
Gavin mengikuti langkah istrinya yang masuk ke dalam kamar setelah sebagian besar para tamu berpamitan pulang. Hanya tersisa beberapa kerabat dekat yang masih berbincang dengan keluarga Abi dan Umi Rara.
" Honey, kau bilang ingin bicara denganku, memangnya kau ingin bicara apa?" tanya Gavin setelah menutup pintu kamar Azzahra.
Azzahra memutar tubuhnya seraya berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah suaminya.
" Apa maksud Kak Gavin membeli perhiasan mahal untuk Umi?" tanya Azzahra bernada ketus.
" Oh itu ... aku hanya ingin membelikan saja, memangnya kenapa? Aku ingin memberi ibu mertuaku hadiah. Memangnya salah aku membelikan perhiasan untuk ibu mertuaku sendiri?" Gavin menjawab pertanyaan istrinya yang penuh intimidasi dengan santai.
" Tapi untuk apa membelikan Umi perhiasan semahal itu? Kak Gavin jangan mengajari Umiku hal yang tidak-tidak, ya! Jangan buat Umi jadi matre!" tegas Azzahra.
Astaghfirullahal adzim, kamu kenapa suudzon pada suamimu sendiri, Honey? Aku itu tulus memberikan Umimu hadiah, kenapa kamu berprasangka buruk seperti itu?"
" Karena apa yang Kak Gavin berikan ke Umi itu nggak wajar. Untuk apa membelikan Umi perhiasan mahal? Itu hanya buang-buang uang saja! Membelanjakan uang untuk hal yang tidak bersikap penting atau kebutuhan pokok apalagi dalam jumlah besar itu tindakan mubazir dan Allah sangat membenci itu!" Nada bicara Azzahra masih terdengar tinggi.
" Honey, mertua dan suamimu ini orang yang kaya raya. Hanya mengeluarkan dua ratus juta saja sih nggak masalah." Gavin mengibaskan tangannya.
" Lagipula berapapun besarnya nilai hadiah yang aku beri untuk Umimu tak sebanding dengan yang sudah Umimu berikan untukku."
Ucapan Gavin sontak membuat Azzahra memicingkan matanya dan menatap penuh curiga pada suaminya itu.
" Memang apa yang sudah Umi kasih ke Kak Gavin?" selidik Azzahra.
" Umimu sudah memberiku putrinya yang cantik ini." Gavin kemudian merangkulkan tangannya di leher Azzahra.
" Kamu itu lebih berharga dari perhiasan yang aku berikan untuk Umimu, Honey." Gavin kemudian menarik tengkuk Azzahra dan membenamkan sebuah sentuhan bibir yang lembut dan penuh perasaan, Namun tak lama Gavin menjauhkan bibirnya dari bibir Azzahra.
" Honey, kenapa bau mulutmu tidak enak sekali?" Gavin menutup hidungnya karena aroma dari mulut istrinya itu tidak enak tercium oleh indra penciumannya.
Azzahra yang melihat suaminya sepertinya tidak suka dengan aroma yang keluar dari mulutnya langsung menghembuskan nafas ke telapak tangannya lalu dia menempelkan telapak tangannya itu ke dekat hidungnya. Azzahra menarik satu sudut bibirnya karena dia merasakan masih tersisa aroma semur jengkol walaupun tidak terlalu menyengat.
" Kenapa, Kak? Kok berhenti cium akunya? Lagi enak-enaknya malah di-cut." Azzahra berpura-pura mencebikkan bibirnya.
" Kamu makan apa, Honey? Baunya bikin perutku mual!" keluh Gavin masih dengan menutup hidungnya.
" Bau apa sih, Kak? Orang nggak bau apa-apa juga. Nih, hahh ..." Azzahra kemudian sengaja menghembuskan nafasnya ke arah wajah Gavin membuat pria itu memekik seraya melotot.
" Honey!!" geram Gavin yang melihat istrinya itu sengaja mengerjainya.
__ADS_1
" Kenapa? Karena bau ini 'kan yang bikin Kak Gavin buang-buang uang?!" Azzahra terus berusaha mendekati suaminya yang terlihat nampak menjauhkan diri darinya.
" Yakin Kak Gavin nggak ingin dekat-dekat Aku? Nanti kalau ada pria lain yang dekat-dekat aku Kak Gavin marah ..." sindir Azzahra.
" Coba saja kalau kau berani dekat-dekat pria lain!" ancam Gavin saat istrinya mengatakan pria lain yang dekati istrinya itu.
" Ya sudah kalau pria lain nggak boleh dekati aku, cium aku lagi dong, Kak." Azzahra memanyunkan bibirnya menirukan orang yang minta dicium.
