!! Hati-hati nanti jatuh! Cepat turun!! Nanti kalau Aa Gavin, Abi sama Umi Neng Rara tahu, Rusmi pasti kena marah, Neng!" pekik Rusmi kembali.
" Bi Rusmi berisik sekali! Mengganggu konsentrasi Rara saja. Bisa diam nggak sih, Bi!" Azzahra menggerutu karena sedari tadi ART di rumah Abinya itu terlalu berisik berteriak-teriak.
__ADS_1
" Iya tapi kalau nanti Neng Rara jatuh 'kan bahaya, Neng!"
" Ya Bi Rusmi jangan doain Rara jatuh, dong!"
" Ya sudah sekarang Neng Rara turun! Kalau mau mangga nanti suruh yang lain saja yang naiknya!" seru Rusmi kembali.
" Rus, kamu sedang apa dari tadi Umi dengar teriak-teriak terus?" Umi Rara tiba-tiba datang mendekati Rusmi.
" I-itu, Umi! Neng Rara ..." Rusmi menunjukkan jarinya ke atas pohon membuat Umi Rara mengikuti arah jari telunjuk Rusmi.
" Astaghfirullahal adzim, Rara!! Kamu sedang apa di atas sana, Geulis?" Umi Rara dibuat terkesiap dengan kelakuan putrinya yang sudah berada di atas pohon mangga.
" Rara mau memetik buah mangga, Umi!" seru Azzahra terkikik.
" Duh Gusti, ayo turun Rara!! Nanti kamu bisa terjatuh!" Umi Rara nampak senewen.
" Tanggung Umi tinggal petik satu lagi di atas itu." Azzahra menunjuk buah mangga yang berjarak sekitar satu meter dari dia berdiri di dahan pohon.
" Ya Allah, Ya Robbi ... turun, Neng geulis! Kalau kamu mau mangga nanti suruh Mang Ucup atau Surip saja yang naik pohonnya. Cepat kamu turun, Ra!"
" Nggak usah, Umi! Ini Rara sudah petik mangga nya. Ini Rara mau turun." Azzahra pun perlahan turun dari pohon.
" Kamu ini kok ada-ada saja naik-naik pohon. Kalau jatuh pasti Gavin akan marah." Umi Rara menampakkan rasa khawatirnya.
" Rara 'kan nggak apa-apa, Umi! Dulu waktu kecil Rara juga 'kan suka naik pohon sama Kang Asraf dan Kang Aydan," Azzahra lalu menyerahkan beberapa buah mangga yang dia petik kepada Rusmi.
" Ini mau dikupas sekarang, Neng?" tanya Rusmi.
" Tanya sama Umi saja, deh!" sahut Azzahra merapihkan bajunya yang sedikit kusut.
" Kok Umi, Neng? Kan kamu yang ingin makan mangga nya." Umi Rara mengerutkan keningnya mendengar jawaban Azzahra.
" Rara nggak ingin makan mangga kok, Umi!" Azzahra menyangkal anggapan Uminya yang menduga dia ingin makan buah itu.
" Lalu kenapa kamu naik-naik tadi?"
" Karena Rara ingin naik pohon saja Umi, habis gemas lihat buahnya sudah matang begitu," sahut Azzahra kemudian berjalan santai meninggalkan Uminya dan juga Rusmi masuk ke dalam rumah.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1