
Azzahra sedang membaca artikel tentang kehamilan di ponselnya saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia tahu itu adalah nomer telepon Shella, sekretaris suaminya.
" Assalamualaikum, ada apa, Mbak Shella?" tanya Azzahra heran, karena jarang sekali sekretaris suaminya itu menghubunginya di waktu kerja.
" Waalaikumsalam, Bu. Ini, Pak Gavin, Bu ...."
" Kak Gavin? Kak Gavin kenapa?" Seketika rasa khawatir mulai merayapi hati Azzahra.
" Pak Gavin sedari datang tadi mengurung diri terus di ruangannya. Dia tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke dalam ruangannya termasuk saya. Semua berkas yang perlu ditanda tangani dan menu makan siang Pak Gavin minta ditaruh di depan pintu. Untuk hal itu sih tidak masalah, Bu. Cuma ... dalam setengah jam ke depan akan ada tamu dari luar daerah yang akan datang untuk menemui Pak Gavin, tapi Pak Gavin menolak untuk bertemu dengan relasi bisnis itu, Bu." Shella menceritakan kelakuan Gavin di kantornya itu.
" Separah itu, Kak Gavin?" Azzahra hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar, namun mengingat bagaimana Gavin dua hari kemarin di rumah, membuat Azzahra akhirnya bisa mempercayai juga cerita Shella.
" Iya, Bu. Saya juga tidak mengerti kenapa Pak Gavin seperti itu? Setelah dua hari kemarin tidak masuk ke kantor, kenapa Pak Gavin jadi berubah seperti itu? Memang Pak Gavin sakit apa, Bu?" tanya Shella.
" Hmmm, dokter bilang sih Kak Gavin mengalami kehamilan simpatik, Mbak Shella." Azzahra mengatakan sejujurnya apa yang dialami suaminya itu.
" Hahh?? Pak Gavin mengalami sindrom kehamilan simpatik? Serius, Bu?" Tanpa sadar Shella tergelak mendengar apa yang diderita bosnya itu.
" Mbak Shella kok sepertinya senang sekali melihat suamiku terkena sindrom itu?" Azzahra terheran karena merasa sekretaris suaminya itu nampak bahagia.
" Oh, maaf, Bu. Bukan maksud saya senang di atas penderitaan Pak Gavin. Tapi kalau ingat bagaimana Pak Gavin selama ini selalu iseng terhadap Bu Azzahra, saya rasa hukuman terkena sindrom kehamilan simpatik cukup adil untuk Pak Gavin." Shella terkikik menahan tawa ini.
" Mbak Shella benar juga. Kak Gavin itu senang sekali berbuat usil ke aku." Azzahra teringat bagaimana perlakuan Gavin sebelum mereka benar-benar saling mencintai yang selalu membuat dirinya kesal.
" Tapi kalau Kak Gavin jadi seperti itu, aku kasihan juga, sih." Azzahra tetap merasa tak tega melihat suaminya seperti itu.
" Memang iya sih, Bu." Shella membenarkan apa yang dikatakan Azzahra.
Azzahra merasakan jika ada panggilan lain di ponselnya dan ternyata itu panggilan telepon dari Gavin.
" Mbak, Kak Gavin telepon aku, aku tutup dulu, ya! Assalamualaikum." Azzahra buru-buru mematikan sambungan telepon dengan Shella dan menerima panggilan masuk dari suaminya itu.
" Assalamualaikum, Kak Gavin kenapa?" tanya Azzahra.
" Waalaikumsalam. Honey, tolong aku! Di sini banyak monster ...."
Azzahra membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya tadi.
" Monster?? M-maksud Kak Gavin apa?" Azzahra benar-benar dibuat bingung dengan sikap suaminya.
" Mereka ingin masuk ke ruanganku, Honey. Bau mereka sungguh membuat aku mual. Tolong kau bantu aku usir mereka," keluh Gavin.
" Kak, mereka-mereka itu 'kan karyawan Kak Gavin. Kak Gavin biasa berinteraksi dengan mereka tiap hari lho, Kak."
__ADS_1
" Tapi aku tidak suka bau mereka. Kepalaku rasanya mau pecah," ujar Gavin kembali.
" Kak Gavin bisa pakai masker agar tidak terlalu mencium bau tidak enak." Azzahra menyarankan.