" Aku akan cium kamu asal kau hilangkan dulu bau tak sedapmu itu!" Gavin memberikan syarat.
" Kak, bau jengkol ini baru akan hilang setelah tujuh hari tujuh malam setelah dimakan." Azzahra sengaja mengarang cerita.
" Kak Gavin yakin tidak akan menyentuhku tujuh hari tujuh malam?" Azzahra tersenyum menggoda suaminya.
" Selama itu?" Gavin terperanjat.
" Iya." Azzahra menggangguk kepala cepat seraya memegangi perutnya. " Kak, debay nya ingin Mamanya dicium sama Papanya, nih." Azzahra sengaja memakai alasan bayi dalam kandungannya untuk mempengaruhi suaminya agar menuruti kemauannya.
" Kau jangan beralasan, Honey!" Gavin yang sepertinya mengetahui jika istrinya itu hanya ingin mengerjainya langsung melancarkan protes.
" Jadi Kak Gavin nggak percaya kalau debay nya yang minta? Baby, baby tadi dengar nggak, Daddy nggak mau cium Mommy? Daddy nggak sayang baby, nggak sayang sama Mommy juga." Azzahra pura-pura bersedih dan sengaja mengunakan panggilan yang biasa digunakan Gavin untuk memanggil bayinya.
" Kalau sayang kenapa Kak Gavin nggak mau cium aku?" Azzahra berucap dengan nada manja
" Baiklah, Honey. Demi baby kita, aku terpaksa bersedia menciummu." Gavin menyerah.
" Apa Kak Gavin bilang? Mencium aku karena terpaksa?" Azzahra langsung mendelik seraya berkacak pinggang.
" Oke kalau begitu, mulai detik ini jangan pernah sentuh-sentuh aku lagi!" Azzahra langsung bergegas meninggalkan Gavin.
" Honey, bukan begitu maksudku." Gavin mengejar langkah Azzahra.
" Honey, tunggu ..." Gavin keluar kamar.
" Kenapa Neng Rara? Kok mukanya ditekuk seperti itu?" Umi Rara yang kebetulan lewat di depan Azzahra langsung bertanya karena tadi sempat berpapasan dengan putrinya itu. Dan putrinya itu menampakkan wajah kesal.
" Itu karena ..." Gavin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. " Karena bau jengkol, Umi." Gavin mengatakan yang jadi pokok permasalahannya.
" Bau jengkol? Memangnya kenapa? Kamu 'kan sudah Umi bebaskan dari hukuman mengupas jengkol, kenapa masih dipermasalahkan?" Umi Rara merasa heran.
__ADS_1
" Umi, Umi bilang sama Rara kalau aku yang beri perhiasan untuk Umi?" tanya Gavin mengalihkan pembicaraan.
" Iya pastilah. Memangnya Umi mesti bilang apa sama Rara. Kalau Umi bilang dikasih orang lain, orang siapa yang berbaik hati mengeluarkan uang sebesar itu?" sahut Umi Rara.
" Atau kamu mau belikan Umi perhiasan lagi? Kalau mau belikan lagi, Umi ikut, ya. Biar nanti Umi yang cari sendiri lagi perhiasannya." Umi Rara nampak antusias.
" Iya nanti saya belikan lagi, Umi. Sekarang Rara ke mana, Umi?" tanya Gavin.
" Masuk ke kamar Aydan. Sepertinya ingin berbincang dengan kakak-kakak iparnya," ucap Umi Rara.
" Oh ya sudah, Umi. Saya balik masuk kamar dulu." Gavin pamit ke Umi Rara untuk kembali ke kamar.
" Silahkan, menantu idaman ..." Umi Rara berseloroh seraya terkikik mengatakan Gavin adalah menantu idaman..
***
" Assalamualaikum, Teh.." Azzahra menyapa kedua kakak iparnya yang nampak sedang bersiap-siap kembali ke Jakarta.
" Waakaikumsalam. Eh, Neng Rara, sini masuk, Neng." ucap Azzizah.
" Sudah siap-siap mau balik ke Jakarta ya, Teh?"
" Iya, Ra. Besok 'kan Kang Aydan berangkat kerja, anak-anak juga sekolah. Kalau pulang besok pagi mesti ekstra cepat gerakannya." Fatimah menjelaskan.
" Oh ya, Neng. Perhiasan yang dipakai sama Umi itu benar suami kamu yang belikan? Teteh dibelikan juga nggak, Ra?" Fatimah terkekeh.
" Teteh juga ikut daftar, Ra." Azizah ikut menimpali.
Perkataan kedua kakak ipar Azzahra membuat Azzahra membelalakkan mata karena apa yang dilakukan Gavin ternyata didukung oleh kakak iparnya.
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading❤️
__ADS_1