" Aku sudah pakai masker berlapis-lapis, Honey."
" Lantas aku harus tolong Kak Gavin bagaimana?" tanya Azzahra.
" Aku mau kau di sini menemaniku, Honey. Karena hanya aroma tubuhmu yang aku suka."
" Ya sudah aku ke sana sekarang, Kak." Mungkin kalau suaminya tidak sedang mengalami couvade syndrome Azzahra pasti akan mengatakan jika apa yang dikatakan suaminya itu hanya sekedar modus belaka.
" Kau tunggu di sana, aku akan suruh supir menjemputmu!"
" Kelamaan kalau aku mesti menunggu supir dari sana, Kak! Biar nanti aku pesan taksi online saja." Azzahra menolak anjuran suaminya untuk menunggu supir yang akan menjemputnya.
" Kau jangan pakai taksi online, Honey! Aku tidak ijinkan!" Gavin melarang.
" Kak, kalau aku menunggu supir menjemput akan makan waktu lama. Jadi mending aku ke sana sekarang naik taksi online. Kak Gavin bilang ingin cepat aku datang ke sana."
" Ya sudah, tapi kau harus bilang pada supirnya agar jangan mengebut bawa mobilnya."
" Ya, Kak, Ya sudah, aku siap-siap dulu ya, Kak. Assalamualaikum."
Azzahra baru saja meletakkan ponselnya karena ingin berganti pakaian namun tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi dan ternyata suaminya itu menelepon lagi.
" Assalamualaikum, ada apa lagi, Kak?"
" Waalaikumsalam.. Kau jangan terburu-buru, Honey. Aku tidak ingin Baby kenapa-napa," pesan Gavin.
" Iya, Kak. Sudah ya, Kak. Aku mau ganti baju dulu. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
***
Setelah menaiki mobil yang akan mengantarnya ke hotel sang suami, Azzahra langsung menghubungi Dad David.
" Assalamualaikum, Pa ..." sapa Azzahra saat Dad David mengangkat panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam, Rara. Ada apa, Nak? Jawab Dad David.
" Pa, apa Papa sedang sibuk?" tanya Azzahra.
__ADS_1
" Ada apa memangnya, Ra? Bilang saja sama Papa jangan ragu-ragu," ucap Dad David.
" Papa bisa bantu Kak Gavin temui klien yang rencananya akan datang ke tempat Kak Gavin?" tanya Azzahra.
" Memangnya kenapa dengan Gavin?" tanya Dad David. " Apa dia masih tidak ke kantor lagi?"
" Ngidamnya itu aneh sekali, Pa. Masa sekarang Kak Gavin tidak mau ketemu siapa pun di kantor termasuk dengan Mbak Shella. Kak Gavin tidak membiarkan orang masuk ke dalam ruangannya. Dan Kak Gavin menolak bertemu dengan tamu yang janji akan bertemu hari ini." Azzahra menceritakan apa yang tadi Shella katakan padanya.
" Ya sudah, nanti Papa usahakan ke sana."
" Terima kasih ya, Pa."
" Suami itu sedang menerima balasan dari apa yang sering dia lakukan ke kamu dulu, Ra." Dad David terkekeh.
" Mbak Shella juga tadi bicara seperti itu, Pa." Azzahra pun ikut tertawa kecil.
" Biarkan dia rasakan dibalas langsung oleh calon anaknya."
" Iya, Pa. Tapi aku berharap ngidamnya Kak Gavin tidak semakin parah. Rara kasihan lihatnya kalau Kak Gavin seperti itu."
" Gavin beruntung mempunyai istri sepertimu, Ra. Dan Papa juga beruntung mendapatkan menantu yang banyak membawa perubahan positif untuk Gavin. Semoga Gavin tidak menyia-nyiakan kamu dan tetap mencintai kamu selamanya."
" Aamiin, Pa."
" Ya sudah, Papa ingin bereskan pekerjaan Papa dulu lalu meluncur ke sana."
" Ya, Pa. Ini Rara juga sedang dalam perjalanan ke sana kok, Pa."
" Kamu mau ke sana juga?" Dad David terkesiap.
" Iya, Pa. Kak Gavin yang meminta aku menemaninya di sana. Karena Kak Gavin bilang banyak monster-monster di sana." Azzahra mengatakan apa yang dikatakan oleh suaminya seraya terkikik.
" Apa?? Monster??"
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1